<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579</id><updated>2012-01-23T10:56:08.398-08:00</updated><category term='Budidaya Pertanian'/><category term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Untuk Rakyat</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-1781130666863867065</id><published>2009-05-10T07:35:00.001-07:00</published><updated>2009-05-10T07:49:04.988-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Membuat Pakan Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PAKAN IKAN &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan&lt;br /&gt;       alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan&lt;br /&gt;       hasil   percobaan      di   laboratorium     yang    sifatnya   sekedar     untuk    memenuhi&lt;br /&gt;       kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat&lt;br /&gt;       kesenjangan       yang    cukup    tajam    dalam    hal  ketersediaan      teknologi    dengan&lt;br /&gt;       penggunanya, khususnya petani ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Bagi   masyarakat   awam   tidak   mudah   untuk   memproduksi   pakan   ikan   alami,&lt;br /&gt;      tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada&lt;br /&gt;      sarana     dan    prasarana     yang   tergolong    cukup    mahal    untuk    ukuran   ekonomi&lt;br /&gt;       pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Selama ini produksi   pakan   ikan   alami dilakukan  oleh   pengusaha pembenihan&lt;br /&gt;       ikan/udang      dalam    satu   unit   pembenihan,       atau   oleh   Balai   Budidaya     milik&lt;br /&gt;       Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.     JENIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.   Pakan Alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Jenis-jenis   makanan   alami   yang   dimakan   ikan          sangat    beragam,     tergantung&lt;br /&gt;       pada     jenis  ikan   dan   tingkat    umurnya.     Beberapa      jenis  pakan     alami   yang&lt;br /&gt;       dibudidayakan       adalah    :  (a)   Chlorella;   (b)   Tetraselmis;     (c)  Dunaliella;    (d)&lt;br /&gt;       Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j)&lt;br /&gt;       Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.   Pakan Buatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.&lt;br /&gt;       a) Larutan, digunakan   sebagai   pakan   burayak   ikan   dan   udang   (berumur   2-30&lt;br /&gt;          hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu&lt;br /&gt;          dengan      air  pelarutnya;   (2)  Suspensi,     bahan    yang    terlarut  tidak  menyatu&lt;br /&gt;          dengan air pelarutnya.&lt;br /&gt;       b) Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung&lt;br /&gt;          halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.&lt;br /&gt;       c) Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80&lt;br /&gt;          hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.&lt;br /&gt;       d) Remah,       digunakan      sebagai     pakan     gelondongan       besar/ikan     tanggung&lt;br /&gt;          (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi&lt;br /&gt;          butiran kasar.&lt;br /&gt;       e) Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat&lt;br /&gt;          &gt; 60-75 gram dan berumur &gt; 120 hari.&lt;br /&gt;      f)  Waver,   berasal   dari   emulsi   yang   dihamparkan   di   atas   alas   aluminium   atau&lt;br /&gt;          seng dan dikeringkan, kemudian diremas-remas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam&lt;br /&gt;          bentuk bibit maupun dewasa.&lt;br /&gt;       b) Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya&lt;br /&gt;          zooplankton.&lt;br /&gt;       c) Ulat   Hongkong       dapat   dimanfaatkan      untuk    pakan    ikan   hias,  yang    dapat&lt;br /&gt;          mencermelangkan kulitnya.&lt;br /&gt;       d) Pakan buatan   dapat melengkapi   keberadaan              pakan  alami,   baik   dalam   hal&lt;br /&gt;          kuantitas maupun kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Chlorella: salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu&lt;br /&gt;          optimal 25-30 derajat C dan maksimum pada 40 derajat C.&lt;br /&gt;       b) Tetraselmis: salinitas 15-36 ppt dan kisaran suhu 15-35 derajat C.&lt;br /&gt;       c) Dunaliella:   salinitas   optimum   18-22   %   NaCl,   untuk   produksi   carotenoid   &gt;&lt;br /&gt;          27% NaCl, dan masih bertahan pada 31% NaCl; suhu optimal 20-40 derajat&lt;br /&gt;          C, pH optimal 9 dan bertahan pada pH 11.&lt;br /&gt;       d) Diatomae: suhu optimal 21-28 derajat C dan intensitas cahaya 1000 luks.&lt;br /&gt;       e) Spirulina: pH optimal 7,2-9,5 dan maksimal 11; suhu optimal 25-35 derajat C;&lt;br /&gt;          tahan kadar garam tinggi, yaitu sampai dengan 85 gram /liter.&lt;br /&gt;       f) Brachionus: suhu optimal untuk   pertumbuhan  dan   reproduksi adalah   22-30&lt;br /&gt;          derajat   C;   salinitas   optimal   10-35   ppt,   yang   betina   dapat   tahan   sampai   98&lt;br /&gt;          ppt; kisaran pH antara 5-10 dengan pH optimal 7,5-8.&lt;br /&gt;       g) Artemia:   kisaran   suhu   25-30   derajat   C   dan   untuk   Artemia   kering   -273-100&lt;br /&gt;          derajat   C;   kadar   garam   optimal   30-50   ppt,   untuk   menghasilkan   kista:   100&lt;br /&gt;          permil; kandungan O2 optimal adalah &gt;3 mg/liter dengan kisaran 1 mg/liter&lt;br /&gt;          sampai   tingkat   kejenuhannya   100   %;  pH   optimal   adalah   7,5-8,5   dan   kadar&lt;br /&gt;          amonia yang baik &lt; 80 mg/liter.&lt;br /&gt;       h) Kutu Air: suhu optimal 22-31 derajat C, dan pH optimal 6,6-7,4.&lt;br /&gt;       i) Cacing      Tubifex:    cacing     tubifex   menyukai      perairan     yang    berlumpur      dan&lt;br /&gt;          banyak mengandung bahan organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Tahapan dalam kultur Phytoplankton sebelum dibudidayakan :&lt;br /&gt;          1. Koleksi&lt;br /&gt;              Bertujuan      untuk    mendapatkan        satu/beberapa       jenis   phytoplankton       dari&lt;br /&gt;              alam   untuk   dikultur   secara   murni.   Koleksi   diperoleh   dari   alam         dengan&lt;br /&gt;              menggunakan plankton net dan dijaga tetap hidup sampai di laboratorium.&lt;br /&gt;          2. Isolasi&lt;br /&gt;              Dapat dilakukan dengan cara: (1) Metode Isolasi secara Biologis, dengan&lt;br /&gt;              menggunakan pengaruh sifat phototaksis organisme yang akan diisolasi;&lt;br /&gt;              (2)   Metode     Isolasi   Pengenceran        Berseri,    digunakan      bila   jumlah    jenis&lt;br /&gt;              organisme   banyak   dan   ada   spesies   dominan,   memindahkan   sampel   ke&lt;br /&gt;              dalam     beberapa      tabung     reaksi   yang    dikondisikan      untuk    pertumbuhan&lt;br /&gt;             yang   akan   diisolasi;   (3)   Metode   Isolasi   pengulangan   Sub   Kultur,   hampir&lt;br /&gt;              sama dengan Metode Isolasi Pengenceran Berseri, tapi jumlah dan jenis&lt;br /&gt;              organisme       yang    terkumpul      sedikit;   (4)   Metode     Isolasi   Pipet    Kapiler,&lt;br /&gt;              dimana      sampel      10-15    tetes   diteteskan      di  tengah     cawan     petri,   dan&lt;br /&gt;              sekelilingnya ditetesi 6-8 tetes medium; dan (5) Metode Isolasi Goresan,&lt;br /&gt;              untuk    mengisolasi      phytoplankton       tunggal    dengan     menggunakan         media&lt;br /&gt;              agar-agar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       b) Infusoria&lt;br /&gt;          1. Bibit   diambil   dari   alam   menggunakan   pipet   panjang   dan   berujung   halus,&lt;br /&gt;              selanjutnya diperiksa di mikroskop.&lt;br /&gt;          2. Penangkaran bibit dapat menggunakan media air rebusan 70 gram jerami&lt;br /&gt;              dalam air suling selama 15 menit. Setelah dingin, disaring dan diencerkan&lt;br /&gt;              sampai volumenya 1,5 liter.&lt;br /&gt;          3. Media      yang     dapat    digunakan      selain    jerami    adalah    kacang      panjang,&lt;br /&gt;              kacang hijau, dan daun selada.&lt;br /&gt;   4. Ambil 10 ml medium dan diencerkan dalam cawan petri yang ditutup kain&lt;br /&gt;       sutra dan disimpan di tempat gelap pada suhu 28  derajat   C   selama   1-2&lt;br /&gt;       minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Brachionus&lt;br /&gt;    1. Bibit diambil dari alam.&lt;br /&gt;   2. Air    medium      yang    digunakan      adalah    air  rebusan     kotoran    kuda/pupuk&lt;br /&gt;       kandang  lainnya,   yaitu   800   ml   kotoran   kering   dalam   1   liter   air   selama   1&lt;br /&gt;      jam. Setelah dingin, disaring dan diencerkan dengan air hujan yang telah&lt;br /&gt;       direbus dengan perbandingan 1 : 2.&lt;br /&gt;   3. Air   medium   dimasukkan   dalam   botol   1   galon   dan   ditulari   bibit   Protozoa&lt;br /&gt;       dan   ganggang   renik   sebagai   makanan           Brachionus   selama   7       hari.  1-2&lt;br /&gt;       minggu kemudian Brachionus akan tumbuh.&lt;br /&gt;   4. Cara lain adalah menularkan bibit ke dalam medium air hijau yang berisi&lt;br /&gt;       phytoplankton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Kutu Air&lt;br /&gt;    1. Bibit   dapat   diperoleh   dari   panti   pembenihan   udang/ikan,   Balai   Budidaya&lt;br /&gt;       Air Tawar milik pemerintah.&lt;br /&gt;   2. Penangkaran bibit dari alam dilakukan dengan cara memberi pupuk pada&lt;br /&gt;       media dengan pupuk kandang 1-2              kali seminggu sebanyak 0,2 kg/m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Artemia&lt;br /&gt;    1. Bibit dapat berasal dari telur kering yang sudah dikalengkan. Dalam hal ini&lt;br /&gt;       dapat berhubungan dengan Dinas Perikanan Daerah setempat, Direktorat&lt;br /&gt;       Jendral Perikanan Jakarta, atau Balai Budidaya Air Payau Jepara (Jawa&lt;br /&gt;       Tengah).   Di   Jakarta   sudah   ada   badan   usaha   yang   melayani   kebutuhan&lt;br /&gt;       telur Artemia, yaitu PT. Ulam Dedana, Jl. Hayam Wuruk no. 4-PX, telepon&lt;br /&gt;       352922-357563.&lt;br /&gt;   2. Penetasan        telur   Artemia     dilakukan     di  wadah      bening    dengan      dasar&lt;br /&gt;       berbentuk kerucut, dengan ukuran 3-75 liter. Wadah dapat dibuat sendiri&lt;br /&gt;       dari kantong plastik 3-5 liter, yang dilapisi dengan kertas plastik kaca dan&lt;br /&gt;       disetrika untuk melekatkannya.&lt;br /&gt;   3. Air   media   diperoleh   dari   pengenceran   air   laut   (30   permil)   sampai   kadar&lt;br /&gt;       garamnya 5 permil dan ditambahi NaHCO3 2 gram/liter agar pH-nya 8-9.&lt;br /&gt;   4. Atau   air   tiruan   (kadar   garam   5   permil)   yang   dapat   dibuat   dari   beberapa&lt;br /&gt;       bahan kimia, yaitu :&lt;br /&gt;       -  Garam dapur NaCl = 5 gram&lt;br /&gt;       -  Magnesium sulfat MgSO4   = 1,3 gram&lt;br /&gt;       -  Magnesium klorida MgCl2  = 1 gram&lt;br /&gt;       -  Kalsium klorida CaCl  = 0,3 gram&lt;br /&gt;                                    2&lt;br /&gt;       -  Kalium klorida KCl = 0,2 gram&lt;br /&gt;       -  Natrium hidrokarbonat NaHCO  = 2 gram&lt;br /&gt;                                                3&lt;br /&gt;       -  Air tawar = dijadikan 1 liter&lt;br /&gt;       MgSO4,       KCl,   NAHCO3       dilarutkan     dalam     air  panas     secara     terpisah&lt;br /&gt;       sebelum digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          5. Telur-telur yang akan ditetaskan direndam dalam air tawar selama 1 jam,&lt;br /&gt;             kemudian disaring dengan kain saringan 125 mikron, sambil disemprot air,&lt;br /&gt;             dan ditiriskan.&lt;br /&gt;          6. Kondisi   yang   mendukung  penetasan   telur,   yaitu   :   suhu   25-30   derajat   C,&lt;br /&gt;             kadar O2 &gt; 2 mg/liter ,penyinaran dengan lampu neon dengan kekuatan&lt;br /&gt;             cahaya 1000 luks (60 watt 2 buah sejauh 20 cm dari dinding wadah).&lt;br /&gt;          7. Telur menetas menjadi nauplius setelah 24-36 jam, dan harus ditangkap&lt;br /&gt;             paling lambat 24 jam sejak menetas. Anak Artemia disedot dengan slang&lt;br /&gt;             plastik kecil dan ditampung dengan saringan 125 mikron, kemudian dicuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      f)  Jentik-jentik Nyamuk&lt;br /&gt;          1. Telur nyamuk dapat diperoleh dengan menggunakan wadah berdiameter&lt;br /&gt;             30 cm dan diisi air leri sedalam 10-30 cm dan diletakkan di tempat yang&lt;br /&gt;             banyak nyamuknya. Wadah diberi atap setinggi 10 cm.&lt;br /&gt;          2. 2-3 hari kemudian akan terbentuk selaput tipis di permukaan. Telur-telur&lt;br /&gt;             yang dilepaskan induk akan saling menempel sampai panjangnya 0,5-1,5&lt;br /&gt;             cm.&lt;br /&gt;          3. Telur diambil dengan lidi yang salah satu sisinya diratakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      g) Cacing Tubifex&lt;br /&gt;          Bibit diambil dari perairan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       h) Ulat Hongkong&lt;br /&gt;          Bibit   untuk   pertama     kali  dapat   diperoleh    dari  pedagang      burung    ocehan.&lt;br /&gt;          Selanjutnya   bibit   dapat   diambil   dari   tempat   penangkaran   sebelum   berubah&lt;br /&gt;         jadi kepompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.  Bahan-Bahan Untuk Pakan Buatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Bahan Hewani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a) Tepung Ikan&lt;br /&gt;             Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis)&lt;br /&gt;             yang     berkadar     lemak    rendah     dan    sisa-sisa   hasil   pengolahan.       Ikan&lt;br /&gt;             difermentasikan   menjadi   bekasem   untuk   meningkatkan   bau   khas   yang&lt;br /&gt;             dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan &lt; 11-12 bulan,&lt;br /&gt;             bila    lebih    dapat    ditumbuhi      cendawan       atau    bakteri,    serta    dapat&lt;br /&gt;             menurunkan        kandungan      lisin  yang   merupakan       asam    amino    essensial&lt;br /&gt;             yang     paling   essensial    sampai     8%.    Kandungan       gizi:  protein=22,65%;&lt;br /&gt;             lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–&lt;br /&gt;             3. Cara pembuatannya:&lt;br /&gt;             1. Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.&lt;br /&gt;             2. Air perasan ditampung untuk dibuat petis/diambil minyaknya.&lt;br /&gt;             3. Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Tepung Rebon dan Benawa&lt;br /&gt;   Rebon       adalah    sejenis    udang     kecil   yang    merupakan       bahan     baku&lt;br /&gt;   pembuatan terasi. Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan Benawa&lt;br /&gt;   muncul   pada   awal   musim   hujan   di   sekitar   muara   sungai,   mengerumuni&lt;br /&gt;   benda yang terapung. Cara pembuatan: (1) Bahan direbus sampai masak,&lt;br /&gt;   diwadahi      karung,   lalu  diperas;   (2)  Ampasnya       dikeringkan    dan   digiling&lt;br /&gt;   menjadi   tepung.   Kandungan   gizi:   Protein:   Udang   rebon=59,4%            (udang&lt;br /&gt;   rebon),     23,38%      (benawa);     Lemak      =3,6%     (Udang      rebon),    25,33%&lt;br /&gt;   (Benawa);        Karbohidrat      3,2%      (Udang      rebon),     0,06%      (benawa);&lt;br /&gt;   Abu=11,41%         (Benawa);     Serat=11,82%        (Benawa);     Air=21,6%      (Udang&lt;br /&gt;   rebon); 5,43% Benawa ,Nilai ubah: Benawa=4–6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Tepung Kepala Udang&lt;br /&gt;   1. Bahan      yang    digunakan     adalah    kepala   udang,    limbah    pada    proses&lt;br /&gt;       pengolahan udang untuk ekspor.&lt;br /&gt;   2. Cara   pembuatannya:   (1)   Bahan   direbus,   dijemur   sampai   kering   dan&lt;br /&gt;      digiling; (2) Tepung diayak untuk membuang bagian-bagian yang kasar&lt;br /&gt;      dan banyak mengandung kitin.&lt;br /&gt;   3. Kandungan        gizinya:   Protein=   53,74%;     Lemak=     6,65%;    Karbohidrat=&lt;br /&gt;      0%; Abu= 7,72%; Serat kasar= 14,61%; Air= 17,28%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Tepung Anak Ayam&lt;br /&gt;   1. Bahan: anak ayam jantan dari perusahaan pembibitan ayam petelur.&lt;br /&gt;   2. Cara pembuatan:&lt;br /&gt;      -   Anak-anak       ayam    dimatikan     secara    masal,   bulu-bulunya      dibakar&lt;br /&gt;          dengan   lampu   semprot.   Kemudian   direbus   sampai   kaku   (setengah&lt;br /&gt;          masak).&lt;br /&gt;      -   Diangin-anginkan   sampai   kering   dan   digiling   beberapa   kali   sampai&lt;br /&gt;          halus.    Hasil  gilingan   yang    masih    basah    disebut   pastadan     dapat&lt;br /&gt;          langsung digunakan.&lt;br /&gt;      -   Pasta dapat dikeringkan dan digiling menjadi tepung.&lt;br /&gt;   3. Kandungan         gizinya:   Protein=61,65%,       Lemak=27,30%,         Abu=2,34%,&lt;br /&gt;      Air=8,80%, Nilai ubah=5–8. Juga mengandung hormon, enzim, vitamin,&lt;br /&gt;      dan mineral yang dapat merangsang nafsu makan dan pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Tepung Kepompong Ulat Sutra&lt;br /&gt;   1. Bahan:       kepompong       ulat   sutra    yang    merupakan       limbah    industri&lt;br /&gt;       pemintalan benang sutra alam.&lt;br /&gt;   2. Kandungan   gizinya:   Protein=   46,74%,   Lemak=   29,75%,   Abu=   4,86%,&lt;br /&gt;      Serat= 8,89%, Air= 9,76%, Nilai ubah= 1,8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Ampas Minyak Hati Ikan&lt;br /&gt;   1. Bahan: amapas hati ikan yang telah diperas minyaknya.&lt;br /&gt;   2. Cara pembuatannya: (1) digunakan sebagai pasta, karena kandungan&lt;br /&gt;       lemaknya tinggi, sehingga sukar dikeringkan. (2) Digiling halus sampai&lt;br /&gt;       bentuknya seperti pellet.&lt;br /&gt;   3. Kandungan   gizinya:   Protein=   25,08%,   lemak=   56,75%,   Abu=   6,60%,&lt;br /&gt;       Air=12,06%, Nilai     ubah= 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Tepung Darah&lt;br /&gt;    1. Bahan: darah, limbah dari rumah pemotongan ternak.&lt;br /&gt;   2. Cara     pembuatanny:       darah    beku   yang    masih    mentah     dimasak    dan&lt;br /&gt;       dikeringkan, kemudian digiling menjadi tepung.&lt;br /&gt;   3. Kandungan        gizinya:   Protein=    71,45%,     Lemak=      0,42%,Karbohidrat=&lt;br /&gt;       13,12%, Abu= 5,45%, Serat= 7,95%, Air= 5,19.&lt;br /&gt;    Proteinnya sukar dicerna, sehingga penggunaannya untuk ikan &lt; 3% dan&lt;br /&gt;   untuk udang &lt; 5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Silase Ikan&lt;br /&gt;    1. Bahan: ikan rucah dan limbah pengolahan.&lt;br /&gt;   2. Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.&lt;br /&gt;   3. Cara     pembuatan:      (1)  Bahan     dicuci,  dicincang    kecil-kecil,  kemudian&lt;br /&gt;       digiling. Hasil gilingan direndam dalam larutan asam formiat 3% 24 jan,&lt;br /&gt;       kemudian diperas. (2) Air perasan ditampung dan lapisan minyak yang&lt;br /&gt;       mengapung di lapisan atas disingkirkan. (3) Cairan yang bebas minyak&lt;br /&gt;       dicampur     dengan     ampas     dan   ditambah     asam    propionat    1%,   untuk&lt;br /&gt;       mencegah tumbuhnya bakteri/cendawan dan menambah daya awet ± 3&lt;br /&gt;       bulan dengan pH ± 4,5. (4) Bahan diperam selama 4 hari dan diaduk 3-&lt;br /&gt;       4 kali sehari. (5) Bahan cair yang bersifat asam dapat dicampur dengan&lt;br /&gt;       dedak,     ketela    pohon/tepung        jagung     dengan     perbandingan       1:1,&lt;br /&gt;       dikeringkan dan digunakan untuk campuran dalam ramuan makanan.&lt;br /&gt;   4. Kandungan gizinya: Protein=18-20%, Lemak=1-2%, Abu=4-6%, Air=70-&lt;br /&gt;       75%, Kapur=1-3%, Fosfor=0,3-0,9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i) Arang Bulu Ayam dan Tepung Tulang&lt;br /&gt;    1. Bahan: arang bulu ayam, tulang ternak.&lt;br /&gt;   2. Cara pembuatan: Tulang dipotong sepanjang 5-10 cm, direbus selama&lt;br /&gt;       2-4   jam   dengan   suhu   100   derajat   C,   kemudian   dihancurkan   hingga&lt;br /&gt;       menjadi      serpihan-serpihan       sepanjang      1-3    cm.    Serpihan      tulang&lt;br /&gt;       direndam dalam air kapur 10% selama 4-5 minggu dan dicuci dengan&lt;br /&gt;       air   tawar.   Pemisahan   selatin   dengan   jalan   pemanasan   3   tahap,   yaitu&lt;br /&gt;       pada suhu 60 derajat C selama 4 jam, suhu 70 derajat C selama 4 jam,&lt;br /&gt;       dan    100    derajat   C    selama     5  jam.   Pemrosesan        selatin.   Tulang&lt;br /&gt;       dikeringkan pada suhu 100 derajat C, sampai kadar airnya tinggal 5%&lt;br /&gt;       dan digiling hingga menjadi tepung. Pengemasan dan penyimpanan.&lt;br /&gt;   3. Kandungan         gizinya:   Protein=25,54%,       Lemak=3,80%,         Abu=61,60%,&lt;br /&gt;       Serat=1,80%, Air=5,52%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j) Tepung Bekicot&lt;br /&gt;    1. Bahan: daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus.&lt;br /&gt;   2. Cara      pembuatan:      Daging     bekicot   dikeringkan     lalu   digiling.  Untuk&lt;br /&gt;       campuran makanan sebesar 5-15%.&lt;br /&gt;       3. Kandungan gizi: Protein=54,29%, Lemak=4,18%, Karbohidrat=30,45%,&lt;br /&gt;          Abu=4,07%, Kapur=8,3%, Fosfor=20,3%, Air=7,01.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   k) Tepung Cacing Tanah&lt;br /&gt;       1. Dapat menggantikan tepung ikan, dapat diternak secara masal.&lt;br /&gt;       2. Jumlah penggunaan dalam ramuan 10-25%.&lt;br /&gt;       3. Cara pembuatan: Cacing dikeringkan lalu digiling.&lt;br /&gt;      4. Kandungan proteinnya 72% dan mudah diserap dinding usus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   l)  Tepung Artemia&lt;br /&gt;       1. Dapat menggantikan tepung ikan/kepala udang.&lt;br /&gt;       2. Kandungan   protein   (asam   amino   essensial)   untuk   burayak   42%   dan&lt;br /&gt;          dewasa   60%,   sedangkan   asam   lemak   tak   jenuh   untuk   burayak   20%&lt;br /&gt;          dan dewasa 10%. Daya cernanya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   m)Telur Ayam dan Itik&lt;br /&gt;       1. Bahan: telur mentah atau telur rbus.&lt;br /&gt;       2. Penggunaan:   Telur   mentah   langsung   dikopyok   dan   dicampur   dengan&lt;br /&gt;          bahan   lain.   Telur   rebus,   diambil   kuningnya,   dihaluskan   dan   dilarutkan&lt;br /&gt;          sampai membentuk emulsi atau suspensi.&lt;br /&gt;       3. Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%,&lt;br /&gt;          Air=74%.&lt;br /&gt;   n) Susu&lt;br /&gt;       1. Bahan: tepung susu tak berlemak (skim).&lt;br /&gt;       2. Kandungan        gizi:   Protein=35,6%        Lemak=1,0%        Karbohidrat=52,0%,&lt;br /&gt;          Air=3,5%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Bahan Nabati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a) Dedak&lt;br /&gt;       Bahan   dedak   padi   ada   2,   yaitu   dedak   halus   (katul)   dan   dedak   kasar.&lt;br /&gt;       Dedak   yang   paling   baik   adalah   dedak   halus   yang   didapat   dari   proses&lt;br /&gt;       penyosohan          beras,     dengan        kandungan        gizi:    Protein=11,35%,&lt;br /&gt;       Lemak=12,15%,   Karbohidrat=28,62%,   Abu=10,5%,   Serat   kasar=24,46%,&lt;br /&gt;      Air=10,15%, Nilai ubah= 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   b) Dedak Gandum&lt;br /&gt;       Bahan: hasil samping perusahaan tepung terigu. Tepung yang paling baik&lt;br /&gt;       untuk     pakan     ikan   adalah    “wheat     pollard”    dengan     kandungan       gizi:&lt;br /&gt;       Protein=11,99%, Lemak=1,48%, Karbohidrat=64,75%,   Abu=0,64%,  Serat&lt;br /&gt;       kasar=3,75%, Air=17,35%, Nilai ubah=2-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c) Jagung&lt;br /&gt;       Terdapat     2  jenis,   yaitu:  (1)  Jagung     kuning,   mengandung        protein   dan&lt;br /&gt;       energi    tinggi,  daya    lekatnya     rendah;    (2)  Jagung     putih,   mengandung&lt;br /&gt;       protein    dan   enrgi   rendah,     daya    lekatnya    tinggi.  Sukar    dicerna    ikan,&lt;br /&gt;       sehingga jarang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Cantel/Sorgum&lt;br /&gt;    Berwarna merah, putih, kecoklatan. Warna putih lebih banyak digunakan.&lt;br /&gt;    Mempunyai   zat   tanin   yang   dapat   menghambat   pertumbuhan,   sehingga&lt;br /&gt;   harus   ditambah   metionin/penyosohan   yang   lebih   baik.   Kandungan   gizi:&lt;br /&gt;    Protein=13,0%,   Lemak=2,05%,   Karbohidrat=47,85%,   Abu=12,6%,                    Serat&lt;br /&gt;   kasar= 13,5%, Air=10,64%, Nilai ubah2-5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Tepung Terigu&lt;br /&gt;    Berasal     dari  biji  gandum,     berfungsi    sebagai    bahan     perekat    dengan&lt;br /&gt;   kandungan         gizi:   Protein=8,9%;        Lemak=1,3%;         Karbohidrat=77,3%;&lt;br /&gt;   Abu=0,06%; Air=13,25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Tepung Kedele&lt;br /&gt;    Keuntungan:       mengandung        lisin  asam     amino    essensial     yang    paling&lt;br /&gt;   essensial     dan    aroma    makanan      lebih  sedap,    penggunaannya        ±  10%.&lt;br /&gt;    Kekurangan:      mengandung        zat  yang   dapat    menghambat       enzim    tripsin,&lt;br /&gt;   dapat     dikendalikan     dengan     cara   memasak.      Kandungan       gizi:  Protein:&lt;br /&gt;   39,6%,       Lemak=14,3%,        Karbohidrat=29,5%,         Abu=5,4%,       Serat=2,8%,&lt;br /&gt;   Air=8,4%, Nilai ubah=3-5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Tepung Ampas Tahu&lt;br /&gt;    Kandungan               gizinya:          Protein=23,55%,               Lemak=5,54%,&lt;br /&gt;    Karbohidrat=26,92%, Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Tepung Bungkil Kacang Tanah&lt;br /&gt;    Bungkil     kacang     tanah    adalah     ampas     pembuatan       minyak      kacang.&lt;br /&gt;    Kelemahannya:        dapat   menyebabkan        penyakit    kurang    vitamin,   dengan&lt;br /&gt;   gejala     sirip   tidak   normal     dan    dapat    dicegah     dengan      membatasi&lt;br /&gt;   penggunaannya.           Kandungan        gizi:    Protein=47,9%,        Lemak=10,9%,&lt;br /&gt;    Karbohidrat     =25,0%,     Abu=4,8%,       Serat   kasar=3,6%,       Air=7,8%,      Nilai&lt;br /&gt;   ubah=2,7-4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i) Bungkil Kelapa&lt;br /&gt;    Bungkil    kelapa    adalah   ampas     dari  proses    pembuatan      minyak    kelapa.&lt;br /&gt;   Sebagai      bahan    ramuan     dapat    dipakai   sampai     20%.    Kandungan      gizi:&lt;br /&gt;    Protein=17,09%, Lemak=9,44%, Karbohidrat=23,77%,   Abu=5,92%,  Serat&lt;br /&gt;   kasar=30,4%, Air=13,35%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j) Biji Kapuk/Randu&lt;br /&gt;    Bahan:     bungkil   kapuk    yang    telah  diambil    minyaknya.     Kelemahannya:&lt;br /&gt;    Mengandung          zat     siklo-propenoid        yang     bersifat     racun      bius.&lt;br /&gt;    Penggunaannya &lt; 5%. Kandungan gizinya: Protein=27,4%, Lemak=5,6%,&lt;br /&gt;    Karbohidrat=18,6%, Abu=7,3%, Serat kasa=25,3%, Air=6,1 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   k) Biji Kapas&lt;br /&gt;       Bahan: bungkil dari pembuatan minyak. Kelemahannya: mengandung zat&lt;br /&gt;      gosipol      yang     bersifat    sebagai      racun,    yaitu    merusak       hati   dan&lt;br /&gt;       perdarahan/pembengkakan   jaringan   tubuh.   Untuk   penggunaannya   haru&lt;br /&gt;      sdimasak       dulu.  Kandungan       gizi:  Protein=19,4%,      Lemak=19,5%,        Asam&lt;br /&gt;       lemak      linoleat=47,8%,      Asam      lemak     palmitat=23,4%,       Asam      lemak&lt;br /&gt;      oleat=22,9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   l)  Tepung Daun Turi&lt;br /&gt;       Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein,&lt;br /&gt;      dan      alkoloid-alkoloid     lainnya.    Kandungan        gizinya:   Protein=27,54%,&lt;br /&gt;       Lemak=4,73%,   Karbohidrat=21,30%,   Abu=20,45%,   Serat   kasar=14,01%,&lt;br /&gt;      Air=11,97 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   m)Tepung Daun Lamtoro&lt;br /&gt;       Kelemahannya: mengandung  mimosin,  dalam pemakaiannya   &lt;  5%   saja.&lt;br /&gt;       Kandungan gizinya: Protein=36,82%, Lemak=5,4%, Karbohidrat=16,08%,&lt;br /&gt;      Abu=1,31%, Serat kasar=18,14%, Air=8,8%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   n) Tepung Daun Ketela Pohon&lt;br /&gt;       Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan   gizi:   Protein=34,21%,&lt;br /&gt;       Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   o) Isi Perut Besar Hewan Memamah biak&lt;br /&gt;       Bahan:   dari    rumah   pemotongan        ternak.   Cara   pembuatan:      dikeringkan,&lt;br /&gt;      digiling    sampai     menjadi     tepung.    Kandungan       gizinya:   Protein=8,39%,&lt;br /&gt;       Lemak=5,54%,   Karbohidrat=33,51%,   Abu=17,32%,   Serat   kasar=20,34%,&lt;br /&gt;      Air=14,9%, Nilai ubah=2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Bahan Tambahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a) Vitamin dan Mineral&lt;br /&gt;       1. Cara memperoleh: dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang&lt;br /&gt;          sudah dikemas dalam bentuk premiks (premix).&lt;br /&gt;      2. Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino&lt;br /&gt;          tertentu.&lt;br /&gt;      3. Contoh-contoh merek dagang:&lt;br /&gt;          -  Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), 2&lt;br /&gt;             asam amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, J,&lt;br /&gt;             Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT)&lt;br /&gt;          -  Rhodiamix:       mengandung        12   macam       vitamin   (A,   D,   E,   K,   B&lt;br /&gt;             kompleks), asam amino essensia   metionin, dan  8 mineral   (Mg,   Fe,&lt;br /&gt;             Mo, Ca, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan.&lt;br /&gt;          -  Mineral   B12:   mengandung   tepung   tulang,   CaCO  ,   FeSO ,   MnSO ,&lt;br /&gt;             KI, CuSO , dan ZnCO , serta vitamin B12 (sianokobalamin).&lt;br /&gt;                -   Merek lain: Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer   Premix  B.&lt;br /&gt;                    Penggunaannya :&lt;br /&gt;             4. Untuk ikan 1-2% dan untuk udang 10-15%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          b) Garam Dapur (NaCl)&lt;br /&gt;             1. Fungsi:     sebagai   bahan   pelezat      (gurih),   mencegah      terjadinya    proses&lt;br /&gt;                pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan.&lt;br /&gt;             2. Penggunaannya cukup 2%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          c) Bahan Perekat&lt;br /&gt;             1. Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu,&lt;br /&gt;                dll. Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka.&lt;br /&gt;             2. Penggunaannya cukup 10%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          d) Antioksidan&lt;br /&gt;             1. Bahan:      fenol,  vitamin    E,  vitamin    C,  etoksikulin    (1,2dihydro-6-etoksi-&lt;br /&gt;                2,2,4    trimethyquinoline),      BHT    (butylated    hydroxytoluena),       dan   BHA&lt;br /&gt;                (butylated hydroxyanisole).&lt;br /&gt;             2. Penggunaannya: etoksikulin 150 ppm, BHT dan BHA 200 ppm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          e) Ragi dan Ampas Bir&lt;br /&gt;             1. Ragi     adalah     sejenis    cendawan       yang    dapat    merubah      karbohidrat&lt;br /&gt;                menjadi alkohol dan CO2.&lt;br /&gt;             2. Macam ragi: ragi tape, ragi roti, dan bir.&lt;br /&gt;             3. Kandungan         gizi:   Protein=59,2%,        Lemak=0,        Karbohidrat=38,93%,&lt;br /&gt;                Abu=4,95%, Serat kasar=0, Air=6,12%.&lt;br /&gt;             4. Ampas bir merupakan limbah pengolahan bir.&lt;br /&gt;             5. Kandungan gizinya: Protein=25,9%, Serat kasar=15%&lt;br /&gt;             6. Penggunaannya: ampas bir basah 3-6% dan kering 10%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.   Penyiapan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pakan Alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a) Chlorella&lt;br /&gt;             1. Alat-alat yang akan digunakan dicuci dengan deterjen, kemudian dibilas&lt;br /&gt;                dengan larutan klorin 150 ppm.&lt;br /&gt;             2. Dalam wadah 1 galon:&lt;br /&gt;                -   Menggunakan   stoples   atau   botol   “carboys”,   slang   aerasi,   dan   batu&lt;br /&gt;                    aerasi.&lt;br /&gt;                -   Botol   diisi   medium  ± 3   liter,   untuk   Chlorella   air   laut   menggunakan&lt;br /&gt;                    medium       dengan     kadar    garam     15    permil,   dan    untuk    Chlorella&lt;br /&gt;                    menggunakan air tawar. Air medium disaring dengan kain saringan&lt;br /&gt;                    15 mikron.&lt;br /&gt;                -   Disterilkan    dengan     cara    mendidihkan,      klorinasi,   atau   penyinaran&lt;br /&gt;                    dengan lampu ultraviolet.&lt;br /&gt;       -  Pemupukan dengan menggunakan ramuan Allen-Miguel, yang terdiri&lt;br /&gt;          dari 2 larutan, yaitu: (1) Larutan A, terdiri dari 20 gram KNO  dalam&lt;br /&gt;          100 ml air suling; (2) Larutan B, terdiri dari: 4 gram Na HPO .12H O;&lt;br /&gt;          2    gram    CaCl  .6H O;      2   gram     FeCl ;    dan   2   ml   HCl;    semuanya&lt;br /&gt;          dilarutkan dalam 80 ml air suling.&lt;br /&gt;       -  Setiap 1liter medium, menggunakan 2 ml larutan A dan 1 ml larutan&lt;br /&gt;          B.&lt;br /&gt;   3. Dalam wadah 60 liter atau 1 ton&lt;br /&gt;       -  Wadah        dicuci   dan     dibebashamakan.          Air   untuk    medium       harus&lt;br /&gt;          disaring.   Medium   dipupuk   dengan   jenis   dan   takaran:   100   mg/liter&lt;br /&gt;          pupuk      21-0-0,    Urea    sebanyak      10-15    mg/liter   dan   pupuk       16-20-0&lt;br /&gt;          sebanyak 10-15 mg/l&lt;br /&gt;       -  Untuk pertumbuhan dalam wadah besar (1ton) cukup menggunakan&lt;br /&gt;          urea dengan takaran 50 gram/m .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Tetraselmis&lt;br /&gt;    1. Dalam wadah 1liter&lt;br /&gt;       -  Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu&lt;br /&gt;          aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150&lt;br /&gt;          ml/ton.&lt;br /&gt;       -  Wadah   diisi   air   medium   dengan   kadar   garam   28   permil   yang   telah&lt;br /&gt;          disaring   dengan   saringan   15   mikron.   Kemudian   disterilkan   dengan&lt;br /&gt;          cara     direbus,    diklorin   60   ppm     dan   dinetralkan      dengan     20   ppm&lt;br /&gt;          Na S O , atau disinari lampu ultraviolet.&lt;br /&gt;       -  Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :&lt;br /&gt;          1. Natrium nitrat – NaNO  = 84 mg/l&lt;br /&gt;          2. Natrium dihidrofosfat-NaH  PO  = 10 mg/l atau&lt;br /&gt;              Natrium fosfat-Na PO  = 27,6 mg/l atau&lt;br /&gt;              Kalsium fosfat-Ca (PO )  = 11,2 mg/l&lt;br /&gt;          3. Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l&lt;br /&gt;          4. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l&lt;br /&gt;          5. Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l&lt;br /&gt;          6. Biotin = 1 mikrogram/l&lt;br /&gt;          7. Vitamin B12 = 1mikrogram/l&lt;br /&gt;          8. Tembaga sulfat kristal CuSO  .5H O = 0,0196 mg/l&lt;br /&gt;          9. Seng sulfat kristal ZnSO  .7H O = 0,044 mg/l&lt;br /&gt;          10Natrium molibdat-NaMoO .7H O = 0,02 mg/l&lt;br /&gt;          11Mangan klorida kristal-MnCl .4H O = 0,0126 mg/l&lt;br /&gt;          12Kobalt korida kristal-CoCl .6H O = 3,6 mg/l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Dalam wadah 1 galon (3 liter)&lt;br /&gt;       -  Dapat menggunakan botol “carboys” atau stoples.&lt;br /&gt;       -  Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter.&lt;br /&gt;       -  Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :&lt;br /&gt;          1. Urea-46 = 100 mg/l&lt;br /&gt;          2. Kalium hidrofosfat-K  HPO  = 10 mg/l&lt;br /&gt;          3. Agrimin = 1 mg/l&lt;br /&gt;          4. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l&lt;br /&gt;          5. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l&lt;br /&gt;          6. Vitamin B1 = 0,005 mg/l&lt;br /&gt;          7. Vitamin B12 = 0,005 mg/l&lt;br /&gt;   3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton&lt;br /&gt;       -  Wadah   200   liter   dapat   menggunakan   akuarium,   dan              untuk    1  ton&lt;br /&gt;          menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass.&lt;br /&gt;          -      Persiapan lain sama.&lt;br /&gt;       -  Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :&lt;br /&gt;          1. Urea-46 = 100 mg/liter&lt;br /&gt;          2. Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter&lt;br /&gt;          3. Kalium hidrofosfat-K HPO  = 5 mg/liter atau&lt;br /&gt;              Kalium dihidrofosfat-K H PO  = 5 mg/liter&lt;br /&gt;          4. Agrimin = 1 mg/liter&lt;br /&gt;          5. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter&lt;br /&gt;       -  Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea 60-100 mg/liter&lt;br /&gt;          dan TSP 20-50 mg/liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Dunaliella&lt;br /&gt;   Wadah dan peralatan lainnya dicuci, kemudian diisi medium dengan kadar&lt;br /&gt;   garam   18-22   permil.   Selanjutnya   diberi   pupuk   cair   1   ml/liter,   kemudian&lt;br /&gt;   diaerasi dan dibiarkan sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Diatomae&lt;br /&gt;    1. Dalam wadah 1liter&lt;br /&gt;       -  Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu&lt;br /&gt;          aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150&lt;br /&gt;          ml/ton.&lt;br /&gt;       -  Wadah   diisi     air  medium      yang    telah  disaring   dengan      saringan     15&lt;br /&gt;          mikron      sampai     300-500      ml,   dan    berkadar     garam      28-35    untuk&lt;br /&gt;          Diatomae       laut   dan    air  tawar    untuk    Diatomae      tawar.    Kemudian&lt;br /&gt;          disterilkan     dengan       cara    direbus,    diklorin,   atau     disinari   lampu&lt;br /&gt;          ultraviolet.&lt;br /&gt;       -  Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut:&lt;br /&gt;          a)Larutan A= KNO  20,2 gram + Air suling 100 ml&lt;br /&gt;          b)Larutan B= Na HPO  2,0 gram + Air suling 100 ml&lt;br /&gt;          c)Larutan C= Na SiO  1,0 gram + Air suling 100&lt;br /&gt;          d)Larutan D= FeCl3) 1,0 gram + Air suling 20 ml&lt;br /&gt;       -  Setiap   1   liter   medium   diberi   larutan   A,   B,   C,   sebanyak   1   ml   dan&lt;br /&gt;          larutan D 4 tetes. Kemudian diaerasi dengan batu aerasi dan sumber&lt;br /&gt;          udara dapat berasal dari mesin blower, kompressor atau aerator.&lt;br /&gt;       -  Pupuk lain yang dapat ditambahkan:&lt;br /&gt;          1. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid)=10 mg/l&lt;br /&gt;          2. Tiamin-HCl (vitamin B1) = 0,2 mg/l&lt;br /&gt;          3. Biotin = 1,0 mg/l&lt;br /&gt;          4. Vitamin B12 = 1,0 mg/l&lt;br /&gt;          5. Tembaga sulfat kristal CuSO  .5H O = 0,0196 mg/l&lt;br /&gt;          6. Seng sulfat kristal ZnSO  .7H O = 0,044 mg/l&lt;br /&gt;          7. Natrium molibdat-NaMoO  .7H O = 0,02 mg/l&lt;br /&gt;          8. Mangan klorida kristal-MnCl  .4H O = 0,0126 mg/l&lt;br /&gt;          9. Kobalt korida kristal-CoCl  .6H O = 3,6 mg/l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Dalam wadah 1 galon (3 liter)&lt;br /&gt;       -  Wadah dicuci dan diisi air medium.&lt;br /&gt;       -  Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut:&lt;br /&gt;          1. Urea = 100 mg/l&lt;br /&gt;          2. Kalium hidrofosfat-K  HPO  = 10 mg/l&lt;br /&gt;          3. Na SiO  = 2 mg/l&lt;br /&gt;          4. Agrimin = 1 mg/l&lt;br /&gt;          5. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l&lt;br /&gt;          6. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l&lt;br /&gt;          7. Vitamin B1 = 0,005 mg/l&lt;br /&gt;          8. Vitamin B12 = 0,005 mg/l&lt;br /&gt;   3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton.&lt;br /&gt;       -  Wadah dicuci dan diisi air medium.&lt;br /&gt;       -  Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :&lt;br /&gt;          1. Urea-46 = 100 mg/l&lt;br /&gt;          2. K  HPO  atau KH  PO  = 5 mg/l&lt;br /&gt;          3. Na SiO  = 2 mg/l&lt;br /&gt;          4. Agrimin = 1 mg/l&lt;br /&gt;          5. Besi klorida-FeCl  = 2 mg/l&lt;br /&gt;          6. 16-20-0 = 5 mg/l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Spirulina&lt;br /&gt;   Wadah dan peralatan lainnya dicuci, kemudian diisi medium dengan kadar&lt;br /&gt;   garam      15-20     permil.   Selanjutnya      diberi   pupuk    cair   1  ml/l,  kemudian&lt;br /&gt;   diaerasi dan dibiarkan sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Brachionus&lt;br /&gt;    1. Dengan Pemupukan&lt;br /&gt;       -  Wadah   yang   digunakan   berukuran   1-10   ton   atau   10-100   ton   yang&lt;br /&gt;          telah dicuci dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton. Wadah diisi&lt;br /&gt;          air melalui kain saringan halus.&lt;br /&gt;       -  Pemupukan menggunakan kotoran sapi kering 20 mg/l, pupuk urea&lt;br /&gt;          dan     TSP    masing–masing         2  mg/l,   kemudian       didiamkan     4-5   hari,&lt;br /&gt;          sampai   tumbuh   jasad-jasad   renik   makanan   Brachionus,   yaitu   jenis&lt;br /&gt;          Diatomae,   seperti   Cyclotella,   Melosira,   Asterionella,   Nitzschia,   dan&lt;br /&gt;          Amphora.        Tumbuhnya        Diatomae      ditandai     dengan     warna     coklat&lt;br /&gt;          perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Dengan Pemberian Makanan&lt;br /&gt;       -  Wadah   yang   digunakan   berukuran   1   ton,   yang   terbuat   dari   papan&lt;br /&gt;          kayu   yang   dilapisi   lembaran   plastik,   bahan   semen,   atau   fiberglass,&lt;br /&gt;          yang      dicuci   biasa.    Wadah       diisi  air   medium,      tergantung      jenis&lt;br /&gt;          Brachionus.       Wadah      diletakkan    di  luar   ruangan,     di  bawah     atap&lt;br /&gt;          bening.&lt;br /&gt;       -  Pemupukan menggunakan 100 mg/l urea, 20 mg/l TSP, dan 2 mg/l&lt;br /&gt;          FeCl ,      untuk    menumbuhkan          algae     planktonik     (Chlorella     dan&lt;br /&gt;          Tetraselmis). Medium diudarai untuk meratakan pupuk dan algae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Artemia&lt;br /&gt;    1. Wadah yang digunakan adalah berbagai macam bak berbentuk empat&lt;br /&gt;       persegi      panjang      dengan      sudut    tegak     lurus,    menyerong,       atau&lt;br /&gt;       melengkung. Ukurannya 300 liter, 2 ton, 5 ton, dsb.&lt;br /&gt;   2. Di tengah bak dipasang  penyekat  terbuat  dari   papan/lembaran plastik&lt;br /&gt;       dengan   arah   membujur   sejajar   dengan   sisi   bak   yang   panjang.   Jarak&lt;br /&gt;       antara   ujung   penyekat   tengah   dengan   sisi   bak   yang   pendek   2/3   kali&lt;br /&gt;      jarak antara penyekat tengah dengan sisi bak yang panjang, dan jarak&lt;br /&gt;       sisi bawah dengan dasar bak 2-5 cm.&lt;br /&gt;   3. Dalam bak dipasang  "air   water   lift   (AWL)"   yang  terbuat  dari   pipa-pipa&lt;br /&gt;       PVC untuk menimbulkan putaran.&lt;br /&gt;       -  Kedalaman 20 cm, diameter pipa AWL= 25 mm&lt;br /&gt;       -  Kedalaman 40 cm, diameter pipa AWL= 40 mm&lt;br /&gt;       -  Kedalaman 75 cm, diameter pipa AWL= 50 mm&lt;br /&gt;       -  Kedalaman 100 cm, diameter pipa AWL= 60 mm&lt;br /&gt;   4. Pipa   AWL   dipotong   miring   30-45   derajat   pada   ujung   bawahnya   dan&lt;br /&gt;       dipasang menyentuh dasar bak. Pipa AWL diikat pada kedua belah sisi&lt;br /&gt;       penyekat   tengah   dan   ujung   -ujung   bagian   atasnya   dibuat   menyerong&lt;br /&gt;       30-45 derajat. Jarak antara AWL 25-40 cm dengan arah berlawanan.&lt;br /&gt;   5. Slang plastik berdiameter 6 mm dimasukkan pada AWL untuk saluran&lt;br /&gt;       udara,   yang   dihubungkan   dengan   tabung   pembagi   udara   terbuat   dari&lt;br /&gt;       pipa PVC berdiameter 5 cm dan diikat pada atas penyekat tengah.&lt;br /&gt;   6. Tabung dihubungkan dengan pipa udara yang mengalirkan udara dari&lt;br /&gt;       mesin penghembus udara (Blower).&lt;br /&gt;   7. Air untuk pemeliharaan adalah air laut (kadar garam 30-35 permil) atau&lt;br /&gt;       air   tiruan   (kadar   garam   30   permil)   yang   dapat   dibuat   dari   beberapa&lt;br /&gt;       bahan kimia, yaitu:&lt;br /&gt;       -  Garam dapur (NaCl) = 31,08 gram&lt;br /&gt;       -  Magnesium sifat (MgSO ) = 7,74 gram&lt;br /&gt;       -  Magnesium klorida (MgCl2) = 6,09 gram&lt;br /&gt;       -  Kalsium klorida (CaCl2) = 1,53 gram&lt;br /&gt;       -  Kalium klorida (KCl) = 0,97 gram&lt;br /&gt;       -  Natrium hidrokarbonat (NaHCO3) = 2 gram&lt;br /&gt;       -  Air tawar dijadikan 1 liter&lt;br /&gt;       MgSO4,      KCl,   NaHCO3       dilarutkan    dalam    air  panas     secara    terpisah&lt;br /&gt;       sebelum digunakan.&lt;br /&gt;   8. Penyaringan         air   dilakukan     untuk    mengurangi        timbunan      kotoran.&lt;br /&gt;       Penyaringan   air   dilakukan   dengan   kotak   keping   penyaring   berbentuk&lt;br /&gt;       kotak persegi empat yang terbagi 2 bagian, yaitu bagian pertama untuk&lt;br /&gt;       pemasukan   air   dan   bagian   kedua   untuk   pengendapan.   Ukuran   kotak&lt;br /&gt;       10% dari bak dan terbuat dari kayu yang dicat dengan epoxy. Alat ini&lt;br /&gt;       dibersihkan 2 hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Infusoria&lt;br /&gt;    1. Penangkaran dapat dilakukan secara berurutan dalam wadah 1 liter, 1&lt;br /&gt;       galon,     200    liter,  dan   1   ton.   Untuk    wadah      1   liter  dan   1   galon,&lt;br /&gt;       menggunakan   air   rebusan   jerami   sebagi   medium,   dan   untuk   wadah&lt;br /&gt;       yang lebih besar menggunakan air mentah.&lt;br /&gt;    2. Air   mentah   dimasukkan   dalam   wadah   200   liter   dan   1   ton   (tergantung&lt;br /&gt;       jenis Ciliatanya) dan ditambah potongan-potongan jerami   atau  rumput&lt;br /&gt;       kering, daun selada, atau kulit pisang  kering, kemudian air diaerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i)  Kutu Air&lt;br /&gt;    1. Wadah yang digunakan adalah berbagai macam bak dengan ukuran 1&lt;br /&gt;       ton (1 m3). Bak diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar                 matahari&lt;br /&gt;       langsung.&lt;br /&gt;    2. Wadah   diisi   air   tawar   sampai   60   cm   dan   diudarai   dengan   batu   1-2&lt;br /&gt;       aerasi per 2,5 m2.&lt;br /&gt;    3. Pemupukan menggunakan kotoran ayam kering yang dilarutkan dalam&lt;br /&gt;       air   samapi     konsentrasinya       10%    dan   bungkil    kelapa    yang    ditumbuk&lt;br /&gt;       halus dan diayak dengan saringan 500 mikron.&lt;br /&gt;    4. Pemupukan         pertama     menggunakan         kotoran    ayam    1000    ml/ton    dan&lt;br /&gt;       bubuk   bungkil   kelapa   200   gram/ton   yang   dicampur   dan   dimasukkan&lt;br /&gt;       dalam   kantong   yang   diperas   di   atas   bak   pemeliharaan,   sehingga   air&lt;br /&gt;       perasan langsung jatuh ke bak.&lt;br /&gt;    5. Pemupukan kedua dilakukan 4 hari kemudian, dan pemupukan ketiga&lt;br /&gt;       dilakukan bila perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j) Jentik-jentik nyamuk&lt;br /&gt;    1. Wadah   penetasan   yang   juga   merupakan   wadah   pemeliharaan   dapat&lt;br /&gt;       berupa      pengaron,      ember      plastik,   atau   wadah     bukan     logam     yang&lt;br /&gt;       lainnya. Air medium menggunakan air leri atau air biasa.&lt;br /&gt;    2. Setelah     telur  cukup,     wadah     dimasukkan      dalam     kandan     yang    diberi&lt;br /&gt;       dinding kelambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k) Cacing Tubifex&lt;br /&gt;    1. Lahan dibuat dengan bentuk mirip kolam dengan luas 10x10 cm atau&lt;br /&gt;       lebih, dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air.&lt;br /&gt;    2. Dasar   kolam   dibuat   petakan-petakan   (blok)   lumpur,   berjarak   20   cm,&lt;br /&gt;       setinggi   10   cm dengan   luas  1x2   m   dan   dasarnya   dilapisi   papan   kayu&lt;br /&gt;       atau dibentuk cetakan.&lt;br /&gt;    3. Pemupukan         menggunakan          dedak     halus    (200-250      gram/m2)      atau&lt;br /&gt;       kotoran   ayam   yang   telah   dibersihkan   dan   dihaluskan   sebanyak   300&lt;br /&gt;       gram/m2. Pupuk ditebar di lahan dan direndam air 5 cm selama 4 hari&lt;br /&gt;       bila menggunakan dedak dan 3 hari bila menggunakan kotoran ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          l) Ulat Hongkong&lt;br /&gt;             1. Pemeliharaan         skala    kecil   dapat     menggunakan         beberapa      kotak&lt;br /&gt;                kayu/tripleks berukuran 40x40x20 cm yang dilapisi selotip/isolasi pada&lt;br /&gt;                bagian bibirnya, atau ember plastik, baki, atau waskom.&lt;br /&gt;             2. Bagian       atas     tempat      pemeliharaan        dibiarkan      terbuka      untuk&lt;br /&gt;                memudahkan          panen.    Kemudian      wadah     ditempatkan      pada    rak  dan&lt;br /&gt;                diletakkan dalam ruang gelap dan tidak kena sinar matahari.&lt;br /&gt;             3. Medium pemeliharaan yang berupa campuran dedak halus dan ampas&lt;br /&gt;                tahu    kering   atau   tepung    jagung    yang    dicampur     tepung    tulang   dan&lt;br /&gt;                tepung     ikan   yang    telah  disaring/diayak,     ditebar   pada    dasar    wadah&lt;br /&gt;                setebal 2-3 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pakan Buatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Alat-alat yang diperlukan :&lt;br /&gt;          a) Alat Penggiling dan Pengayak&lt;br /&gt;          b) Alat Penimbang dan Penakar&lt;br /&gt;          c) Alat Pengaduk dan Pencampur&lt;br /&gt;          d) Alat Pemasak&lt;br /&gt;          e) Alat Pengering&lt;br /&gt;          f) Alat Penyimpan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4.  Pemeliharaan Pakan Alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      a) Chlorella&lt;br /&gt;          1. Dalam wadah 1 galon :&lt;br /&gt;             -  Bibit   ditebar   dalam   medium   yang   telah   diberi   pupuk,   sampai   airnya&lt;br /&gt;                berwarna       agak   kehijau-hijauan.     Bibit   yang   masuk     disaring    dengan&lt;br /&gt;                saringan 15 mikron.&lt;br /&gt;             -  Wadah   disimpan   di   dalam        ruang   laboratorium     di   bawah   penyinaran&lt;br /&gt;                lampu neon, dan air diudarai terus-menerus.&lt;br /&gt;             -  Setelah  ± 5 hari, Chlorella sudah tumbuh dengan kepadatan sekitar 10&lt;br /&gt;                juta sel/ml. Airnya berwarna hijau segar.&lt;br /&gt;             -  Hasil    penumbuhan        ini  digunakan     sebagai     bibit  pada    penumbuhan&lt;br /&gt;                dalam wadah yang lebih besar.&lt;br /&gt;          2. Dalam wadah 60 liter atau 1 ton :&lt;br /&gt;             -  Untuk wadah 60 liter membutuhkan 1 galon bibit dan untuk wadah 1 ton&lt;br /&gt;                membutuhkan 5 galon bibit.&lt;br /&gt;             -  Selain dipupuk, dapat   dilepaskan   ikan mujair   besar   4-5 ekor/m2   yang&lt;br /&gt;                diberi   makan     pelet   secukupnya,      bertujuan    sebagai    penghasil    pupuk&lt;br /&gt;                organik dari kotorannya.&lt;br /&gt;             -  Wadah disimpan dalam ruangan yang kena sinar matahari langsung.&lt;br /&gt;             -  Setelah      5  hari   pertumbuhan        terjadi  dan    pada    puncaknya       dapat&lt;br /&gt;                mencapai kepadatan 5 juta sel/ml.&lt;br /&gt;             -  Secara berkala medium perlu dipupuk susulan, penambahan air baru,&lt;br /&gt;                dan pemberian obat pemberantas hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Tetraselmis&lt;br /&gt;    1. Dalam wadah 1liter :&lt;br /&gt;       -  Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk sebanyak 100.000&lt;br /&gt;          sel/ml.    Airnya    diudarai   terus-menerus       dan    wadah     diletakkan    dalam&lt;br /&gt;          ruang ber-AC, dan di bawah sinar lampu neon.&lt;br /&gt;       -  Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-5   juta   sel/ml.&lt;br /&gt;          Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.&lt;br /&gt;   2. Dalam wadah 1 galon (3 liter) :&lt;br /&gt;       -  Bibit dari penumbuhan dalam wadah 1 liter, ditebar dalam medium yang&lt;br /&gt;          telah    diberi  pupuk,     untuk   setiap   galon    membutuhkan         bibit  100   ml,&lt;br /&gt;          hingga kepadatan mencapai 100.000 sel/ml.&lt;br /&gt;       -  Wadah   ditaruh   di   dalam   ruangan   ber-AC,   di   bawah   lampu   neon,   dan&lt;br /&gt;          airnya diudarai terus-menerus.&lt;br /&gt;       -  Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-5   juta   sel/ml.&lt;br /&gt;          Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.&lt;br /&gt;   3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton&lt;br /&gt;       -  Wadah 200   liter   membutuhkan 3   galon bibit,   sedangkan   wadah   1   ton&lt;br /&gt;          100 liter.&lt;br /&gt;       -  Dalam      waktu     4-5   hari   mencapai       puncak     perkembangan         dengan&lt;br /&gt;          kepadatan 2-4 juta sel/ml.&lt;br /&gt;       -  Hasil   penumbuhan   di   wadah   200   ton   digunakan   sebagai   bibit   untuk&lt;br /&gt;          penumbuhan         di  wadah     1  ton,   sedangkan      dari   wadah     1  ton   dapat&lt;br /&gt;          digunakan sebagai pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Dunaliella&lt;br /&gt;    1. Dalam   pemeliharaan   harus   diperhatikan   penempatan   wadah   agar   cukup&lt;br /&gt;       mendapat cahaya, sehingga fotosintesa dapat berjalan lancar.&lt;br /&gt;   2. Setelah pupuk tercampur merata, bibit dimasukkan sebanyak 1/3 bagian.&lt;br /&gt;       Wadah       ditutup   kapas     atau   stirofoam     yang    telah   diberi   slang    untuk&lt;br /&gt;       mencegah kontaminasi.&lt;br /&gt;   3. Empat hari setelah masa pemeliharaan, dapat dipanen dan dikultur pada&lt;br /&gt;       wadah yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Diatomae&lt;br /&gt;    1. Dalam wadah 1liter :&lt;br /&gt;       -  Bibit   ditebar   dalam medium   yang  telah diberi   pupuk  sebanyak   70.000&lt;br /&gt;          sel/ml.    Airnya    diudarai   terus-menerus       dan    wadah     diletakkan    dalam&lt;br /&gt;          ruang ber-AC, dan di bawah sinar lampu neon.&lt;br /&gt;       -  Setelah 3-4 hari telah berkembang dengan kepadatan 6-7   juta   sel/ml.&lt;br /&gt;          Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.&lt;br /&gt;   2. Dalam wadah 1 galon (3 liter) :&lt;br /&gt;       -  Bibit   ditebar   sebanyak   100   ml.   Wadah   ditaruh   di   dalam   ruangan   ber-&lt;br /&gt;          AC, di bawah lampu neon, dan airnya diudarai terus-menerus.&lt;br /&gt;       -  Setelah   2   hari   telah   berkembang   dengan   kepadatan   4-6   juta   sel/ml.&lt;br /&gt;          Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya.&lt;br /&gt;    3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton&lt;br /&gt;       -  Wadah 200   liter   membutuhkan 3   galon bibit,   sedangkan   wadah   1   ton&lt;br /&gt;           100 liter.&lt;br /&gt;       -  Dalam   wadah   200   ml,   waktu   2   hari   mencapai   puncak   perkembangan&lt;br /&gt;          dengan   kepadatan   2-4   juta   sel/ml,   sedangkan   wadah   1   liter,   dalam   3&lt;br /&gt;          hari mencapai 2-3 juta sel/ml.&lt;br /&gt;       -  Hasil   penumbuhan   di   wadah   200   ton   digunakan   sebagai   bibit   untuk&lt;br /&gt;          penumbuhan          di  wadah     1   ton,  sedangkan       dari   wadah     1   ton   dapat&lt;br /&gt;          digunakan sebagai pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Spirulina&lt;br /&gt;    1. Dalam   pemeliharaan   harus   diperhatikan   penempatan   wadah   agar   cukup&lt;br /&gt;       mendapat cahaya, sehingga fotosintesa dapat berjalan lancar.&lt;br /&gt;   2. Setelah   tercampur   merata,   bibit   dimasukkan   sebanyak   1/5-1/10   bagian.&lt;br /&gt;       Empat hari setelah masa pemeliharaan, dapat dipanen dan dikultur pada&lt;br /&gt;       wadah yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Brachionus&lt;br /&gt;    Dengan Pemupukan: Bibit Brachionus ditebar 4-5 hari   setelah pemupukan,&lt;br /&gt;   sebanyak   10   ekor/ml.   5-7   hari   kemudian,   Brachionus   berkembang   dengan&lt;br /&gt;    kepadatan sekitar 100 ekor/l dan dapat digunakan sebagai pakan ikan.&lt;br /&gt;    Dengan Pemberian Pakan:&lt;br /&gt;    1. Bibit    Brachionus       ditebar   4-5    hari   setelah    pemupukan,        sebanyak       10&lt;br /&gt;       ekor/ml. Wadah setiap hari pagi diaduk sebagai ganti pengudaraan.&lt;br /&gt;   2. Pemberian         makanan        berupa     algae     dapat    diganti    dengan      ragi    roti&lt;br /&gt;       sebanyak   1-2   gram   berat   basah   per   1   juta   ekor   per   hari   pada   suhu   25&lt;br /&gt;       derajat C atau 2-3 gram pada suhu lebih dari 25 derajat C. Takaran untuk&lt;br /&gt;       ragi kering adalah 1/3-1/2 takaran berat basah&lt;br /&gt;    3. Apabila campuran algae tidak bisa diberikan terus-menerus, maka 1-2 jam&lt;br /&gt;       sebelum panen harus diberi makanan algae secukupnya.&lt;br /&gt;       -  Ragi      laut   (Rhodotorula)       dapat     juga    diberikan     sebagai      makanan&lt;br /&gt;          Brachionus.        Ragi    laut   dapat     diperoleh     dari   saluran     pembuangan&lt;br /&gt;          pembenihan ikan dan udang laut.&lt;br /&gt;       -  Ragi laut dapat ditumbuhkan dengan memupuknya dengan 10 g gula, 1&lt;br /&gt;          g   (NH ) SO ,   dan   0,1   g   KH PO        atau   K  HPO     untuk   setiap   1   liter   air&lt;br /&gt;          laut, dan ditambah HCl untuk mencapai pH 4. Dalam wadah 500-1000&lt;br /&gt;          liter, kepadatannya 100 juta sel/ml.&lt;br /&gt;       -  Brachionus   yang   diberi   makan   ragi   laut   mencapai   kepadatan   80-120&lt;br /&gt;          ekor/ml dalam masa pemeliharaan 25 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Artemia&lt;br /&gt;    1. Makanan utama Artemia adalah katul padi (dedak halus) yang berukuran&lt;br /&gt;       &lt; 50 mikron. Makanan lainnya : tepung terigu, tepung beras, ragi roti, ragi&lt;br /&gt;       bir, ragi laut, dedak gamdum, tepung kedele, dan tepung  ganggang.&lt;br /&gt;   2. Dedak dilarutkan   sebanyak   50-150  gram/l   air   garam   (150   gram dalam   1&lt;br /&gt;       liter   air),   kemudian   diblender   dan   disaring   dengan   kain   saring   halus   50&lt;br /&gt;       mikron.   Larutan   dedak   diwadahi   kantong   plastik         berdasar   kerucut   dan&lt;br /&gt;       diberi slang plastik yang dilengkapi kran untuk pemberian pakan.&lt;br /&gt;   3. Jumlah      pemberian      pakan     ditentukan     berdasarkan      kekeruhan      medium,&lt;br /&gt;      Artemia      dewasa      (&gt;2   minggu)     kekeruhannya        20-25    cm,   dan    Artemia&lt;br /&gt;       berumur &lt; 2 minggu kekeruhannya 15-20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usaha Pembesaran&lt;br /&gt;   1. Benih   berupa   burayak   tingkat   nauplius   instar   I   yang   masih   belum   perlu&lt;br /&gt;       makan   dengan   padat   penebaran   1000-3000   ekor/l   yang   dilakukan   pada&lt;br /&gt;       senja  hari.&lt;br /&gt;   2. Pemberian makan untuk umur 1-5 hari, ditandai dengan kekeruhan 15-20&lt;br /&gt;       cm dan untuk umur &gt; 6 hari 20-25  cm.&lt;br /&gt;   3. Alat penyaring air mulai dipasang dengan mata saringan yang berangsur-&lt;br /&gt;       angsur   diperbesar   sesuai   umur   Artemia,   yaitu   200,   250,   350,   dan   450&lt;br /&gt;       mikron.&lt;br /&gt;   4. Kadar O  , pH, dan suhu air diamati secara rutin. Aerasi ditambah bila O  &lt;&lt;br /&gt;       2 mg/l dan pH &lt; 7,5. Air medium ditambah 2 g/l NaHCO3 bila pH turun.&lt;br /&gt;       Bak    pemeliharaan       ditutup    plastik   pada    malam     hari   untuk    mencegah&lt;br /&gt;      fluktuasi   suhu.   Suhu   yang   baik   adalah   25-30   derajat   C.   Kotoran   yang&lt;br /&gt;       mengendap pada dasar bak harus selalu disedot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Produksi Nauplius&lt;br /&gt;   1. Cara pemeliharaannya sama dengan usaha pembesaran.&lt;br /&gt;   2. Kondisi      lingkungan     diusahakan      agar    Artemia    dapat    berkembang        biak&lt;br /&gt;       secara ovovivipar (melahirkan nauplius), yaitu kadar garam 40-50 permil,&lt;br /&gt;       suhu 25-30 derajat C, kadar O  4 mg/l, dan pH 7,5-8,5.&lt;br /&gt;   3. Umur      3   minggu    Artemia    mulai    kawin   dan    setiap   4-5   hari  sekali   akan&lt;br /&gt;       beranak     dengan     jumlah   100-300      ekor.   Umur    induk    dapat   mencapai      6&lt;br /&gt;       bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Produksi Telur&lt;br /&gt;   -   Cara pemeliharaannya sama dengan usaha pembesaran.&lt;br /&gt;   -   Kondisi     lingkungan     diusahakan      agar    Artemia    dapat    berkembang        biak&lt;br /&gt;       secara   ovipar   (bertelur),   yaitu   peningkatan   kadar   garam   dan   penurunan&lt;br /&gt;       kadar O2 .&lt;br /&gt;   -   Setelah Artemia dewasa          kadar garam dinaikkan sampai 90 permil dengan&lt;br /&gt;       cara menambah larutan garam pekat secara berangsur-angsur tiap hari.&lt;br /&gt;   -   Setelah   berumur   4   minggu,   ditambah   EDTA   sampai   kadarnya   25   mg/l&lt;br /&gt;       dalam waktu 1 minggu.&lt;br /&gt;   -   Minggu ke-5, kadar O2 diturunkan dengan cara memutuskan aerasi tiap 1&lt;br /&gt;      jam     selama     10    menit.    1-2   minggu     kemudian       induk    Artemia     mulai&lt;br /&gt;       mengandung telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Infusoria&lt;br /&gt;   1. Penebaran        bibit  Ciliata   dilakukan     setelah    makanan      tumbuh,     yaitu  ±1&lt;br /&gt;       minggu setelah persiapan wadah.&lt;br /&gt;          2. Ciliata   dapat   berkembang   biak   dalam   waktu   seminggu,   ditandai   dengan&lt;br /&gt;             warna air medium yang berubah jadi keputih-putihan.&lt;br /&gt;          3. Apabila medium budidaya berbau busuk, dilakukan pergantian air secara&lt;br /&gt;             bertahap dengan menggunakan slang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       i) Kutu Air&lt;br /&gt;          1. Pemasukan biibt dilakukan 18-24 jam sesudah pemupukan awal dengan&lt;br /&gt;             padat penebaran 30 ekor/l.&lt;br /&gt;          2. Perkembangannya akan mencapai puncak dalam waktu 7-10 hari dengan&lt;br /&gt;             kepadatan 3000-5000 ekor/l.&lt;br /&gt;          3. Makanan kutu air terdiri dari tumbuhan renik dan detritus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      j)  Jentik-jentik nyamuk&lt;br /&gt;          1. Makanan   diberikan   secara        berkala  yang  terdiri   dari   ragi,   kotoran   kelinci&lt;br /&gt;             dan susu bubuk, atau detritus kering yang berasal dari alam.&lt;br /&gt;          2. Dinding wadah yang ditumbuhi bakteri/lendir harus  dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       k) Cacing Tubifex&lt;br /&gt;          Penebaran       bibit  dilakukan     dalam    lubang-lubang      kecil   di  atas   bedengan&lt;br /&gt;          (petakan   /blok)   yang     berjarak   10-15   cm   dengan   jumlah   10   ekor   /lubang.&lt;br /&gt;          Masa pemeliharaan cacing sekitar 10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       l) Ulat Hongkong&lt;br /&gt;          1. Pemberian        pakan    tambahan      berupa     buah-buahan       dan   sayuran     yang&lt;br /&gt;             masih segar.&lt;br /&gt;          2. Pembersihan tempat dilakukan bila media hidup berubah warna                      jadi agak&lt;br /&gt;             hitam.     Caranya     dengan     menyaring/mengayak          sel   media    dan    ulatnya&lt;br /&gt;             dengan   ukuran       saringan   tergantung   ukuran       ulat.  Untuk    membersihkan&lt;br /&gt;             kotoran yang agak besar dilakukan dengan menampi.&lt;br /&gt;          3. Dalam      waktu     2  minggu,     ulat   berubah     bentuk     menjadi     kepompong,&lt;br /&gt;             kemudian kumbang dan membutuhkan makanan lebih banyak.&lt;br /&gt;          4. Kumbang       berwarna agak keputihan, kemudian berubah kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;             Setelah   3  minggu   kumbang   bertelur   sebanyak   1000   butir/ekor   dan   akan&lt;br /&gt;             menetas 5-6 hari kemudian. Umur induk hanya 1 bulan setelah bertelur.&lt;br /&gt;          5. Ulat yang menetas baru terlihat setelah 2 minggu. Pakan tambahan yang&lt;br /&gt;             diberikan,     terutama     sawi   putih/sayuran      lain  yang    banyak     kandungan&lt;br /&gt;             airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.5.   Pembuatan Pakan Buatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dalam menyusun ramuan untuk pakan buatan harus memperhatikan kadar zat-&lt;br /&gt;      zat dari masing-masing bahan baku dan disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Bentuk Larutan Emulsi&lt;br /&gt;          1. Sebutir telur itik direbus sampai masak, kemudian diambil kuningnya dan&lt;br /&gt;             dilarutkan dalam 200 ml air.&lt;br /&gt;   2. Sambil      diaduk,    tambahkan       40   g  tepung    kedele    halus,    5  g  sagu,    dan&lt;br /&gt;       akhirnya 1 g vitamin.&lt;br /&gt;   3. Panaskan        larutan    sambil   tetap   diaduk,   sampai      diperoleh     cairan   kental&lt;br /&gt;       seperti lem yang encer. Larutan siap digunakan setelah dingin.&lt;br /&gt;   4. Masa simpan larutan 10 jam dan digunakan untuk makanan burayak ikan&lt;br /&gt;       yang berumur 3-20 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Bentuk Larutan Suspensi&lt;br /&gt;    1. 20   g   kedele   direbus   sampai   masak,   agar   zat   penghambat   tumbuhnya&lt;br /&gt;       hilang,   dihaluskan   dan   diberi   air   sedikit   demi   sedikit,   kemudian   disaring&lt;br /&gt;       dengan   kain   mori      halus.   Telur   itik  diberi  perlakukan      serupa    dan    yang&lt;br /&gt;       digunakan hanya bagian yang kuning.&lt;br /&gt;   2. Larutan   sari   kedele   dan   larutan   sari   kuning   telur   dicampur   dan   diaduk&lt;br /&gt;       merata.&lt;br /&gt;   3. Digunakan untuk makanan burayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Bentuk Roti Kukus&lt;br /&gt;    1. Telur   itik   dikopyok   sampai   lumat   dan   berbuih.   Secara   berangsur-angsur&lt;br /&gt;       ditambahkan   tepung   ikan,   tepung   terigu,   dan   tepung   susu,   sampil   terus&lt;br /&gt;       diaduk dan diberi air sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;   2. Adonan dikukus sampai masak selama 30 menit. Roti yang sudah masak&lt;br /&gt;       didinginkan dengan kipas angin.&lt;br /&gt;   3. Vitamin      B   dan   C   dihaluskan,     ditambah      tetrasiklin   yang    telah   dibuang&lt;br /&gt;       kapsulnya dan beberapa tetes vitamin A+D-pleks dan Kalsidol.&lt;br /&gt;   4. Roti     kukus    yang    telah   dingin,   dibentuk     menjadi     gumpalan      kecil-kecil,&lt;br /&gt;       kemudian        dioleskan     pada     campuran       vitamin     dan    antibiotik,    sambil&lt;br /&gt;       diremas-remas         sampai     campuran      merata.     Roti   dapat    disimpan     dalam&lt;br /&gt;       lemari es selama 3 hari.&lt;br /&gt;   5. Sebelum          digunakan        sebaiknya       dibuat      suspensi,       yaitu    dengan&lt;br /&gt;       melarutkannya        dalam     air  melalui   kain   saringan     halus    yang   ukurannya&lt;br /&gt;       disesuaikan dengan ukuran burayak yang akan diberi makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Bentuk Pellet&lt;br /&gt;    1. Bahan   untuk   membuat   pelet   ada   2   macam,   yaitu   berupa:   tepung   kering&lt;br /&gt;       dan gumpalan (pasta).&lt;br /&gt;   2. Bahan   perekat   dapat   dicampur           langsung   dengan        bahan   lainnya      saat&lt;br /&gt;       masih kering, atau disendirikan. Bila disendirikan, bahan tersebut diseduh&lt;br /&gt;       dulu dengan air mendidih sampai mengental seperti lem encer. Setelah itu&lt;br /&gt;       bahan perekat dicampur dengan bahan-bahan lainnya.&lt;br /&gt;   3. Pencampuran   bahan   dimulai   dengan   bahan   yang   jumlahnya   sedikit   dan&lt;br /&gt;       diakhiri dengan bahan yang jumlahnya paling banyak. Bahan yang berupa&lt;br /&gt;       pasta     dicampurkan       paling    akhir.   Bahan     perekat    yang     dibuat   adonan&lt;br /&gt;       tersendiri,   dicampurkan   paling   akhir.   Adonan   yang   masih   kurang   basah&lt;br /&gt;       dapat ditambah air sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;   4. Apabila bahan perekat dicampur langsung dengan bahan-bahan lainnya,&lt;br /&gt;       maka   pembuatan   adonan   dilakukan   dengan   air   panas   sebanyak                 ±  1/4&lt;br /&gt;             berat bahan baku. Pengadukan dilakukan di atas api kecil, agar air tidak&lt;br /&gt;             cepat dingin.&lt;br /&gt;          5. Pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna.&lt;br /&gt;          6. Adonan      didinginkan     di  atas  tampir.   Apabila    menggunakan        ragi,  maka&lt;br /&gt;             pencampurannya dilakukan setelah adonan dingin.&lt;br /&gt;          7. Bahan baku yang telah dingin dicetak dengan penggiling daging dan akan&lt;br /&gt;             diperoleh bentuk batangan-batangan. Batangan basah tersebut dipotong-&lt;br /&gt;             potong sepanjang 3 cm.&lt;br /&gt;          8. Pelet basah yang telah dipotong-potong dijemur sampai                  kadar airnya 10-&lt;br /&gt;             20%.     Pengeringan      dihentikan    apabila    pelet   kering,   keras   dan   mudah&lt;br /&gt;             patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      e) Bentuk Remah dan Tepung&lt;br /&gt;          1. Keduanya berasal dari pellet yang sudah kering. Pellet digiling lagi dengan&lt;br /&gt;             penggiling      kopi.   Besar     kecilnya    ukuran     butiran    tergantung     kendor&lt;br /&gt;             kencangnya setelan gigi-gigi penggilas alat penggiling.&lt;br /&gt;          2. Tepung kasar dan halus dipisahkan dengan ayakan.&lt;br /&gt;             -  Untuk benih berumur 20-40 hari, mata saringnya 40-75 sampai 75-105&lt;br /&gt;                mikron.&lt;br /&gt;             -  Untuk benih berumur 40-80 hari, mata saringnya &gt; 105 mikron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      f)  Bentuk Lembaran&lt;br /&gt;          1. Kuning      telur  ayam    dikopyok     sampai     lumat,   sambil    berangsur-angsur&lt;br /&gt;             ditambah air 100 ml, kemudian ditambah 20 gram tepung terigu.&lt;br /&gt;          2. Adonan      dipanaskan       sambil    terus   diaduk    sampai     adonan     mengental&lt;br /&gt;             menjadi emulsiarutan emulsi yang masih panas dan encer, dioleskan tipis-&lt;br /&gt;             tipis  dan    tipis-tipis  di  atas  lempeng     aluminium,     kemudian     dipanggang&lt;br /&gt;             sampai mengering dan akan mengelupas sendiri.&lt;br /&gt;          3. Lapisan yang telah mengelupas, dikumpulkan.   Dalam   keadaan   demikian&lt;br /&gt;             mudah pecah-pecah  menjadi kepingan-kepingan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.    HAMA DAN PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.  Hama dan Penyakit Pakan Alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      a) Chlorella&lt;br /&gt;          1. Untuk      mencegah       berkembangnya         hama     dan    pengganggu,       medium&lt;br /&gt;             dibubuhi dengan larutan tembaga sulfat atau trusi (CuSO ) sebanyak 1,5&lt;br /&gt;              mg/l.   Selain   itu   air   baru   yang   akan   ditambahkan   harus   disaring   dengan&lt;br /&gt;             kain saringan 15 mikron.&lt;br /&gt;          2. Hama yang sering mengganggu adalah Brachionus, Copepoda, dll. Untuk&lt;br /&gt;             memberantas        hama     tersebut    dalam    wadah    60   liter  atau  1   ton  dapat&lt;br /&gt;             dilepas ikan mujair 4-5 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       b) Kutu Air&lt;br /&gt;          1. Moina      yang    bergerombol      di   permukaan      menunjukkan        mutu    medium&lt;br /&gt;             menurun.&lt;br /&gt;          2. Cendawan yang meningkat pada hari ke-3. Bila cendawan sudah banyak,&lt;br /&gt;             budidaya dihentikan dan bak dikeringkan.&lt;br /&gt;          3. Bila muncul Brachionus dan Ciliata, budidaya dihentikan dan kolam dicuci&lt;br /&gt;             dengan larutan klorin 100 ml/m  dan dikeringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       c) Jentik-jentik nyamuk tari (Chironomus) dicegah dengan menutup bak dengan&lt;br /&gt;          kasa nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       d) Ulat Hongkong&lt;br /&gt;          Hama yang mengganggu, antara lain : semut, cecak, dan tikus. Pencegahan&lt;br /&gt;          dilakukan dengan mengolesi wadah dengan minyak mesin (Oli).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.   Gangguan pada pakan buatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Bahan      kimia    yang    sering    mengotori     bahan     baku    adalah     obat-obatan&lt;br /&gt;          pemberantas hama pertanian, terutama pestisida organoklorin.&lt;br /&gt;       b) Kotoran-kotoran,        seperti    :  limbah     industri,   kotoran     dari   mesin-mesin&lt;br /&gt;          pengolahan.&lt;br /&gt;       c) Bahan kimia beracun yang secara alami terdapat dalam bahan baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN (Panen Pakan Alami) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Chlorella&lt;br /&gt;          Chlorella     dipanen    dari   perairan   masal     60  l/  1  ton  dan    dapat    langsung&lt;br /&gt;          diumpankan pada ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       b) Tetraselmis&lt;br /&gt;          Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1&lt;br /&gt;          ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       c) Dunaliella&lt;br /&gt;          Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1&lt;br /&gt;          ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       d) Diatomae&lt;br /&gt;          1. Pemanenan menggunakan alat penyaring  pasir   yang   terbuat   dari   ember&lt;br /&gt;             plastik 60 l, yang bagian bawahnya dipasang pipa PVC (d = 5 cm) yang&lt;br /&gt;             berlubang-lubang kecil sebagai saluran pembuangan air.&lt;br /&gt;          2. Ember      diisi  kerikil  yang   berukuran     2-5   mm    dan    pasir  (d   =  0,2  mm,&lt;br /&gt;             koefisien keseragaman 1,80). Tinggi lapisan pasir ± 4/5 bagian dari jumlah&lt;br /&gt;             seluruh   isi   pasir   dan   kerikil,   dan  ± 8   cm   diatas   permukaan   pasir   dibuat&lt;br /&gt;             lubang perluapan.&lt;br /&gt;   3. Diatomae   dari   bak   pemeliharaan   dimasukkan   ke   dalam   bak   penyaring&lt;br /&gt;       pasir dengan pompa air dan akan tersaring oleh lapisan pasir.&lt;br /&gt;   4. Dari   lubang   pengurasan   dipompakan   air   yang   akan   menembus   lapisan&lt;br /&gt;       kerikil  dan    pasir  dan    meluapkan      air  beserta    Diatomae     melalui   lubang&lt;br /&gt;       peluapan kemudian ditampung dalam sebuah wadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Brachionus&lt;br /&gt;    1. Panen   Brachionus   dilakukan   pada   waktu   kepadatannya   mencapai   100&lt;br /&gt;       ekor/ml   dalam   jangka   waktu   5-7   hari   atau   2   minggu   kemudian   dengan&lt;br /&gt;       kepadatan 500-700 ekor / ml.&lt;br /&gt;   2. Panen sebagian dapat dilakukan selama 45 hari, dimana 1-2 jam sebelum&lt;br /&gt;       penangkapan,         air  diaduk     ,  kemudian       didiamkan.     Brachionus       yang&lt;br /&gt;       berkumpul di permukaan diseser dengan kain nilon no 200 / kain plankton&lt;br /&gt;       60 mikron.&lt;br /&gt;   3. Panen   total   dilakukan   dengan   menyedot   air   dengan   selang   plastik   dan&lt;br /&gt;       disisakan 1/3 bagian kemudian disaring dengan kain nilon 200 atau kain&lt;br /&gt;       plankton 60 mikron.&lt;br /&gt;   4. Hasil tangkapan dicuci bersih dan sudah dapat dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Artemia&lt;br /&gt;    1. Usaha Pembesaran&lt;br /&gt;       -  Panen dilakukan pada umur 2 minggu dan ukuran Artemia mencapai 8&lt;br /&gt;          mm.   Sebelum   penangkapan,   aerasi   dihentikan   selama   30   menit,   lalu&lt;br /&gt;          Artemia yang naik ke permukaan diserok dengan seser kain halus.&lt;br /&gt;       -  Artemia dapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalamfreezer.&lt;br /&gt;   2. Produksi Nauplius&lt;br /&gt;       Penangkapan   dilakukan   dengan   memanfaatkan   kotak   keping   penyaring&lt;br /&gt;       yang    dilengkapi     saringan    200    mikron    pada    ujung    pipa   peluapannya.&lt;br /&gt;       Nauplius diambil setelah yang terkumpul dalam jumlah banyak.&lt;br /&gt;   3. Produksi Telur&lt;br /&gt;       -  Cara penangkapan sama dengan produksi                 nauplius&lt;br /&gt;       -  Telur    dicuci   bersih   dan   direndam      1  jam   dalam    larutan    garam     115&lt;br /&gt;          permil, dikeringkan selama 24 jam, 35-40 derajat C.&lt;br /&gt;       -  Penyimpanan         dilakukan    di  kantong    plastik   yang   diisi  gas   N2/kaleng&lt;br /&gt;          hampa udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Infusoria&lt;br /&gt;    Infusoria dipanen dalam waktu 1 minggu, ditandai dengan perubahan warna&lt;br /&gt;   medium menjadi keputih-putihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h) Kutu Air&lt;br /&gt;    Pemanenan         dilakukan    dengan       menghentikan        aerasi,    penyedotan      dan&lt;br /&gt;   penyaringan medium dengan saringan ukuran 200-250 mikron dan 800-1500&lt;br /&gt;   mikron untuk memisahkan dari jentik-jentik nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       i) Cacing Tubifex&lt;br /&gt;          1. Panen      dilakukan    setelah    10   hari  dengan     cara   memungutnya         dengan&lt;br /&gt;             tangan beserta lumpurnya, kemudian dicuci.&lt;br /&gt;          2. Panen      total  dilakukan    apabila    kondisi   tanah    dan   medium     tidak   dapat&lt;br /&gt;             menyediakan makanan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      j)  Ulat Hongkong&lt;br /&gt;          Pemanenan dilakukan  jika   larva   ulat   berumur   2 bulan   dan berukuran   1,5-2&lt;br /&gt;          cm.    Caranya     dengan     menggunakan        alat  penyaring/ayakan        dengan     agak&lt;br /&gt;          besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.     PASCAPANEN (Pakan Alami) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Hasil    panen    phytoplankton      dapat    langsung     dimanfaatkan       atau   disimpan&lt;br /&gt;          dalam   bentuk   basah/kering,   setelah   dikonsentratkan   dengan   plankton   net,&lt;br /&gt;          plate separate, atau centrifuge.&lt;br /&gt;       b) Penyimpanan stok murni phytoplankton dilakukan dalam media cair/agar dan&lt;br /&gt;          disimpan dalam lemari pendingin dengan masa simpan 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Adanya        kecenderungan          peningkatan        permintaan       produksi       perikanan&lt;br /&gt;       mendorong berkembangnya usaha-usaha perikanan budidaya di Indonesia. Hal&lt;br /&gt;       ini   berarti   kebutuhan   benih   semakin   meningkat.   Untuk   memenuhi   kebutuhan&lt;br /&gt;       benih tersebut, telah diterapkan teknologi manipulasi pembenihan. Kebutuhan&lt;br /&gt;       pakannya   pun   dipenuhi   dari   luar   dengan   maksud   agar   jumlah   dan   kualitas&lt;br /&gt;       benih yang dihasilkannya bisa maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Selama   ini   jenis   pakan   yang   banyak   digunakan   untuk   tujuan   tersebut   adalah&lt;br /&gt;       pakan     buatan.    Akan   tetapi,   sebagai    pakan    benih   ikan,   jenis  pakan    buatan&lt;br /&gt;       mempunyai         banyak     kekurangan       dibandingkan       pakan     alami.    Komponen&lt;br /&gt;       penyusun pakan alami lebih lengkap, sehingga para pembenih ikan cenderung&lt;br /&gt;       lebih menyukai pakan alami. Kebutuhan ini   sulit   terpenuhi,  karena   belum   ada&lt;br /&gt;       pengusaha yang menanamkan modalnya secara khusus dalam produksi pakan&lt;br /&gt;       ikan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pakan      ikan   alami    yang    digunakan      sebagai     makanan       benih    ikan/udang,&lt;br /&gt;      sebagian      besar    dibuat   sendiri   dalam    satu   unit  pembenihan.       Hal   ini  dirasa&lt;br /&gt;       kurang praktis dan tidak ekonomis, sehingga masih terbuka kesempatan yang&lt;br /&gt;       sangat     luas  untuk    membuka       usaha    produksi    ikan   alami.   Untuk    sementara&lt;br /&gt;      waktu,     sasaran     utama    produksi    pakan    ikan   alami   adalah    para   mahasiswa,&lt;br /&gt;       peneliti,   atau   perusahaan   pembenihan   udang.   Tetapi   dalam   jangka   panjang&lt;br /&gt;       usaha ini memiliki prospek ekonomi yang  baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-1781130666863867065?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/1781130666863867065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/membuat-pakan-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/1781130666863867065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/1781130666863867065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/membuat-pakan-ikan.html' title='Membuat Pakan Ikan'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-3464980637942828703</id><published>2009-05-10T07:25:00.005-07:00</published><updated>2009-05-10T07:34:08.043-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Udang Windu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UDANG WINDU &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Palaemonidae / Penaeidae ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13&lt;br /&gt;       (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar&lt;br /&gt;       yang     disebut    eksosketelon.      Umumnya        udang     yang    terdapat    di   pasaran&lt;br /&gt;       sebagian besar terdiri   dari   udang  laut.   Hanya   sebagian  kecil   saja  yang  terdiri&lt;br /&gt;       dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat&lt;br /&gt;       pantai.     Udang      air   tawar     pada     umumnya        termasuk       dalam     keluarga&lt;br /&gt;       Palaemonidae,        sehingga     para   ahli   sering   menyebutnya        sebagai    kelompok&lt;br /&gt;       udang palaemonid.   Udang   laut,   terutama   dari   keluarga   Penaeidae,   yang   bisa&lt;br /&gt;       disebut udangpenaeid oleh para ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Udang   merupakan   salah   satu   bahan   makanan   sumber   protein   hewani   yang&lt;br /&gt;       bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas.&lt;br /&gt;       Permintaan   konsumen   dunia   terhadap   udang   rata-rata   naik   11,5%   per   tahun.&lt;br /&gt;       Walaupun   masih   banyak         kendala,   namun   hingga       saat   ini  negara   produsen&lt;br /&gt;       udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.     SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Daerah      penyebaran       benih    udang      windu    antara     lain:  Sulawesi      Selatan&lt;br /&gt;       (Jeneponto, Tamanroya, Nassara, Suppa), Jawa Tengah (Sluke, Lasem), dan&lt;br /&gt;      Jawa Timur (Banyuwangi, Situbondo, Tuban, Bangkalan, dan Sumenep), Aceh,&lt;br /&gt;       Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.     JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Klasifikasi udang adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       Klas            :  Crustacea (binatang berkulit keras)&lt;br /&gt;       Sub-klas        :  Malacostraca (udang-udangan tingkat tinggi)&lt;br /&gt;       Superordo       :  Eucarida&lt;br /&gt;       Ordo            :  Decapoda (binatang berkaki sepuluh)&lt;br /&gt;       Sub-ordo        :  Natantia (kaki digunakan untuk berenang)&lt;br /&gt;       Famili          :  Palaemonidae, Penaeidae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Udang   merupakan   bahan   makanan   yang   mengandung   protein   tinggi,   yaitu&lt;br /&gt;          21%,     dan   rendah    kolesterol,    karena    kandungan      lemaknya      hanya    0,2%.&lt;br /&gt;          Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100;&lt;br /&gt;          dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah&lt;br /&gt;          zat   kapur   dan   fosfor,   masing-masing   136   mg   dan   170   mg   per   100   gram&lt;br /&gt;          bahan.&lt;br /&gt;       2) Udang   dapat   diolah   dengan   beberapa   cara,   seperti   beku,   kering,   kaleng,&lt;br /&gt;          terasi, krupuk, dll.&lt;br /&gt;       3) Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala)&lt;br /&gt;          dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.&lt;br /&gt;      4) Limbah   yang   berupa   kepala   dan   kaki   udang   dapat   dibuat   tepung   udang,&lt;br /&gt;          sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.&lt;br /&gt;       5) Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju&lt;br /&gt;          sudah   dapat   dimanfaatkan   dalam   industri   farmasi,   kosmetik,   bioteknologi,&lt;br /&gt;          tekstil, kertas, pangan, dll.&lt;br /&gt;       6) Chitosan     yang    terdapat    dalam    kepala   udang     dapat   dimanfaatkan      dalam&lt;br /&gt;          industri kain, karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna&lt;br /&gt;          dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Lokasi     yang   cocok    untuk   tambak     udang    adalah   pada    daerah    sepanjang&lt;br /&gt;          pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28&lt;br /&gt;          derajat C.&lt;br /&gt;       2) Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat   atau  liat&lt;br /&gt;          berpasir,    karena     dapat   menahan       air.  Tanah    dengan     tekstur   ini  mudah&lt;br /&gt;          dipadatkan dan tidak pecah-pecah.&lt;br /&gt;       3) Tekstur   tanah   dasar   terdiri   dari   lumpur   liat   berdebu   atau   lumpur   berpasir,&lt;br /&gt;          dengan   kandungan   pasir   tidak   lebih   dari   20%.   Tanah   tidak   boleh   porous&lt;br /&gt;          (ngrokos).&lt;br /&gt;       4) Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar&lt;br /&gt;          tergantung   jenis   udang   yang   dipelihara.   Daerah   yang   paling   cocok   untuk&lt;br /&gt;          pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2-3&lt;br /&gt;          meter.&lt;br /&gt;       5) Parameter fisik: suhu/temperatur=26-30 derajat C; kadar garam/salinitas=0-&lt;br /&gt;          35 permil dan optimal=10-30 permil; kecerahan air=25-30 cm (diukur dengan&lt;br /&gt;          secchi disk)&lt;br /&gt;       6) Parameter kimia: pH=7,5-8,5; DO=4-8 mg/liter; Amonia (NH3) &lt; 0,1 mg/liter;&lt;br /&gt;          H2S&lt;      0,1  mg/liter;   Nitrat   (NO3-)=200      mg/liter;   Nitrit  (NO3-)=0,5     mg/liter;&lt;br /&gt;          Mercuri (Hg)=0-0,002 mg/liter; Tembaga (Cu)=0-0,02 mg/liter; Seng (Zn)=0-&lt;br /&gt;          0,02   mg/liter;   Krom   Heksavalen   (Cr)=0-0,05   mg/liter;   Kadmiun   (Cd)=0-0,01&lt;br /&gt;          mg/liter;    Timbal    (Pb)=0-0,03      mg/liter;   Arsen    (Ar)=0-1    mg/liter;   Selenium&lt;br /&gt;          (Se)=0-0,05       mg/liter;   Sianida     (CN)=0-0,02      mg/liter;   Sulfida    (S)=0-0,002&lt;br /&gt;          mg/liter; Flourida (F)=0-1,5 mg/liter; dan Klorin bebas (Cl2)=0-0,003 mg/liter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Syarat konstruksi tambak:&lt;br /&gt;       1) Tahan   terhadap   damparan   ombak   besar,   angin   kencang   dan   banjir.   Jarak&lt;br /&gt;          minimum pertambakan dari pantai adalah 50 meter atau minimum 50 meter&lt;br /&gt;          dari bantara sungai.&lt;br /&gt;       2) Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang&lt;br /&gt;          sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen.&lt;br /&gt;       2) Tanggul      harus   padat    dan   kuat   tidak   bocor    atau   merembes       serta   tahan&lt;br /&gt;          terhadap erosi air.&lt;br /&gt;       3) Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari, sehingga&lt;br /&gt;          menghemat tenaga.&lt;br /&gt;       4) Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia.&lt;br /&gt;       5) Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya.&lt;br /&gt;       6) Saluran pemasuk air terpisah dengan pembuangan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Teknik pembuatan tambak dibagi dalam tiga sistem yang disesuaikan dengan&lt;br /&gt;       letak, biaya, dan operasi pelaksanaannya, yaitu tambak ekstensif, semi intensif,&lt;br /&gt;       dan intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Tambak Ekstensif atau Tradisional&lt;br /&gt;          a. Dibangun       di  lahan    pasang     surut,   yang    umumnya       berupa     rawa-rawa&lt;br /&gt;             bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan.&lt;br /&gt;          b. Bentuk dan ukuran petakan tambak tidak teratur.&lt;br /&gt;          c. Luasnya antara 3-10 ha per petak.&lt;br /&gt;   d. Setiap petak mempunyai saluran keliling (caren) yang lebarnya 5-10 m di&lt;br /&gt;       sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Di  bagian   tengah   juga   dibuat&lt;br /&gt;       caren   dari   sudut   ke   sudut   (diagonal).   Kedalaman   caren   30-50   cm   lebih&lt;br /&gt;       dalam   dari   bagian   sekitarnya   yang   disebut   pelataran.   Bagian   pelataran&lt;br /&gt;       hanya dapat berisi sedalam 30-40 cm saja.&lt;br /&gt;   e. Di   tengah   petakan   dibuat   petakan   yang   lebih   kecil   dan   dangkal   untuk&lt;br /&gt;       mengipur nener yang baru datang selama 1 bulan.&lt;br /&gt;   f.  Selain itu ada beberapa tipe tambak tradisional, misalnya tipe corong dan&lt;br /&gt;       tipe taman yang dikembangkan di Sidoarjo, Jawa Timur.&lt;br /&gt;   g. Pada tambak ini tidak ada pemupukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Tambak Semi Intensif&lt;br /&gt;   a. Bentuk      petakan     umumnya       empat     persegi    panjang     dengan      luas   1-3&lt;br /&gt;       ha/petakan.&lt;br /&gt;   b. Tiap petakan mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran&lt;br /&gt;       (outlet) yang terpisah untuk keperluan penggantian air, penyiapan kolam&lt;br /&gt;       sebelum ditebari benih, dan pemanenan.&lt;br /&gt;   c. Suatu   caren   diagonal   dengan   lebar   5-10   m   menyerong   dari   pintu   (pipa)&lt;br /&gt;       inlet ke arah pintu (pipa)  outlet. Dasar caren miring ke arah outlet untuk&lt;br /&gt;       memudahkan          pengeringan      air  dan    pengumpulan        udang    pada     waktu&lt;br /&gt;       panen.&lt;br /&gt;   d. Kedalaman caren selisih 30-50 cm dari pelataran.&lt;br /&gt;   e. Kedalaman air di pelataran hanya 40-50 cm.&lt;br /&gt;   f.  Ada juga petani tambak yang membuat caren di sekeliling pelataran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Tambak Intensif&lt;br /&gt;   a. Petakan       berukuan       0,2-0,5    ha/petak,     supaya      pengelolaan       air  dan&lt;br /&gt;       pengawasannya lebih mudah.&lt;br /&gt;   b. Kolam/petak   pemeliharaan   dapat   dibuat   dari   beton   seluruhnya   atau   dari&lt;br /&gt;       tanah   seperti   biasa.   Atau   dinding   dari   tembok,   sedangkan   dasar   masih&lt;br /&gt;       tanah.&lt;br /&gt;   c. Biasanya   berbentuk   bujur   sangkar   dengan   pintu   pembuangan   di   tengah&lt;br /&gt;       dan pintu panen model monik di pematang saluran buangan. Bentuk dan&lt;br /&gt;       konstruksinya menyerupai tambak semi intensif bujur sangkar.&lt;br /&gt;   d. Lantai dasar dipadatkan sampai keras, dilapisi oleh pasir/kerikil. Tanggul&lt;br /&gt;       biasanya dari tembok, sedang air laut dan air tawar dicampur dalam bak&lt;br /&gt;       pencampur sebelum masuk dalam tambak.&lt;br /&gt;   e. Pipa pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin,                        dipasang&lt;br /&gt;       mati di sudut petak.&lt;br /&gt;   f.  Diberi aerasi untuk menambah kadar O2 dalam air.&lt;br /&gt;   g. Penggantian        air  yang    sangat    sering    dimungkinkan       oleh   penggunaan&lt;br /&gt;       pompa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun prasarana yang diperlukan dalam budidaya udang tambak meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Petakan Tambak&lt;br /&gt;   a. Sebaiknya         dibuat    dalam      bentuk      unit.   Setiap     satu    unit    tambak&lt;br /&gt;       pengairannya   berasal   dari   satu   pintu   besar,   yaitu   pintu   air   utama   atau&lt;br /&gt;       laban.     Satu    unit   tambak      terdiri   dari   tiga   macam       petakan:     petak&lt;br /&gt;       pendederan, petak glondongan (buyaran) dan petak pembesaran dengan&lt;br /&gt;       perbandingan luas 1:9:90.&lt;br /&gt;    b. Selain   itu,   juga   ada   petakan   pembagi   air,   yang   merupakan   bagian   yang&lt;br /&gt;       terdalam. Dari petak pembagi, masing-masing petakan menerima bagian&lt;br /&gt;       air untuk pengisiannya. Setiap petakan harus mempunyai pintu air sendiri,&lt;br /&gt;       yang    dinamakan       pintu  petakan,     pintu   sekunder,     atau   tokoan.   Petakan&lt;br /&gt;       yang berbentuk seperti saluran disebut juga saluran pembagi air.&lt;br /&gt;   c. Setiap petakan terdiri dari caren dan pelataran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pematang/Tanggul&lt;br /&gt;   a. Ada dua macam pematang, yaitu pematang utama dan pematang antara.&lt;br /&gt;    b. Pematang utama merupakan pematang keliling unit, yang melindungi unit&lt;br /&gt;       yang     bersangkutan        dari   pengaruh      luar.   Tingginya      0,5   m    di  atas&lt;br /&gt;       permukaan   air   pasang   tertinggi.   Lebar   bagian   atasnya   sekitar   2   m.   Sisi&lt;br /&gt;       luar    dibuat    miring   dengan      kemiringan      1:1,5.   Sedangkan        untuk    sisi&lt;br /&gt;       pematang bagian dalam kemiringannya 1:1.&lt;br /&gt;   c. Pematang   antara   merupakan   pematang   yang   membatasi   petakan   yang&lt;br /&gt;       satu dengan yang lain dalam satu unit.&lt;br /&gt;   d. Ukurannya   tergantung   keadaan   setempat,   misalnya:   tinggi   1-2   m,   lebar&lt;br /&gt;       bagian   atas   0,5-1,5.     Sisi-sisinya   dibuat   miring   dengan      kemiringan   1:1.&lt;br /&gt;       Pematang   dibuat        dengan   menggali      saluran    keliling  yang   jaraknya     dari&lt;br /&gt;       pematang 1 m. Jarak tersebut biasa disebut berm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Saluran dan Pintu Air&lt;br /&gt;   a. Saluran air harus cukup lebar dan dalam, tergantung keadaan setempat,&lt;br /&gt;       lebarnya     berkisar    antara    3-10   m   dan    dalamnya     kalau    memungkinkan&lt;br /&gt;       sejajar    dengan     permukaan       air  surut    terrendah.    Sepanjang       tepiannya&lt;br /&gt;       ditanami pohon bakau sebagai pelindung.&lt;br /&gt;    b. Ada   dua   macam   pintu   air,   yaitu   pintu   air   utama   (laban)   dan   pintu   air&lt;br /&gt;       sekunder (tokoan/pintu air petakan).&lt;br /&gt;   c. Pintu air berfungsi sebagai saluran keluar masuknya air dari dan ke dalam&lt;br /&gt;       tambak yang termasuk dalam satu unit.&lt;br /&gt;   d. Lebar mulut pintu utama antara 0,8-1,2 m, tinggi dan panjang disesuaikan&lt;br /&gt;       dengan   tinggi     dan   lebar   pematang.      Dasarnya      lebih  rendah     dari  dasar&lt;br /&gt;       saluran keliling,serta sejajar dengan dasar saluran pemasukan air.&lt;br /&gt;   e. Bahan   pembuatannya   antara   lain:   pasangan   semen,   atau   bahan   kayu&lt;br /&gt;       (kayu besi, kayu jati, kayu kelapa, kayu siwalan, dll)&lt;br /&gt;   f.  Setiap     pintu   dilengkapi    dengan      dua   deretan     papan     penutup     dan    di&lt;br /&gt;       antaranya diisi tanah yang disebut lemahan.&lt;br /&gt;   g. Pintu air dilengkapi dengan saringan, yaitu saringan luar yang menghadap&lt;br /&gt;       ke saluran air dan saringan dalam yang menghadap ke petakan tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Saringan       terbuat   dari   kere   bambu,     dan   untuk    saringan     dalam    dilapisi&lt;br /&gt;              plastik atau ijuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       4) Pelindung:&lt;br /&gt;          a. Sebagai   bahan   pelindung   pada   pemeliharaan   udang   di   tambak,   dapat&lt;br /&gt;             dipasang   rumpon         yang    terbuat   dari   ranting   kayu    atau   dari  daun-daun&lt;br /&gt;              kelapa     kering.    Pohon     peneduh       di  sepanjang      pematang       juga    dapat&lt;br /&gt;             digunakan sebagai pelindung.&lt;br /&gt;          b. Rumpon   dipasang   dengan   jarak   6-15   m   di   tambak.   Rumpon   berfungsi&lt;br /&gt;             juga untuk mencegah hanyutnya kelekap atau lumut, sehingga menumpuk&lt;br /&gt;              pada salah satu sudut karena tiupan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       5) Pemasangan kincir:&lt;br /&gt;          a. Kincir biasanya dipasang setelah pemeliharaan 1,5-2 bulan, karena udang&lt;br /&gt;             sudah cukup kuat terhadap pengadukan air.&lt;br /&gt;          b. Kincir    dipasang      3-4  unit/ha.    Daya    kelarutan    O2   ke   dalam    air  dengan&lt;br /&gt;              pemutaran kincir itu mencapai 75-90%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Menyiapkan Benih (Benur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Benur/benih   udang   bisa   didapat   dari   tempat   pembenihan   (Hatchery)   atau&lt;br /&gt;          dari alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Di alam terdapat dua macam golongan benih udang windu (benur) menurut&lt;br /&gt;          ukurannya, yaitu :&lt;br /&gt;          a. Benih yang masih halus, yang disebut post larva.&lt;br /&gt;             Terdapat   di   tepi-tepi     pantai.   Hidupnya      bersifat   pelagis,   yaitu   berenang&lt;br /&gt;             dekat   permukaan   air.   Warnanya   coklat   kemerahan.   Panjang   9-15   mm.&lt;br /&gt;              Cucuk     kepala     lurus   atau   sedikit   melengkung       seperti   huruf    S  dengan&lt;br /&gt;              bentuk keseluruhan seperti jet. Ekornya membentang seperti kipas.&lt;br /&gt;          b. Benih yang sudah besar atau benih kasar yang disebut juvenil.&lt;br /&gt;              Biasanya   telah memasuki  muara   sungai   atau   terusan.   Hidupnya   bersifat&lt;br /&gt;              benthis, yaitu suka berdiam dekat dasar perairan atau kadang menempel&lt;br /&gt;              pada     benda    yang    terendam      air.  Sungutnya       berbelang-belang        selang-&lt;br /&gt;             seling coklat dan putih atau putih dan hijau kebiruan. Badannya berwarna&lt;br /&gt;              biru   kehijauan   atau   kecoklatan   sampai   kehitaman.   Pangkal   kaki   renang&lt;br /&gt;              berbelang-belang kuning biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Cara Penangkapan Benur:&lt;br /&gt;          a. Benih yang halus ditangkap dengan menggunakan alat belabar dan seser.&lt;br /&gt;             -   Belabar   adalah   rangkaian   memanjang   dari   ikatan-ikatan   daun   pisang&lt;br /&gt;                 kering, rumput-rumputan, merang, atau pun bahan-bahan lainnya.&lt;br /&gt;             -   Kegiatan penangkapan dilakukan apabila air pasang.&lt;br /&gt;             -   Belabar   dipasang   tegak   lurus   pantai,   dikaitkan   pada   dua   buah   patok,&lt;br /&gt;                 sehingga terayun-ayun di permukaan air pasang.&lt;br /&gt;       -  Atau hanya diikatkan pada patok di salah satu ujungnya, sedang ujung&lt;br /&gt;          yang lain ditarik oleh si penyeser sambil dilingkarkan mendekati ujung&lt;br /&gt;          yang   terikat.   Setelah   lingkaran   cukup   kecil,   penyeseran   dilakukan   di&lt;br /&gt;          sekitar belabar.&lt;br /&gt;   b. Benih   kasar   ditangkapi   dengan   alat   seser   pula   dengan   cara   langsung&lt;br /&gt;       diseser atau dengan alat bantu   rumpon-rumpon  yang  dibuat  dari   ranting&lt;br /&gt;       pohon     yang    ditancapkan      ke  dasar    perairan.    Penyeseran      dilakukan     di&lt;br /&gt;       sekitar rumpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pembenihan   secara   alami   dilakukan   dengan   cara   mengalirkan   air   laut   ke&lt;br /&gt;   dalam tambak. Biasanya dilakukan oleh petambak tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Benih     udang/benur       yang    didapat    dari   pembibitan     haruslah     benur    yang&lt;br /&gt;   bermutu baik. Adapun sifat  dan   ciri   benur   yang bermutu baik   yang  didapat&lt;br /&gt;   dari tempat pembibitan adalah:&lt;br /&gt;   a. Umur dan ukuran benur harus seragam.&lt;br /&gt;   b. Bila dikejutkan benur sehat akan melentik.&lt;br /&gt;   c. Benur berwarna tidak pucat.&lt;br /&gt;   d. Badan benur tidak bengkok dan tidak cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Perlakuan dan Perawatan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Cara pemeliharaan dengan sistem kolam terpisah&lt;br /&gt;       Pemeliharaan larva yang baik adalah dengan sistem kolam terpisah, yaitu&lt;br /&gt;       kolam diatomae, kolam induk, dan kolam larva dipisahkan.&lt;br /&gt;       -  Kolam Diatomae&lt;br /&gt;          Diatomae        untuk    makanan       larva    udang      yang     merupakan       hasil&lt;br /&gt;          pemupukan          adalah       spesies     Chaetoceros,        Skeletonema          dan&lt;br /&gt;          Tetraselmis di dalam kolam volume 1000-2000 liter.&lt;br /&gt;          Spesies   diatomae        yang   agak    besar   diberikan    kepada     larva   periode&lt;br /&gt;          mysis, walaupun lebih menyukai zooplankton.&lt;br /&gt;       -  Kolam Induk&lt;br /&gt;          Kolam       yang    berukuran      500     liter  ini  berisi   induk     udang     yang&lt;br /&gt;          mengandung         telur  yang    diperoleh    dari  laut/nelayan.     Telur   biasanya&lt;br /&gt;          keluar pada malam hari. Telur yang sudah dibuahi dan sudah menetas&lt;br /&gt;          menjadi nauplius, dipindahkan.&lt;br /&gt;       -  Kolam Larva&lt;br /&gt;          Kolam larva berukuran 2.000-80.000 liter. Artemia/zooplankton diambil&lt;br /&gt;          dari kolam diatomae dan diberikan kepada larva udang mysis dan post&lt;br /&gt;          larva (PL5-PL6).&lt;br /&gt;          Artemia   kering   dan   udang   kering   diberikan   kepada   larva   periode   zoa&lt;br /&gt;          sampai      (PL6).   Larva    periode    PL5-PL6      dipindah    ke   petak    buyaran&lt;br /&gt;          dengan      kepadatan      32-1000     ekor/m2,    yang    setiap    kalidiberi   makan&lt;br /&gt;          artemia atau makanan buatan, kemudian PL20-PL30 benur dapat dijual&lt;br /&gt;          atau ditebar ke dalam tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Cara Pengipukan/pendederan benur di petak pengipukan&lt;br /&gt;   -   Petak pendederan benur merupakan sebagian dari petak pembesaran&lt;br /&gt;       udang (± 10% dari luas petak pembesaran) yang terletak di salah satu&lt;br /&gt;       sudutnya dengan kedalaman 30-50 cm, suhu 26-31derajat C dan kadar&lt;br /&gt;       garam 5-25 permil.&lt;br /&gt;   -   Petak terbuat dari daun kelapa atau daun nipah, agar benur yang masih&lt;br /&gt;       lemah terlindung dari terik matahari atau hujan.&lt;br /&gt;   -   Benih yang baru datang, diaklitimasikan dulu. Benih dimasukkan dalam&lt;br /&gt;       bak plastik atau bak kayu yang diisi air yang kadar garam dan suhunya&lt;br /&gt;       hampir      sama     dengan     keadaan      selama      pengangkutan.       Kemudian&lt;br /&gt;       secara   berangsur-angsur   air   tersebut   dikeluarkan   dan   diganti   dengan&lt;br /&gt;       air dari petak pendederan.&lt;br /&gt;   -   Kepadatan       pada    petak    Ini  1000-3000      ekor.   Pakan     yang   diberikan&lt;br /&gt;       berupa campuran telur ayam rebus dan daging udang atau ikan yang&lt;br /&gt;       dihaluskan.&lt;br /&gt;   -   Pakan     tambahan      berupa     pellet  udang     yang   dihaluskan.     Pemberian&lt;br /&gt;       pelet   dilakukan   sebanyak   10-20   %   kali   jumlah   berat   benih   udang   per&lt;br /&gt;       hari dan diberikan pada sore hari. Berat benih halus ± 0,003 gram dan&lt;br /&gt;       berat benih kasar ± 0,5-0,8 g.&lt;br /&gt;   -   Pellet dapat terbuat dari tepung rebon 40%, dedak halus 20 %, bungkil&lt;br /&gt;       kelapa 20 %, dan tepung kanji 20%.&lt;br /&gt;   -   Pakan      yang    diperlukan:    secangkir     pakan     untuk    petak   pengipukan&lt;br /&gt;       /pendederan       seluas    100    m2   atau    untuk   100.000      ekor   benur    dan&lt;br /&gt;       diberikan 3-4 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Cara Pengipukan di dalam Hapa&lt;br /&gt;   -   Hapa adalah kotak yang dibuat dari jaring nilon dengan mata jaring 3-5&lt;br /&gt;       mm agar benur tidak dapat lolos.&lt;br /&gt;   -   Hapa dipasang terendam dan tidak menyentuh dasar tambak di dalam&lt;br /&gt;       petak-petak tambak yang pergantian airnya mudah dilakukan, dengan&lt;br /&gt;       cara   mengikatnya   pada   tiang-tiang   yang   ditancamkan   di   dasar   petak&lt;br /&gt;       tambak   itu.   Beberapa  buah hapa   dapat   dipasang  berderet-deret   pada&lt;br /&gt;       suatu petak tambak.&lt;br /&gt;   -   Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kehendak, misalnya panjang 4-&lt;br /&gt;       6 m, lebar 1-1,5 m, tinggi 0,5-1 m.&lt;br /&gt;   -   Kepadatan benur di dalam hapa 500-1000 ekor/m  .&lt;br /&gt;   -   Pakan     benur    dapat    berupa    kelekap     atau   lumut-lumut     dari   petakan&lt;br /&gt;       tambak   di   sekitarnya.   Dapat   juga   diberi   pakan   buatan   berupa   pelet&lt;br /&gt;       udang yang dihancurkan dulu menjadi serbuk.&lt;br /&gt;   -   Lama      pemeliharaan        benur     dalam     ipukan     2-4    minggu,      sampai&lt;br /&gt;       panjangnya 3-5 cm dengan persentase hidup 70-90%.&lt;br /&gt;   -   Jaring sebagai dinding hapa harus dibersihkan seminggu sekali.&lt;br /&gt;   -   Hapa sangat berguna bagi petani tambak, yaitu untuk tempat aklitimasi&lt;br /&gt;       benur, atau sewaktu-waktu dipergunakan menampung ikan atau udang&lt;br /&gt;       yang dikehendaki agar tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           d. Cara pengangkutan:&lt;br /&gt;             Pengangkutan menggunakan kantong plastik:&lt;br /&gt;             -  Kantong plastik yang berukuran panjang 40 cm, lebar 35 cm, dan tebal&lt;br /&gt;                0,008 mm, diisi air 1/3 bagian dan diisi benih 1000 ekor.&lt;br /&gt;             -  Kantong   plastik   diberi   zat   asam     sampai   menggelembung   dan          diikat&lt;br /&gt;                dengan tali.&lt;br /&gt;             -  Kantong   plastik   tersebut   dimasukkan   dalam   kotak   kardus   yang   diberi&lt;br /&gt;                styrofore foam sebagai penahan panas dan kantong plastik kecil yang&lt;br /&gt;                berisi pecahan-pecahan es kecil yang jumlahnya 10% dari berat airnya.&lt;br /&gt;             -  Benih     dapat    diangkut    pada    suhu   27-30    derajat   C   selama     10  jam&lt;br /&gt;                perjalanan dengan angka kematian 10-20%.&lt;br /&gt;             Pengangkutan dengan menggunakan jerigen plastik:&lt;br /&gt;             -  Jerigen yang digunakan yang berukuran 20 liter.&lt;br /&gt;             -  Jerigen   diisi   air   setengah   bagiannya   dan   sebagian   lagi   diisi   zat   asam&lt;br /&gt;                bertekanan lebih.&lt;br /&gt;             -  Jumlah benih yang dapat diangkut antara 500-700 ekor/liter. Selama 6-&lt;br /&gt;                8 jam perjalanan, angka kematiannya sekitar 6%.&lt;br /&gt;             -  Dalam perjalanan jerigen harus ditidurkan, agar permukaannya menjadi&lt;br /&gt;                luas, sehingga benurnya tidak bertumpuk.&lt;br /&gt;             -  Untuk menurunkan suhunya bisa menggunakan es batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          e. Waktu Penebaran Benur&lt;br /&gt;             Sebaiknya benur ditebar di tambak pada waktu yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.  Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemupukan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan makanan alami, yaitu:&lt;br /&gt;          kelekap, lumut, plankton, dan bentos. Cara pemupukan:&lt;br /&gt;          a. Untuk pertumbuhan kelekap&lt;br /&gt;             -  Tanah   yang   sudah   rata   dan   dikeringkan   ditaburi   dengan   dedak   kasar&lt;br /&gt;                sebanyak 500 kg/ha.&lt;br /&gt;             -  Kemudian   ditaburi   pupuk   kandang   (kotoran   ayam,   kerbau,   kuda,   dll),&lt;br /&gt;                atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.&lt;br /&gt;             -  Tambak       diairi  sampai    5-10   cm,   dibiarkan    tergenang     dan   menguap&lt;br /&gt;                sampai kering.&lt;br /&gt;             -  Setelah     itu  tambak    diairi  lagi  sampai    5-10   cm,    dan   ditaburi  pupuk&lt;br /&gt;                kandang atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.&lt;br /&gt;             -  Pada saat itu ditambahkan pula pupuk anorganik, yaitu urea 75 kg/ha&lt;br /&gt;                dan TSP (Triple Super Phosphate) 75 kg/ha.&lt;br /&gt;             -  Sesudah 5 hari kemudian, kelekap mulai tumbuh. Air dapat ditinggikan&lt;br /&gt;                lagi    secara    berangsur-angsur,        hingga     dalamnya      40   cm    di   atas&lt;br /&gt;                pelataran. Dan benih udang dapat dilepaskan.&lt;br /&gt;             -  Selama pemeliharaan, diadakan pemupukan susulan sebanyak 1-2 kali&lt;br /&gt;                sebulan dengan menggunakan urea 10-25 kg/ha dan TSP 5-15 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   b. Untuk pertumbuhan lumut&lt;br /&gt;      -   Tanah      yang    telah   dikeringkan,     diisi  air   untuk    melembabkannya,&lt;br /&gt;          kemudian ditanami bibit lumut yang ditancapkan ke dalam lumpur.&lt;br /&gt;      -   Air dimasukkan hingga setinggi 20 cm, kemudian dipupuk dengan urea&lt;br /&gt;          14 kg/ha dan TSP 8 kg/ha.&lt;br /&gt;      -   Air ditinggikan sampai 40 cm setelah satu minggu.&lt;br /&gt;      -   Mulai   minggu   kedua,   setiap   seminggu   dipupuk   lagi   dengan   urea   dan&lt;br /&gt;          TSP, masing-masing 10 takaran sebelumnya.&lt;br /&gt;      -   Lumut yang kurang pupuk akan berwarna kekuningan, sedangkan yang&lt;br /&gt;          dipupuk   akan   berwarna   hijau   rumput   yang   segar.   Lumut   yang   terlalu&lt;br /&gt;          lebat    akan    berbahaya      bagi   udang,    oleh   karena     itu  lumut    hanya&lt;br /&gt;          digunakan untuk pemeliharaan udang yang dicampur dengan ikan yang&lt;br /&gt;          lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. Untuk pertumbuhan Diatomae&lt;br /&gt;      -   Jumlah      pupuk     nitrogen    (N)   dan    pupuk    fosfor    (P)  menghendaki&lt;br /&gt;          perbandingan   sekitar   30:1.   Apabila   perbandingannya   mendekati   1:1,&lt;br /&gt;          yang tumbuh adalah Dinoflagellata.&lt;br /&gt;      -   Sebagai sumber N, pupuk yang mengandung nitrat lebih baik daripada&lt;br /&gt;          pupuk   yang   mengandung   amonium,   karena   dapat   terlarut   lebih   lama&lt;br /&gt;          dalam air.&lt;br /&gt;      -   Contoh pupuk:&lt;br /&gt;          *  Urea-CO(NH2)2: prosentase N=46,6.&lt;br /&gt;          *  Amonium sulfat-ZA-(NH4)2SO4: prosentase N=21.&lt;br /&gt;          *  Amonium chlorida-NH4Cl: prosentase N=25&lt;br /&gt;          *  Amonium nitrat-NH4NO3: prosentase N=37&lt;br /&gt;          *  Kalsium nitrat-Ca(NO3)2: prosentase N=17&lt;br /&gt;          *  Double superphosphate-Ca(H2PO4): prosentase P=26&lt;br /&gt;          *  Triple superphosphate-P2O5: prosentase P=39&lt;br /&gt;      -   Pemupukan diulangi sebanyak beberapa kali, sedikit demi sedikit setiap&lt;br /&gt;          7-10 hari sekali.&lt;br /&gt;      -   Pemupukan pertama, digunakan 0,95 ppm N dan 0,11 ppm P. Apabila&lt;br /&gt;          luas tambak 1 ha dan tinggi air rata-rata 60 cm, membutuhkan 75-150&lt;br /&gt;          kg pupuk urea dan 25-50 kg TSP.&lt;br /&gt;      -   Pertumbuhan plankton diamati dengan secci disc. Pertumbuhan cukup&lt;br /&gt;          bila pada kedalaman 30 cm, secci disc sudah kelihatan.&lt;br /&gt;      -   Takaran pupuk dikurangi bila secci disc tidak terlihat pada kedalaman&lt;br /&gt;          25 cm. Sedangkan apabila secci disc tidak kelihatan pada kedalaman&lt;br /&gt;          35 cm, maka takaran pupuk perlu ditambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Makanan       untuk    tiap  periode    kehidupan      udang    berbeda-beda.       Makanan&lt;br /&gt;   udang yang dapat digunakan dalam budidaya terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Makanan alami:&lt;br /&gt;      -   Burayak tingkat nauplius, makanan dari cadangan isi kantong telurnya.&lt;br /&gt;   -  Burayak tingkat zoea, makanannya plankton nabati, yaitu Diatomaeae&lt;br /&gt;       (Skeletonema, Navicula, Amphora, dll) dan Dinoflagellata (Tetraselmis,&lt;br /&gt;      dll).&lt;br /&gt;   -  Burayak       tingkat   mysis,    makanannya         plankton    hewani,     Protozoa,&lt;br /&gt;       Rotifera, (Branchionus), anak tritip (Balanus), anak kutu air (Copepoda),&lt;br /&gt;      dll.&lt;br /&gt;   -  Burayak      tingkat   post   larva   (PL),  dan    udang    muda     (juvenil),  selain&lt;br /&gt;       makanan       di  atas  juga   makan     Diatomaee      dan   Cyanophyceae        yang&lt;br /&gt;      tumbuh di dasar perairan (bentos), anak tiram, anak tritip, anak udanng-&lt;br /&gt;       udangan   (Crustacea)   lainnya,   cacing   annelida   dan   juga   detritus   (sisa&lt;br /&gt;       hewan dan tumbuhan yang membususk).&lt;br /&gt;   -  Udang      dewasa,     makanannya        daging   binatang     lunak   atau   Mollusca&lt;br /&gt;       (kerang,     tiram,   siput),  cacing    Annelida,    yaitut   cacing    Pollychaeta,&lt;br /&gt;       udang-udangan, anak serangga (Chironomus), dll.&lt;br /&gt;   -  Dalam      usaha    budidaya,     udang    dapat    makan     makanan      alami   yang&lt;br /&gt;      tumbuh di tambak, yaitu kelekap, lumut, plankton, dan bentos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Makanan Tambahan&lt;br /&gt;   Makanan   tambahan   biasanya   dibutuhkan   setelah   masa   pemeliharaan   3&lt;br /&gt;   bulan. Makanan tambahan tersebut dapat berupa:&lt;br /&gt;   -  Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah.&lt;br /&gt;   -  Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah, ketam, siput, dan udang-&lt;br /&gt;       udangan.&lt;br /&gt;   -  Kulit    kerbau    atau   sisa  pemotongan       ternak    yang    lain.  Kulit  kerbau&lt;br /&gt;      dipotong-potong 2,5 cm2, kemudian ditusuk sate.&lt;br /&gt;   -  Sisa-sisa pemotongan katak.&lt;br /&gt;   -  Bekicot yang telah dipecahkan kulitnya.&lt;br /&gt;   -  Makanan anak ayam.&lt;br /&gt;   -  Daging kerang dan remis.&lt;br /&gt;   -  Trisipan dari tambak yang dikumpulkan dan dipech kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Makanan Buatan (Pelet):&lt;br /&gt;   -  Tepung kepala udang atau tepung ikan 20 %.&lt;br /&gt;   -  Dedak halus 40 %.&lt;br /&gt;   -  Tepung bungkil kelapa 20 %.&lt;br /&gt;   -  Tepung kanji 19 %.&lt;br /&gt;   -  Pfizer premix A atau Azuamix 1 %.&lt;br /&gt;   Cara pembuatan:&lt;br /&gt;   -  Tepung       kanji  diencerkan     dengan     air  secukupnya,       lalu  dipanaskan&lt;br /&gt;      sampai mengental.&lt;br /&gt;   -  Bahan-bahan         yang     dicampurkan       dengan      kanji   diaduk-aduk      dan&lt;br /&gt;      diremas-remas sampai merata.&lt;br /&gt;   -  Setelah merata, dibentuk bulat-bulat dan digiling dengan alat penggiling&lt;br /&gt;      daging. Hasil gilingan dijemur sampai kering, kemudian diremas-remas&lt;br /&gt;      sampai patah-patah sepanjang rata-rata 1-2 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Takaran Ransum Udang dan Cara Pemberian Pakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Udang diberi pakan 4-6 x sehari sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   b. Jumlah pakan yang diberikan kepada benur 15-20% dari berat tubuhnya&lt;br /&gt;       per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. Jumlah pakan udang dewasa sekitar 5-10% berat tubuhnya/ hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   d. Pemberian pakan dilakukan pada sore hari lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Penggantian        Air.  Pembuangan         air  sebaiknya      melalui   bagian     bawah,&lt;br /&gt;       karena bagian ini yang kondisinya paling buruk. Tapi   apabila air   tambak&lt;br /&gt;       tertutup    air  hujan   yang    tawar,    pembuangannya         melalui    lapisan    atas,&lt;br /&gt;       sedangkan pemasukannya melalui bagian bawah.&lt;br /&gt;   b. Pengadukan           secara     mekanis       (belum      biasa    dilakukan).      Dengan&lt;br /&gt;       pengadukan,         air   dapat     memperoleh         tambahan       zat    asam,      atau&lt;br /&gt;       tercampurnya   air   asin   dan   air   tawar.   Pengadukan   dapat   menggunakan&lt;br /&gt;       mesin pengaduk, mesin perahu tempel, atau kincir angin.&lt;br /&gt;   c. Penambahan bahan kimia (belum biasa dilakukan). Kekurangan zat asam,&lt;br /&gt;       dapat ditambah dengan Kalium Permanganat (PK/KMnO4). Takaran 5-10&lt;br /&gt;       ppm (5-10 gram/1 ton air), masih belum mampu membunuh udang. Kapur&lt;br /&gt;       bakar sebanyak 200 kg/ha dapat juga untuk mengatasi O .&lt;br /&gt;   d. Penambahan volume air. Bila suhu air tinggi, penambahan jumlah volume&lt;br /&gt;       air dapat dikurangi. Perlu diberi pelindung.&lt;br /&gt;   e. Menghentikan          pemupukan       dan     pemberian      pakan.     Pemupukan        dan&lt;br /&gt;       pemberian       pakan     dihentikan     apabila    udang     nampak      menderita     dan&lt;br /&gt;       tambak dalam kondisi buruk.&lt;br /&gt;   f. Singkirkan      ikan   dan    ganggang      yang    mati   dengan     menggunakan        alat&lt;br /&gt;       penyerok.&lt;br /&gt;   g. Penambahan   pemberian   pakan.   Udang   diberi   tambahan   pakan   apabila&lt;br /&gt;       menunjukkan   gejala   kekurangan   makan,   sampai   pertumbuhan   makanan&lt;br /&gt;       alami normal kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perbaikan teknis yang diperlukan:&lt;br /&gt;   a. Perbaikan   saluran   irigasi   tambak   untuk   memungkinkan   petakan-petakan&lt;br /&gt;       tambak      memperoleh       air  yang    cukup     kualitas   dan    dan   kuantitasnya,&lt;br /&gt;       selama masa pemeliharaan.&lt;br /&gt;   b. Pompanisasi,        bagi   tambak-tambak        di  daerah    yang    perbedaan      pasang&lt;br /&gt;       surutnya     rendah     (kurang     dari   1  m),    yang    setiap    waktu    diperlukan&lt;br /&gt;       pergantian air ke dalam atau keluar tambak.&lt;br /&gt;   c. Perbaikan   konstruksi   tambak,   yang   meliputi   konstruksi   tanggul,   pintu   air&lt;br /&gt;       saringan   masuk   ke   dalam   tambak   agar   tambak   tidak   mudah   bocor,   dan&lt;br /&gt;       tanggul tidak longsor.&lt;br /&gt;          d. Perbaikan   manajemen   budidaya   yang   meliputi:   cara   pemupukan,   padat&lt;br /&gt;             penebaran yang optimal, pemberian pakan, cara pengelolaan air dan cara&lt;br /&gt;             pemantauan terhadap pertumbuhan dan kesehatan udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.    HAMA DAN PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.  Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Lumut&lt;br /&gt;          Lumut     yang    pertumbuhannya         berlebihan.   Pengendalian:         dapat    dengan&lt;br /&gt;          memelihara bandeng yang berukuran 8-12 cm sebanyak 200 ekor/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Bangsa ketam&lt;br /&gt;          Membuat       lubang    di  pematang,     sehingga     dapat    mengakibatkan       bocoran-&lt;br /&gt;          bocoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Udang tanah (Thalassina anomala),&lt;br /&gt;          Membuat lubang di pematang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Hewan-hewan penggerek kayu pintu air&lt;br /&gt;           Merusak   pematang,   merusak   tanah   dasar,   dan   merusak   pintu   air   seperti&lt;br /&gt;          remis penggerek (Teredo navalis), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      5) Tritip (Balanus sp.) dan tiram (Crassostrea sp.)&lt;br /&gt;          Menempel pada bangunan-bangunan pintu air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pengendalian       hama    bangsa     ketam,    udang    tanah,   hewan-hewan        penggerek&lt;br /&gt;       kayu pintu air sama dengan pengendalian lumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Golongan      pemangsa       (predator),   dapat    memangsa       udang    secara    langsung,&lt;br /&gt;      termasuk golongan buas, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Ikan-ikan buas, seperti payus (Elops hawaiensis), kerong-kerong (Tehrapon&lt;br /&gt;          tehraps),    kakap    (Lates   calcarifer),   keting   (Macrones      micracanthus),      kuro&lt;br /&gt;          (Polynemus sp.), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Ketam-ketaman, antara lain adalah kepiting (Scylla serrata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Bangsa burung, seperti blekok (Ardeola ralloides speciosa),   cangak   (Ardea&lt;br /&gt;          cinera rectirostris), pecuk cagakan (Phalacrocorax carbo sinensis), pecuk ulo&lt;br /&gt;          (Anhinga rufa melanogaster), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Bangsa ular, seperti ular air atau ular kadut (Cerberus rhynchops, Fordonia&lt;br /&gt;          leucobalia, dan Chersidrus granulatus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Wingsang,        wregul,     sero,    atau    otter   (Amblonyx       cinerea    dan    Lutrogale&lt;br /&gt;   perspicillata ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan   penyaing   (kompetitor)   adalah   hewan   yang   menyaingi   udang   dalam&lt;br /&gt;hidupnya, baik mengenai pangan maupun papan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bangsa siput, seperti trisipan (Cerithidea cingulata), congcong (Telescopium&lt;br /&gt;    telescopium).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ikan   liar,   seperti   mujair   (Tilapia   mosambica),   belanak   (Mugil         spp),   rekrek&lt;br /&gt;    (Ambassis gymnocephalus), pernet (Aplocheilus javanicus), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ketam-ketaman, seperti Saesarma sp. dan Uca sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Udang, yaitu udang kecil-kecil terutama jenis  Cardina denticulata, dan lain-&lt;br /&gt;    lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Ikan-ikan buas dapat diberantas   dengan bungkil   biji   teh   yang  mengandung&lt;br /&gt;    racun saponin.&lt;br /&gt;   a. Bungkil   biji   teh   adalah   ampas   yang   dihasilkan   dari   biji   teh   yang   diperas&lt;br /&gt;       minyaknya dan banyak diproduksi di Cina.&lt;br /&gt;    b. Kadar   saponin   dalam         tiap   bungkil   biji   teh   tidak   sama,   tetapi  biasanya&lt;br /&gt;       dengan   150-200   kg   bungkil   biji   teh   per   Ha   tambak   sudah   cukup   efektif&lt;br /&gt;       mematikan ikan liar/buas tanpa mematikan udang yang dipelihara.&lt;br /&gt;   c. Daya racun saponin terhadap ikan 50 kali lebih besar daripada terhadap&lt;br /&gt;       udang.&lt;br /&gt;   d. Daya racun saponin akan hilang sendiri dalam waktu 2-3 hari di dalam air.&lt;br /&gt;       Setelah   diracun   dengan   bungkil   biji   teh,   air   tambak   tidak   perlu   dibuang,&lt;br /&gt;       sebab residu bungkil itu dapat menambah kesuburan tambaknya.&lt;br /&gt;   e. Daya racun saponin berkurang apabila digunakan pada air dengan kadar&lt;br /&gt;       garam rendah. Tambak dengan kedalaman 1 meter dan kadar garam air&lt;br /&gt;       tambak &gt; 15 permil, bungkil biji teh yang digunakan cukup 120 kg/Ha saja,&lt;br /&gt;       sedangkan kalau lebih rendah harus 200 kg/Ha. Untuk penghematan air&lt;br /&gt;       tambak dapat diturunkan sampai 1/3-nya, sehingga bungkil yang diberikan&lt;br /&gt;       hanya   1/3   yang   seharusnya.   Setelah   6   jam   air   tambak   dinaikkan   lagi,&lt;br /&gt;       sehingga kadar saponin menjadi lebih encer.&lt;br /&gt;   f.  Penggunaan   bungkil   ini   akan   lebih   efektif   pada   siang   hari,   pukul   12.00&lt;br /&gt;       atau 13.00.&lt;br /&gt;   g. Sebelum        digunakan      bungkil    ditumbuk      dulu   menjadi     tepung,    kemudian&lt;br /&gt;       direndam dalam   air   selama   beberapa  jam   atau   semalam.   Setelah   itu  air&lt;br /&gt;       tersebut      dipercik-percikan       ke    seluruh     tambak.      Sementara       menabur&lt;br /&gt;       bungkil, kincir dalam tambak diputar agar saponin teraduk merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)     Rotenon dari akar deris (tuba).&lt;br /&gt;   a. Akar deris dari alam mengandung 5-8 %o rotenon.                  Akar yang masih kecil&lt;br /&gt;       lebih   banyak   mengandung   rotenon.Zat   ini   dapat   membunuh   ikan   pada&lt;br /&gt;       kadar 1-4 ppm, tetapi batas yang mematikan udang tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;   b. Dalam   air   berkadar   garam   rendah,   daya   racunnya   lebih   baik/lebih   kuat&lt;br /&gt;       daripada yang berkadar garam tinggi.&lt;br /&gt;   c. Sebelum   digunakan,   akar   tuba   dipotong   kecil-kecil,   kemudian   direndam&lt;br /&gt;       dalam dalam air selama 24 jam. Setelah itu akar ditumbuk sampai lumat,&lt;br /&gt;       dimasukkan ke dalam air sambil diremas-remas sampai air berwarna putih&lt;br /&gt;       susu.&lt;br /&gt;   d. Dosis yang diperlukan adalah 4-6 kg/Ha tambak, apabila kedalaman air 8&lt;br /&gt;       cm. Daya racun rotenon sudah hilang setelah 4 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ikan   liar,   ikan   buas,   dan   siput   dapat   juga   diberantas   dengan   nikotin   pada&lt;br /&gt;   takaran   12-15   kg/Ha   atau   sisa-sisa   tembakau   dengan   takaran   antara   200-&lt;br /&gt;   400 kg/Ha.&lt;br /&gt;   a. Sisa-sisa       tembakau       ditebarkan      di   tambak      sesudah      tanah     dasar&lt;br /&gt;       dikeringkan dan kemudian diairi lagi setinggi ± 10 cm.&lt;br /&gt;   b. Setelah ditebarkan, dibiarkan selama 2-3 hari, agar racun nikotinnya dapat&lt;br /&gt;       membunuh hama. Sementara itu airnya dibiarkan sampai habis menguap&lt;br /&gt;       selama 7 hari.&lt;br /&gt;   c. Setelah   itu   tambak   diairi    lagi  tanpa   dicuci   dulu,   sebab    sisa   tembakau&lt;br /&gt;       sudah tidak beracun lagi dan dapat berfungsi sebagai pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Brestan-60 dapat digunakan untuk memberantas hama, terutama trisipan.&lt;br /&gt;   a. Brestan-60   adalah   semacam   bahan   kimia   yang   berupa   bubuk   berwarna&lt;br /&gt;       krem dan hampir tidak berbau. Bahan aktifnya adalah trifenil asetat stanan&lt;br /&gt;       sebanyak 60%.&lt;br /&gt;   b. Takaran   yang   dibutuhkan   adalah   1   kg/Ha,   apabila   kedalaman   air   16-20&lt;br /&gt;       cm dan kadar garamnya 28-40%. Makin dalam airnya dan makin rendah&lt;br /&gt;       kadar garamnya, takaran yang dibutuhkan makin banyak.&lt;br /&gt;   c. Daya racunnya lebih baik pada waktu terik matahari.&lt;br /&gt;   d. Cara penggunaan:&lt;br /&gt;       -  Air   dalam   petakan   disurutkan   sampai  ± 10   cm.   Pintu   air   dan   tempat&lt;br /&gt;          yang bocor ditutup.&lt;br /&gt;       -  Bubuk Brestan-60 yang telah ditakar dilarutkan dalam air secukupnya,&lt;br /&gt;          kemudian dipercik-percikkan ke permukaan air.&lt;br /&gt;       -  Air dibiarkan menggenang selama 4-10 hari, agar siputnya mati semua.&lt;br /&gt;       -  Setelah      itu   tambak     dicuci    2-3    kali,  dengan      memasukkan         dan&lt;br /&gt;          mengeluarkan air pada waktu pasang dan surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Sevin dicampur dengan cincangan daging ikan, kemudian dibentuk bulatan,&lt;br /&gt;   dapat digunakan sebagai umpan untuk meracuni kepiting.&lt;br /&gt;   Karbid (Kalsium karbida) dimasukkan ke dalam lubang kepiting, disiram   air&lt;br /&gt;   dan kemudian. Gas asetilen yang timbul akan membunuh kepiting.&lt;br /&gt;   Abu sekam yang dimasukkan ke dalam lubang kepiting, akan melekat pada&lt;br /&gt;   insang dan dapat mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       6) Usaha untuk mengusir burung adalah dengan memasang pancang-pancang&lt;br /&gt;          bambu atau kayu di petakan tambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       7) Cara memberantas udang renik (wereng tambak): menggunakan Sumithion&lt;br /&gt;          dengan dosis 0,002 mg/liter pada hari pertama dan ditambah 0,003 mg/liter&lt;br /&gt;          pada hari kedua. Kadar yang dapat mematikan udang adalah 0,008 mg/liter.&lt;br /&gt;          Selalu memeriksa lokasi baik siang maupun malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.   Penyakit asal virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Monodon Baculo  Virus (MBV)&lt;br /&gt;          Keberadanya tidak perlu dikhawatirkan, karena tidak berpengaruh terhadap&lt;br /&gt;          kehidupan  udang. Penyebab:   kondisi   stres   saat  pemindahan   post   larva   ke&lt;br /&gt;          kolam pembesaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Infectious Hypodermal Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV)&lt;br /&gt;          Gejala:      (1)  udang     berenang      tidak   normal,    yaitu   sangat     perlahan-lahan,&lt;br /&gt;          muncul   ke   permukaan   dan   mengambang   dengan   perut   di   ata;   (2)   bila   alat&lt;br /&gt;          geraknya (pleopod dan Periopod) berhenti bergerak, udang akan tenggelam&lt;br /&gt;          di   bawah   kolam;   (3)   udang   akan   mati   dalam   waktu   4-12   jam   sejak   mulai&lt;br /&gt;          timbulnya   gejala   tersebut.   Udang   penderita   banyak   yang   mati   pada   saat&lt;br /&gt;          moulting;   (4)   pada   kondisi   yang   akut,   kulitnya   akan   terlihat   keputih-putihan&lt;br /&gt;          dan tubuhnya berwarna putih keruh; (5) permukaan tubuhnya akan ditumbuhi&lt;br /&gt;          oleh diatomae, bakteri atau parasit jamur; (6) pada kulit luar terlihat nekrosis&lt;br /&gt;          pada   kutikula,   syaraf,   antena,   dan   pada   mukosa   usus   depan   dan   tengah.&lt;br /&gt;          Pengendalian: perbaikan kualitas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Hepatopancreatic Parvo-like Virus&lt;br /&gt;          Gejala: terutama menyerang hepatopankreas, sehingga dalam pemeriksaan&lt;br /&gt;          hepatopankreasnya            secara    mikroskopik       terlihat  degenerasi       dan   adanya&lt;br /&gt;          inklusion   bodies   dalam   se-sel   organ   tersebut.          Pengendalian:   perbaikan&lt;br /&gt;          kualitas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       4) Cytoplamic Reo-like Virus&lt;br /&gt;          Gejala: (1) udang berkumpul di tepi kolam dan berenang di permukaan air;&lt;br /&gt;          (2)    kematian      udang     di  mulai    pada    hari   7-9    setelah    penebaran       benih&lt;br /&gt;          (stocking) di kolam post larva umur 18 hari. Pengendalian: belum diketahui&lt;br /&gt;          secara pasti, yang penting adalah perbaikan kualitas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       5) Ricketsiae&lt;br /&gt;          Gejala:   (1)   udang   berenang   di   pinggir   kolam   dalam           keadaan     lemah;    (2)&lt;br /&gt;          udang   berwarna   lebih   gelap,   tak   ada   nafsu   makan,   pada   beberapa   udang&lt;br /&gt;          terlihat   benjolan-benjolan   kecil       keputih-putihan   pada       dinding    usus    bagian&lt;br /&gt;          tengah (mid gut); (3) adanya koloni riketsia, peradangan dan pembengkakan&lt;br /&gt;          jaringan   ikat;   (4)   kematian   udang   mulai   terjadi   pada   minggu   ke-7   atau   9&lt;br /&gt;          setelah   penebaran   benih   (post   larva   hari   ke-15-25).   Angka   kematian   naik&lt;br /&gt;          pada   hari   ke-5   sampai   7,   sejak   mulai   terjadi   kematian,   kemudian   menurun&lt;br /&gt;          sampai   tak   ada   kematian.   Tiga   hari   kemudian   kematian   timbul   lagi,   begitu&lt;br /&gt;          seterusnya sampai udang dipanen. Pengendalian: menggunakan   antibiotik&lt;br /&gt;          (oksitetrasiklin,     sulfasoxasol,     dan    nitrofurazon)     dicampur     makanan       dapat&lt;br /&gt;          mengurangi        angka     kematian,     tetapi   bila  konsentrasi      antibiotik   menurun,&lt;br /&gt;          kematian akan timbul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3.   Penyakit asal Bakteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Bakteri nekrosis&lt;br /&gt;          Penyebab: (1) bakteri dari genus Vibrio; (2) merupakan infeksi sekunder dari&lt;br /&gt;          infeksi pertama yang disebabkan oleh luka, erosi bahan kimia atau lainnya.&lt;br /&gt;          Gejala:   (1)   muncul   beberapa   nekrosis   (berwarna   kecoklatan)   di   beberapa&lt;br /&gt;          tempat (multilokal), yaitu pada antena, uropod, pleopod, dan beberapa alat&lt;br /&gt;          tambahan lainnya; (2) usus penderita kosong, karena tidak ada nafsu makan.&lt;br /&gt;          Pengendalian:         Pemberian       antibiotik   dalam    kolam     pembenihan,       miaslnya&lt;br /&gt;          furanace      1  mg/l,   oksitetrasiklin    60-250    mg/l   dan    erytromycin     1  mg/l;   (2)&lt;br /&gt;          Pengeringan,   pembersihan   dan   disinfeksi   dalam   kolam   pembenihan,   serta&lt;br /&gt;          menjaga   kebersihan  alat-alat   yang   digunakan;   (3)   pemeliharaan   kualias   air&lt;br /&gt;          dan sanitasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Bakteri Septikemia&lt;br /&gt;          Penyebab: (1) Vibrio alginolictus, V. parahaemolyticus, Aeromonas sp., dan&lt;br /&gt;          Pseudomonas sp.; (2) merupakan infeksi sekunder dari infeksi pertama yan&lt;br /&gt;          disebabkan   defisiensi   vitamin   C,   toxin,   luka   dan   karena   stres   yang   berat.&lt;br /&gt;          Gejala: (1) menyerang larva dan post larva; (2) terdapat sel-sel bakteri yang&lt;br /&gt;          aktif    dalam     haemolymph          (sistem     darah     udang).    Pengendalian:           (1)&lt;br /&gt;          pemberian   antibiotik   dalam   kolam   pembenihan,   misalnya   furanace   1   mg/l,&lt;br /&gt;          oksitetrasiklin 60-250 mg/l dan erytromycin 1 mg/l; (2) pemeliharaan kualias&lt;br /&gt;          air dan sanitasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.4.   Penyakit asal Parasit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dapat   menyebabkan   penurunan   berat   badan,   penurunan   kualitas,   kepekaan&lt;br /&gt;       terhadap      infeksi    virus/bakteri    dan    beberapa       parasit   dapat     menyebabkan&lt;br /&gt;       kemandulan (Bopyrid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Parasit cacing&lt;br /&gt;          Cacing Cestoda, yaitu&lt;br /&gt;          -  Polypochepalus sp., bentuk cyste dari cacing ini terdapat dalam jaringan&lt;br /&gt;              ikat di sepanjang syaraf bagian ventral.&lt;br /&gt;          -  Parachristianella        monomegacantha,          berparasit      dalam      jaringan    inter-&lt;br /&gt;             tubuler hepatopankreas.&lt;br /&gt;          Cacing      Trematoda:       Opecoeloides         sp.,   yang    ditemukan       pada     dinding&lt;br /&gt;          proventriculus dan usus.&lt;br /&gt;          Cacing   Nematoda:        Contracaecum   sp.,  menyerang   hepatopankreas   udang&lt;br /&gt;          yang hidup secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Parasit Isopoda&lt;br /&gt;          Dapat      menghambat        perkembangan         alat   reproduksi     udang.     Parasit    ini&lt;br /&gt;          menempel   di   daerah   branchial   insang   (persambung   antara   insang   dengan&lt;br /&gt;          tubuh udang), sehingga menghambat perkembangan gonad (sel telur) pada&lt;br /&gt;          udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.5.   Penyakit asal Jamur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Menyerang udang periode larva dan post larva yang dapat mati dalam waktu 24&lt;br /&gt;      jam.  Penyebab:   (1)   Jamur   Phycomycetes   yang   termasuk   genus   Lagenedium&lt;br /&gt;       dan    Sirolpidium;    (2)   penyebarannya        terjadi  pada    waktu    pemberian      pakan.&lt;br /&gt;       Pengendalian:   (1)   pemberian   malachite   green   (0,006-0,1   mg/l)   atau   trifuralin&lt;br /&gt;       (0,01   pp,)   3-6   kali   sehari   akan   mencegah   penyebaran   jamur   ke   larva   yang&lt;br /&gt;       sehat;   (2)   jalan   filtrasi   air   laut   untuk   pembenihan;   (3)   pencucian   telur   udang&lt;br /&gt;       berkali-kali dengan air laut yang bersih atau air laut yang diberi malachite green&lt;br /&gt;       atau trifuralin, karena dapat menghilangkan zoospora dari jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Udang   yang   siap   panen   adalah   udang   yang   telah   berumur   5-6   bulan   masa&lt;br /&gt;       pemeliharaan. Dengan syarat mutu yang baik, yaitu:&lt;br /&gt;       1) ukurannya besar&lt;br /&gt;       2) kulitnya keras, bersih, licin, bersinar dan badan tidak cacat&lt;br /&gt;       3) masih dalam keadaan hidup dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1.   Penangkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Penangkapan sebagian&lt;br /&gt;          a. Dengan menggunakan Prayang, yang terbuat dari bambu, yang terdiri dari&lt;br /&gt;             dua     bagian,    yaitu   kere   sebagai     pengarah      dan   perangkap      berbentuk&lt;br /&gt;             jantung     sebagai     tempat     jebakan.    Prayang      dipasang     di  tepi   tambak,&lt;br /&gt;             dengan      kerenya     melintang     tegak    lurus   pematang       dan   perangkapnya&lt;br /&gt;             berada   di   ujung   kere.   Pemasangan   prayang   dilakukan   malam   hari   pada&lt;br /&gt;             waktu     ada   pasang     besar    dan   di  atasnya     diberi  lampu    untuk    menarik&lt;br /&gt;             perhatian       udang.     Lubang      prayang      dibuat    4    cm,    sehingga      yang&lt;br /&gt;             terperangkap   hanya   udang   besar   saja.   Pada   lubang   mulut   dipasang   tali&lt;br /&gt;             nilon   atau   kawat   yang   melintang   dengan   jarak   masing-masing   sekitar   4&lt;br /&gt;             cm.&lt;br /&gt;          b. Dengan   menggunakan   jala   lempar.   Penangkapan   dilakukan   malam   hari.&lt;br /&gt;             Air    tambak      dikurangi     sebagian      untuk    memudahkan          penangkapan.&lt;br /&gt;             Penangkapan dilakukan dengan masuk ke dalam   tambak.  Penangkapan&lt;br /&gt;             dengan jala dapat dilakukan apabila ukuran udang dalam tambak tersebut&lt;br /&gt;             seragam.&lt;br /&gt;          c. Dengan menggunakan tangan kosong. Dilakukan pada siang hari, karena&lt;br /&gt;             udang biasanya berdiam diri di dalam lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Penangkapan total&lt;br /&gt;          a. Penangkapan          total   dapat    dilakukan     dengan      mengeringkan        tambak.&lt;br /&gt;             Pengeringan tambak dapat dilakukan dengan pompa air atau apabila tidak&lt;br /&gt;             ada     harus     memperhatikan         pasang     surut    air  laut.   Malam/dini      hari&lt;br /&gt;             menjelang       penangkapan,       air  dikeluarkan     dari   petak   tambak     perlahan-&lt;br /&gt;             lahan   waktu   air   surut.   Pada   tambak   semi   intensif,   air   disurutkan   sampai&lt;br /&gt;             caren, sehingga kedalaman air 10-20 cm.&lt;br /&gt;          b. Dengan   menggunakan   seser   besar   yang   mulutnya   direndam   di   lumpur&lt;br /&gt;             dasar       tambak/caren,        lalu   didorong       sambil     mengangkatnya           jika&lt;br /&gt;             diperkirakan   sudah   banyak   udang   yang   masuk   dalam   seser.   Dan   cara&lt;br /&gt;             tersebut dilakukan berulang-ulang.&lt;br /&gt;          c. Dengan menggunakan jala, biasanya dilakukan banyak orang.&lt;br /&gt;          d. Dengan   menggunakan   kerei   atau           jaring   yang   lebarnya     sesuai   dengan&lt;br /&gt;             lebar caren. Lumpur dasar tempat udang bersembunyi didorong beramai-&lt;br /&gt;             ramai oleh beberapa orang yang memegangi kerei atau jaring itu, menuju&lt;br /&gt;             ke depan pintu air. Di depan pintu air udang            dicegat dengan kerei lainnya.&lt;br /&gt;             Udang   terkumpul   di   kubangan   dekat   pintu   ai,   sehingga   dengan   mudah&lt;br /&gt;             ditangkap.&lt;br /&gt;          e. Dengan       memasang       jaring   penadah     yang    cukup    luas   atau   panjang     di&lt;br /&gt;             saluran   pembuangan   air.   Pintu   air   dibuka   dan   diatur   agar   air   mengalir&lt;br /&gt;             perlaha-lahan,       sehingga      udang     tidak   banyak     tertinggal    bersembunyi&lt;br /&gt;             dalam lumpur. Udang akan keluar bersama air dan tertadah dalam jaring&lt;br /&gt;             yang terpasang dan dengan mudah ditangkapi dengan seser.&lt;br /&gt;          f. Dengan menggunakan jaring (trawl) listrik. Jaring ini berbentuk dua buah&lt;br /&gt;             kerucut.     Badan     kantung     mempunyai        bukaan     persegi    panjang.     Mulut&lt;br /&gt;             kantung   yang   di   bawah   di   pasang   pemberat   agar   dapat   tenggelam   di&lt;br /&gt;             lumpur. Bagian atas mulut jaring diberi pelampung agar mengambang di&lt;br /&gt;             permukaan   air.      Bagian     bibir  bawah    mulut    jaring   dipasang   kawat     yang&lt;br /&gt;             dapat   dialiri   listrik   berkekuatan   3-12   volt.   Listrik   yang   mengaliri   kawat   di&lt;br /&gt;             dasar   mulut   jaring   akan   mengejutkan   udang   yang   terkena,   lalu   udang&lt;br /&gt;             akan meloncat dan masuk ke dalam jaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2.   Pembersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Udang      yang    telah   ditangkap     dikumpulkan      dan    dibersihkan     sampai     bersih.&lt;br /&gt;       Kemudian udang ditimbang dan dipilih menurut kualitas ukuran yang sama dan&lt;br /&gt;       tidak cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.     PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasca&lt;br /&gt;       panen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      1) Alat-alat yang digunakan harus bersih.&lt;br /&gt;      2) Penanganan harus cepat, cermat, dan hati-hati.&lt;br /&gt;      3) Hindarkan terkena sinar matahari langsung.&lt;br /&gt;      4) Cucilah udang dari kotoran dan lumpur dengan air bersih.&lt;br /&gt;      5) Masukkan   ke   dalam   keranjang,   ember,   atau   tong,   dan   siram   dengan   air&lt;br /&gt;         bersih.&lt;br /&gt;      6) Selalu menggunakan es batu untuk mendinginkan dan mengawetkan udang.&lt;br /&gt;      7) Selain didinginkan, dapat juga direndam dalam larutan NaCl 100 ppm untuk&lt;br /&gt;         mengawetkan udang pada temperatur kamar dan  untuk membunuh   bakteri&lt;br /&gt;         pembusuk (Salmonella, Vibrio, Staphylococcus).&lt;br /&gt;      8) Kelompokan menurut jenis dan ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.   ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perkiraan analisis usaha pembesaran Udang Galah di Desa Tangkil Kecamatan&lt;br /&gt;      Caringin Kabupaten Bogor. Selama 2 musim (1 tahun) pada tahun 1999 adalah&lt;br /&gt;      sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      1) Biaya Produksi&lt;br /&gt;         a   Lahan&lt;br /&gt;             - Sewa lahan 2 tahun                                           Rp.   3.200.000,-&lt;br /&gt;             - Pengolahan lahan                                              Rp.    125.000,-&lt;br /&gt;         b. Bibit&lt;br /&gt;             - Benur 60.000 ekor Rp. 16,-                                   Rp.     960.000,-&lt;br /&gt;         c. Pakan&lt;br /&gt;             - UG 801 86,40 kg @ Rp 2.600,-                                 Rp.     224.460,-&lt;br /&gt;             - UG 802 590,40 Kg Rp. 2.400,-                                 Rp.   1.416.960,-&lt;br /&gt;             - UG 803 1.882,57 kg Rp. 2.300,-                               Rp.   4.329.900,-&lt;br /&gt;         d. Obat-obatan dan pupuk&lt;br /&gt;             - BCK 4 liter @ Rp. 12.500,-                                   Rp        50.000,-&lt;br /&gt;             - Sanponin 40 kg @ Rp 1500,-                                   Rp.       60.000,-&lt;br /&gt;             - Urea 10 kg @ Rp 2000,-                                       Rp.       20.000,-&lt;br /&gt;             - KCL 10 kg @ Rp 2.500,-                                       RP.       25.000,-&lt;br /&gt;             - Pupuk kandang 20 kg @ Rp 500,-                               Rp.       10.000,-&lt;br /&gt;             - Kapur 100 kg @ Rp. 1000,-                                    Rp.     100.000,-&lt;br /&gt;         e. Alat&lt;br /&gt;             - Timbangan 1 Unit @ Rp. 100.000,-                             Rp.     100.000,-&lt;br /&gt;             - pH Pen 1 Unit @ Rp. 50.000,-                                 Rp.      50.000,-&lt;br /&gt;             - Jala/Jaring 2 Unit @ Rp. 25000,-                             Rp.      50.000,-&lt;br /&gt;             - Cangkul 3 Unit @ Rp. 6.000,-                                 Rp.      18.000,-&lt;br /&gt;             - Skoop 1 Unit @ Rp. 6.000,-                                   Rp.        6.000,-&lt;br /&gt;             - Serok 3 Unit @ Rp. 4.500,-                                   Rp.      13.500,-&lt;br /&gt;             - Plastik 20 meter @ Rp. 2.000,-                               Rp.      40.000,-&lt;br /&gt;             - Saringan 10 meter @ Rp. 2.500,-                              Rp.      25.000,-&lt;br /&gt;             - Ember Plastik 3 unit @ Rp. 5.000,-                           Rp.      15.000,-&lt;br /&gt;             - Keranjang 5 unit @ Rp. 5.500,-                               Rp.      16.500,-&lt;br /&gt;         f. Tenaga kerja&lt;br /&gt;             - Tenaga Tetap 12 MM @ Rp 250.000,-                            Rp.   1.500.000,-&lt;br /&gt;             - Tenaga Tak Tetap 10 OH @ Rp 8.000,00                         Rp.       80.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         g. Lain-lain&lt;br /&gt;             - Rekening Listrik 6 bulan @ Rp 15.000,-                       Rp.       90.000,-&lt;br /&gt;             - Transportasi                                                 Rp.       20.000,-&lt;br /&gt;         h. Biaya tak terduga 10%                                           Rp.   1.254.532,-&lt;br /&gt;         Jumlah biaya produksi                                              Rp 12.545.320,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pendapatan 2 musim/th:1912,3 kg @ Rp 19.000,-                      Rp.34.463.700,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Keuntungan per tahun/2 musim                                       Rp.21.918.380,-&lt;br /&gt;         Keuntungan per musim (6 bulan)                                     Rp.   4.686.530,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Parameter kelayakan&lt;br /&gt;         a. B/C ratio per musim                                              1,37&lt;br /&gt;         b. Atas dasar Unit :BEP = FC/P-V                                    206,4 kg&lt;br /&gt;         c. Atas dasar Sales : BEP = FC/1-(VC/R)                            Rp   3.688.540,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sampai saat ini udang merupakan komoditi budidaya yang mempunyai prospek&lt;br /&gt;      cukup baik, baik untuk komsumsi dalam negeri maupun komsumsi luar negeri.&lt;br /&gt;      Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya permintaan ekspor untuk udang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-3464980637942828703?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/3464980637942828703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-udang-windu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/3464980637942828703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/3464980637942828703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-udang-windu.html' title='Budidaya Udang Windu'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-6456281113675453093</id><published>2009-05-10T07:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T07:25:38.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Ikan Patin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IKAN PATIN &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Pangasius pangasius )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan    patin   merupakan      jenis ikan     konsumsi       air  tawar,   berbadan      panjang&lt;br /&gt;       berwarna      putih   perak   dengan   punggung   berwarna          kebiru-biruan.   Ikan   patin&lt;br /&gt;       dikenal   sebagai   komoditi   yang   berprospek   cerah,   karena   memiliki   harga   jual&lt;br /&gt;       yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan&lt;br /&gt;       diminati    oleh   para   pengusaha       untuk    membudidayakannya.           Ikan   ini  cukup&lt;br /&gt;       responsif     terhadap     pemberian      makanan      tambahan.      Pada    pembudidayaan,&lt;br /&gt;       dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai&lt;br /&gt;       keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk&lt;br /&gt;       “membongsorkan“          tubuhnya.      Pada    perairan     yang    tidak   mengalir     dengan&lt;br /&gt;       kandungan   oksigen   rendahpun   sudah   memenuhi   syarat   untuk   membesarkan&lt;br /&gt;       ikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti&lt;br /&gt;       perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut&lt;br /&gt;       terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan&lt;br /&gt;       catfish).   Pada     sudut   mulutnya      terdapat    dua   pasang      kumis    pendek     yang&lt;br /&gt;       berfungsi sebagai peraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.     SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penangkaran ikan patin banyak terdapat di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa&lt;br /&gt;       Barat, Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.     JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       Ordo            :  Ostarioplaysi.&lt;br /&gt;       Subordo         :  Siluriodea.&lt;br /&gt;       Famili          :  Pangasidae.&lt;br /&gt;       Genus           :  Pangasius.&lt;br /&gt;       Spesies         :  Pangasius pangasius Ham. Buch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya:&lt;br /&gt;       a) Pangasius polyuranodo (ikan juaro)&lt;br /&gt;       b) Pangasius macronema&lt;br /&gt;       c) Pangasius micronemus&lt;br /&gt;       d) Pangasius nasutus&lt;br /&gt;       e) Pangasius  nieuwenhuisii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.     MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.&lt;br /&gt;       2) Sebagai ikan hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,&lt;br /&gt;          tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar&lt;br /&gt;          dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.&lt;br /&gt;       2) Kemiringan tanah   yang   baik   untuk   pembuatan   kolam   berkisar   antara   3-5%&lt;br /&gt;          untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;       3) Apabila     pembesaran       patin   dilakukan    dengan     jala  apung     yang    dipasang&lt;br /&gt;          disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.&lt;br /&gt;       4) Kualitas     air  untuk    pemeliharaan       ikan   patin   harus    bersih,   tidak   terlalu&lt;br /&gt;          keruhdan   tidak   tercemar   bahan-bahan   kimia   beracun,   dan            minyak/limbah&lt;br /&gt;          pabrik.   Kualitas air   harus  diperhatikan, untuk   menghindari   timbulnya   jamur,&lt;br /&gt;          maka   perlu   ditambahkan   larutan   penghambat   pertumbuhan   jamur   (Emolin&lt;br /&gt;          atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).&lt;br /&gt;       5) Suhu   air   yang   baik   pada   saat   penetasan   telur   menjadi   larva   di   akuarium&lt;br /&gt;          adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif&lt;br /&gt;          rendah     diperlukan     heater   (pemanas)      untuk   mencapai      suhu   optimal    yang&lt;br /&gt;          relatif stabil.&lt;br /&gt;       6) Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Budidaya      ikan  patin   meliputi   beberapa      kegiatan,   secara    garis   besar    dibagi&lt;br /&gt;       menjadi 2 kegiatan  yaitu   pembenihan dan   pembesaran. Kedua   jenis   kegiatan&lt;br /&gt;       ini  umumnya       belum    populer    dilakukan     oleh   masyarakat,      karena    umumnya&lt;br /&gt;       masih mengandalkan kegiatan penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan&lt;br /&gt;       lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan ikan patin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Kegiatan      pembenihan       merupakan       upaya    untuk    menghasilkan       benih    pada&lt;br /&gt;       ukuran     tertentu.   Produk     akhirnya     berupa    benih    berukuran      tertentu,   yang&lt;br /&gt;       umumnya       adalah    benih   selepas   masa   pendederan.   Benih   ikan   patin         dapat&lt;br /&gt;       diperoleh dari hasil   tangkapan   di perairan  umum.   Biasanya menjelang  musim&lt;br /&gt;       kemarau   pada   pagi   hari   dengan   menggunakan   alat   tangkap   jala   atau   jaring.&lt;br /&gt;       Benih dapat juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa Barat. Benih&lt;br /&gt;       dikumpulkan       dalam    suatu    wadah,     dan   dirawat    dengan     hati-hati   selama    2&lt;br /&gt;       minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan&lt;br /&gt;       air  bersih,   dan   usahakan      terhindar   dari   sengatan   matahari.      Sebelum     benih&lt;br /&gt;       ditebar, dipelihara dulu dalam   jaring  selama  1   bulan,   selanjutnya   dipindahkan&lt;br /&gt;       ke dalam hampang yang sudah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Secara   garis   besar   usaha   pembenihan   ikan   patin   meliputi   kegiatan-kegiatan&lt;br /&gt;       sebagai berikut:&lt;br /&gt;       a) Pemilihan calon induk siap pijah.&lt;br /&gt;       b) Persiapan   hormon   perangsang/kelenjar   hipofise   dari   ikan   donor,yaitu   ikan&lt;br /&gt;          mas.&lt;br /&gt;       c) Kawin suntik (induce breeding).&lt;br /&gt;       d) Pengurutan (striping).&lt;br /&gt;       e) Penetasan telur.&lt;br /&gt;      f)  Perawatan larva.&lt;br /&gt;       g) Pendederan.&lt;br /&gt;       h) Pemanenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada   usaha   budidaya   yang   semakin   berkembang,   tempat   pembenihan   dan&lt;br /&gt;       pembesaran sering kali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan&lt;br /&gt;       benih     dari    tempat     pembenihan         ke    tempat     pembesaran         memerlukan&lt;br /&gt;       penanganan khusus agar benih selamat. Keberhasilan transportasi benih ikan&lt;br /&gt;       biasanya sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik maupun kimia air, terutama&lt;br /&gt;       menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2 , pH, dan suhu air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lokasi   kolam   dicari   yang   dekat   dengan   sumber   air   dan   bebas   banjir.   Kolam&lt;br /&gt;       dibangun       di   lahan     yang     landai    dengan      kemiringan       2–5%      sehingga&lt;br /&gt;       memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Kolam pemeliharaan induk&lt;br /&gt;          Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai&lt;br /&gt;          contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila&lt;br /&gt;          hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan&lt;br /&gt;          pelet,   maka   untuk   100   kg   induk   memerlukan   luas   150-200   meter   persegi&lt;br /&gt;          saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok&lt;br /&gt;          atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu&lt;br /&gt;          pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk&lt;br /&gt;          pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Kolam pemijahan&lt;br /&gt;          Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas&lt;br /&gt;          kolam   pemijahan   tergantung   jumlah   induk   yang   dipijahkan   dengan   bentuk&lt;br /&gt;          kolam empat  persegi   panjang.   Sebagai   patokan  bahwa   untuk   1  ekor   induk&lt;br /&gt;          dengan berat   3   kg memerlukan   luas   kolam   sekitar   18   m2        dengan   18   buah&lt;br /&gt;          ijuk/kakaban.       Dasar    kolam     dibuat    miring    kearah     pembuangan,        untuk&lt;br /&gt;          menjamin       agar   dasar    kolam     dapat   dikeringkan.     Pintu    pemasukan       bisa&lt;br /&gt;          dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran&lt;br /&gt;          kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama&lt;br /&gt;          dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan&lt;br /&gt;          kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk&lt;br /&gt;          dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Kolam pendederan&lt;br /&gt;          Bentuk   kolam   pendederan   yang   baik   adalah   segi   empat.   Untuk   kegiatan&lt;br /&gt;          pendederan   ini   biasanya   ada   beberapa   kolam   yaitu   pendederan   pertama&lt;br /&gt;          dengan   luas   25-500   m2     dan   pendederan   lanjutan   500-1000   m2        per   petak.&lt;br /&gt;          Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan&lt;br /&gt;          pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di&lt;br /&gt;          dekat   pintu   pengeluaran   dibuat   kubangan.   Fungsi   kemalir   adalah           tempat&lt;br /&gt;          berkumpulnya         benih    saat    panen     dan    kubangan       untuk    memudahkan&lt;br /&gt;          penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak&lt;br /&gt;          tambahan   air   yang   mempunyai   kekeruhan   tinggi   (air   sungai)   maka   perlu&lt;br /&gt;          dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Menyiapkan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Bibit   yang   hendak   dipijahkan   bisa   berasal   dari   hasil   pemeliharaan   dikolam&lt;br /&gt;          sejak kecil atau hasil tangkapan dialam ketika musim pemijahan tiba. Induk&lt;br /&gt;          yang   ideal   adalah   dari   kawanan   patin   dewasa   hasil   pembesaran   dikolam&lt;br /&gt;          sehingga dapat dipilihkan induk yang benar-benar berkualitas baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Perlakuan dan Perawatan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus&lt;br /&gt;   di    dalam     sangkar     terapung.     Selama      pemeliharaan,       induk    ikan    diberi&lt;br /&gt;   makanan         khusus      yang     banyak      mengandung         protein.    Upaya      untuk&lt;br /&gt;   memperoleh         induk   matang     telur   yang    pernah    dilakukan     oleh   Sub    Balai&lt;br /&gt;   Penelitian      Perikanan     Air  Tawar     Palembang       adalah    dengan     memberikan&lt;br /&gt;   makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan-bahan pembuat makanan&lt;br /&gt;   ayam   dengan   komposisi   tepung   ikan   35%,   dedak   halus   30%,   menir   beras&lt;br /&gt;   25%, tepung kedelai 10%, serta vitamin dan mineral 0,5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Makanan        diberikan    lima   hari  dalam     seminggu     sebanyak      5%    setiap   hari&lt;br /&gt;   dengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari 2,5%. Selain itu, diberikan&lt;br /&gt;   juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah ini&lt;br /&gt;   dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ciri-ciri   induk   patin   yang   sudah   matang   gonad   dan   siap   dipijahkan   adalah&lt;br /&gt;   sebagai berikut :&lt;br /&gt;   a. Induk betina&lt;br /&gt;       -  Umur tiga tahun.&lt;br /&gt;       -  Ukuran 1,5–2 kg.&lt;br /&gt;       -  Perut membesar ke arah anus.&lt;br /&gt;       -  Perut terasa empuk dan halus bila di raba.&lt;br /&gt;       -     Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.&lt;br /&gt;       -  Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.&lt;br /&gt;       -  kalau   di   sekitar   kloaka   ditekan   akan   keluar   beberapa   butir   telur   yang&lt;br /&gt;          bentuknya bundar dan besarnya seragam.&lt;br /&gt;   b. Induk jantan&lt;br /&gt;       -  Umur dua tahun.&lt;br /&gt;       -  Ukuran 1,5–2 kg.&lt;br /&gt;       -  Kulit perut lembek dan tipis.&lt;br /&gt;       -  Bila diurut akankeluar cairan sperma berwarna putih.&lt;br /&gt;       -  Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Benih     ikan   patin   yang    berumur     1   hari  dipindahkan      ke   dalam    akuarium&lt;br /&gt;   berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur&lt;br /&gt;   bor   yang   telah   diaerasi.   Kepadatan   penebaran   ikan   adalah   500   ekor   per&lt;br /&gt;   akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen&lt;br /&gt;   untuk   benih   dapat   tercukupi.   Untuk   menjaga   kestabilan   suhu   ruangan   dan&lt;br /&gt;   suhu      air   digunakan      heater    atau    dapat     menggunakan         kompor      untuk&lt;br /&gt;   menghemat dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Benih   umur   sehari   belum   perlu   diberi   makan   tambahan   dari   luar   karena&lt;br /&gt;   masih   mempunyai   cadangan   makanan   berupa   yolk   sac   atau   kuning   telur.&lt;br /&gt;   Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning&lt;br /&gt;   telur    ayam    yang    direbus.    Selanjutnya      berangsur-angsur        diganti   dengan&lt;br /&gt;          makanan   hidup   berupa Moina   cyprinacea   atau   yang   biasa   dikenal   dengan&lt;br /&gt;          kutu air dan jentik nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pembesaran   ikan        patin   dapat   dilakukan     di  kolam,   di  jala  apung,   melalui&lt;br /&gt;          sistem pen dan dalam karamba.&lt;br /&gt;          a) Pembesaran          ikan   patin    di  kolam     dapat     dilakukan     melalui     sistem&lt;br /&gt;             monokultur maupun polikultur.&lt;br /&gt;          b) Pada pembesaran ikan patin di jala apung, hal-hal yang perlu diperhatikan&lt;br /&gt;             adalah:   lokasi   pemeliharaan,   bagaimana   cara   menggunakan   jala   apung,&lt;br /&gt;             bagaimana          kondisi     perairan     dan     kualitas     airnya     serta     proses&lt;br /&gt;             pembesarannya.&lt;br /&gt;          c) Pada   pembesaran   ikan   patin   sistem   pen,   perlu   diperhatikan:   pemilihan&lt;br /&gt;             lokasi,    kualitas   air,  bagaimana      penerapan      sistem    tersebut,    penebaran&lt;br /&gt;             benih, dan pemberian pakan serta pengontrolan dan pemanenannya.&lt;br /&gt;          d) Pada   pembesaran         ikan   patin   di  karamba,     perlu   diperhatikan    masalah:&lt;br /&gt;             pemilihan       lokasi,    penebaran       benih,     pemberian       pakan      tambahan,&lt;br /&gt;             pengontrolan dan pemanenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Hampang        dapat   terbuat    dari  jaring,  karet,   bambu     atau   ram    kawat    yang&lt;br /&gt;          dilengkapi dengan tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan.&lt;br /&gt;          Lokasi yang cocok untuk pemasangan hampang : kedalaman air  ± 0,5-3 m&lt;br /&gt;          dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih dari 50 cm, arus tidak terlalu deras,&lt;br /&gt;          tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang. Perairan tidak tercemar dan&lt;br /&gt;          dasarnya      sedikit   berlumpur.     Terhindar     dari   gelombang      dan    angin    yang&lt;br /&gt;          kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan predator (pemangsa). Pada&lt;br /&gt;          perairan      yang     dasarnya      berbatu,     harus     digunakan       pemberat      untuk&lt;br /&gt;          membantu   mengencangkan   jaring.   Jarak   antara   tiang   bambu/kayu   sekitar&lt;br /&gt;          0,5-1 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.    Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemupukan   kolam   bertujuan   untuk   meningkatkan   dan   produktivitas   kolam,&lt;br /&gt;          yaitu   dengan      cara   merangsang       pertumbuhan       makanan      alami    sebanyak-&lt;br /&gt;          banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk&lt;br /&gt;          hijau dengan dosis 50–700 gram/m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan&lt;br /&gt;          yang     diberikan    per   hari   sebanyak      3-5%    dari   jumlah    berat   badan     ikan&lt;br /&gt;          peliharaan.   Jumlah   makanan   selalu   berubah   setiap   bulan,   sesuai   dengan&lt;br /&gt;          kenaikan berat badan ikan dalam hampang. Hal ini dapat diketahui dengan&lt;br /&gt;          cara    menimbangnya         5-10   ekor   ikan   contoh    yang   diambil    dari  ikan   yang&lt;br /&gt;          dipelihara (smpel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        3) Pemeliharaan Kolam dan Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Selama      pemeliharaan,       ikan   dapat    diberi   makanan       tambahan      berupa     pellet&lt;br /&gt;       setiap   hari   dan   dapat   pula   diberikan   ikan-ikan   kecil/sisa   (ikan   rucah)   ataupun&lt;br /&gt;       sisa dapur yang diberikan 3-4 hari sekali untuk perangsang nafsu makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.     HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.   Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang&lt;br /&gt;       antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga&lt;br /&gt;       terdapat   pada   usaha   pembesaran   patin   sistem   hampang   (pen)   dan   karamba.&lt;br /&gt;       Karamba   yang   ditanam   di   dasar   perairan   relatif   aman   dari   serangan   hama.&lt;br /&gt;       Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa&lt;br /&gt;       ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain&lt;br /&gt;       berupa   ikan   liar   pemangsa   adalah   udang,   dan   seluang   (Rasbora).   Ikan-ikan&lt;br /&gt;       kecil   yang   masuk   kedalam   wadah   budidaya   akan   menjadi   pesaing   ikan   patin&lt;br /&gt;       dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Untuk     menghindari       serangan     hama     pada    pembesaran        di  jala  apung     (rakit)&lt;br /&gt;       sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau&lt;br /&gt;       merupakan   markas   tempat   bersarangnya   hama,   karena   itu   sebaiknya   semak&lt;br /&gt;       belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Cara untuk menghindari dari serangan burung  bangau   (Lepto-tilus   javanicus),&lt;br /&gt;       pecuk      (Phalacrocorax         carbo     sinensis),     blekok     (Ramphalcyon          capensis&lt;br /&gt;       capensis)      adalah    dengan      menutupi     bagian     atas   wadah     budi   daya    dengan&lt;br /&gt;       lembararan   jaring   dan   memasang   kantong   jaring   tambahan   di   luar   kantong&lt;br /&gt;       jaring   budi   daya.   Mata   jaring   dari   kantong   jaring   bagian   luar   ini   dibuat   lebih&lt;br /&gt;       besar.   Cara   ini   berfungsi   ganda,   selain   burung   tidak   dapat   masuk,   ikan   patin&lt;br /&gt;       juga tidak akan berlompatan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.   Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-&lt;br /&gt;       infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan&lt;br /&gt;       patogen.   Penyakit   non-infeksi   ini   tidak   menular.   Sedangkan   penyakit              akibat&lt;br /&gt;       infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Penyakit akibat infeksi&lt;br /&gt;          Organisme        patogen     yang    menyebabkan         infeksi   biasanya     berupa    parasit,&lt;br /&gt;          jamur,   bakteri,   dan   virus.   Produksi   benih   ikan   patin   secara   masal   masih&lt;br /&gt;          menemui   beberapa   kendala   antara   lain   karena   sering   mendapat   serangan&lt;br /&gt;          parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yang&lt;br /&gt;    mati,   terutama   benih   yang   berumur   1-2   bulan.   Dalam   usaha   pembesaran&lt;br /&gt;    patin   belum   ada   laporan   yang   mengungkapkan   secara   lengkap   serangan&lt;br /&gt;    penyakit     pada     ikan   patin,   untuk    pencegahan,       beberapa      penyakit     akibat&lt;br /&gt;    infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Penyakit parasit&lt;br /&gt;       Penyakit   white   spot   (bintik   putih)   disebabkan   oleh   parasit   dari   bangsa&lt;br /&gt;       protozoa       dari    jenis    Ichthyoptirus       multifilis   Foquet.      Pengendalian:&lt;br /&gt;       menggunakan metil biru atau methilene   blue   konsentrasi   1%  (satu   gram&lt;br /&gt;       metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air&lt;br /&gt;       yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan&lt;br /&gt;       dalam      larutan    selama      24   jam.    Lakukan      pengobatan       berulang-ulang&lt;br /&gt;       selama tiga kali dengan selang waktu sehari.&lt;br /&gt;    b. Penyakit jamur&lt;br /&gt;       Penyakit      jamur    biasanya     terjadi  akibat    adanya     luka   pada    badan     ikan.&lt;br /&gt;       Penyakit      ini  biasanya      terjadi   akibat    adanya      luka   pada     badan     ikan.&lt;br /&gt;       Penyebab   penyakit   jamur   adalah   Saprolegnia   sp.   dan   Achlya   sp.   Pada&lt;br /&gt;       kondisi   air   yang   jelek,   kemungkinan   patin   terserang   jamur   lebih   besar.&lt;br /&gt;       Pencegahan          penyakit     jamur    dapat    dilakukan      dengan      cara    menjaga&lt;br /&gt;       kualitas   air   agar   kondisinya   selalu   ideal   bagi   kehidupan   ikan   patin.   Ikan&lt;br /&gt;       yang   terlanjur   sakit   harus   segera   diobati.   Obat   yang   biasanya   di   pakai&lt;br /&gt;       adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30&lt;br /&gt;       menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang&lt;br /&gt;       sampai tiga hari berturut- turut.&lt;br /&gt;   c. Penyakit bakteri&lt;br /&gt;       Penyakit      bakteri   juga   menjadi     ancaman       bagi   ikan   patin.   Bakteri    yang&lt;br /&gt;       sering   menyerang   adalah   Aeromonas   sp.   dan   Pseudo-monas   sp.   Ikan&lt;br /&gt;       yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama&lt;br /&gt;       di bagian dada, perut, dan pangkal sirip.              Penyakit bakteri yang mungkin&lt;br /&gt;       menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang&lt;br /&gt;       ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas&lt;br /&gt;       sp.    Ikan   patin   yang    terkena     penyakit     akibat   bakteri,    ternyata    mudah&lt;br /&gt;       menular,      sehingga     ikan   yang    terserang     dan    keadaannya       cukup    parah&lt;br /&gt;       harus     segera     dimusnahkan.        Sementara       yang    terinfeks,   tetapi    belum&lt;br /&gt;       parah   dapat   dicoba   dengan   beberapa   cara   pengobatan.   Antara   lain:   (1)&lt;br /&gt;       Dengan   merendam   ikan   dalam   larutan   kalium   permanganat   (PK)   10-20&lt;br /&gt;       ppm selama 30–60 menit, (2) Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5-&lt;br /&gt;       10    ppm     selama     12–24     jam,   atau    (3)  merendam        ikan   dalam     larutan&lt;br /&gt;       oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyakit non-infeksi&lt;br /&gt;    Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi.&lt;br /&gt;    Keracunan   disebabkan   oleh   banyak   faktor   seperti   pada   pemberian   pakan&lt;br /&gt;   yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan.&lt;br /&gt;    Gajala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan.&lt;br /&gt;   -   Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus&lt;br /&gt;       yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi,&lt;br /&gt;            ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan&lt;br /&gt;             ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.&lt;br /&gt;          -  Kendala      yang    sering   dihadapi     adalah    serangan     parasit   Ichthyoptirus&lt;br /&gt;             multifilis   (white   spot)   mengakibatkan   banyak   benih   mati,   terutama   benih&lt;br /&gt;             yang berumur 1-2 bulan.&lt;br /&gt;          -  Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;          -  Organisme   ini   menempel   pada   tubuh   ikan   secara   bergerombol   sampai&lt;br /&gt;             ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih.&lt;br /&gt;          -  Tempat   yang   disukai   adalah   di   bawah   selaput   lendir   sekaligus   merusak&lt;br /&gt;             selaput lendir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1.   Penangkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan&lt;br /&gt;       mengalami       luka-luka.    Sebaiknya      penangkapan       ikan   dimulai    dibagian     hilir&lt;br /&gt;       kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka&lt;br /&gt;       ikan    patin    akan     terpojok    pada     bagian     hulu.    Pemanenan        seperti    ini&lt;br /&gt;       menguntungkan         karena    ikan   tetap   mendapatkan       air  yang    segar    sehingga&lt;br /&gt;       kematian ikan dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2.   Pembersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan   patin   yang   dipelihara   dalam   hampang   dapat   dipanen   setelah   6   bulan.&lt;br /&gt;       Untuk melihat hasil yang diperoleh, dari benih yang ditebarkan pada waktu awal&lt;br /&gt;      dengan      berat   8-12    gram/ekor,    setelah    6  bulan    dapat   mencapai          600-700&lt;br /&gt;      gram/ekor.       Pemungutan       hasil   dapat   dilakukan     dengan     menggunakan         jala&lt;br /&gt;      sebanyak 2-3 buah dan tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2-3 orang. Ikan&lt;br /&gt;      yang ditangkap dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.    PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penanganan pascapanen ikan patin dapat dilakukan dengan cara penanganan&lt;br /&gt;       ikan hidup maupun ikan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Penanganan ikan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Adakalanya   ikan   konsumsi   ini akan  lebih  mahal harganya   bila dijual   dalam&lt;br /&gt;          keadaan   hidup.   Hal   yang   perlu   diperhatikan   agar   ikan   tersebut   sampai   ke&lt;br /&gt;          konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;          a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat&lt;br /&gt;             C.&lt;br /&gt;          b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;   c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penanganan ikan segar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang&lt;br /&gt;   perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;   a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;   b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;   c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak&lt;br /&gt;       dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan&lt;br /&gt;       daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan&lt;br /&gt;       seng   atau   fiberglass.   Kapasitas   kotak   maksimum   50   kg   dengan   tinggi&lt;br /&gt;       kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt;   d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.&lt;br /&gt;       Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan&lt;br /&gt;      jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian&lt;br /&gt;       ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es&lt;br /&gt;       lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian&lt;br /&gt;      juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah&lt;br /&gt;   sebagai berikut:&lt;br /&gt;   a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan&lt;br /&gt;       tidak   cacat.   Setelah   itu,   benih   ikan   baru   dimasukkan   ke   dalam   kantong&lt;br /&gt;       plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;   b. Air   yang   dipakai   media   pengangkutan   harus   bersih,   sehat,   bebas   hama&lt;br /&gt;       dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan&lt;br /&gt;       air sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;   c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.&lt;br /&gt;       Gunakan       tempat    pemberokan       berupa     bak   yang    berisi  air  bersih   dan&lt;br /&gt;       dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1&lt;br /&gt;       m   x   1   m   atau   2   m   x   0,5   m.   Dengan   ukuran   tersebut,   bak   pemberokan&lt;br /&gt;       dapat    menampung        benih    ikan  mas    sejumlah     5000–6000      ekor    dengan&lt;br /&gt;       ukuran     3-5   cm.   Jumlah     benih    dalam    pemberokan       harus    disesuaikan&lt;br /&gt;       dengan ukuran benihnya.&lt;br /&gt;   d. Berdasarkan   lama/jarak   pengiriman,   sistem   pengangkutan   benih   terbagi&lt;br /&gt;       menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;       1. Sistem terbuka&lt;br /&gt;          Dilakukan      untuk    mengangkut       benih    dalam     jarak   dekat    atau   tidak&lt;br /&gt;          memerlukan        waktu     yang    lama.   Alat   pengangkut       berupa    keramba.&lt;br /&gt;          Setiap     keramba      dapat    diisi  air  bersih    15   liter  dan    dapat    untuk&lt;br /&gt;          mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;       2. Sistem tertutup&lt;br /&gt;          Dilakukan      untuk    pengangkutan       benih    jarak   jauh   yang    memerlukan&lt;br /&gt;          waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media&lt;br /&gt;          pengangkutan         terdiri   dari   air   bersih    5   liter  yang    diberi    buffer&lt;br /&gt;          Na (hpo) .1H O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang&lt;br /&gt;   diangkut   dengan   kantong   plastik:   (1)   masukkan   air   bersih   ke   dalam&lt;br /&gt;    kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan&lt;br /&gt;    kantong      plastik   ke   permukaan       air;  (3)  alirkan    oksigen    dari   tabung&lt;br /&gt;   dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga&lt;br /&gt;    (air:oksigen=1:1);       (4)  kantong     plastik   lalu  diikat.  (5)   kantong     plastik&lt;br /&gt;   dimasukkan   ke   dalam   dos   dengan   posisi   membujur   atau   ditidurkan.&lt;br /&gt;    Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m&lt;br /&gt;   dapat diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa   hal   yang   perlu   diperhatikan   setelah   benih   sampai   di   tempat&lt;br /&gt;tujuan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;-  Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin&lt;br /&gt;   dalam 10 liter air bersih).&lt;br /&gt;-  Buka   kantong   plastik,   tambahkan   air   bersih   yang   berasal   dari   kolam&lt;br /&gt;   setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong&lt;br /&gt;    plastik terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;-  Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan                    tetrasiklin selama&lt;br /&gt;    1-2 menit.&lt;br /&gt;-  Masukan         benih     ikan    ke    dalam      bak    pemberokan.         Dalam      bak&lt;br /&gt;    pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan&lt;br /&gt;    pengobatan        dengan   tetrasiklin   25   ppm      selama   3   hari   berturut-turut.&lt;br /&gt;   Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak&lt;br /&gt;   20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;-  Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemasan          benih    harus    dapat    menjamin      keselamatan       benih    selama&lt;br /&gt;pengangkutan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih&lt;br /&gt;ikan patin yaitu:&lt;br /&gt;-  Sediakan       kantong     plastik   sesuai     kebutuhan.      Setiap    kantong     dibuat&lt;br /&gt;    rangkap   untuk   menghindari   kebocoran.   Sediakan   karet   gelang   untuk&lt;br /&gt;   simpul   sederhana.   Masing-masing   kantong   diisi   air   sumur   yang   telah&lt;br /&gt;   diaerasi selama 24 jam.&lt;br /&gt;-  Benih   ikan   yang   telah   dipuasakan   selama   18   jam   ditangkap   dengan&lt;br /&gt;   serokan halus kemudian dimasukan kedalam kantong plastik tadi.&lt;br /&gt;-  Satu      persatu     kantong     diisi  dengan      oksigen      murni    (perbandingan&lt;br /&gt;   air:oksigen      =   1:2).   Setelah     itu  segera    diikat   dengan      karet   gelang&lt;br /&gt;    rangkap.&lt;br /&gt;-  Kantong-kantong plastik berisi benih dimasukkan kedalam kardus.&lt;br /&gt;-  Lama   pengangkutan.   Benih   ikan   patin   dapat   diangkut   selama   10   jam&lt;br /&gt;   dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 98,67%. Jika jarak yang&lt;br /&gt;    hendak   ditempuh   memerlukan   waktu   yang   lama   maka   satu-   satunya&lt;br /&gt;   cara     untuk    menjamin       agar    ikan   tersebut     selamat     adalah     dengan&lt;br /&gt;    mengurangi        jumlah     benih     ikan   di   dalam     setiap    kantong      plastik.&lt;br /&gt;    Berdasarkan        penelitian     terbukti    bahwa      benih     patin   masih      aman&lt;br /&gt;   diangkut selama 14 jam dengan kapadatan 300 ekor per liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.   ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perkiraan   analisis   usaha   ikan   patin   pada   tahun   1999   di   daerah   Jawa   Barat&lt;br /&gt;      adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      1) Biaya produksi&lt;br /&gt;         a. Kolam pemijahan 2 x 2 m                                          Rp.     200.000,-&lt;br /&gt;         b    Bibit /benih&lt;br /&gt;             - 2 ekor induk @ Rp. 150.000,-                                  Rp.     300.000,-&lt;br /&gt;             - Ikan donor 5 Kg @ Rp. 10.000,-                                Rp.       50.000,-&lt;br /&gt;         c. Pakan/makanan (Artemia Salina)                                   Rp.       80.000,-&lt;br /&gt;         d. Obat&lt;br /&gt;             - Alat suntik 0,5 cc (2 buah) @ Rp. 4000,-                      Rp.        8.000,-&lt;br /&gt;             - Pregnil                                                       Rp.       50.000,-&lt;br /&gt;         e. Alat&lt;br /&gt;           - Bangunan dan sumur                                               Rp.   2.000.000,-&lt;br /&gt;           - Genzet                                                          Rp.    2.500.000,-&lt;br /&gt;           - Aerator                                                         Rp.      500.000,-&lt;br /&gt;           - Selang aquarium 50 m @ Rp 1000,-                                Rp.       50.000,-&lt;br /&gt;           - Kompor (4 unit) @ Rp. 25.000,-                                  Rp.      100.000,-&lt;br /&gt;           - 100 unit aquarium: 40x80 cm @ Rp 35.000,-                       Rp.    3.500.000,-&lt;br /&gt;         f.  Tenaga kerja&lt;br /&gt;             - Tenaga kerja tetap 14 hari, 2 orang @ Rp.20.000,-             Rp.      560.000,-&lt;br /&gt;         g. Biaya tak terduga 10%                                            Rp.      989.800,-&lt;br /&gt;         Jumlah biaya produksi                                                Rp. 10.887.800,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Biaya investasi rata-rata/aquarium                                  Rp.       98.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Presentase output terhadap investasi/aquarium                       3,15 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Analisis usaha untuk menutup investasi&lt;br /&gt;         a. Periode 1: 2 Minggu pertama&lt;br /&gt;             Benih @ Aquarium:100 ekor=100x100xRp.125,-                       Rp.   1.250.000,-&lt;br /&gt;         b. Periode II :&lt;br /&gt;             Pengeluaran Tetap/2 mingguan                                     Rp.     480.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dari perhitungan di atas pada periode ke 14 atau sekitar 7 bulan, telah dapat&lt;br /&gt;      menutup       investasi,   Pada    Produksi     ke   15   ke  atas    sudah    dapat    memetik&lt;br /&gt;      keuntungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,&lt;br /&gt;      danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi&lt;br /&gt;      alam   yang   sangat   baik   bagi   pengembangan   usaha   perikanan   di   Indonesia.&lt;br /&gt;      Disamping        itu  banyak    potensi    pendukung       lainnya   yang    dilaksanakan       oleh&lt;br /&gt;      pemerintah   dan   swasta   dalam   hal   permodalan,   program   penelitian   dalam   hal&lt;br /&gt;      pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,&lt;br /&gt;      penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan patin dan ikan air tawar&lt;br /&gt;      lainnya     selalu    mengalami       pasang     surut,   namun      dilihat  dari   jumlah    hasil&lt;br /&gt;      penjualan   secara   rata-rata   selalu   mengalami   kenaikan   dari   tahun   ke   tahun.&lt;br /&gt;      Apabila     pasaran     lokal   ikan   patin  mengalami       kelesuan,     maka    akan    sangat&lt;br /&gt;      berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir&lt;br /&gt;      di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan patin boleh dikatakan hampir tak&lt;br /&gt;      ada   masalah,   prospeknya   cukup   baik.   Selain   adanya   potensi   pendukung   dan&lt;br /&gt;      faktor    permintaan       komoditi    perikanan      untuk    pasaran     lokal,   maka     sektor&lt;br /&gt;      perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-6456281113675453093?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/6456281113675453093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-ikan-patin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/6456281113675453093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/6456281113675453093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-ikan-patin.html' title='Budidaya Ikan Patin'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-8502966169115979153</id><published>2009-05-10T07:10:00.003-07:00</published><updated>2009-05-10T07:19:39.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Ikan Nila</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IKAN NILA &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Oreochromis niloticus )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan   nila  merupakan   jenis  ikan   konsumsi   air   tawar   dengan           bentuk    tubuh&lt;br /&gt;       memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal&lt;br /&gt;       dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke&lt;br /&gt;       negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di&lt;br /&gt;      wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai&lt;br /&gt;       oleh   berbagai   bangsa   karena   dagingnya   enak   dan   tebal   seperti   daging   ikan&lt;br /&gt;       kakap merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Bibit   ikan   didatangkan      ke   Indonesia     secara     resmi   oleh    Balai   Penelitian&lt;br /&gt;       Perikanan   Air   Tawar   pada   tahun   1969.   Setelah   melalui   masa   penelitian   dan&lt;br /&gt;       adaptasi, barulah   ikan  ini   disebarluaskan   kepada petani   di   seluruh   Indonesia.&lt;br /&gt;       Nila   adalah    nama    khas    Indonesia    yang    diberikan    oleh   Pemerintah     melalui&lt;br /&gt;       Direktur Jenderal Perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.     JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       Kelas           :  Osteichthyes&lt;br /&gt;       Sub-kelas       :  Acanthoptherigii&lt;br /&gt;       Crdo            :  Percomorphi&lt;br /&gt;       Sub-ordo        :  Percoidea&lt;br /&gt;       Famili          :  Cichlidae&lt;br /&gt;       Genus           :  Oreochromis&lt;br /&gt;       Spesies         :  Oreochromis niloticus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila&lt;br /&gt;       albino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sebagai sumber penyediaan protein hewani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,&lt;br /&gt;          tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar&lt;br /&gt;          dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.&lt;br /&gt;       b) Kemiringan tanah   yang   baik   untuk   pembuatan   kolam   berkisar   antara   3-5%&lt;br /&gt;          untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;       c) Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).&lt;br /&gt;       d) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan&lt;br /&gt;          tidak    tercemar    bahan-bahan        kimia   beracun,     dan   minyak/limbah       pabrik.&lt;br /&gt;          Kekeruhan       air  yang    disebabkan      oleh   pelumpuran       akan    memperlambat&lt;br /&gt;          pertumbuhan   ikan.   Lain   halnya   bila   kekeruhan air   disebabkan   oleh   adanya&lt;br /&gt;          plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau&lt;br /&gt;          kecokelatan         karena      banyak       mengandung          Diatomae.       Sedangkan&lt;br /&gt;          plankton/alga biru   kurang baik   untuk pertumbuhan   ikan. Tingkat  kecerahan&lt;br /&gt;          air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang&lt;br /&gt;          disebut    piring   secchi   (secchi    disc).  Untuk    di  kolam    dan   tambak,    angka&lt;br /&gt;          kecerahan yang baik antara 20-35 cm.&lt;br /&gt;       e) Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang&lt;br /&gt;          dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air&lt;br /&gt;          arus deras.&lt;br /&gt;      f)  Nilai   keasaman      air  (pH)    tempat    hidup   ikan   nila  berkisar    antara    6-8,5.&lt;br /&gt;          Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.&lt;br /&gt;       g) Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.&lt;br /&gt;       h) Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Kolam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila&lt;br /&gt;          tergantung      dari  sistim   pemeliharaannya       (sistim   1  kolam,    2  kolam    dlsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Adapun   jenis   kolam   yang   umum          dipergunakan   dalam        budidaya   ikan   nila&lt;br /&gt;   antara lain:&lt;br /&gt;   a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan&lt;br /&gt;       Kolam   ini   berfungsi   sebagai   kolam   pemijahan,   kolam   sebaiknya   berupa&lt;br /&gt;       kolam   tanah   yang   luasnya   50-100   meter   persegi   dan   kepadatan   kolam&lt;br /&gt;                                   2&lt;br /&gt;       induk hanya 2 ekor/m . Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air&lt;br /&gt;       berkisar   antara   20-22   derajat   C;   kedalaman   air   40-60   cm;   dasar   kolam&lt;br /&gt;       sebaiknya berpasir.&lt;br /&gt;   b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan&lt;br /&gt;       Luas   kolam   tidak   lebih   dari   50-100   meter   persegi.   Kedalaman  air   kolam&lt;br /&gt;       antara   30-50   cm.   Kepadatan   sebaiknya   5-50   ekor/meter   persegi.   Lama&lt;br /&gt;       pemeliharaan        di  dalam    kolam    pendederan/ipukan         antara    3-4   minggu,&lt;br /&gt;       pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;   c) Kolam pembesaran&lt;br /&gt;       Kolam      pembesaran       berfungsi     sebagai    tempat     untuk    memelihara      dan&lt;br /&gt;       membesarkan  benih   selepas  dari   kolam pendederan.   Adakalanya   dalam&lt;br /&gt;       pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:&lt;br /&gt;       1. Kolam      pembesaran       tahap    I  berfungsi   untuk    memelihara      benih    ikan&lt;br /&gt;          selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara&lt;br /&gt;          2-4    buah     dengan     luas    maksimum       250-500      meter    persegi/kolam.&lt;br /&gt;          Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab&lt;br /&gt;          benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah   benih menjadi&lt;br /&gt;          gelondongan   kecil   maka   benih   memasuki            pembesaran   tahap        kedua&lt;br /&gt;          atau langsung dijual kepada pera petani.&lt;br /&gt;       2. Kolam      pembesaran         tahap    II  berfungsi     untuk     memelihara       benih&lt;br /&gt;          gelondongan        besar.   Kolam     dapat    berupa    kolam    tanah    atau   sawah.&lt;br /&gt;          Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.&lt;br /&gt;          Jumlah penebaran   pembesaran   tahap   II  sebaiknya   tidak   lebih dari   10&lt;br /&gt;          ekor/meter persegi.&lt;br /&gt;       3. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan&lt;br /&gt;          kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.&lt;br /&gt;   d) Kolam/tempat pemberokan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pembesaran   ikan   nila   dapat   pula   dilakukan   di   jaring   apung,   berupa   Hapa&lt;br /&gt;   berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran&lt;br /&gt;   hapa   dapat   disesuaikan   dengan   kedalaman   kolam.   Selain   itu   sawah   yang&lt;br /&gt;   sedang        diberokan      dapat     dipergunakan        pula    untuk     pemijahan       dan&lt;br /&gt;   pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam&lt;br /&gt;   dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-&lt;br /&gt;    1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Alat-alat     yang     biasa    digunakan      dalam     usaha      pembenihan        ikan   nila&lt;br /&gt;   diantaranya       adalah:    jala,  waring   (anco),    hapa    (kotak   dari  jaring/kelambu&lt;br /&gt;   untuk   menampung   sementara   induk   maupun   benih),   seser,   ember-ember,&lt;br /&gt;   baskom       berbagai     ukuran,    timbangan      skala   kecil  (gram)    dan    besar   (kg),&lt;br /&gt;          cangkul,   arit,   pisau   serta   piring   secchi   (secchi   disc)   untuk   mengukur   kadar&lt;br /&gt;          kekeruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan&lt;br /&gt;          nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan&lt;br /&gt;          diameter   100   cm,   ayakan   penandean   diameter   5   cm,   tempat   menyimpan&lt;br /&gt;          ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan&lt;br /&gt;          jarak    dekat),    kekaban       (untuk    tempat     penempelan        telur   yang    bersifat&lt;br /&gt;          melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau&lt;br /&gt;          kadang-kadang           untuk     penangkapan         benih,    ayakan      penyabetan        dari&lt;br /&gt;          alumunium/bambu,            oblok/delok      (untuk    pengangkut       benih),    sirib   (untuk&lt;br /&gt;          menangkap   benih   ukuran   10   cm           keatas),   anco/hanco   (untuk   menangkap&lt;br /&gt;          ikan),   lambit   dari   jaring   nilon   (untuk   menangkap   ikan   konsumsi),   scoopnet&lt;br /&gt;          (untuk   menangkap   benih   ikan   yang   berumur   satu   minggu   keatas),   seser&lt;br /&gt;          (gunanya=        scoopnet,      tetapi   ukurannya       lebih    besar),    jaring   berbentuk&lt;br /&gt;          segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Persiapan Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk&lt;br /&gt;          pemeliharaan         ikan,   terutama     mengenai       pengeringan,       pemupukan        dlsb.&lt;br /&gt;          Dalam   menyiapkan   media   pemeliharaan   ini,   yang   perlu   dilakukan   adalah&lt;br /&gt;          pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk&lt;br /&gt;          memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,&lt;br /&gt;          diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing&lt;br /&gt;          dengan      dosis    50-700    gram/meter      persegi,    bisa   juga   ditambahkan       pupuk&lt;br /&gt;          buatan   yang   berupa   urea   dan   TSP   masing-masing   dengan   dosis   15   gram&lt;br /&gt;          dan 10 gram/meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemilihan Bibit dan Induk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;          a) Mampu   memproduksi   benih   dalam   jumlah   yang   besar   dengan                 kwalitas&lt;br /&gt;             yang tinggi.&lt;br /&gt;          b) Pertumbuhannya sangat cepat.&lt;br /&gt;          c) Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.&lt;br /&gt;          d) Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.&lt;br /&gt;          e) Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.&lt;br /&gt;          f) Ukuran   induk   yang   baik   untuk   dipijahkan   yaitu   120-180   gram   lebih   per&lt;br /&gt;             ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.&lt;br /&gt;   Adapun   ciri-ciri   untuk   membedakan   induk   jantan   dan   induk   betina   adalah&lt;br /&gt;   sebagai berikut:&lt;br /&gt;   a) Betina&lt;br /&gt;       1. Terdapat       3   buah    lubang     pada     urogenetial     yaitu:   dubur,     lubang&lt;br /&gt;          pengeluaran telur dan lubang urine.&lt;br /&gt;       2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.&lt;br /&gt;       3. Warna perut lebih putih.&lt;br /&gt;       4. Warna dagu putih.&lt;br /&gt;       5. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;   b) Jantan&lt;br /&gt;       1. Pada   alat   urogenetial   terdapat   2   buah   lubang   yaitu:   anus   dan   lubang&lt;br /&gt;          sperma merangkap lubang urine.&lt;br /&gt;       2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.&lt;br /&gt;       3. Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;       4. Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.&lt;br /&gt;       5. Jika perut distriping mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ikan   nila   sangat   mudah   kawin   silang   dan   bertelur   secara   liar.   Akibatnya,&lt;br /&gt;   kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak&lt;br /&gt;   lambat      pertumbuhan       sehingga      diperlukan     waktu    yang    lebih   lama    agar&lt;br /&gt;   dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Untuk   mengatasi   kekurangan   ikan   nila   di   atas,   maka   dikembang   metode&lt;br /&gt;   kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang&lt;br /&gt;   dipelihara   karena   ikan   nila   jantan   yang   tumbuh   lebih   cepat   dan   ikan   nila&lt;br /&gt;   betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:&lt;br /&gt;   a) Secara manual (dipilih)&lt;br /&gt;   b) Sistem hibridisasi antarjenis tertentu&lt;br /&gt;   c) Merangsang perubahan seks dengan hormon&lt;br /&gt;   d) Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.&lt;br /&gt;       1. Perendaman&lt;br /&gt;       2. Perlakuan hormon melalui pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembenihan dan Pemeliharaan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah :&lt;br /&gt;   a) Memelihara        dan    memijahkan       induk   ikan   untuk    menghasilkan       burayak&lt;br /&gt;       (anak ikan).&lt;br /&gt;   b) Memelihara        burayak     (mendeder)      untuk   menghasilkan       benih    ikan   yang&lt;br /&gt;       lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usaha       pembenihan        biasanya     menghasilkan        benih    yang    berbeda-beda&lt;br /&gt;   ukurannya.   Hal   ini   berkaitan   dengan   lamanya   pemeliharaan   benih.   Benih&lt;br /&gt;   ikan nila yang  baru  lepas   dan mulut   induknya   disebut "benih   kebul".   Benih&lt;br /&gt;   yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut benih kecil, yang disebut&lt;br /&gt;   juga    putihan    (Jawa     Barat).   Ukurannya      3-5   cm.    Selanjutnya     benih    kecil&lt;br /&gt;   dipelihara di kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1 minggu&lt;br /&gt;          akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor. Benih&lt;br /&gt;          ini   disebut    gelondongan        kecil.   Benih    nila  merah.     Berumur      2-3    minggu,&lt;br /&gt;          ukurannya ± 5 cm. Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1-&lt;br /&gt;          1,5   bulan.   Pada   umur   ini   panjang   benih   telah   mencapai   10-12   cm   dengan&lt;br /&gt;          berat 15-20 gram. Benih ini disebut gelondongan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.   Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dua     minggu     sebelum      dan    dipergunakan       kolam     harus    dipersiapkan.      Dasar&lt;br /&gt;       kolam   dikeringkan,   dijemur   beberapa   hari,   dibersihkan   dari   rerumputan   dan&lt;br /&gt;       dicangkul   sambil   diratakan.   Tanggul   dan   pintu   air   diperbaiki   jangan   sampai&lt;br /&gt;       teriadi    kebocoran.      Saluran     air   diperbaiki    agar    jalan   air   lancar.   Dipasang&lt;br /&gt;       saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur&lt;br /&gt;       untuk      memperbaiki        pH     tanah     dan    memberantas          hamanya.       Untuk      mi&lt;br /&gt;       dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300 kg/ha (bila dipakai kapur panas,&lt;br /&gt;       Ca     0).  Kalau     dipakai    kapur    pertanian      dosisnya     500-1.000       kg/ha.    Pupuk&lt;br /&gt;       kandang   ditabur   dan   diaduk   dengan   tanah   dasar   kolam.   Dapat   juga   pupuk&lt;br /&gt;       kandang       dionggokkan       di  depan     pintu  air  pemasukan        agar    bila  diairi  dapat&lt;br /&gt;       tersebar   merata.   Dosis   pupuk   kandang   1-2   ton/ha.   Setelah   semuanya   siap,&lt;br /&gt;       kolam   diairi.   Mula-mula   sedalam   5-10   cm   dan   dibiarkan   2-3   hari   agar   teriadi&lt;br /&gt;       mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu             tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-&lt;br /&gt;       100 cm. Kini kolam siap untuk ditebari induk ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemupukan   dengan   jenis   pupuk   organik,   anorganik   (Urea   dan   TSP),   serta&lt;br /&gt;          kapur. Cara pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar&lt;br /&gt;          yang     ditentukan      oleh   dinas    perikanan     daerah     setempat,      sesuai    dengan&lt;br /&gt;          tingkat kesuburan di tiap daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Beberapa   hari   sebelum   penebaran   benih   ikan,   kolam   harus   dipersiapkan&lt;br /&gt;          dahulu.   Pematang   dan   pintu   air   kolam   diperbaiki,   kemudian   dasar   kolam&lt;br /&gt;          dicangkul dan diratakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Setelah       itu,   dasar     kolam      ditaburi    kapur     sebanyak       100-150       kg/ha.&lt;br /&gt;          Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan&lt;br /&gt;          juga   dapat   mencegah   serangan   penyakit.   Selanjutnya   kolam   diberi   pupuk&lt;br /&gt;          organik   sebanyak   300-1.000   kg/ha.   Pupuk   Urea   dan   TSP   juga   diberikan&lt;br /&gt;          sebanyak        50   kg/ha.   Urea    dan    TSP    diberikan     dengan     dicampur      terlebih&lt;br /&gt;          dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Selesai pemupukan kalam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar&lt;br /&gt;          terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han&lt;br /&gt;          kelima air kolam ditambah sampai menjadi   sedalam   50  cm.  Setelah  sehari&lt;br /&gt;          semalam,   air   kolam   tersebut   ditebari   benih   ikan.   Pada   saat   itu   fitoplankton&lt;br /&gt;          mulai   tumbuh   yang   ditandai   dengan   perubahan   warna   air   kolam   menjadi&lt;br /&gt;          kuning   kehijauan.   Di   dasar   kolam   juga   mulai   banyak   terdapat   organisme&lt;br /&gt;    renik   yang   berupa   kutu   air,   jentik-jentik   serangga,   cacing,   anak-anak   siput&lt;br /&gt;   dan   sebagainya.   Selama   pemeliharaan   ikan,   air   kolam   diatur   sedalam   75-&lt;br /&gt;    100   cm.   Pemupukan   susulan   harus   dilakukan   2   minggu   sekali,   yaitu   pada&lt;br /&gt;   saat makanan alami sudah mulai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pupuk susulan ini menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk&lt;br /&gt;    itu   dibagi    menjadi     empat      dan    masing-masing         dimasukkan        ke   dalam&lt;br /&gt;    keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam, dua bush&lt;br /&gt;   di   kin   dan   dua   buah   di   sisi   kanan   aliran   air   masuk.   Sedangkan   yang   dua&lt;br /&gt;    keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Urea     dan   TSP     masing-masing        sebanyak      30   kg/ha    diletakkan     di  dalam&lt;br /&gt;    kantong     plastik   yang    diberi   lubang-lubang       kecil  agar   pupuk     sedikit   demi&lt;br /&gt;   sedikit.     Kantong      pupuk     tersebut     digantungkan       sebatang      bambu       yang&lt;br /&gt;   dipancangkan   di   dasar   kolam.   Posisi   ng   terendam   tetapi   tidak   sampai   ke&lt;br /&gt;   dasar kolam. Selain pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan&lt;br /&gt;    katul. pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau atau&lt;br /&gt;   sawah yang diberakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemupukan   kolam   telah merangsang  tumbuhnya fitoplankton,   zooplankton,&lt;br /&gt;    maupun       binatang   yang   hidup   di    dasar,    seperti   cacing,    siput,   jentik-jentik&lt;br /&gt;    nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila.&lt;br /&gt;    Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang&lt;br /&gt;    mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.&lt;br /&gt;    Pembentukan         telur  pada    ikan   memerlukan       bahan     protein   yang    cukup     di&lt;br /&gt;   dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan&lt;br /&gt;   taoge   dan   daun-daunan/sayuran   yang   duris-iris.   Boleh   juga   diberi   makan&lt;br /&gt;   tumbuhan   air   seperti   ganggeng   (Hydrilla).   Banyaknya   pelet   sebagai   pakan&lt;br /&gt;    induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar diketahui berat bio massa&lt;br /&gt;    maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya.&lt;br /&gt;    Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam&lt;br /&gt;    kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat&lt;br /&gt;    biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram =&lt;br /&gt;   594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak&lt;br /&gt;    mengandung   lemak   seperti   bungkil   kacang   dan   bungkil   kelapa   tidak   baik&lt;br /&gt;    untuk   induk   ikan.   Apalagi   kalau   han   tersebut   sudah   berbau   tengik.   Dedak&lt;br /&gt;    halus   dan   bekatul   boleh   diberikan   sebagai   pakan.   Bahan   pakan   seperti   itu&lt;br /&gt;   juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sistem      dan    intensitas    pemeliharaan        ikan   nila   tergantung      pada    tempat&lt;br /&gt;    pemeliharaan   dan   input   yang   tersedia.Target           produksi     harus   disesuaikan&lt;br /&gt;   dengan   permintaan   pasar.   Biasanya   konsumen   menghendaki   jumlah   dan&lt;br /&gt;ukuran ikan yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat,&lt;br /&gt;yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)&lt;br /&gt;   -   Sistem     ekstensif     merupakan       sistem    pemeliharaan       ikan   yang    belum&lt;br /&gt;       berkembang. Input produksinya sangat sederhana. Biasanya dilakukan&lt;br /&gt;       di   kolam     air   tawar.    Dapat     pula    dilakukan      di  sawah.      Pengairan&lt;br /&gt;       tergantung       kepada     musim     hujan.    Kolam     yang    digunakan      biasanya&lt;br /&gt;       kolam   pekarangan   yang   sempit.   Hasil   ikannya   hanya   untuk   konsumsi&lt;br /&gt;       keluarga sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. Sistem ini&lt;br /&gt;       telah dipopulerkan di wilayah desa miskin.&lt;br /&gt;   -   Pemupukan tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa&lt;br /&gt;       bahan       makanan       yang     terbuang,     seperti     sisa-sisa    dapur     limbah&lt;br /&gt;       pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.).&lt;br /&gt;   -   Perkiraan pemanenan   tidak   tentu.   Ikan   yang  sudah agak   besar   dapat&lt;br /&gt;       dipanen   sewaktu-waktu.   Hasil   pemeliharaan   sistem   ekstensif   sebenar&lt;br /&gt;       cukup      lumayan,       karena     pemanenannya           bertahap.      Untuk     kolam&lt;br /&gt;       herukuran 2   x  1   x  1 m   ditebarkan benih  ikan nila   sebanyak   20   ruang&lt;br /&gt;       berukuran 30 ekor. Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan&lt;br /&gt;       kemudian   beranak,   demikian   seterus.   Total   produksi   sistem   ini   dapat&lt;br /&gt;       mencapai         1.000     kg/ha/tahun        2    bln.    Penggantian         air   kolam&lt;br /&gt;       menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan seminggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Sistem semi-Intensif (teknologi madya)&lt;br /&gt;   -   Pemeliharaan        semi-intensif     dapat    dilakukan     di  kolam,    di  tambak,     di&lt;br /&gt;       sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk&lt;br /&gt;       pendederan.        Dalam      sistem     ini  sudah     dilakukan      pemupukan        dan&lt;br /&gt;       pemberian pakan tambahan yang teratur.&lt;br /&gt;   -   Prasarana       berupa    saluran     irigasi  cukup    baik   sehingga     kolam     dapat&lt;br /&gt;       berproduksi   2-3   kali   per   tahun.   Selain   itu,   penggantian   air   juga   dapat&lt;br /&gt;       dilakukan       secara      rutin.    Pemeliharaan         ikan     di   sawah       hanya&lt;br /&gt;       membutuhkan waktu 2-2,5  bulan   karena  bersamaan  dengan   tanaman&lt;br /&gt;       padi   atau   sebagai   penyelang.   OIeh   karena   itu,   hasil   ikan   dan   sawah&lt;br /&gt;       ukurannya   tak   lebih   dari   50   gr.   Itu   pun   kalau   benih   yang   dipelihara&lt;br /&gt;       sudah berupa benih gelondongan besar.&lt;br /&gt;   -   Budi    daya    ikan   nila   secara    semi-intensif     di  kolam     dapat    dilakukan&lt;br /&gt;       secara      monokultur       maupun        secara     polikultur.    Pada      monokultur&lt;br /&gt;       sebaiknya   dipakai   sistem   tunggal   kelamin.   Hal   mi   karena   nila   jantan&lt;br /&gt;       lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina.&lt;br /&gt;   -   Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated),&lt;br /&gt;       artinya   kolam   ikan   dikelola   bersama   dengan   usaha   tani   lain   maupun&lt;br /&gt;       dengan   industri   rumah   tangga.   Misal   usaha   ternak   kambing,   itik   dan&lt;br /&gt;       sebagainya. Kandang dibuat di atas kolam agar kotoran ternak menjadi&lt;br /&gt;       pupuk untuk kolam.&lt;br /&gt;   -   Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga dapat dipelihara&lt;br /&gt;       bersama        ikan   nila.   Limbah      sayuran      menjadi     pupuk      dan    pakan&lt;br /&gt;                tambahan   bagi   ikan.   Sedangkan   lumpur   yang   kotor   dan   kolam   ikan&lt;br /&gt;                 dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran.&lt;br /&gt;             -   Usaha     huler/penggilingan       padi   mempunyai       hasil   sampingan      berupa&lt;br /&gt;                 dedak   dan   katul.   Oleh   karena   itu,   sebaiknya   dibangun   kolam   ikan   di&lt;br /&gt;                 dekat penggilingan tersebut.&lt;br /&gt;             -   Hasil    penelitian   Balai   Penelitian    Perikanan      sistem    integrated    dapat&lt;br /&gt;                 menghasilkan ikan sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          c) Sistem intensif (teknologi maju)&lt;br /&gt;             -   Sistem   pemeliharaan   intensif   adalah   sistem   pemeliharaan   ikan   paling&lt;br /&gt;                 modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengan&lt;br /&gt;                 kebutuhan pasar.&lt;br /&gt;             -   Pemeliharaan   dapat   dilakukan   di   kolam   atau   tambak   air   payau   dan&lt;br /&gt;                 pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin&lt;br /&gt;                 sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap&lt;br /&gt;                 hari sebanyak 20% atau bahkan lebih.&lt;br /&gt;             -   Pada usaha intensif, benih ikan nita yang dipelihara harus tunggal dain&lt;br /&gt;                jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu.&lt;br /&gt;             -   Ransum   hariannya   3%   dan   berat   biomassa   ikan   per   hari.   makanan&lt;br /&gt;                 sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri dapat diamati&lt;br /&gt;          nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan yang diberikan knya habis dalam waktu 5&lt;br /&gt;          menit.   Jika   pakan   tidak   habis   dalam   waktu   5   menit   berarti   ikan   mendapat&lt;br /&gt;          gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit, perubahan kualitas air,&lt;br /&gt;          udara panas, terlalu sering diberi pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.     HAMA DAN PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.   Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Bebeasan (Notonecta)&lt;br /&gt;          Berbahaya       bagi   benih    karena    sengatannya.  Pengendalian:            menuangkan&lt;br /&gt;          minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       b) Ucrit (Larva cybister)&lt;br /&gt;          Menjepit   badan   ikan   dengan   taringnya   hingga   robek.  Pengendalian:   sulit&lt;br /&gt;          diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       c) Kodok&lt;br /&gt;          Makan       telur   telur  ikan.  Pengendalian:          sering    membuang        telur   yang&lt;br /&gt;          mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       d) Ular&lt;br /&gt;          Menyerang        benih   dan    ikan  kecil. Pengendalian:         lakukan    penangkapan;&lt;br /&gt;          pemagaran kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       e) Lingsang&lt;br /&gt;          Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      f)  Burung&lt;br /&gt;          Memakan         benih     yang     berwarna       menyala       seperti    merah,      kuning.&lt;br /&gt;          Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi&lt;br /&gt;          rumbai-rumbai atau tali penghalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.   Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a) Penyakit pada kulit&lt;br /&gt;          Gejala:   pada   bagian   tertentu   berwarna   merah,   berubah   warna   dan   tubuh&lt;br /&gt;          berlendir.    Pengendalian:          (1)    direndam      dalam      larutan    PK     (kalium&lt;br /&gt;          permanganat)        selama     30-60     menit    dengan     dosis   2   gram/10     liter  air,&lt;br /&gt;          pengobatan        dilakukan    berulang     3   hari  kemudian.      (2)   direndam     dalam&lt;br /&gt;          Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       b) Penyakit pada insang&lt;br /&gt;          Gejala:       tutup     insang      bengkak,       Lembar       insang      pucat/keputihan.&lt;br /&gt;          Pengendalian: sama dengan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       c) Penyakit pada organ dalam&lt;br /&gt;          Gejala:   perut   ikan   bengkak,   sisik   berdiri,   ikan   tidak   gesit.  Pengendalian:&lt;br /&gt;          sama dengan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Secara     umum      hal-hal    yang    dilakukan     untuk    dapat    mencegah       timbulnya&lt;br /&gt;       penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:&lt;br /&gt;       a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.&lt;br /&gt;       b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.&lt;br /&gt;       c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.&lt;br /&gt;       d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu&lt;br /&gt;          pemasukan air.&lt;br /&gt;       e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.&lt;br /&gt;      f)  Penanganan        saat    panen    atau    pemindahan       benih    hendaknya      dilakukan&lt;br /&gt;          secara hati-hati dan benar.&lt;br /&gt;       g) Binatang      seperti   burung,    siput,   ikan   seribu   (lebistus    reticulatus   peters)&lt;br /&gt;          sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.    PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pemanenan   ikan   nila   dapat   dilakukan   dengan   cara:   panen   total   dan   panen&lt;br /&gt;      sebagian.&lt;br /&gt;      a) Panen total&lt;br /&gt;          Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian&lt;br /&gt;          air tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m&lt;br /&gt;          persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam&lt;br /&gt;          penangkapan        ikan.  Pemanenan        dilakukan    pagi   hari  saat   keadaan     tidak&lt;br /&gt;          panas   dengan   menggunakan   waring   atau   scoopnet   yang   halus.   Lakukan&lt;br /&gt;          pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      b) Panen sebagian atau panen selektif&lt;br /&gt;          Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen&lt;br /&gt;          dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan&lt;br /&gt;          waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih&lt;br /&gt;          (biasanya   terluka  akibat   jaring),   sebelum   dikembalikan   ke   kolam   sebaiknya&lt;br /&gt;          dipisahkan     dan   diberi  obat   dengan     larutan   malachite    green   0,5-1,0    ppm&lt;br /&gt;          selama 1 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.    PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Penanganan   pascapanen   ikan   nila dapat dilakukan   dengan  cara penanganan&lt;br /&gt;      ikan hidup maupun ikan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      a) Penanganan ikan hidup&lt;br /&gt;          Adakalanya   ikan   konsumsi   ini akan  lebih  mahal harganya   bila dijual   dalam&lt;br /&gt;          keadaan   hidup.   Hal   yang   perlu   diperhatikan   agar   ikan   tersebut   sampai   ke&lt;br /&gt;          konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;          1. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat&lt;br /&gt;             C.&lt;br /&gt;          2. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;          3. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      b) Penanganan ikan segar&lt;br /&gt;          Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang&lt;br /&gt;          perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;          1. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;          2. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;          3. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak&lt;br /&gt;             dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan&lt;br /&gt;             daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan&lt;br /&gt;             seng   atau   fiberglass.   Kapasitas   kotak   maksimum   50   kg   dengan   tinggi&lt;br /&gt;             kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt; Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.&lt;br /&gt;       Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan&lt;br /&gt;       jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian&lt;br /&gt;       ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es&lt;br /&gt;       lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian&lt;br /&gt;       juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah&lt;br /&gt;   sebagai berikut:&lt;br /&gt;    1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan&lt;br /&gt;       tidak   cacat.   Setelah   itu,   benih   ikan   baru   dimasukkan   ke   dalam   kantong&lt;br /&gt;       plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;   2) Air   yang   dipakai   media   pengangkutan   harus   bersih,   sehat,   bebas   hama&lt;br /&gt;       dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan&lt;br /&gt;       air sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;   3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.&lt;br /&gt;       Gunakan       tempat     pemberokan        berupa    bak    yang    berisi  air  bersih    dan&lt;br /&gt;       dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1&lt;br /&gt;       m   x   1   m   atau   2   m   x   0,5   m.   Dengan   ukuran   tersebut,   bak   pemberokan&lt;br /&gt;       dapat     menampung        benih    ikan   mas    sejumlah     5000–6000       ekor   dengan&lt;br /&gt;       ukuran      3-5   cm.   Jumlah     benih    dalam     pemberokan        harus    disesuaikan&lt;br /&gt;       dengan ukuran benihnya.&lt;br /&gt;   4) Berdasarkan   lama/jarak   pengiriman,   sistem   pengangkutan   benih   terbagi&lt;br /&gt;       menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;       1. Sistem terbuka&lt;br /&gt;          Dilakukan       untuk    mengangkut        benih    dalam     jarak   dekat    atau    tidak&lt;br /&gt;          memerlukan         waktu     yang    lama.    Alat   pengangkut       berupa     keramba.&lt;br /&gt;          Setiap      keramba      dapat    diisi   air  bersih    15   liter  dan    dapat     untuk&lt;br /&gt;          mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;       2. Sistem tertutup&lt;br /&gt;          Dilakukan       untuk    pengangkutan        benih    jarak   jauh   yang    memerlukan&lt;br /&gt;          waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media&lt;br /&gt;          pengangkutan          terdiri   dari   air   bersih     5   liter  yang     diberi   buffer&lt;br /&gt;          Na (hpo) .1H O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang&lt;br /&gt;          diangkut   dengan   kantong   plastik:   (1)   masukkan   air   bersih   ke   dalam&lt;br /&gt;          kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan&lt;br /&gt;          kantong      plastik   ke   permukaan       air;  (3)  alirkan    oksigen    dari   tabung&lt;br /&gt;          dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga&lt;br /&gt;          (air:oksigen=1:2);       (4)  kantong     plastik   lalu  diikat.   (5)  kantong     plastik&lt;br /&gt;          dimasukkan   ke   dalam   dos   dengan   posisi   membujur   atau   ditidurkan.&lt;br /&gt;          Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m&lt;br /&gt;          dapat diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan&lt;br /&gt;   adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;   -   Siapkan   larutan   tetrasiklin   25   ppm   dalam   waskom   (1   kapsul   tertasiklin&lt;br /&gt;       dalam 10 liter air bersih).&lt;br /&gt;         -   Buka     kantong    plastik,   tambahkan      air  bersih   yang   berasal    dari   kolam&lt;br /&gt;             setempat   sedikit   demi   sedikit   agar   perubahan   suhu   air   dalam   kantong&lt;br /&gt;             plastik terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;         -   Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan                tetrasiklin selama 1-&lt;br /&gt;             2 menit.&lt;br /&gt;         -   Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan&lt;br /&gt;             benih   ikan   diberi   pakan   secukupnya.   Selain   itu,   dilakukan   pengobatan&lt;br /&gt;             dengan   tetrasiklin   25   ppm     selama     3  hari  berturut-turut.   Selain   tetrsikli&lt;br /&gt;             dapat   juga   digunakan   obat   lain   seperti   KMNO4      sebanyak   20   ppm   atau&lt;br /&gt;             formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;         -   Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisa Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999 di&lt;br /&gt;      daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      a) Biaya produksi&lt;br /&gt;          1. Sewa kolam                                                       Rp.    120.000,-&lt;br /&gt;         2. Benih ikan nila 4000 ekor, @ Rp.200,-                             Rp.   800.000,-&lt;br /&gt;          3. Pakan&lt;br /&gt;             - Dedak 8 karung @ Rp.800,-                                      Rp.       6.400,-&lt;br /&gt;         4. Obat dan pupuk&lt;br /&gt;             - Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,-                            Rp.     28.000,-&lt;br /&gt;             - Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,-                               Rp.     18.000,-&lt;br /&gt;             - Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,-                                     Rp.     36.000,-&lt;br /&gt;          5. Peralatan                                                        Rp.   100.000,-&lt;br /&gt;          6. Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7500,-                                Rp.   225.000,-&lt;br /&gt;          7. Biaya tak terduga 10%                                            Rp.   133.340,-&lt;br /&gt;         Jumlah biaya produksi                                                Rp.1.466.740,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      b) Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,-                       Rp.2.380.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      c) Keuntungan                                                           Rp.   913.260,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      d) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;          B/C ratio                                                           1,62&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,&lt;br /&gt;      danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi&lt;br /&gt;      alam   yang   sangat   baik   bagi   pengembangan   usaha   perikanan   di   Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Disamping       itu  banyak    potensi    pendukung      lainnya    yang    dilaksanakan      oleh&lt;br /&gt;       pemerintah   dan   swasta   dalam   hal   permodalan,   program   penelitian   dalam   hal&lt;br /&gt;       pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,&lt;br /&gt;       penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan ikan air tawar&lt;br /&gt;       lainnya    selalu    mengalami      pasang      surut,   namun     dilihat  dari   jumlah    hasil&lt;br /&gt;       penjualan   secara   rata-rata   selalu   mengalami   kenaikan   dari   tahun   ke   tahun.&lt;br /&gt;      Apabila      pasaran     lokal  ikan   nila  mengalami       kelesuan,     maka    akan    sangat&lt;br /&gt;       berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir&lt;br /&gt;       di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan hampir   tak&lt;br /&gt;       ada   masalah,   prospeknya   cukup   baik.   Selain   adanya   potensi   pendukung   dan&lt;br /&gt;      faktor     permintaan      komoditi    perikanan     untuk    pasaran      lokal,  maka     sektor&lt;br /&gt;       perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-8502966169115979153?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/8502966169115979153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-ikan-nila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/8502966169115979153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/8502966169115979153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-ikan-nila.html' title='Budidaya Ikan Nila'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-2263201234190749103</id><published>2009-05-10T06:58:00.004-07:00</published><updated>2009-05-10T07:56:33.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Mujair</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;IKAN MUJAIR &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Tilapia mossambica ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ikan   mujair   merupakan   jenis  ikan   konsumsi   air   tawar,   bentuk   badan   pipih&lt;br /&gt;   dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Ikan ini berasal dari perairan Afrika&lt;br /&gt;   dan   pertama   kali   di   Indonesia   ditemukan   oleh   bapak   Mujair   di   muara   sungai&lt;br /&gt;   Serang      pantai    selatan   Blitar  Jawa     Timur    pada    tahun    1939.   Ikan   mujair&lt;br /&gt;    mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinit as. Jenis ikan ini&lt;br /&gt;    mempunyai       kecepatan     pertumbuhan       yang   relatif  lebih  cepat,   tetapi  setelah&lt;br /&gt;   dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Panjang total maksimum&lt;br /&gt;   yang dapat dicapai ikan mujair adalah 40 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    SENTRA PERIKANAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sentra     perikanan     terdapat   didaerah     Jawa    Barat,   Jawa    Tengah,    Sumatera,&lt;br /&gt;    Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Klasifikasi ikan mujair adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;    Kelas           :  Pisces&lt;br /&gt;   Sub kelas        :  Teleostei&lt;br /&gt;   Ordo             :  Percomorphi&lt;br /&gt;   Sub-ordo         :  Percoidea&lt;br /&gt;    Famili          :  Cichlidae&lt;br /&gt;   Genus            :  Oreochromis&lt;br /&gt;   Species          :  Oreochromis mossambicus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Adapun jenis ikan mujair yang dikenal antara lain: mujair biasa, mujair merah&lt;br /&gt;    (mujarah) atau jamerah dan mujair albino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.     MANFAAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebagai sumber penyediaan protein hewani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.   PERSYARATAN LOKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,&lt;br /&gt;       tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar&lt;br /&gt;       dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.&lt;br /&gt;    2) Kemiringan tanah   yang   baik   untuk   pembuatan   kolam   berkisar   antara   3-5%&lt;br /&gt;       untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;    3) Ikan   mujair    dapat   tumbuh   normal,      jika   lokasi   pemeliharaan   berada   pada&lt;br /&gt;       ketinggian antara 150-1000 m dpl.&lt;br /&gt;    4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mujair harus bersih, tidak terlalu keruh&lt;br /&gt;       dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.&lt;br /&gt;    5) Ikan mujair dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai&lt;br /&gt;       air   deras.   Kolam   dengan   sistem   pengairannya   yang   mengalir   sangat   baik&lt;br /&gt;       bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mujair. Debit air untuk kolam&lt;br /&gt;       air   tenang   8-15   liter/detik/ha,   sedangkan   untuk   pembesaran   di         kolam    air&lt;br /&gt;       deras debitnya 100 liter/menit/m3.&lt;br /&gt;    6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.&lt;br /&gt;    7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Kolam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sarana   berupa   kolam   yang   perlu   disediakan   dalam   usaha   budidaya   ikan&lt;br /&gt;       mujair tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).&lt;br /&gt;       Adapun jenis kolam yang  umum   dipergunakan dalam   budidaya   ikan   mujair&lt;br /&gt;       antara lain:&lt;br /&gt;       a. Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan&lt;br /&gt;          Kolam   ini   berfungsi   sebagai   kolam   pemijahan,   kolam   sebaiknya   berupa&lt;br /&gt;          kolam   tanah   yang   luasnya   50-100   meter   persegi   dan   kepadatan   kolam&lt;br /&gt;          induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air&lt;br /&gt;          berkisar   antara   20-22   derajat   C;   kedalaman   air   40-60   cm;   dasar   kolam&lt;br /&gt;          sebaiknya berpasir.&lt;br /&gt;b. Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan&lt;br /&gt;    Luas   kolam   tidak   lebih   dari   50-100   meter   persegi.   Kedalaman   air   kolam&lt;br /&gt;    antara   30-50   cm.   Kepadatan   sebaiknya   5-50   ekor/meter   persegi.   Lama&lt;br /&gt;    pemeliharaan       di  dalam     kolam    pendederan/ipukan         antara   3-4   minggu,&lt;br /&gt;    pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;c. Kolam pembesaran&lt;br /&gt;    Kolam     pembesaran        berfungsi    sebagai     tempat    untuk    memelihara      dan&lt;br /&gt;    membesarkan  benih   selepas  dari   kolam pendederan.   Adakalanya   dalam&lt;br /&gt;    pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:&lt;br /&gt;    -  Kolam     pembesaran        tahap   I  berfungsi    untuk   memelihara      benih    ikan&lt;br /&gt;       selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara&lt;br /&gt;       2-4    buah    dengan      luas   maksimum        250-500     meter     persegi/kolam.&lt;br /&gt;       Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab&lt;br /&gt;       benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah   benih menjadi&lt;br /&gt;       gelondongan   kecil   maka   benih   memasuki            pembesaran       tahap   kedua&lt;br /&gt;       atau langsung dijual kepada pera petani.&lt;br /&gt;    -  Kolam      pembesaran        tahap     II  berfungsi     untuk    memelihara       benih&lt;br /&gt;       gelondongan        besar.   Kolam    dapat    berupa    kolam    tanah    atau   sawah.&lt;br /&gt;       Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.&lt;br /&gt;       Jumlah penebaran   pembesaran   tahap   II  sebaiknya   tidak   lebih dari   10&lt;br /&gt;       ekor/meter persegi.&lt;br /&gt;    -  Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan&lt;br /&gt;       kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.&lt;br /&gt;d. Kolam/tempat pemberokan&lt;br /&gt;    Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat     yang    biasa   digunakan      dalam     usaha     pembenihan       ikan   mujair&lt;br /&gt;diantaranya       adalah:   jala,  waring    (anco),   hapa    (kotak   dari   jaring/kelambu&lt;br /&gt;untuk   menampung   sementara   induk   maupun   benih),   seser,   ember-ember,&lt;br /&gt;baskom       berbagai    ukuran,    timbangan      skala   kecil  (gram)    dan   besar    (Kg),&lt;br /&gt;cangkul,   arit,   pisau   serta   piring   secchi   (secchi   disc)   untuk   mengukur   kadar&lt;br /&gt;kekeruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan&lt;br /&gt;mujair      antara      lain   adalah      warring/scoopnet         yang     halus,     ayakan&lt;br /&gt;panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat&lt;br /&gt;menyimpan         ikan,  keramba      kemplung,      keramba     kupyak,     fish  bus   (untuk&lt;br /&gt;mengangkut        ikan   jarak   dekat),   kekaban     (untuk   tempat     penempelan       telur&lt;br /&gt;yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara&lt;br /&gt;terkontrol)      atau    kadang-kadang         untuk     penangkapan         benih,     ayakan&lt;br /&gt;penyabetan   dari   alumunium/bambu,   oblok/delok   (untuk   pengangkut   benih),&lt;br /&gt;sirib   (untuk   menangkap   benih   ukuran   10   cm   keatas),         anco/hanco      (untuk&lt;br /&gt;menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),&lt;br /&gt;scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),&lt;br /&gt;       seser   (gunanya=   scoopnet,   tetapi   ukurannya   lebih   besar),   jaring   berbentuk&lt;br /&gt;       segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3) Persiapan Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk&lt;br /&gt;       pemeliharaan        ikan,   terutama     mengenai       pengeringan,      pemupukan        dlsb.&lt;br /&gt;       Dalam   menyiapkan   media   pemeliharaan   ini,   yang   perlu   dilakukan   adalah&lt;br /&gt;       pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk&lt;br /&gt;       memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,&lt;br /&gt;       diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing&lt;br /&gt;       dengan      dosis   50-700    gram/meter      persegi,    bisa   juga   ditambahkan      pupuk&lt;br /&gt;       buatan   yang   berupa   urea   dan   TSP   masing-masing   dengan   dosis   15   gram&lt;br /&gt;       dan 10 gram/meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk   menyiapkan   bibit   ikan   mujair   yang   akan   dipelihara,   perlu   diperhatikan&lt;br /&gt;    hal-hal    penyiapan     media    pemeliharaan,       pemilihan     dan   pemeliharaan      induk,&lt;br /&gt;    penetasan dan persyaratan bibit, ciri-ciri bibit dan induk unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Pemilihan Induk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ciri-ciri induk bibit mujair yang unggul adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       a. Mampu   memproduksi   benih   dalam   jumlah   yang   besar   dengan               kwalitas&lt;br /&gt;          yang tinggi.&lt;br /&gt;       b. Pertumbuhannya sangat cepat.&lt;br /&gt;       c. Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.&lt;br /&gt;       d. Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.&lt;br /&gt;       e. Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.&lt;br /&gt;       f. Ukuran      induk    yang    baik   untuk    dipijahkan    yaitu   100    gram    lebih   per&lt;br /&gt;          ekornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Adapun   ciri-ciri   untuk   membedakan   induk   jantan   dan   induk   betina   adalah&lt;br /&gt;       sebagai berikut:&lt;br /&gt;       a. Betina&lt;br /&gt;          -   Terdapat      3   buah     lubang    pada     urogenetial     yaitu:   dubur,    lubang&lt;br /&gt;              pengeluaran telur dan lubang urine.&lt;br /&gt;          -   Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.&lt;br /&gt;          -   Warna perut lebih putih.&lt;br /&gt;          -   Warna dagu putih.&lt;br /&gt;          -   Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;       b. Jantan&lt;br /&gt;          -   Pada   alat   urogenetial   terdapat   2   buah   lubang   yaitu:   anus   dan   lubang&lt;br /&gt;              sperma merangkap lubang urine.&lt;br /&gt;          -   Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.&lt;br /&gt;          -   Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;    -  Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.&lt;br /&gt;    -  Jika perut distriping mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sistim Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pembibitan ikan mujair dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sistim satu kolam&lt;br /&gt;    Pada   sistim     ini   kolam   pemijahan/pembenihan   disatukan   dengan   kolam&lt;br /&gt;    pendederan/        pemeliharaan       anak.     Setelah    dilakukan     persiapan      media&lt;br /&gt;    pembibitan,   tebarkan   induk   jantan   dan   betina   dengan   perbandingan   1:2&lt;br /&gt;    atau     1:4    dengan      jumlah     kepadatan       2   pasang/10        meter     persegi.&lt;br /&gt;    Pamanenan dilakukan setiap 2 minggu sekali.&lt;br /&gt;b. Sistim dua kolam&lt;br /&gt;    Pada sistim ini proses pemijahan dan pendederan dilakukan pada kolam&lt;br /&gt;    terpisah,     dengan     perbandingan        luas   kolam    pemijahan       dengan     kolam&lt;br /&gt;    pendederan   adalah   1:2   atau   1:4.   Dasar   kolam   pendederan   harus   lebih&lt;br /&gt;    rendah dari dasar kolam lainnya agar aliran air cukup deras mengalir dari&lt;br /&gt;    kolam pemijahan ke kolam pendederan. Pada pintu kedua kolam tersebut&lt;br /&gt;    dipasang   saringan   kasar   agar         hanya    anak-anak   ikan      saja   yang   dapat&lt;br /&gt;    lewat.   Jumlah   dan   kepadatan   induk   jantan   dan   betina   yang   disebarkan&lt;br /&gt;    sama dengan sistim satu kolam.&lt;br /&gt;c. Sistim platform&lt;br /&gt;    Pada sistim ini kolam dibagi dalam 4 bagian, yaitu kolam pertama sebagai&lt;br /&gt;    tempat   induk   jantan   dan   betina   bertemu   atau   tempat   pemijahan.   Kolam&lt;br /&gt;    kedua     tempat     induk   betina    dimana     disekat    oleh   kisi  atau   krei  bambu&lt;br /&gt;    dengan      ukuran     lubang-lubang       sebesar      badan    induk    betina    sehingga&lt;br /&gt;    hanya   induk   betina   yang   dapat   lolos   ke   kolam   kedua   ini.   Kolam   ketiga&lt;br /&gt;    merupakan   temapt   pelepasan   larva   dan   temapat   yang   ke   empat   adalah&lt;br /&gt;    tempat     pendederan.       Persiapan      media    dan    jumlah    induk    yang    dilepas&lt;br /&gt;    sama dengan sistim yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembenihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pemijahan   dan   penetasan   ikan   mujair   berlangsung   sepanjang   tahun   pada&lt;br /&gt; kolam     pemijahan       dan    tidak   memerlukan        lingkungan      pemijahan      secara&lt;br /&gt; khusus.   Hal   yang   perlu   dilakukan   adalah   penyiapan   media   pemeliharaan&lt;br /&gt;seperti     pengerikan   pengapuran         dan    pemupukan.       Ketinggian     air  di  kolam&lt;br /&gt;dipertahankan sekitar 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk     menambah         tingkat   produkivitas      dan    kesuburan,      maka     diberikan&lt;br /&gt; makanan   tambahan   dengan   komposisi   sebagai   berikut:   tepung   ikan   25%,&lt;br /&gt;tepung   kopra   10%   dan   dedak   halus   sebesar   65%.   Komposisi   ransum   ini&lt;br /&gt;digunakan       dalam usaha budidaya ikan mujair secara komersial. Dapat juga&lt;br /&gt;diberi   makanan   yang   berupa   pellet   yang   berkadar   protein   20-30%   dengan&lt;br /&gt;dosis 2-3% dari berat populasi per hari, diberikan sebanyak 2 kali/hari yaitu&lt;br /&gt; pada pagi dan sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pemijahan   akan   terjadi   setelah   induk   jantan   membuat   lubang   sarang   yang&lt;br /&gt;       berupa   cekungan   di   dasar   kolam   dengan   garis   tengah   sekitar   10-35   cm.&lt;br /&gt;       Begitu   pembuatan   sarang   pemijahan   selesai,   segera   berlangsung   proses&lt;br /&gt;       pemijahan.       Setelah     proses    pembuahan        selesai,    maka     telur-telur   hasil&lt;br /&gt;       pemijahan segera dikumpulkan oleh induk betina ke dalam mulutnya untuk&lt;br /&gt;       dierami hingga menetas. Pada saat tersebut induk betina tidak aktif makan&lt;br /&gt;       sehingga terlihat tubuhnya kurus. Telur akan menetas setelah 3-5 hari pada&lt;br /&gt;       suhu air sekitar 25-27 derajat C. Setelah sekitar 2 minggu sejak penetasan,&lt;br /&gt;       induk betina baru melepaskan anak-anaknya, karena telah mampu mencari&lt;br /&gt;       makanan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4) Pemeliharaan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mujair dilakukan setelah telur-telur&lt;br /&gt;       hasil   pemijahan   menetas.   Kegiatan   ini   dilakukan   pada   kolam   pendederan&lt;br /&gt;       yang   sudah   siap   menerima   anak   ikan   dimana   kolam   tersebut   dikeringkan&lt;br /&gt;       terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan&lt;br /&gt;       dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit&lt;br /&gt;       diseuaikan dengan ketentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Jumlah   penebaran   dalam   kolam   pendederan   tergantung   dari   ukuran   benih&lt;br /&gt;       ikan.    Benih    ikan    ukuran    1-3   cm,    jumlah    penebarannya        sekitar     30-50&lt;br /&gt;       ekor/meter      persegi,    ukuran    3-5   cm    jumlah    penebarannya       berkisar     5-10&lt;br /&gt;       ekor/meter      persegi.      Sedangkan        anak     ikan    ukuran     5-8    cm     jumlah&lt;br /&gt;       penebarannya 2-5 ekor/meter persegi. Untuk benih yang ukuran 5-8 cm ini,&lt;br /&gt;       sebaiknya dilakukan secara monoseks kultur, karena pada   ukuran tersebut&lt;br /&gt;       benih ikan sudah dapat dibedakan yang berjenis kelamin jantan atau betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.   Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemeliharaan         pembesaran        dapat     dilakukan      secara      polikultur    maupun&lt;br /&gt;    monokultur.&lt;br /&gt;    a) Polikultur&lt;br /&gt;       1. ikan mujair 50%, ikan tawes 20%, dan mas 30%, atau&lt;br /&gt;       2. ikan mujair 50%, ikan gurame 20% dan ikan mas 30%.&lt;br /&gt;    b) Monokultur&lt;br /&gt;       Pemeliharaan        sistem    ini  merupakan       pemeliharaan       terbaik   dibandingkan&lt;br /&gt;       dengan   polikultur   dan   pada   sistem   ini   dilakukan   pemisahan   antara   induk&lt;br /&gt;       jantan dan betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pembesaran ikan mujair pun dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa&lt;br /&gt;    berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa&lt;br /&gt;    dapat   disesuaikan   dengan   kedalaman   kolam.   Selain   itu   sawah   yang   sedang&lt;br /&gt;    diberokan   dapat   dipergunakan   pula untuk   pemijahan dan   pemeliharaan   benih&lt;br /&gt;    ikan   mujair.   Sebelum   digunakan   petak   sawah   diperdalam   dahulu   agar   dapat&lt;br /&gt;    menampung         air  sedalam     50-60    cm,    dibuat   parit  selebar    1-1,5   m    dengan&lt;br /&gt;    kedalaman 60-75 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pemupukan   kolam   bertujuan   untuk   meningkatkan   dan   produktivitas   kolam,&lt;br /&gt;       yaitu   dengan     cara   merangsang       pertumbuhan        makanan      alami   sebanyak-&lt;br /&gt;       banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk&lt;br /&gt;       hijau dengan dosis 50–700 gram/m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Apabila tingkat produkivitas dan kesuburan kolam sudah semakin berkurang,&lt;br /&gt;       maka bisa diberikan makanan tambahan dengan komposisi sebagai berikut:&lt;br /&gt;       tepung     ikan   25%,    tepung     kopra    10%    dan    dedak    halus    sebesar    65%.&lt;br /&gt;       Komposisi ransum ini digunakan            dalam usaha budidaya ikan munjair secara&lt;br /&gt;       komersial.   Dapat   juga   diberi   makanan   yang   berupa   pellet   yang   berkadar&lt;br /&gt;       protein   20-30%   dengan   dosis   2-3%   dari   berat   populasi   per   hari,   diberikan&lt;br /&gt;       sebanyak dua kali per hari yaitu pada pagi dan sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Disamping   itu   juga   kondisi   pakan   dalam   perairan   tersebut   sesuai   dengan&lt;br /&gt;       dosis   atau   ketentuan   yang   ada.   Yaitu   selain   pakan   dari   media   dasar   juga&lt;br /&gt;       perlu diberi makanan tambahan berupa hancuran pellet atau remah dengan&lt;br /&gt;       dosis 10% dari berat populasi per hari. Pemberiannya 2-3 kali/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dalam   hal     pemeliharaan      ikan   mujair   yang   tidak   boleh   terabaikan     adalah&lt;br /&gt;       menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak&lt;br /&gt;       tercemari/teracuni oleh zat beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.     HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.   Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Bebeasan (Notonecta)&lt;br /&gt;       Berbahaya       bagi   benih   karena    sengatannya.  Pengendalian:            menuangkan&lt;br /&gt;       minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2) Ucrit (Larva cybister)&lt;br /&gt;       Menjepit   badan   ikan   dengan   taringnya   hingga   robek.  Pengendalian:   sulit&lt;br /&gt;       diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3) Kodok&lt;br /&gt;       Makan       telur  telur   ikan.  Pengendalian:         sering    membuang        telur   yang&lt;br /&gt;       mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4) Ular&lt;br /&gt;       Menyerang       benih    dan   ikan   kecil. Pengendalian:        lakukan     penangkapan;&lt;br /&gt;       pemagaran kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   5) Lingsang&lt;br /&gt;       Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   6) Burung&lt;br /&gt;       Memakan         benih     yang     berwarna       menyala      seperti    merah,      kuning.&lt;br /&gt;       Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi&lt;br /&gt;       rumbai-rumbai atau tali penghalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.  Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Secara      umum      hal-hal   yang     dilakukan    untuk    dapat    mencegah       timbulnya&lt;br /&gt;    penyakit dan hama pada budidaya ikan mujair:&lt;br /&gt;   a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.&lt;br /&gt;    b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.&lt;br /&gt;   c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.&lt;br /&gt;   d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu&lt;br /&gt;       pemasukan air.&lt;br /&gt;   e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.&lt;br /&gt;   f)  Penanganan        saat   panen     atau   pemindahan       benih    hendaknya      dilakukan&lt;br /&gt;       secara hati-hati dan benar.&lt;br /&gt;   g) Binatang      seperti    burung,    siput,  ikan   seribu    (lebistus   reticulatus   peters)&lt;br /&gt;       sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemanenan ikan mujair dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen&lt;br /&gt;   sebagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Panen sebagian atau panen selektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen&lt;br /&gt;       dipilih dengan ukuran tertentu (untuk pemanenan benih). Ukuran benih yang&lt;br /&gt;       akan   dipanen   (umur      1-1,5   bulan)   tergantung     dari  permintaan     konsumen,&lt;br /&gt;       umumnya        digolongkan      untuk    ukuran:    1-3    cm;   3-5    cm   dan    5-8    cm.&lt;br /&gt;       Pemanenan   dilakukan  dengan menggunakan   waring   yang   di   atasnya   telah&lt;br /&gt;       ditaburi   umpan     (dedak).    Ikan   yang   tidak   terpilih  (biasanya    terluka   akibat&lt;br /&gt;       jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya dipisahkan dan diberi obat&lt;br /&gt;       dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm selama 1 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2) Panen total&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Umumnya        panen     total  dilakukan    untuk   menangkap/memanen            ikan   hasil&lt;br /&gt;       pembesaran.   Umumnya   umur   ikan   mujair   yang   dipanen   berkisar   antara   5&lt;br /&gt;       bulan dengan berat berkisar antara 30-45 gram/ekor. Panen total dilakukan&lt;br /&gt;       dengan   cara   mengeringkan   kolam,   hingga   ketinggian   air   tinggal   10-20   cm.&lt;br /&gt;       Petak pemanenan/petak   penangkapan   dibuat   seluas   1 m persegi   di   depan&lt;br /&gt;       pintu   pengeluaran      (monnik),    sehingga     memudahkan        dalam    penangkapan&lt;br /&gt;       ikan.   Pemanenan       dilakukan     pagi  hari  saat   keadaan     tidak   panas    dengan&lt;br /&gt;       menggunakan         waring    atau    scoopnet     yang    halus.   Lakukan     pemanenan&lt;br /&gt;       secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.    PASCAPANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penanganan         pascapanen        ikan    mujair     dapat     dilakukan     dengan       cara&lt;br /&gt;    penanganan ikan hidup maupun ikan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1) Penanganan ikan hidup&lt;br /&gt;       Adakalanya   ikan   konsumsi   ini akan  lebih  mahal harganya   bila dijual   dalam&lt;br /&gt;       keadaan   hidup.   Hal   yang   perlu   diperhatikan   agar   ikan   tersebut   sampai   ke&lt;br /&gt;       konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;       a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat&lt;br /&gt;          C.&lt;br /&gt;       b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;       c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2) Penanganan ikan segar&lt;br /&gt;       Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang&lt;br /&gt;       perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;       a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;       b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;       c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak&lt;br /&gt;          dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan&lt;br /&gt;          daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan&lt;br /&gt;          seng   atau   fiberglass.   Kapasitas   kotak   maksimum   50   kg   dengan   tinggi&lt;br /&gt;          kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt;       d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.&lt;br /&gt;          Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan&lt;br /&gt;          jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian&lt;br /&gt;          ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es&lt;br /&gt;          lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian&lt;br /&gt;          juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan   hal-hal   yang   perlu   diperhatikan   dalam   pananganan   benih   adalah&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Benih   ikan   harus   dipilih   yang   sehat   yaitu   bebas   dari   penyakit,   parasit   dan&lt;br /&gt;tidak    cacat.    Setelah    itu,  benih   ikan   baru    dimasukkan       ke   dalam    kantong&lt;br /&gt; plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan&lt;br /&gt; penyakit   serta   bahan   organik   lainya.   Sebagai   contoh   dapat   digunakan   air&lt;br /&gt; sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;3) Sebelum   diangkut   benih   ikan   harus   diberok   dahulu   selama   beberapa   hari.&lt;br /&gt; Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan&lt;br /&gt; aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m&lt;br /&gt; atau    2   m   x   0,5   m.   Dengan      ukuran     tersebut,     bak   pemberokan         dapat&lt;br /&gt; menampung benih ikan mas sejumlah   5000–6000 ekor   dengan  ukuran   3-5&lt;br /&gt; cm.    Jumlah     benih   dalam     pemberokan        harus    disesuaikan      dengan     ukuran&lt;br /&gt; benihnya.&lt;br /&gt;4) Berdasarkan         lama/jarak     pengiriman,      sistem     pengangkutan        benih    terbagi&lt;br /&gt; menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sistem terbuka&lt;br /&gt;    Dilakukan       untuk     mengangkut        benih     dalam     jarak    dekat     atau    tidak&lt;br /&gt;    memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap&lt;br /&gt;    keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar&lt;br /&gt;    5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt; b. Sistem tertutup&lt;br /&gt;    Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu&lt;br /&gt;    lebih     dari   4-5    jam,   menggunakan          kantong      plastik.    Volume      media&lt;br /&gt;    pengangkutan          terdiri    dari   air    bersih     5   liter   yang     diberi    buffer&lt;br /&gt;    Na (hpo) .1H O   sebanyak   9   gram.   Cara   pengemasan   benih   ikan   yang&lt;br /&gt;        2      4     2&lt;br /&gt;    diangkut      dengan     kantong     plastik:   (1)   masukkan       air  bersih    ke   dalam&lt;br /&gt;    kantong   plastik   kemudian   benih;   (3)   hilangkan   udara   dengan   menekan&lt;br /&gt;    kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan&lt;br /&gt;    ke     kantong       plastik     sebanyak        2/3    volume       keseluruhan        rongga&lt;br /&gt;    (air:oksigen=1:1);        (4)  kantong      plastik   lalu   diikat.  (5)   kantong      plastik&lt;br /&gt;    dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos&lt;br /&gt;    yang   berukuran   panjang  0,50   m,   lebar   0,35   m,   dan   tinggi   0,50   m   dapat&lt;br /&gt;    diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa   hal   yang   perlu   diperhatikan   setelah   benih   sampai   di   tempat   tujuan&lt;br /&gt;adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam&lt;br /&gt; 10 liter air bersih).&lt;br /&gt;2) Buka      kantong      plastik,   tambahkan       air   bersih    yang    berasal     dari   kolam&lt;br /&gt; setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik&lt;br /&gt;terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;3) Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan                      tetrasiklin selama 1-2&lt;br /&gt; menit.&lt;br /&gt;4) Masukan   benih   ikan   ke   dalam   bak   pemberokan.   Dalam   bak   pemberokan&lt;br /&gt; benih     ikan   diberi   pakan     secukupnya.       Selain    itu,  dilakukan      pengobatan&lt;br /&gt;      dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat&lt;br /&gt;      juga   digunakan   obat   lain   seperti   KMNO4       sebanyak   20   ppm   atau   formalin&lt;br /&gt;       sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;   5) Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1 Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perkiraan   analisis   usaha   budidaya   pembenihan   ikan   mujair   selama   1   bulan&lt;br /&gt;   pada tahun 1999 di daerah Jawa Tengah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1) Biaya produksi&lt;br /&gt;      a. Sewa kolam                                                        Rp.   120.000,-&lt;br /&gt;       b. Benih ikan mujair 4000 ekor, @ Rp.150,-                          Rp.    600.000,-&lt;br /&gt;       c. Pakan&lt;br /&gt;          - Dedak 8 karung @ Rp.800,-                                      Rp.       6.400,-&lt;br /&gt;      d. Obat dan pupuk&lt;br /&gt;          - Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,-                            Rp.     28.000,-&lt;br /&gt;          - Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,-                               Rp.     18.000,-&lt;br /&gt;          - Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,-                                     Rp.     36.000,-&lt;br /&gt;      e. Peralatan                                                         Rp.     96.000,-&lt;br /&gt;      f.  Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7000,-                                Rp.   210.000,-&lt;br /&gt;      g. Biaya tak terduga 10%                                             Rp.   111.440,-&lt;br /&gt;      Jumlah biaya produksi                                                Rp.1.225.840,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2) Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.550,-                       Rp.1.870.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3) Keuntungan                                                           Rp.   644.160,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;      a. B/C ratio                                                         11,52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,&lt;br /&gt;   danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi&lt;br /&gt;   alam   yang   sangat   baik   bagi   pengembangan   usaha   perikanan   di   Indonesia.&lt;br /&gt;   Disamping       itu  banyak     potensi   pendukung       lainnya   yang    dilaksanakan      oleh&lt;br /&gt;   pemerintah   dan   swasta   dalam   hal   permodalan,   program   penelitian   dalam   hal&lt;br /&gt;   pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,&lt;br /&gt;   penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Walaupun   permintaan   di   tingkal   pasaran   lokal   akan   ikan   mujair   dan   ikan   air&lt;br /&gt;   tawar   lainnya   selalu mengalami   pasang  surut, namun  dilihat dari   jumlah   hasil&lt;br /&gt;    penjualan   secara   rata-rata   selalu   mengalami   kenaikan   dari   tahun   ke   tahun.&lt;br /&gt;    Apabila   pasaran       lokal  ikan   mujair   mengalami       kelesuan,     maka    akan    sangat&lt;br /&gt;    berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir&lt;br /&gt;    di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mujair boleh dikatakan hampir tak&lt;br /&gt;    ada   masalah,   prospeknya   cukup   baik.   Selain   adanya   potensi   pendukung   dan&lt;br /&gt;    faktor    permintaan       komoditi    perikanan      untuk    pasaran      lokal,   maka     sektor&lt;br /&gt;    perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-2263201234190749103?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/2263201234190749103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-mujair_8356.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/2263201234190749103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/2263201234190749103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-mujair_8356.html' title='Budidaya Mujair'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-7367619979269441090</id><published>2009-05-10T06:50:00.004-07:00</published><updated>2009-05-10T06:58:17.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Ikan Mas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IKAN MAS &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Cyprinus carpio L ). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan   mas   merupakan   jenis  ikan   konsumsi   air   tawar,   berbadan   memanjang&lt;br /&gt;       pipih   kesamping      dan    lunak.   Ikan   mas    sudah    dipelihara   sejak    tahun    475&lt;br /&gt;      sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun&lt;br /&gt;       1920.   Ikan   mas   yang   terdapat   di   Indonesia   merupakan   merupakan   ikan   mas&lt;br /&gt;      yang   dibawa   dari   Cina,   Eropa,   Taiwan   dan   Jepang.        Ikan   mas   Punten   dan&lt;br /&gt;       Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat&lt;br /&gt;       10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk,&lt;br /&gt;      sungai     air  deras,   bahkan     ada   yang   dipelihara    dalam    keramba     di  perairan&lt;br /&gt;       umum.      Adapun      sentra    produksi     ikan   mas     adalah:    Ciamis,     Sukabumi,&lt;br /&gt;      Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       Kelas           :  Osteichthyes&lt;br /&gt;      Anak kelas      :   Actinopterygii&lt;br /&gt;       Bangsa          :  Cypriniformes&lt;br /&gt;      Suku             :  Cyprinidae&lt;br /&gt;       Marga           :  Cyprinus&lt;br /&gt;      Jenis           :   Cyprinus carpio L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri&lt;br /&gt;       dari   ras   disebabkan      oleh   adanya     interaksi   antara    genotipe     dan   lingkungan&lt;br /&gt;       kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik,&lt;br /&gt;       bentuk   tubuh   dan   warnanya.   Adapun   ciri-ciri   dari   beberapa   strain   ikan   mas&lt;br /&gt;       adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       1) Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;&lt;br /&gt;          bagian   punggung   tinggi   melebar;   mata   agak   menonjol;   gerakannya   gesit;&lt;br /&gt;          perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.&lt;br /&gt;       2) Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih&lt;br /&gt;          gelap;   punggung   tinggi;   badannya   relatif   pendek;   gerakannya   lamban,   bila&lt;br /&gt;          diberi    makanan      suka   berenang      di  permukaan       air;  perbandingan       panjang&lt;br /&gt;          badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.&lt;br /&gt;       3) Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata&lt;br /&gt;          pada     ikan   muda     tidak   menonjol,     sedangkan      ikan   dewasa      bermata     sipit;&lt;br /&gt;          gerakannya        lamban,     lebih  suka    berada     di  permukaan       air;  perbandingan&lt;br /&gt;          panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.&lt;br /&gt;       4) Ikan    mas     taiwan:   sisik   berwarna      hijau  kekuning-kuningan;         badan     relatif&lt;br /&gt;          panjang;   penampang   punggung   membulat;   mata   agak   menonjol;   gerakan&lt;br /&gt;          lebih    gesit   dan   aktif;  perbandingan       panjang     badan    dengan     tinggi   badan&lt;br /&gt;          antara 3,5:1.&lt;br /&gt;       5) Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik&lt;br /&gt;          bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari&lt;br /&gt;          warna-warna   tersebut.   Beberapa   ras   koi   adalah  long   tail   Indonesian   carp,&lt;br /&gt;          long   tail   platinm   nishikigoi,   platinum   nishikigoi,   long   tail   shusui   nishikigoi,&lt;br /&gt;          shusi     nishikigoi,    kohaku     hishikigoi,    lonh   tail  hishikigoi,    taishusanshoku&lt;br /&gt;          nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dari   sekian   banyak   strain   ikan   mas,   di   Jawa   Barat   ikan   mas   punten   kurang&lt;br /&gt;       berkembang  karena  diduga   orang   Jawa   Barat   lebih   menyukai   ikan   mas   yang&lt;br /&gt;       berbadan       relatif  panjang.    Ikan    mas    majalaya     termasuk      jenis  unggul     yang&lt;br /&gt;       banyak dibudidayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.     MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.&lt;br /&gt;       2) Sebagai ikan hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,&lt;br /&gt;          tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar&lt;br /&gt;          dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.&lt;br /&gt;       2) Kemiringan tanah   yang   baik   untuk   pembuatan   kolam   berkisar   antara   3-5%&lt;br /&gt;          untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;       3) Ikan    mas    dapat    tumbuh     normal,    jika  lokasi   pemeliharaan      berada     pada&lt;br /&gt;          ketinggian antara 150-1000 m dpl.&lt;br /&gt;      4) Kualitas   air   untuk   pemeliharaan   ikan   mas   harus   bersih,   tidak   terlalu   keruh&lt;br /&gt;          dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.&lt;br /&gt;       5) Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air&lt;br /&gt;          deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi&lt;br /&gt;          pertumbuhan   dan   perkembangan   fisik   ikan   mas.   Debit   air   untuk   kolam   air&lt;br /&gt;          tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras&lt;br /&gt;          debitnya 100 liter/menit/m  .&lt;br /&gt;       6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.&lt;br /&gt;       7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Kolam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam&lt;br /&gt;          dibangun       di  lahan     yang    landai    dengan      kemiringan      2–5%      sehingga&lt;br /&gt;          memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a. Kolam pemeliharaan induk&lt;br /&gt;             Luas     kolam     tergantung     jumlah    induk   dan    intensitas    pengelolaannya.&lt;br /&gt;             Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter&lt;br /&gt;             persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila&lt;br /&gt;             diberi   pakan   pelet,   maka   untuk   100   kg   induk   memerlukan   luas   150-200&lt;br /&gt;             meter     persegi    saja.  Bentuk    kolam    sebaiknya     persegi    panjang     dengan&lt;br /&gt;             dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu&lt;br /&gt;             bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang&lt;br /&gt;             sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          b. Kolam pemijahan&lt;br /&gt;             Tempat       pemijahan      dapat     berupa     kolam     tanah    atau    bak    tembok.&lt;br /&gt;             Ukuran/luas   kolam   pemijahan   tergantung   jumlah   induk   yang   dipijahkan&lt;br /&gt;             dengan   bentuk   kolam   empat   persegi   panjang.   Sebagai   patokan   bahwa&lt;br /&gt;             untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18&lt;br /&gt;             m2    dengan     18   buah    ijuk/kakaban.    Dasar     kolam    dibuat   miring   kearah&lt;br /&gt;             pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu&lt;br /&gt;             pemasukan bisa dengan pralon  dan   pengeluarannya   bisa  juga   memakai&lt;br /&gt;             pralon     (kalau    ukuran    kolam     kecil)  atau   pintu    monik.    Bentuk     kolam&lt;br /&gt;             penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali&lt;br /&gt;             juga    untuk    penetasan      menggunakan         kolam    pemijahan.      Pada    kolam&lt;br /&gt;         penetasan   diusahakan   agar   air   yang   masuk   dapat   menyebar   ke   daerah&lt;br /&gt;       yang ada telurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. Kolam pendederan&lt;br /&gt;       Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan&lt;br /&gt;       pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama&lt;br /&gt;                                   2                                                2&lt;br /&gt;       dengan luas 25-500 m  dan pendederan lanjutan 500-1000 m  per petak.&lt;br /&gt;       Pemasukan         air  bisa   dengan      pralon   dan    pengeluaran/       pembuangan&lt;br /&gt;       dengan   pintu   berbentuk   monik.   Dasar   kolam   dibuatkan   kemalir   (saluran&lt;br /&gt;       dasar)   dan   di   dekat   pintu   pengeluaran   dibuat   kubangan.   Fungsi   kemalir&lt;br /&gt;       adalah     tempat    berkumpulnya       benih    saat   panen     dan   kubangan      untuk&lt;br /&gt;       memudahkan         penangkapan        benih.   dasar   kolam    dibuat    miring   ke  arah&lt;br /&gt;       pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air&lt;br /&gt;       sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Alat-alat     yang    biasa    digunakan      dalam     usaha     pembenihan        ikan   mas&lt;br /&gt;   diantaranya       adalah:   jala,  waring    (anco),   hapa    (kotak   dari   jaring/kelambu&lt;br /&gt;   untuk   menampung   sementara   induk   maupun   benih),   seser,   ember-ember,&lt;br /&gt;   baskom       berbagai    ukuran,    timbangan      skala   kecil  (gram)    dan    besar   (kg),&lt;br /&gt;   cangkul,   arit,   pisau   serta   piring   secchi   (secchi   disc)   untuk   mengukur   kadar&lt;br /&gt;   kekeruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan&lt;br /&gt;   mas       antara      lain    adalah      warring/scoopnet         yang      halus,     ayakan&lt;br /&gt;   panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat&lt;br /&gt;   menyimpan         ikan,  keramba      kemplung,      keramba     kupyak,     fish  bus   (untuk&lt;br /&gt;   mengangkut        ikan   jarak   dekat),   kekaban     (untuk   tempat     penempelan       telur&lt;br /&gt;   yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara&lt;br /&gt;   terkontrol)      atau    kadang-kadang         untuk     penangkapan         benih,     ayakan&lt;br /&gt;   penyabetan   dari   alumunium/bambu,   oblok/delok   (untuk   pengangkut   benih),&lt;br /&gt;   sirib   (untuk   menangkap   benih   ukuran   10   cm   keatas),         anco/hanco      (untuk&lt;br /&gt;   menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),&lt;br /&gt;   scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),&lt;br /&gt;   seser   (gunanya=   scoopnet,   tetapi   ukurannya   lebih   besar),   jaring   berbentuk&lt;br /&gt;   segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Persiapan Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk&lt;br /&gt;   pemeliharaan        ikan,   terutama      mengenai      pengeringan,      pemupukan        dlsb.&lt;br /&gt;   Dalam   menyiapkan   media   pemeliharaan   ini,   yang   perlu   dilakukan   adalah&lt;br /&gt;   pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk&lt;br /&gt;   memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,&lt;br /&gt;   diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing&lt;br /&gt;   dengan      dosis   50-700     gram/meter      persegi,   bisa   juga   ditambahkan      pupuk&lt;br /&gt;          buatan   yang   berupa   urea   dan   TSP   masing-masing   dengan   dosis   15   gram&lt;br /&gt;          dan 10 gram/meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemilihan Bibit dan Induk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Usaha   pembenihan   ikan   mas   dapat   dilakukan   dengan   berbagai   cara   yaitu&lt;br /&gt;          secara     tradisional,    semi    intensif   dan   secara     intensif.   Dengan     semakin&lt;br /&gt;          meningkatnya        teknologi    budidaya     ikan,   khususnya      teknologi    pembenihan&lt;br /&gt;          maka     telah   dilaksanakan      penggunaan       induk-induk     yang    berkualitas    baik.&lt;br /&gt;          Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi&lt;br /&gt;          alam     namun     manusia      telah   banyak     menemukan        kemajuan      diantaranya&lt;br /&gt;          pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan&lt;br /&gt;          teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian&lt;br /&gt;          kuantitas     dan    kualitas   air,  teknik   kultur  makanan       alami   dan    pemurnian&lt;br /&gt;          kualitas    induk    ikan.   Untuk    peningkatan       produksi    benih    perlu   dilakukan&lt;br /&gt;          penyeleksian terhadap induk ikan mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Adapun   ciri-ciri   induk   jantan   dan   induk   betina   unggul   yang   sudah   matang&lt;br /&gt;          untuk dipijah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;          a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan:&lt;br /&gt;             umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.&lt;br /&gt;          b. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor&lt;br /&gt;             mulus, sehat, sirip tidak cacat.&lt;br /&gt;          c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih;&lt;br /&gt;             panjang   kepala   minimal   1/3   dari   panjang   badan;         lensa    mata     tampak&lt;br /&gt;             jernih.&lt;br /&gt;          d. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.&lt;br /&gt;          e. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih&lt;br /&gt;             panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah&lt;br /&gt;          sebagai berikut:&lt;br /&gt;          a) Betina&lt;br /&gt;             -   Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.&lt;br /&gt;             -   Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.&lt;br /&gt;             -   Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.&lt;br /&gt;          b) Jantan&lt;br /&gt;             -   Badan tampak langsing.&lt;br /&gt;             -   Gerakan lincah dan gesit.&lt;br /&gt;             -   Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Sistim Pembenihan/Pemijahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sistim pemijahan tradisional&lt;br /&gt;   Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:&lt;br /&gt;   -   Cara    sunda:     (1)  luas   kolam    pemijahan     25-30    meter    persegi,    dasar&lt;br /&gt;       kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,&lt;br /&gt;       induk dimasukan pada sore hari; (2) disediakan injuk untuk menepelkan&lt;br /&gt;       telur;   (3)  setelah   proses     pemijahan     selesai,   ijuk  dipindah     ke  kolam&lt;br /&gt;       penetasan.&lt;br /&gt;   -   Cara   cimindi:   (1)   luas   kolam   pemijahan   25-30   meter   persegi,   dasar&lt;br /&gt;       kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,&lt;br /&gt;       induk   dimasukan   pada   sore   hari;   kolam   pemijahan   merupakan   kolam&lt;br /&gt;       penetasan;      (2)   disediakan     injuk  untuk    menepelkan       telur,  ijuk  dijepit&lt;br /&gt;       bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari&lt;br /&gt;       tanah;    (3)   setelah   proses     pemijahan      selesai   induk    dipindahkan      ke&lt;br /&gt;       kolam   lain;   (4)   tujuh   hari   setelah   pemijahan   ijuk   ini   dibuka   kemudian&lt;br /&gt;       sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.&lt;br /&gt;   -   Cara rancapaku: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar&lt;br /&gt;       kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,&lt;br /&gt;       induk   dimasukan   pada   sore   hari;   kolam   pemijahan   merupakan   kolam&lt;br /&gt;       penetasan,   batas   pematang   antara   terbuat   dari   batu;   (2)   disediakan&lt;br /&gt;       rumput      kering   untuk    menepelkan        telur,  rumput     disebar    merata     di&lt;br /&gt;       seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;&lt;br /&gt;       (3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam                  pemijahan.;&lt;br /&gt;       (4) setelah benih ikan kuat maka   akan berpindah  tempat melalui   sela&lt;br /&gt;       bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.&lt;br /&gt;   -   Cara sumatera: (1) luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam&lt;br /&gt;       sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk&lt;br /&gt;       dimasukan        pada    sore    hari;   kolam     pemijahan       merupakan       kolam&lt;br /&gt;       penetasan; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di&lt;br /&gt;       permukaan air; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan&lt;br /&gt;       ke kolam lain; (4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam&lt;br /&gt;       pendederan.&lt;br /&gt;   -   Cara dubish: (1) luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit&lt;br /&gt;       keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi&lt;br /&gt;       air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan&lt;br /&gt;       merupakan        kolam     penetasan;      (2)   sebagai     media     penempel      telur&lt;br /&gt;       digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm; (3)&lt;br /&gt;       setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain; (4)&lt;br /&gt;       setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.&lt;br /&gt;   -   Cara   hofer:   (1)   sama   seperti   cara   dubish   hanya   tidak   ada   parit   dan&lt;br /&gt;       tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sistim kawin suntik&lt;br /&gt;   Pada   sisitim   ini   induk   baik   jantan   maupun   betina   yang   matang   bertelur&lt;br /&gt;   dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise&lt;br /&gt;   ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor&lt;br /&gt;   (berada      dilekukan     tulang    tengkorak      di  bawah      otak   besar).    Setelah&lt;br /&gt;   suntikan dilakukan        dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang&lt;br /&gt;      melakukan   pemijahan.   Sistim   ini   memerlukan   biaya   yang   tinggi,   sarana&lt;br /&gt;       yang lengkap dan perawatan yang intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembenihan/Pemijahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:&lt;br /&gt;   a. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.&lt;br /&gt;   b. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan&lt;br /&gt;       suhu berkisar 25 derajat C.&lt;br /&gt;   c. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.&lt;br /&gt;   d. Jumlah induk yang disebar tergantung  dari   luas   kolam,   sebagai   patokan&lt;br /&gt;       seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.&lt;br /&gt;   e. Pemberian         makanan      dengan      kandungan       protein    25%.     Untuk    pellet&lt;br /&gt;       diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran&lt;br /&gt;       2-4% dari jumlah berat induk ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemeliharaan Bibit/Pendederan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur&lt;br /&gt;    hasil   pemijahan   menetas.   Kegiatan   ini   dilakukan   pada   kolam   pendederan&lt;br /&gt;   (luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana&lt;br /&gt;    kolam   tersebut   dikeringkan   terlebih   dahulu   serta   dibersihkan   dari   ikan-ikan&lt;br /&gt;   liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan&lt;br /&gt;    pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:&lt;br /&gt;   a. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah&lt;br /&gt;       benih   yang   disebar=100-200   ekor/meter   persegi;   lama   pemeliharaan   1&lt;br /&gt;       bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.&lt;br /&gt;   b. Tahap       II:  umur    benih    setelah    tahap     I  selesai;   jumlah     benih    yang&lt;br /&gt;       disebar=50-75   ekor/meter   persegi;   lama   pemeliharaan   1   bulan;   ukuran&lt;br /&gt;       benih menjadi 3-5 cm.&lt;br /&gt;   c. Tahap       III:  umur   benih    setelah    tahap    II  selesai;    jumlah    benih    yang&lt;br /&gt;       disebar=25-50   ekor/meter   persegi;   lama   pemeliharaan   1   bulan;   ukuran&lt;br /&gt;       benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus&lt;br /&gt;       3-5% dari jumlah bobot benih.&lt;br /&gt;   d. Tahap       IV:  umur    benih    setelah    tahap    III  selesai;   jumlah    benih    yang&lt;br /&gt;       disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih&lt;br /&gt;       menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5%&lt;br /&gt;       dari jumlah bobot benih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Perlakuan dan Perawatan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan&lt;br /&gt;    pelet   2   mm   sebanyak   3   kali   bobot   total   benih   yang   diberikan   4   kali   sehari&lt;br /&gt;   selama 3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.   Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pemeliharaan         pembesaran         dapat     dilakukan       secara     polikultur     maupun&lt;br /&gt;       monokultur.&lt;br /&gt;       a) Polikultur&lt;br /&gt;          1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau&lt;br /&gt;          2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.&lt;br /&gt;       b) Monokultur&lt;br /&gt;          Pemeliharaan         sistem    ini  merupakan       pemeliharaan       terbaik    dibandingkan&lt;br /&gt;          dengan   polikultur   dan   pada   sistem   ini   dilakukan   pemisahan   antara   induk&lt;br /&gt;          jantan dan betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemupukan   dengan   kotoran   kandang   (ayam)   sebanyak   250-500   gram/m ,&lt;br /&gt;          TSP 10 gram/m2 &lt;br /&gt;                               , Urea 10 gram/m , kapur 25-100 gram/m . Setelah itu kolam&lt;br /&gt;          diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam&lt;br /&gt;          disemprot      dengan      insektisida    organophosphat        seperti    Sumithion     60   EC,&lt;br /&gt;          Basudin      60   EC    dengan     dosis    2-4   ppm.    Tujuannya      untuk   memberantas&lt;br /&gt;          serangga       dan    udang-udangan        yang    memangsa        rotifera.   Setelah     7  hari&lt;br /&gt;          kemudian,   air   ditinggikan   sekitar   60   cm.   Padat   penebaran   ikan   tergantung&lt;br /&gt;          pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka&lt;br /&gt;          padat     penebaran       adalah    100-200     ekor/m ,    sedangkan       bila  diberi   pakan&lt;br /&gt;          pellet,    maka     penebaran       adalah     300-400      ekor/m2    (benih     lepas    hapa).&lt;br /&gt;          Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dalam   pembenihan   secara   intensif   biasanya   diutamakan   pemberian   pakan&lt;br /&gt;          buatan.   Pakan   yang   berkualitas   baik   mengandung   zat-zat   makanan   yang&lt;br /&gt;          cukup,   yaitu   protein   yang   mengandung   asam   amino   esensial,   karbohidrat,&lt;br /&gt;          lemak,   vitamin   dan   mineral.   Perawatan   larva   dalam   hapa   sekitar   4-5   hari.&lt;br /&gt;          Setelah   larva   tidak   menempel   pada   kakaban   (3-4   hari   kemudian)   kakaban&lt;br /&gt;          diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur&lt;br /&gt;          rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 liter&lt;br /&gt;          air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada&lt;br /&gt;          benih, perawatan 5-7 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dalam      hal   pemeliharaan       ikan   mas    yang    tidak   boleh    terabaikan     adalah&lt;br /&gt;          menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak&lt;br /&gt;          tercemari/teracuni oleh zat beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.    HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.  Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Bebeasan (Notonecta)&lt;br /&gt;          Berbahaya       bagi  benih    karena    sengatannya.  Pengendalian:           menuangkan&lt;br /&gt;          minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Ucrit (Larva cybister)&lt;br /&gt;          Menjepit   badan   ikan   dengan   taringnya   hingga   robek.  Pengendalian:   sulit&lt;br /&gt;          diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Kodok&lt;br /&gt;          Makan      telur   telur   ikan.  Pengendalian:         sering   membuang        telur   yang&lt;br /&gt;          mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Ular&lt;br /&gt;          Menyerang       benih    dan   ikan   kecil. Pengendalian:        lakukan     penangkapan;&lt;br /&gt;          pemagaran kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      5) Lingsang&lt;br /&gt;          Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      6) Burung&lt;br /&gt;          Memakan         benih     yang     berwarna       menyala      seperti    merah,      kuning.&lt;br /&gt;          Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi&lt;br /&gt;          rumbai-rumbai atau tali penghalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       7) Ikan gabus&lt;br /&gt;          Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau&lt;br /&gt;          dibuat bak filter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      8) Belut dan kepiting&lt;br /&gt;          Pengendalian: lakukan penangkapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.  Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Bintik merah (White spot)&lt;br /&gt;          Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,&lt;br /&gt;          pada     infeksi    berat    terlihat  jelas    lapisan    putih,   menggosok-gosokkan&lt;br /&gt;          badannya   pada   benda   yang   ada   disekitarnya   dan   berenang   sangat   lemah&lt;br /&gt;          serta    sering   muncul     di  permukaan      air. Pengendalian:        direndam     dalam&lt;br /&gt;          larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4&lt;br /&gt;          cc   dicampur   4   liter   air   selama   24   jam   dan   Direndam   dalam   garam   dapur&lt;br /&gt;          NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)&lt;br /&gt;   Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung&lt;br /&gt;   terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur&lt;br /&gt;   kapur tohon 200 gram/m , biarkan selama 1-2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)&lt;br /&gt;   Gejala:   ikan   tampak   kurus,   sisik   kusam,   sirip   ekor   kadang-kadang   rontok,&lt;br /&gt;   ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi&lt;br /&gt;   pendarahan dan  menebal pada   insang. Pengendalian:   (1)   direndan   dalam&lt;br /&gt;   larutan     formalin    250    gram/m3      selama     15    menit    dan   direndam      dalam&lt;br /&gt;    Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang&lt;br /&gt;   berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Kutu ikan (argulosis)&lt;br /&gt;   Gejala:   benih   dan   induk   menjadi   kurus,   karena   dihisap   darahnya.   Bagian&lt;br /&gt;   kulit,   sirip  dan   insang    terlihat  jelas   adanya     bercak    merah     (hemorrtage).&lt;br /&gt;   Pengendalian:         (1)  ikan   yang    terinfeksi   direndan   dalam     garam     dapur    20&lt;br /&gt;   gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3)&lt;br /&gt;   selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Jamur (Saprolegniasis)&lt;br /&gt;    Menyerang       bagian    kepala,    tutup   insang,    sirip  dan   bagian    yang    lainnya.&lt;br /&gt;   Gejala:   tubuh   yang   diserang   tampak   seperti   kapas.   Telur   yang   terserang&lt;br /&gt;   jamur, terlihat benang halus seperti kapas.  Pengendalian: direndam dalam&lt;br /&gt;   larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur&lt;br /&gt;   yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Gatal (Trichodiniasis)&lt;br /&gt;    Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan&lt;br /&gt;   badan   pada   sisi   kolam/aquarium.  Pengendalian:   rendam   selam   15   menit&lt;br /&gt;   dalam larutan formalin 150-200 ppm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Bakteripsedomonas flurescens&lt;br /&gt;    Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip&lt;br /&gt;   ekor       terkikis.   Pengendalian:           pemberian         pakan      yang      dicampur&lt;br /&gt;   oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama&lt;br /&gt;   7 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Bakteri aeromonas punctata&lt;br /&gt;    Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit&lt;br /&gt;   kesat     dan    melepuh;      cara   bernafas     mengap-mengap;           kantong     empedu&lt;br /&gt;   gembung;         pendarahan       dalam     organ     hati   dan     ginjal.  Pengendalian:&lt;br /&gt;   penyuntikan   chloramphenicol   10-15   mg/kg   ikan   atau   streptomycin   80-100&lt;br /&gt;   mg/kg      ikan;   pakan    dicampur      terramicine    50   mg/kg     ikan   selama     7  hari&lt;br /&gt;   berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Secara      umum      hal-hal   yang    dilakukan     untuk    dapat     mencegah       timbulnya&lt;br /&gt;       penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:&lt;br /&gt;       1) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.&lt;br /&gt;       2) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.&lt;br /&gt;       3) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.&lt;br /&gt;      4)     Sistem   pemasukan   air   yang   ideal   adalah   paralel,   tiap   kolam   diberi   satu&lt;br /&gt;       pintu pemasukan air.&lt;br /&gt;       5) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.&lt;br /&gt;       6) Penanganan         saat   panen     atau   pemindahan        benih   hendaknya       dilakukan&lt;br /&gt;          secara hati-hati dan benar.&lt;br /&gt;       7) Binatang      seperti   burung,     siput,  ikan    seribu   (lebistus   reticulatus    peters)&lt;br /&gt;          sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1.   Pemanenan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sebelum   dilakukan   pemanenan   benih   ikan,   terlebih   dahulu   dipersiapkan   alat-&lt;br /&gt;       alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana&lt;br /&gt;      yang   disiapkan   diantaranya   keramba,   ember   biasa,   ember   lebar,   seser   halus&lt;br /&gt;       sebagai     alat  tangkap     benih,   jaring   atau   hapa    sebagai    penyimpanan        benih&lt;br /&gt;       sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar&lt;br /&gt;       benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih&lt;br /&gt;       untuk penyimpanan benih hasil panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Panen   benih   ikan   dimulai   pagi-pagi,   yaitu   antara   jam   04.00–05.00   pagi   dan&lt;br /&gt;       sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk&lt;br /&gt;       menghindari       terik  matahari    yang    dapat    mengganggu        benih   ikan   kesehatan&lt;br /&gt;      tersebut.     Pemanenan        dilakukan     mula-mula     dengan     menyurutkan       air  kolam&lt;br /&gt;       pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan&lt;br /&gt;      tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut&lt;br /&gt;       benih   mulai   ditangkap   dengan   seser   halus   atau   jaring   dan   ditampung   dalam&lt;br /&gt;       ember atau keramba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Benih   dapat   dipanen   setelah   dipelihara   selama   21   hari.   Panenan   yang   dapat&lt;br /&gt;       diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2.   Cara Perhitungan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Untuk     mengetahui       benih    ikan   hasil   panenan      yang    disimpan      dalam    bak&lt;br /&gt;       penyimpanan   maka   sebelum   dijual,   terlebih   dahulu   dihitung   jumlahnya.   Cara&lt;br /&gt;       menghitung        benih     umumnya        dengan      memakai       takaran,     yaitu    dengan&lt;br /&gt;       menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan,&lt;br /&gt;       dan   dihitung   per   ekor   untuk   benih   ukuran   glondongan.   Penghitungan   benih&lt;br /&gt;       biasanya dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      a) Penghitungan dengan sendok.&lt;br /&gt;       b) Penghitungan dengan mangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3.   Pembersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada   umumnya,   dasar   kolam   pendederan   sudah   dirancang   miring   dan   ada&lt;br /&gt;      saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang&lt;br /&gt;       lebih   dalam   dengan   ukuran   1-2   meter   persegi   sehingga   ketika   air   menyurut,&lt;br /&gt;       maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benih&lt;br /&gt;       ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam.&lt;br /&gt;       Benih   ikan   tersebut   semuanya   disimpan   dalam   bak-bak   penampungan   yang&lt;br /&gt;      telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4.   Pemanenan Hasil Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panen&lt;br /&gt;      total.   Umur   ikan   mas   yang   dipanen   berkisar   antara   3-4   bulan   dengan   berat&lt;br /&gt;       berkisar    antara    400-600      gram/ekor.     Panen     total  dilakukan     dengan      cara&lt;br /&gt;       mengeringkan         kolam,    hingga     ketinggian      air  tinggal    10-20     cm.    Petak&lt;br /&gt;       pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu&lt;br /&gt;       pengeluaran       (monnik),     sehingga     memudahkan         dalam    penangkapan        ikan.&lt;br /&gt;       Pemanenan         dilakukan      pagi    hari   saat    keadaan       tidak   panas      dengan&lt;br /&gt;       menggunakan         waring     atau    scoopnet     yang     halus.    Lakukan     pemanenan&lt;br /&gt;      secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.    PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan&lt;br /&gt;       ikan hidup maupun ikan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Penanganan ikan hidup&lt;br /&gt;          Adakalanya   ikan   konsumsi   ini akan  lebih  mahal harganya   bila dijual   dalam&lt;br /&gt;          keadaan   hidup.   Hal   yang   perlu   diperhatikan   agar   ikan   tersebut   sampai   ke&lt;br /&gt;          konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;          a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat&lt;br /&gt;             C.&lt;br /&gt;          b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;          c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Penanganan ikan segar&lt;br /&gt;          Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang&lt;br /&gt;          perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;          a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;          b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;   c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak&lt;br /&gt;       dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan&lt;br /&gt;       daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan&lt;br /&gt;       seng   atau   fiberglass.   Kapasitas   kotak   maksimum   50   kg   dengan   tinggi&lt;br /&gt;       kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt;   d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.&lt;br /&gt;       Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan&lt;br /&gt;      jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian&lt;br /&gt;       ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es&lt;br /&gt;       lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian&lt;br /&gt;      juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah&lt;br /&gt;   sebagai berikut:&lt;br /&gt;   a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan&lt;br /&gt;       tidak   cacat.   Setelah   itu,   benih   ikan   baru   dimasukkan   ke   dalam   kantong&lt;br /&gt;       plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;   b. Air   yang   dipakai   media   pengangkutan   harus   bersih,   sehat,   bebas   hama&lt;br /&gt;       dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan&lt;br /&gt;       air sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;   c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.&lt;br /&gt;       Gunakan       tempat    pemberokan        berupa    bak   yang    berisi   air  bersih   dan&lt;br /&gt;       dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1&lt;br /&gt;       m   x   1   m   atau   2   m   x   0,5   m.   Dengan   ukuran   tersebut,   bak   pemberokan&lt;br /&gt;       dapat    menampung         benih   ikan   mas    sejumlah     5000–6000      ekor   dengan&lt;br /&gt;       ukuran     3-5   cm.    Jumlah    benih    dalam     pemberokan       harus    disesuaikan&lt;br /&gt;       dengan ukuran benihnya.&lt;br /&gt;   d. Berdasarkan   lama/jarak   pengiriman,   sistem   pengangkutan   benih   terbagi&lt;br /&gt;       menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;       -  Sistem terbuka&lt;br /&gt;          Dilakukan       untuk   mengangkut        benih    dalam    jarak    dekat    atau   tidak&lt;br /&gt;          memerlukan         waktu    yang    lama.    Alat   pengangkut      berupa     keramba.&lt;br /&gt;          Setiap     keramba      dapat     diisi  air  bersih    15   liter  dan    dapat    untuk&lt;br /&gt;          mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;       -  Sistem tertutup&lt;br /&gt;          Dilakukan      untuk    pengangkutan        benih   jarak   jauh    yang   memerlukan&lt;br /&gt;          waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media&lt;br /&gt;          pengangkutan          terdiri  dari   air   bersih    5   liter   yang    diberi    buffer&lt;br /&gt;          Na (hpo) .H O   sebanyak   9   gram.   Cara   pengemasan   benih   ikan   yang&lt;br /&gt;          diangkut   dengan   kantong   plastik:   (1)   masukkan   air   bersih   ke   dalam&lt;br /&gt;          kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan&lt;br /&gt;          kantong      plastik   ke  permukaan       air;  (3)  alirkan   oksigen     dari  tabung&lt;br /&gt;          dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga&lt;br /&gt;          (air:oksigen=1:2);       (4)  kantong    plastik   lalu  diikat.  (5)  kantong     plastik&lt;br /&gt;          dimasukkan   ke   dalam   dos   dengan   posisi   membujur   atau   ditidurkan.&lt;br /&gt;          Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m&lt;br /&gt;          dapat diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan&lt;br /&gt;          adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;          -  Siapkan   larutan   tetrasiklin   25   ppm   dalam   waskom   (1   kapsul   tertasiklin&lt;br /&gt;             dalam 10 liter air bersih).&lt;br /&gt;          -  Buka     kantong     plastik,  tambahkan      air  bersih    yang   berasal    dari  kolam&lt;br /&gt;             setempat   sedikit   demi   sedikit   agar   perubahan   suhu   air   dalam   kantong&lt;br /&gt;             plastik terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;          -  Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan                 tetrasiklin selama 1-&lt;br /&gt;             2 menit.&lt;br /&gt;          -  Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan&lt;br /&gt;             benih   ikan   diberi   pakan   secukupnya.   Selain   itu,   dilakukan   pengobatan&lt;br /&gt;             dengan   tetrasiklin   25   ppm      selama    3   hari  berturut-turut.   Selain   tetrsikli&lt;br /&gt;             dapat   juga   digunakan   obat   lain   seperti   KMNO4       sebanyak   20   ppm   atau&lt;br /&gt;             formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;          -  Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m  (kapasitas 1000 ekor)&lt;br /&gt;      selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Biaya produksi&lt;br /&gt;          a. Sewa dan pembuatan kolam                                          Rp.   1.500.000,-&lt;br /&gt;          b. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,-                                 Rp.      100.000,-&lt;br /&gt;          c. Pakan&lt;br /&gt;             - Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,-                              Rp.      225.000,-&lt;br /&gt;             - Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,-                                 Rp.       95.000,-&lt;br /&gt;             - Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,-                               Rp.       75.000,-&lt;br /&gt;             - Ganti air  7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,-                         Rp.      140.000,-&lt;br /&gt;             - Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,-                            Rp.      280.000,-&lt;br /&gt;             - Obat-oabatan                                                     Rp.      10.000,-&lt;br /&gt;          d. Peralatan                                                          Rp.      50.000,-&lt;br /&gt;          e. Lain-lain                                                          Rp.     150.000,-&lt;br /&gt;          Jumlah biaya produksi                                                Rp.   2.625.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pendapatan&lt;br /&gt;          a. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,-                           Rp.      400.000,-&lt;br /&gt;          b. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,-                         Rp.      750.000,-&lt;br /&gt;          c. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,-                      Rp.   2.500.000,-&lt;br /&gt;          Jumlah pendapatan                                                    Rp.   3.650.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Keuntungan dalam 7 bulan                                             Rp.   1.025.000,-&lt;br /&gt;          a. Keuntungan per bulan                                             Rp.     146.425,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;          B/C ratio                                                           1,39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,&lt;br /&gt;      danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi&lt;br /&gt;      alam   yang   sangat   baik   bagi   pengembangan   usaha   perikanan   di   Indonesia.&lt;br /&gt;      Disamping       itu  banyak     potensi   pendukung       lainnya   yang    dilaksanakan      oleh&lt;br /&gt;      pemerintah   dan   swasta   dalam   hal   permodalan,   program   penelitian   dalam   hal&lt;br /&gt;      pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,&lt;br /&gt;      penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar&lt;br /&gt;      lainnya     selalu   mengalami       pasang     surut,   namun     dilihat  dari   jumlah    hasil&lt;br /&gt;      penjualan   secara   rata-rata   selalu   mengalami   kenaikan   dari   tahun   ke   tahun.&lt;br /&gt;      Apabila     pasaran     lokal  ikan   mas    mengalami       kelesuan,    maka     akan   sangat&lt;br /&gt;      berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir&lt;br /&gt;      di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak&lt;br /&gt;      ada   masalah,   prospeknya   cukup   baik.   Selain   adanya   potensi   pendukung   dan&lt;br /&gt;      faktor    permintaan      komoditi     perikanan     untuk    pasaran     lokal,  maka     sektor&lt;br /&gt;      perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-7367619979269441090?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/7367619979269441090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-ikan-mas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/7367619979269441090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/7367619979269441090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-ikan-mas.html' title='Budidaya Ikan Mas'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-1431909601228922310</id><published>2009-05-10T06:37:00.002-07:00</published><updated>2009-05-10T06:49:52.765-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Lele</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;IKAN LELE&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Clarias ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan&lt;br /&gt;       kulit   licin.   Di   Indonesia   ikan   lele   mempunyai   beberapa   nama   daerah,   antara&lt;br /&gt;       lain:  ikan   kalang  (Padang),  ikan   maut   (Gayo,   Aceh),  ikan   pintet   (Kalimantan&lt;br /&gt;       Selatan),  ikan   keling   (Makasar),  ikan   cepi  (Bugis),  ikan   lele   atau  lindi   (Jawa&lt;br /&gt;       Tengah).   Sedang   di   negara   lain   dikenal   dengan   nama  mali   (Afrika), plamond&lt;br /&gt;       (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang).&lt;br /&gt;       Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai&lt;br /&gt;       dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.&lt;br /&gt;       Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam&lt;br /&gt;       hari.   Pada   siang   hari,   ikan   lele   berdiam   diri   dan   berlindung   di   tempat-tempat&lt;br /&gt;       gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.     SENTRA PERIKANAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ikan     lele  banyak     ditemukan       di  benua     Afrika   dan    Asia.    Dibudidayakan        di&lt;br /&gt;       Thailand,   India, Philipina   dan   Indonesia.  Di   Thailand   produksi   ikan   lele  ± 970&lt;br /&gt;       kg/100m2/tahun.   Di   India   (daerah   Asam)   produksinya   rata-rata   tiap   7   bulan&lt;br /&gt;       mencapai 1200 kg/Ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.     JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam  Djatmika et al                     (1986)&lt;br /&gt;       adalah:&lt;br /&gt;       Kingdom            :  Animalia&lt;br /&gt;       Sub-kingdom        :  Metazoa&lt;br /&gt;       Phyllum            :   Chordata&lt;br /&gt;       Sub-phyllum        :   Vertebrata&lt;br /&gt;       Klas               :   Pisces&lt;br /&gt;       Sub-klas           :   Teleostei&lt;br /&gt;       Ordo               :   Ostariophysi&lt;br /&gt;       Sub-ordo           :   Siluroidea&lt;br /&gt;       Familia            :   Clariidae&lt;br /&gt;       Genus              :   Clarias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan:&lt;br /&gt;       1) Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang  (Sumatera&lt;br /&gt;          Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).&lt;br /&gt;       2) Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih&lt;br /&gt;          (Padang).&lt;br /&gt;       3) Clarias   melanoderma,  yang   dikenal   sebagai   ikan   duri   (Sumatera   Selatan),&lt;br /&gt;          wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).&lt;br /&gt;       4) Clarias   nieuhofi,   yang   dikenal   sebagai   ikan   lindi   (Jawa),   limbat   (Sumatera&lt;br /&gt;          Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).&lt;br /&gt;       5) Clarias   loiacanthus,   yang   dikenal   sebagai   ikan   keli   (Sumatera   Barat),   ikan&lt;br /&gt;          penang (Kalimantan Timur).&lt;br /&gt;       6) Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat&lt;br /&gt;          fish, berasal dari Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.     MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Sebagai bahan makanan&lt;br /&gt;       2) Ikan    lele  dari  jenis C.    batrachus   juga    dapat    dimanfaatkan      sebagai     ikan&lt;br /&gt;          pajangan atau ikan hias.&lt;br /&gt;       3) Ikan   lele   yang   dipelihara   di   sawah   dapat   bermanfaat   untuk   memberantas&lt;br /&gt;          hama   padi   berupa   serangga   air,   karena   merupakan   salah   satu   makanan&lt;br /&gt;          alami ikan lele.&lt;br /&gt;       4) Ikan    lele   juga   dapat    diramu    dengan      berbagai    bahan     obat    lain  untuk&lt;br /&gt;          mengobati   penyakit   asma,   menstruasi   (datang   bulan)   tidak   teratur,   hidung&lt;br /&gt;          berdarah, kencing darah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1)   Tanah      yang     baik    untuk     kolam     pemeliharaan       adalah     jenis    tanah&lt;br /&gt;            liat/lempung,     tidak   berporos,    berlumpur      dan   subur.    Lahan    yang    dapat&lt;br /&gt;           digunakan   untuk   budidaya   lele   dapat   berupa:   sawah,   kecomberan,   kolam&lt;br /&gt;            pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.&lt;br /&gt;      2)   Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang&lt;br /&gt;           tingginya maksimal 700 m dpl.&lt;br /&gt;       3)  Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.&lt;br /&gt;      4)   Lokasi   untuk   pembuatan   kolam   harus   berhubungan   langsung   atau   dekat&lt;br /&gt;           dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.&lt;br /&gt;       5)  Lokasi   untuk   pembuatan   kolam   hendaknya   di   tempat   yang   teduh,   tetapi&lt;br /&gt;           tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.&lt;br /&gt;       6)  Ikan lele dapat hidup pada suhu 20  C, dengan suhu optimal antara 25-28 C. Sedangkan     untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26-30C dan untuk pemijahan 24-28  C.&lt;br /&gt;       7)  Ikan    lele  dapat    hidup   dalam     perairan    agak   tenang    dan    kedalamannya&lt;br /&gt;           cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.&lt;br /&gt;       8)  Perairan   tidak   boleh   tercemar   oleh   bahan   kimia,   limbah   industri,   merkuri,&lt;br /&gt;           atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan&lt;br /&gt;            ikan.&lt;br /&gt;       9)  Perairan      yang   banyak     mengandung        zat-zat   yang    dibutuhkan     ikan   dan&lt;br /&gt;            bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.&lt;br /&gt;       10) Permukaan   perairan   tidak   boleh   tertutup   rapat   oleh   sampah   atau   daun-&lt;br /&gt;           daunan hidup, seperti enceng gondok.&lt;br /&gt;       11) Mempunyai   pH   6,5–9;   kesadahan   (derajat   butiran   kasar   )   maksimal   100&lt;br /&gt;            ppm dan optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60&lt;br /&gt;           cm; kebutuhan O  optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk&lt;br /&gt;           yang dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO  kurang dari&lt;br /&gt;            12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.&lt;br /&gt;       12) Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :&lt;br /&gt;           a. Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.&lt;br /&gt;            b. Dekat dengan rumah pemeliharaannya.&lt;br /&gt;           c. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.&lt;br /&gt;           d. Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah&lt;br /&gt;               dipasang.&lt;br /&gt;           e. Kedalaman air 30-60 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dalam   pembuatan   kolam   pemeliharaan   ikan   lele   sebaiknya   ukurannya   tidak&lt;br /&gt;      terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk&lt;br /&gt;       dan    ukuran     kolam    pemeliharaan       bervariasi,    tergantung      selera   pemilik    dan&lt;br /&gt;       lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada     minggu      ke   1-6   air  harus    dalam    keadaan      jernih   kolam,     bebas    dari&lt;br /&gt;       pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya&lt;br /&gt;       harus   dipertahankan.   Pada   minggu   10,   air   dalam   batas-batas   tertentu   masih&lt;br /&gt;       diperbolehkan.   Kekeruhan   menunjukkan   kadar   bahan   padat   yang   melayang&lt;br /&gt;       dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi.&lt;br /&gt;       Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :&lt;br /&gt;       -  Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50&lt;br /&gt;       -  Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40&lt;br /&gt;       -  Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Menyiapkan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a. Pemilihan Induk&lt;br /&gt;              1. Ciri-ciri induk lele jantan:&lt;br /&gt;                 -  Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.&lt;br /&gt;                 -  Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.&lt;br /&gt;                 -  Urogenital      papilla   (kelamin)    agak    menonjol,      memanjang       ke   arah&lt;br /&gt;                    belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.&lt;br /&gt;                 -  Gerakannya         lincah,    tulang    kepala     pendek      dan     agak    gepeng&lt;br /&gt;                    (depress).&lt;br /&gt;                 -  Perutnya   lebih   langsing   dan   kenyal   bila   dibanding   induk   ikan   lele&lt;br /&gt;                    betina.&lt;br /&gt;                 -  Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor&lt;br /&gt;                    akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).&lt;br /&gt;                 -  Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.&lt;br /&gt;             2. Ciri-ciri induk lele betina&lt;br /&gt;                 -  Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.&lt;br /&gt;                 -  Warna kulit dada agak terang.&lt;br /&gt;                 -  Urogenital   papilla   (kelamin)   berbentuk   oval   (bulat   daun),   berwarna&lt;br /&gt;                    kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.&lt;br /&gt;                 -  Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.&lt;br /&gt;                 -  Perutnya lebih gembung dan lunak.&lt;br /&gt;                 -  Bila   bagian   perut   di   stripping   secara   manual   dari   bagian   perut   ke&lt;br /&gt;                    arah       ekor      akan      mengeluarkan          cairan      kekuning-kuningan&lt;br /&gt;                    (ovum/telur).&lt;br /&gt;             3. Syarat induk lele yang baik:&lt;br /&gt;                 -  Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.&lt;br /&gt;                 -  Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak   kecil&lt;br /&gt;                    supaya terbiasa hidup di kolam.&lt;br /&gt;                 -  Berat      badannya        berkisar     antara     100-200       gram,     tergantung&lt;br /&gt;                    kesuburan badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.&lt;br /&gt;                 -  Bentuk   badan   simetris,   tidak   bengkok,   tidak   cacat,   tidak   luka,   dan&lt;br /&gt;                    lincah.&lt;br /&gt;                 -  Umur      induk   jantan    di  atas   tujuh   bulan,   sedangkan       induk   betina&lt;br /&gt;                    berumur satu tahun.&lt;br /&gt;                 -  Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya&lt;br /&gt;                    bisa memijah lebih dari 15 kali dengan   syarat   apabila  makanannya&lt;br /&gt;                    mengandung cukup protein.&lt;br /&gt;             4. Ciri-ciri   induk    lele  siap   memijah      adalah    calon    induk    terlihat  mulai&lt;br /&gt;                  berpasang-pasangan,            kejar-kejaran     antara    yang     jantan    dan    yang&lt;br /&gt;                  betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam&lt;br /&gt;                   tersendiri untuk dipijahkan.&lt;br /&gt;             5. Perawatan induk lele:&lt;br /&gt;       -  Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi&lt;br /&gt;          makanan       yang    berkadar     protein    tinggi  seperti    cincangan     daging&lt;br /&gt;          bekicot,   larva    lalat/belatung,    rayap    atau   makanan      buatan     (pellet).&lt;br /&gt;          Ikan    lele  membutuhkan         pellet   dengan     kadar    protein   yang    relatif&lt;br /&gt;          tinggi, yaitu  ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk&lt;br /&gt;          lele,   karena    kandungan       lemaknya     tinggi.   Pemberian      cacing    sutra&lt;br /&gt;          harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan.&lt;br /&gt;       -  Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari&lt;br /&gt;          berat total ikan.&lt;br /&gt;       -  Setelah       benih    berumur       seminggu,       induk     betina     dipisahkan,&lt;br /&gt;          sedangkan        induk   jantan    dibiarkan    untuk    menjaga     anak-anaknya.&lt;br /&gt;          Induk   jantan   baru   bisa   dipindahkan   apabila   anak-anak   lele   sudah&lt;br /&gt;          berumur 2 minggu.&lt;br /&gt;       -  Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang&lt;br /&gt;          penyakit untuk segera diobati.&lt;br /&gt;       -  Mengatur   aliran   air   masuk   yang   bersih,   walaupun   kecepatan   aliran&lt;br /&gt;          tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemijahan Tradisional&lt;br /&gt;   1. Pemijahan di Kolam Pemijahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Kolam induk:&lt;br /&gt;       -  Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan&lt;br /&gt;          dasar tanah.&lt;br /&gt;       -  Luas bervariasi, minimal 50 m2.&lt;br /&gt;       -  Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian&lt;br /&gt;          dalam   (kubangan)   30   %   dari   luas   kolam.   Kubangan   ada   di   bagian&lt;br /&gt;          tengah      kolam     dengan      kedalaman       50-60     cm,    berfungsi     untuk&lt;br /&gt;          bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya.&lt;br /&gt;       -  Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30x30x25&lt;br /&gt;          cm3, dari tembok yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari&lt;br /&gt;          pipa    paralon    diamneter      1  inchi  untuk    keluarnya     banih    ke  kolam&lt;br /&gt;          pendederan.&lt;br /&gt;       -  Setiap   sarang   peneluran   mempunyai   satu   lubang   yang   dibuat   dari&lt;br /&gt;          pipa   paralon   (PVC)   ukuran  ± 4   inchi   untuk   masuknya   induk-induk&lt;br /&gt;          lele.&lt;br /&gt;       -  Jarak antar sarang peneluran ± 1 m.&lt;br /&gt;       -  Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam)&lt;br /&gt;           sebanyak 500-750 gram/m2.&lt;br /&gt;       -  Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama 4 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam Rotifera (cacing bersel tunggal):&lt;br /&gt;-  Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk&lt;br /&gt;    menumbuhkan makanan alami ikan (rotifera).&lt;br /&gt;-  Kolam   rotifera   dihubungkan   ke   kolam   induk   dengan   pipa   paralon&lt;br /&gt;    untuk mengalirkan rotifera.&lt;br /&gt;-  Kolam      rotifera   diberi   pupuk    organik   untuk   memenuhi         persyaratan&lt;br /&gt;   tumbuhnya rotifera.&lt;br /&gt;-  Luas kolam ± 10 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemijahan:&lt;br /&gt;-  Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x jumlah sarang yang tersedia&lt;br /&gt;   dan   induk   jantan   sebanyak   jumlah   sarang;   atau   satu   pasang   per&lt;br /&gt;   sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam (pilih salah satu).&lt;br /&gt;-  Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi&lt;br /&gt;   selama 4 hari.&lt;br /&gt;-  Beri/masukkan   makanan   yang   berprotein   tinggi   setiap   hari   seperti&lt;br /&gt;   cacing,   ikan   rucah,   pellet   dan   semacamnya,   dengan   dosis   (jumlah&lt;br /&gt;    berat makanan) 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan .&lt;br /&gt;-  Biarkan sampai 10 hari.&lt;br /&gt;-  Setelah       induk    dalam     kolam     selama     10    hari,   air  dalam     kolam&lt;br /&gt;   dinaikkan   sampai   10-15   cm   di   atas   lubang   sarang   peneluran   atau&lt;br /&gt;    kedalaman   air   dalam   sarang   sekitar   20-25   cm.   Biarkan   sampai   10&lt;br /&gt;    hari.   Pada   saat   ini   induk   tak   perlu   diberi   makan,   dan   diharapkan&lt;br /&gt;   selama 10 hari berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah&lt;br /&gt;   24 jam, telur telah menetas di sarang, terkumpullah benih lele. Induk&lt;br /&gt;    lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya baik dan&lt;br /&gt;   akan bertelur terus sampai umur 5 tahun.&lt;br /&gt;-  Benih   lele   dikeluarkan   dari   sarnag   ke   kolam   pendederan   dengan&lt;br /&gt;   cara:     air  kolam     disurutkan      sampai     batas    kubangan,       lalu   benih&lt;br /&gt;   dialirkan melalui pipa pengeluaran.&lt;br /&gt;-  Benih-benih        lele  yang    sudah     dipindahkan       ke   kolam    pendederan&lt;br /&gt;   diberi     makanan       secara     intensif,   ukuran     benih    1-2   cm,    dengan&lt;br /&gt;    kepadatan 60 -100 ekor/m2.&lt;br /&gt;-  Dari   seekor   induk   lele   dapat   menghasilkan  ± 2000   ekor   benih   lele.&lt;br /&gt;    Pemijahan   induk   lele   biasanya   terjadi   pada   sore   hari   atau   malam&lt;br /&gt;    hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:&lt;br /&gt;   -   Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2&lt;br /&gt;       m dan tinggi 0,6 m.&lt;br /&gt;   -   Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25 x 40x30 cm tanpa&lt;br /&gt;       dasar   sebagai   sarang  pemijahan.   Di   bagian   atas   diberi   lubang   dan&lt;br /&gt;       diberi tutup untuk melihat adanya telur dalam sarang. Bagian depan&lt;br /&gt;       kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi&lt;br /&gt;       gelap.&lt;br /&gt;   -   Sarang   pemijahan   dapat   dibuat   pula   dari   tumpukan   batu   bata   atau&lt;br /&gt;       ember plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan.&lt;br /&gt;   -   Sarang  bak   pembenihan   diberi   ijuk   dan   kerikil   untuk   menempatkan&lt;br /&gt;       telur hasil pemijahan.&lt;br /&gt;   -   Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan&lt;br /&gt;      formalin  40 %   atau KMnO4  (dapat dibeli   di apotik);   kemudian   bilas&lt;br /&gt;       lagi dengan air bersih dan keringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pemijahan:&lt;br /&gt;   -   Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air&lt;br /&gt;       setinggi  ± 25   cm.   Sebaiknya   airnya   mengalir.   Penebaran   dilakukan&lt;br /&gt;       pada jam 14.00–16.00.&lt;br /&gt;   -   Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan yang intensif. Setelah&lt;br /&gt;       ± 10 hari, diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan&lt;br /&gt;       dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik&lt;br /&gt;       adalah yang berwarna kuning cerah.&lt;br /&gt;   -   Beri   makanan       anak-anak      lele  yang    masih    kecil  (stadium     larva)&lt;br /&gt;       tersebut berupa kutu air atau anak nyamuk dan setelah agak besar&lt;br /&gt;       dapat diberi cacing dan telur rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Penyiapan bak pemijahan secara masal:&lt;br /&gt;   -   Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2x10 m2 atau&lt;br /&gt;       5x10 m2.&lt;br /&gt;   -   Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran&lt;br /&gt;       30x30x30 cm3,   yang  dilengkapi dengan  saluran   pengeluaran   benih&lt;br /&gt;       dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu&lt;br /&gt;       lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.&lt;br /&gt;   -   Dasar     sarang     pemijahan      diberi   ijuk   dan    kerikil  untuk    tempat&lt;br /&gt;       menempel telur hasil pemijahan.&lt;br /&gt;   -   Sebelum      digunakan,     bak    dikeringkan     dan   dibilas  dengan     larutan&lt;br /&gt;       desinfektan   atau   formalin,   lalu   dibilas   dengan   air   bersih;   kemudian&lt;br /&gt;       keringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemijahan:&lt;br /&gt;          -   Tebarkan       induk     lele   yang    terpilih    (matang      telur)   dalam     bak&lt;br /&gt;              pembenihan         sebanyak       2xjumlah      sarang     ,  induk     jantan    sama&lt;br /&gt;              banyaknya   dengan   induk   betina   atau   dapat   pula   ditebarkan   25-50&lt;br /&gt;              pasang untuk bak seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah bak pembenihan&lt;br /&gt;              diairi setinggi 1 m.&lt;br /&gt;          -   Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-&lt;br /&gt;              60 cm, induk beri makan secara intensif.&lt;br /&gt;          -   Sepuluh      hari  kemudian,      air  dalam    bak    dinaikkan     sampai    di  atas&lt;br /&gt;              lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25&lt;br /&gt;              cm.&lt;br /&gt;          -   Saat    air  ditinggikan     diharapkan      induk-induk      berpasangan       masuk&lt;br /&gt;              sarang pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan sampai ± 10 hari.&lt;br /&gt;          -   Sepuluh   hari   kemudian   air   disurutkan   lagi,   dan   diperkirakan   telur-&lt;br /&gt;              telur dalam sarang  pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.&lt;br /&gt;          -   Benih     lele  dikeluarkan      melalui    saluran    pengeluaran       benih    untuk&lt;br /&gt;              didederkan di kolam pendederan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. Pemijahan Buatan&lt;br /&gt;       Cara   ini   disebut Induced   Breeding   atau  hypophysasi  yakni   merangsang&lt;br /&gt;       ikan   lele   untuk   kawin   dengan   cara   memberikan   suntikan   berupa   cairan&lt;br /&gt;       hormon   ke   dalam   tubuh   ikan.   Hormon   hipophysa   berasal   dari   kelenjar&lt;br /&gt;       hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin:&lt;br /&gt;       -  Gametogenesis:          memacu        kematangan        telur   dan    sperma,     disebut&lt;br /&gt;          Follicel     Stimulating      Hormon.      Setelah      12   jam    penyuntikan,       telur&lt;br /&gt;          mengalami        ovulasi    (keluarnya     telur  dari   jaringan    ikat  indung     telur).&lt;br /&gt;          Selama       ovulasi,   perut    ikan   betina   akan     membengkak         sedikit   demi&lt;br /&gt;          sedikit   karena   ovarium   menyerap   air.   Saat   itu   merupakan   saat   yang&lt;br /&gt;          baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).&lt;br /&gt;       -  Mendorong nafsu sex (libido)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Perlakuan dan Perawatan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Kolam untuk pendederan:&lt;br /&gt;       1. Bentuk   kolam   pada   minggu   1-2,   lebar   50   cm,   panjang   200   cm,   dan&lt;br /&gt;          tinggi    50   cm.    Dinding    kolam     dibuat    tegak    lurus,   halus,   dan    licin,&lt;br /&gt;          sehingga       apabila    bergesekan       dengan     tubuh    benih    lele   tidak   akan&lt;br /&gt;          melukai.      Permukaan        lantai   agak    miring    menuju      pembuangan         air.&lt;br /&gt;          Kemiringan   dibuat   beda   3   cm   di   antara   kedua   ujung   lantai,   di   mana&lt;br /&gt;          yang   dekat   tempat   pemasukan   air   lebih   tinggi.   Pada   lantai   dipasang&lt;br /&gt;          pralon dengan diameter 3-5 cm dan panjang 10 m.&lt;br /&gt;       2. Kira-kira   10   cm   dari   pengeluaran   air   dipasang   saringan   yang   dijepit&lt;br /&gt;          dengan 2 bingkai kayu tepat dengan permukaan dalam dinding kolam.&lt;br /&gt;          Di antara 2 bingkai dipasang selembar kasa nyamuk dari bahan plastik&lt;br /&gt;          berukuran mess 0,5-0,7 mm, kemudian dipaku.&lt;br /&gt;       3. Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa air untuk&lt;br /&gt;          mengeringkan         kolam.     Pipa    pengeluaran      dihubungkan        dengan     pipa&lt;br /&gt;         plastik yang dapat berfungsi untuk mengatur ketinggian air kolam. Pipa&lt;br /&gt;         plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait sebagai gantungan.&lt;br /&gt;       4. Minggu      ketiga,   benih    dipindahkan      ke  kolam    pendederan       yang    lain.&lt;br /&gt;         Pengambilannya          tidak   boleh    menggunakan         jaring,   tetapi    dengan&lt;br /&gt;         mengatur ketinggian pipa plastik.&lt;br /&gt;       5. Kolam   pendederan   yang  baru berukuran 100   x   200   x   50   cm,   dengan&lt;br /&gt;         bentuk dan konstruksi sama dengan yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penjarangan:&lt;br /&gt;    1. Penjarangan        adalah    mengurangi       padat    penebaran      yang    dilakukan&lt;br /&gt;       karena   ikan   lele   berkembang   ke   arah   lebih   besar,   sehingga   volume&lt;br /&gt;       ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.&lt;br /&gt;       -  Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :&lt;br /&gt;       -  Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.&lt;br /&gt;       -  Terjadi   perebutan   ransum   makanan   dan   suatu   saat   dapat   memicu&lt;br /&gt;          mumculnya   kanibalisme   (ikan   yang   lebih   kecil   dimakan   oleh   ikan&lt;br /&gt;          yang lebih besar).&lt;br /&gt;       -  Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan&lt;br /&gt;          O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.&lt;br /&gt;   2. Cara penjarangan pada benih ikan lele :&lt;br /&gt;       -  Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2&lt;br /&gt;       -  Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2&lt;br /&gt;       -  Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pemberian pakan:&lt;br /&gt;    1. Hari    pertama     sampai     ketiga,    benih    lele  mendapat       makanan      dari&lt;br /&gt;       kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak menetas.&lt;br /&gt;   2. Hari   keempat   sampai   minggu   kedua   diberi   makan   zooplankton,   yaitu&lt;br /&gt;       Daphnia dan Artemia yang mempunyai protein 60%. Makanan tersebut&lt;br /&gt;       diberikan dengan dosis 70% x biomassa setiap hari yang dibagi dalam&lt;br /&gt;       4   kali   pemberian.   Makanan   ditebar   disekitar   tempat   pemasukan   air.&lt;br /&gt;       Kira-kira    2-3   hari  sebelum      pemberian      pakan    zooplankton      berakhir,&lt;br /&gt;       benih   lele   harus   dikenalkan   dengan   makanan   dalam   bentuk   tepung&lt;br /&gt;       yang    berkadar     protein   50%.     Sedikit   dari  tepung     tersebut   diberikan&lt;br /&gt;       kepada benih 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton.  Makanan&lt;br /&gt;       yang berupa teoung dapat terbuat dari campuran kuning telur, tepung&lt;br /&gt;       udang dan sedikit bubur nestum.&lt;br /&gt;   3. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.&lt;br /&gt;   4. Minggu   keempat   dan   kelima   diberi   pakan   sebanyak   32%   x   biomassa&lt;br /&gt;       setiap hari.&lt;br /&gt;   5. Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.&lt;br /&gt;   6. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.&lt;br /&gt;   7. Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet apung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengepakan dan pengangkutan benih&lt;br /&gt;             1. Cara tertutup:&lt;br /&gt;                -  Kantong   plastik     yang   kuat   diisi  air  bersih  dan   benih   dimasukkan&lt;br /&gt;                   sedikit demi sedikit. Udara dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung&lt;br /&gt;                   dimasukkan ke dalam air sampai volume udara dalam plastik 1/3–1/4&lt;br /&gt;                   bagian. Ujung plastik segera diikat rapat.&lt;br /&gt;                -  Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam kardus atau peti supaya&lt;br /&gt;                   tidak mudah pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             2. Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh:&lt;br /&gt;                -  Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar selama pengangkutan, air&lt;br /&gt;                   tidak keruh oleh kotoran lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).&lt;br /&gt;                -  Tempat      lele   diisi  dengan   air  bersih,  kemudian     benih   dimasukkan&lt;br /&gt;                   sedikit demi sedikit. Jumlahnya tergantung ukurannya. Benih ukuran&lt;br /&gt;                   10 cm dapat diangkut dengan kepadatan maksimal 10.000/m3 atau&lt;br /&gt;                   10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.  Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a. Sebelum   digunakan   kolam   dipupuk   dulu.   Pemupukan   bermaksud   untuk&lt;br /&gt;             menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami&lt;br /&gt;             bagi benih lele.&lt;br /&gt;          b. Pupuk   yang   digunakan   adalah   pupuk   kandang   (kotoran   ayam)   dengan&lt;br /&gt;             dosis 500-700 gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20&lt;br /&gt;             gram/m2                                          2&lt;br /&gt;                       , dan amonium nitrat 15 gram/m . Selanjutnya dibiarkan selama 3&lt;br /&gt;             hari.&lt;br /&gt;          c. Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan&lt;br /&gt;             selama satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau&lt;br /&gt;             kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh&lt;br /&gt;             sebagai makanan alami lele.&lt;br /&gt;          d. Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a. Makanan Alami Ikan Lele&lt;br /&gt;             1. Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan&lt;br /&gt;                serangga air.&lt;br /&gt;             2. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome),&lt;br /&gt;                Anabaena        spp   (gol.   Cyanophyta),       Navicula    spp    (gol.   Diatome),&lt;br /&gt;                ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).&lt;br /&gt;             3. Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.&lt;br /&gt;             4. Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal dari kakus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          b. Makanan Tambahan&lt;br /&gt;             1. Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan tambahan berupa&lt;br /&gt;                sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang&lt;br /&gt;                dihancurkan, usus ayam, dan bangkai.&lt;br /&gt;             2. Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul, jagung,&lt;br /&gt;                dan bekicot (2:1:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. Makanan Buatan (Pellet)&lt;br /&gt;       1. Komposisi       bahan     (%    berat):   tepung     ikan=27,00;      bungkil    kacang&lt;br /&gt;          kedele=20,00;        tepung     terigu=10,50;      bungkil    kacang      tanah=18,00;&lt;br /&gt;          tepung       kacang       hijau=9,00;      tepung       darah=5,00;       dedak=9,00;&lt;br /&gt;          vitamin=1,00; mineral=0,500;&lt;br /&gt;       2. Proses pembuatan:&lt;br /&gt;          Dengan      cara   menghaluskan        bahan-bahan,       dijadikan    adonan     seperti&lt;br /&gt;          pasta,   dicetak dan dikeringkan   sampai   kadar   airnya   kurang  dari   10%.&lt;br /&gt;          Penambahan          lemak     dapat    diberikan    dalam     bentuk     minyak     yang&lt;br /&gt;          dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran minyak&lt;br /&gt;          juga dapat memperlambat pellet tenggelam.&lt;br /&gt;       3. Cara pemberian pakan:&lt;br /&gt;          -  Pellet    mulai   dikenalkan     pada    ikan  lele  saat   umur    6  minggu     dan&lt;br /&gt;             diberikan pada   ikan   lele   10-15   menit   sebelum   pemberian   makanan&lt;br /&gt;             yang berbentuk tepung.&lt;br /&gt;          -  Pada      minggu     7   dan    seterusnya      sudah    dapat    langsung      diberi&lt;br /&gt;             makanan yang berbentuk pellet.&lt;br /&gt;          -  Hindarkan pemberian pakan pada saat  terik   matahari,   karena   suhu&lt;br /&gt;             tinggi dapat mengurangi nafsu makan lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemberian Vaksinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:&lt;br /&gt;   a. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan,   lele  yang&lt;br /&gt;       berumur   2   minggu   dimasukkan   dulu   ke   dalam   larutan   formalin   dengan&lt;br /&gt;       dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan&lt;br /&gt;       kebal selama 6 bulan.&lt;br /&gt;   b. Pencegahan          penyakit    karena     bakteri    juga   dapat     dilakukan     dengan&lt;br /&gt;       menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.&lt;br /&gt;   c. Pencegahan   penyakit   karena   jamur   dapat   dilakukan   dengan   merendam&lt;br /&gt;       lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk&lt;br /&gt;       memberantas hama dan bibit penyakit.&lt;br /&gt;   b. Air   dalam   kolam/bak   dibersihkan   1   bulan   sekali   dengan   cara   mengganti&lt;br /&gt;       semua      air  kotor  tersebut    dengan     air  bersih   yang   telah   diendapkan      2&lt;br /&gt;       malam.&lt;br /&gt;   c. Kolam      yang    telah   terjangkiti   penyakit     harus    segera    dikeringkan     dan&lt;br /&gt;       dilakukan   pengapuran   dengan   dosis   200   gram/m2           selama   satu   minggu.&lt;br /&gt;       Tepung      kapur    (CaO)     ditebarkan     merata     di  dasar    kolam,     kemudian&lt;br /&gt;       dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.     HAMA DAN PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.   Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       a. Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu&lt;br /&gt;          kehidupan lele.&lt;br /&gt;       b. Di   alam   bebas   dan   di   kolam   terbuka,   hama   yang   sering   menyerang   lele&lt;br /&gt;          antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan&lt;br /&gt;          gabus dan belut.&lt;br /&gt;       c. Di    pekarangan,       terutama     yang    ada    di  perkotaan,      hama     yang    sering&lt;br /&gt;          menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak&lt;br /&gt;          banyak diserang hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penyakit     parasit   adalah     penyakit    yang    disebabkan      oleh   organisme      tingkat&lt;br /&gt;       rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Penyakit       karena     bakteri   Aeromonas          hydrophilla     dan     Pseudomonas&lt;br /&gt;          hydrophylla&lt;br /&gt;          Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di&lt;br /&gt;          ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8&lt;br /&gt;          x 1–1,5 mikron.       Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul&lt;br /&gt;          pendarahan,        bernafas     megap-megap         di  permukaan       air. Pengendalian:&lt;br /&gt;          memelihara   lingkungan   perairan   agar   tetap   bersih,   termasuk            kualitas   air.&lt;br /&gt;          Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50&lt;br /&gt;          mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid&lt;br /&gt;          sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.&lt;br /&gt;       2) Penyakit Tuberculosis&lt;br /&gt;          Penyebab:   bakteri Mycobacterium   fortoitum).  Gejala:   tubuh   ikan   berwarna&lt;br /&gt;          gelap,    perut    bengkak     (karena     tubercle/bintil-bintil   pada    hati,  ginjal,  dan&lt;br /&gt;          limpa).   Posisi   berdiri   di   permukaan   air,   berputar-putar   atau   miring-miring,&lt;br /&gt;          bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air&lt;br /&gt;          dan   lingkungan   kolam.  Pengobatan:   dengan   Terramycin   dicampur   dengan&lt;br /&gt;          makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.&lt;br /&gt;       3) Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.&lt;br /&gt;          Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan&lt;br /&gt;          yang   kondisinya   lemah.  Gejala:   ikan   ditumbuhi   sekumpulan   benang   halus&lt;br /&gt;          seperti   kapas,   pada   daerah   luka   atau   ikan   yang   sudah   lemah,   menyerang&lt;br /&gt;          daerah   kepala   tutup   insang,   sirip,   dan   tubuh   lainnya.   Penyerangan   pada&lt;br /&gt;          telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih&lt;br /&gt;          gelondongan   dan   ikan   dewasa   direndam   pada   Malachyte   Green   Oxalate&lt;br /&gt;          2,5–3   ppm   selama   30   menit   dan   telur   direndam   Malachyte   Green   Oxalate&lt;br /&gt;          0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.&lt;br /&gt;       4) Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis&lt;br /&gt;          Penyebab:   parasit   dari   golongan   Ciliata,   bentuknya   bulat,   kadang-kadang&lt;br /&gt;          amuboid,       mempunyai        inti  berbentuk     tapal   kuda,    disebut  Ichthyophthirius&lt;br /&gt;          multifilis. Gejala:   (1)   ikan   yang  diserang  sangat  lemah  dan   selalu   timbul   di&lt;br /&gt;          permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan&lt;br /&gt;          insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding&lt;br /&gt;          kolam.      Pengendalian:          air    harus     dijaga    kualitas     dan     kuantitasnya.&lt;br /&gt;          Pengobatan:         dengan      cara   perendaman        ikan   yang    terkena     infeksi   pada&lt;br /&gt;          campuran        larutan    Formalin     25   cc/m3     dengan     larutan    Malachyte      Green&lt;br /&gt;          Oxalate      0,1  gram/m3      selama     12–24     jam,   kemudian      ikan   diberi   air  yang&lt;br /&gt;          segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.&lt;br /&gt;       5) Penyakit Cacing Trematoda&lt;br /&gt;          Penyebab:          cacing      kecil     Gyrodactylus        dan      Dactylogyrus.        Cacing&lt;br /&gt;          Dactylogyrus          menyerang         insang,      sedangkan         cacing      Gyrodactylus&lt;br /&gt;          menyerang   kulit   dan   sirip.  Gejala:   insang   yang   dirusak   menjadi   luka-luka,&lt;br /&gt;          kemudian        timbul     pendarahan        yang     akibatnya      pernafasan       terganggu.&lt;br /&gt;          Pengendalian:   (1)   direndam   Formalin   250   cc/m3            air   selama   15   menit;   (2)&lt;br /&gt;          Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam&lt;br /&gt;          larutan     Kalium     -Permanganat        (KMnO )      0,01%     selama     ±  30    menit;    (4)&lt;br /&gt;          memakai        larutan   NaCl    2%   selama     ±  30   menit;    (5)  dapat    juga   memakai&lt;br /&gt;          larutan NH OH 0,5% selama ± 10 menit.&lt;br /&gt;       6) Parasit Hirudinae&lt;br /&gt;          Penyebab:        lintah   Hirudinae,     cacing    berwarna     merah     kecoklatan.  Gejala:&lt;br /&gt;          pertumbuhannya           lambat,    karena     darah     terhisap    oleh    parasit,   sehingga&lt;br /&gt;          menyebabkan          anemia/kurang        darah.   Pengendalian:         selalu   diamati     pada&lt;br /&gt;          saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.   Hama Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Apabila       lele   menunjukkan          tanda-tanda        sakit,    harus     dikontrol     faktor&lt;br /&gt;       penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :&lt;br /&gt;       1) Bila   suhu     terlalu   tinggi,  kolam   diberi   peneduh      sementara   dan       air  diganti&lt;br /&gt;          dengan yang suhunya lebih dingin.&lt;br /&gt;       2) Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.&lt;br /&gt;       3) Bila kandungan gas-gas beracun (H S, CO ), maka air harus segera diganti.&lt;br /&gt;       4) Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1.   Penangkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:&lt;br /&gt;       1) Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu&lt;br /&gt;          dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.&lt;br /&gt;      2) Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4&lt;br /&gt;          bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan&lt;br /&gt;          ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.&lt;br /&gt;      3) Pemanenan   sebaiknya   dilakukan   pada   pagi   hari   supaya   lele   tidak   terlalu&lt;br /&gt;          kepanasan.&lt;br /&gt;      4) Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan&lt;br /&gt;          seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.&lt;br /&gt;      5) Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.&lt;br /&gt;      6) Bila   penangkapan   menggunakan   jaring,   pemanenan   dilakukan   bersamaan&lt;br /&gt;          dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.&lt;br /&gt;      7) Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama&lt;br /&gt;          1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.&lt;br /&gt;      8) Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2.   Pembersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:&lt;br /&gt;       1) Kolam   dibersihkan   dengan   cara   menyiramkan/memasukkan   larutan   kapur&lt;br /&gt;          sebanyak 20-200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata.&lt;br /&gt;      2) Penyiraman         dilanjutkan     dengan      larutan    formalin     40%     atau    larutan&lt;br /&gt;          permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.&lt;br /&gt;      3) Kolam   dibilas   dengan   air   bersih   dan   dipanaskan   atau   dikeringkan   dengan&lt;br /&gt;          sinar   matahari   langsung.   Hal   ini dilakukan   untuk   membunuh   penyakit   yang&lt;br /&gt;          ada di kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.    PASCAPANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Setelah   dipanen,   lele   dibersihkan   dari   lumpur   dan   isi   perutnya.   Sebelum&lt;br /&gt;          dibersihkan      sebaiknya      lele   dimatikan     terlebih   dulu    dengan      memukul&lt;br /&gt;          kepalanya memakai muntu atau kayu.&lt;br /&gt;      2) Saat   mengeluarkan   kotoran,   jangan   sampai   memecahkan   empedu,   karena&lt;br /&gt;          dapat menyebabkan daging terasa pahit.&lt;br /&gt;      3) Setelah   isi   perut   dikeluarkan,   ikan   lele   dapat   dimanfaatkan   untuk   berbagai&lt;br /&gt;          ragam masakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.   ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Analisis Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo di Desa Bendosewu, Kecamatan&lt;br /&gt;      Talun, Kabupaten Blitar adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      1) Biaya produksi&lt;br /&gt;         a. Lahan&lt;br /&gt;            -   Tanah 123 m2                                               Rp.      123.000,-&lt;br /&gt;            -   Kolam 9 buah                                               Rp.   1.230.000,-&lt;br /&gt;            -   Perawatan kolam                                            Rp.      60.000,-&lt;br /&gt;         b. Bibit/benih&lt;br /&gt;            -   betina 40 ekor @ Rp. 12.000,-                              Rp.     480.000,-&lt;br /&gt;            -   jantan 10 ekor @ Rp. 10.000,-                              Rp.     100.000,-&lt;br /&gt;         c. Pakan&lt;br /&gt;            -   Pakan benih                                                Rp. 14.530.300,-&lt;br /&gt;            -   Pakan induk                                                Rp.   4.818.000,-&lt;br /&gt;         d. Obat-obatan                                                    Rp.      42.000,-&lt;br /&gt;         e. Peralatan&lt;br /&gt;            -   pompa air3 bh @ Rp. 110.000,-                              Rp.     330.000,-&lt;br /&gt;            -   diesel 1 bh @ Rp. 600.000,-                                Rp.     600.000,-&lt;br /&gt;            -   sikat 1.bh @.Rp. 25.000,-                                  Rp.      25.000,-&lt;br /&gt;            -   jaring 1 bh @.Rp. 150.000,-                                Rp.     150.000,-&lt;br /&gt;            -   bak 5 bh @ Rp. 3.000,-                                     Rp.      15.000,-&lt;br /&gt;            -   timba 7 bh @.Rp. 3.000,-                                   Rp.      21.000,-&lt;br /&gt;            -   alat seleksi 6 bh @.Rp. 4.000,-                            Rp.      24.000,-&lt;br /&gt;            -   ciruk 5 bh @. Rp. 1.500,-                                  Rp.        7.500,-&lt;br /&gt;            -   gayung 5 bh @. Rp.1.000,-                                  Rp.        5.000,-&lt;br /&gt;            -   selang                                                     Rp.      90.000,-&lt;br /&gt;            -   paralon                                                    Rp.      70.000,-&lt;br /&gt;            -   Perawatan alat                                             Rp.     120.000,-&lt;br /&gt;         f. Tenaga kerja                                                   Rp.     420.000,-&lt;br /&gt;         g. Lain-lain                                                      Rp.     492.000,-&lt;br /&gt;         h. Biaya tak terduga 10%                                          Rp.   2.522.800,-&lt;br /&gt;         Jumlah biaya produksi                                              Rp. 5.045.600,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pendapatan                                                        Rp.  2.220.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Keuntungan                                                        Rp.   7.174.400,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Parameter kelayakan usaha                                         25%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      5) BEP dalam unit (ekor)&lt;br /&gt;         -   ukuran 1                                                       1.138&lt;br /&gt;         -   ukuran 2                                                        325.049&lt;br /&gt;         -   ukuran 3                                                       65.010&lt;br /&gt;         -   ukuran 4                                                       6.501&lt;br /&gt;         -   ukuran 5                                                       11.377&lt;br /&gt;         -   ukuran 6                                                       260&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Budidaya       ikan   lele,  baik  dalam     bentuk    pembenihan       maupun      pembesaran&lt;br /&gt;      mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan&lt;br /&gt;      ikan   lele   semakin   meningkat.   Dengan   teknik   pemeliharaan   yang   baik,   maka&lt;br /&gt;      akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-1431909601228922310?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/1431909601228922310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/1431909601228922310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/1431909601228922310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-lele.html' title='Budidaya Lele'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-930716722732059138</id><published>2009-05-10T06:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T06:37:17.790-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Gurame</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;IKAN GURAME&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                                ( Osphronemus gouramy ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar,&lt;br /&gt;       bagian   punggung   berwarna   merahsawo   dan   bagian   perut   berwarnakekuning-&lt;br /&gt;       kuningan/keperak-perakan.   Ikan           gurame     merupakan      keluarga   Anabantidae,&lt;br /&gt;       keturunan     Helostoma       dan    bangsa    Labyrinthici.      Ikan   gurami    berasal    dari&lt;br /&gt;       perairan   daerah   Sunda   (Jawa   Barat,   Indonesia),   dan   menyebar   ke   Malaysia,&lt;br /&gt;       Thailands,     Ceylon     dan   Australia.    Pertumbuhan       ikan   gurame      agak   lambat&lt;br /&gt;       dibanding ikan air tawar jenis lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami, Gurameh, orang Sumatra                          ikan&lt;br /&gt;       kalau,    kala,   kalui,  sedangkan      di   Kalimantan     disebut    Kalui.   Orang     Inggris&lt;br /&gt;       menyebutnya         “Giant    Gouramy”,      karena     ukurannya       yang    besar     sampai&lt;br /&gt;       mencapai berat 5 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.     SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Daerah di Indonesia yang menjadi sentra perikanan yaitu: Sumatera, NTB dan&lt;br /&gt;       Jawa. Sedangkan di luar negeri yaitu: Thailand, Jepang dan Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;      Klas            :   Pisces&lt;br /&gt;      Sub Kelas       :   Teleostei&lt;br /&gt;      Ordo            :   Labyrinthici&lt;br /&gt;      Sub Ordo        :   Anabantoidae&lt;br /&gt;       Famili         :   Anabantidae&lt;br /&gt;      Genus           :   Osphronemus&lt;br /&gt;      Species         :   Osphronemus goramy (Lacepede)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Jenis    gurami    yang    sudah    dikenal   masyarakat     diantaranya:    gurami     angsa,&lt;br /&gt;      gurami jepun, blausafir, paris, bastar dan porselen. Empat terakhir banyak&lt;br /&gt;      dikembangkan di Jawa Barat, khususnya Bogor. Dibanding gurame jenis lain,&lt;br /&gt;      porselen lebih unggul dalam menghasilkan telur. Jika induk bastar dalam tiap&lt;br /&gt;      sarangnya hanya mampu menghasilkan 2000-3000 butir telur, porselen mampu&lt;br /&gt;       10.000 butir. Karena itu masyarakat menyebutnya sebagai top of the pop, dan&lt;br /&gt;      paling banyak diunggulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sebagai sumber penyediaan protein hewani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.    PERSYARATAN LOKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,&lt;br /&gt;          tidak   berporos dan   cukup mengandung  humus.  Jenis   tanah   tersebut   dapat&lt;br /&gt;          menahan      massa     air  yang   besar   dan   tidak  bocor    sehingga    dapat    dibuat&lt;br /&gt;          pematang/dinding kolam.&lt;br /&gt;      2) Kemiringan tanah   yang   baik   untuk   pembuatan   kolam   berkisar   antara   3-5%&lt;br /&gt;          untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;      3) Ikan   gurame   dapat   tumbuh   normal,   jika   lokasi   pemeliharaan   berada   pada&lt;br /&gt;          ketinggian 50-400 m dpl.&lt;br /&gt;      4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam&lt;br /&gt;          tidak   berlumpur,   tidak   terlalu   keruh   dan   tidak   tercemar   bahan-bahan   kimia&lt;br /&gt;          beracun, dan minyak/limbah pabrik.&lt;br /&gt;      5) Kolam      dengan     kedalaman      70-100     cm   dan    sistem    pengairannya      yang&lt;br /&gt;          mengalir     sangat    baik   bagi   pertumbuhan       dan   perkembangan        fisik  ikan&lt;br /&gt;          gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air&lt;br /&gt;          yang    diperkenankan      adalah    3  liter/detik,  sedangkan     untuk   pemeliharaan&lt;br /&gt;          secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.&lt;br /&gt;      6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.&lt;br /&gt;      7) Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Kolam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara&lt;br /&gt;          lain:&lt;br /&gt;          a. Kolam penyimpanan induk&lt;br /&gt;             Kolam      ini  berfungsi     untuk    menyimpan       induk    dalam     mempersiapkan&lt;br /&gt;             kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam&lt;br /&gt;             tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm&lt;br /&gt;             dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.&lt;br /&gt;          b. Kolam pemijahan&lt;br /&gt;             Kolam      berupa    kolam    tanah    yang    luasnya    200/300     meter   persegi    dan&lt;br /&gt;             kepadatan        kolam     induk    1    ekor    memerlukan        2-10    meter     persegi&lt;br /&gt;             (tergantung       dari  sistim    pemijahan).     Adapun      syarat    kolam    pemijahan&lt;br /&gt;             adalah   suhu   air   berkisar   antara   24-28   derajat   C;   kedalaman   air   75-100&lt;br /&gt;             cm;   dasar   kolam   sebaiknya   berpasir.   Tempatkan   sarana   penempel   telur&lt;br /&gt;             berupa injuk atau ranting-ranting.&lt;br /&gt;          c. Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan&lt;br /&gt;             Luas   kolam   tidak   lebih   dari   50-100   meter   persegi.   Kedalaman   air   kolam&lt;br /&gt;             antara   30-50   cm.   Kepadatan   sebaiknya   5-50   ekor/meter   persegi.   Lama&lt;br /&gt;             pemeliharaan        di  dalam    kolam     pendederan/ipukan        antara    3-4   minggu,&lt;br /&gt;             pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;          d. Kolam pembesaran&lt;br /&gt;             Kolam      pembesaran        berfungsi    sebagai     tempat    untuk    memelihara      dan&lt;br /&gt;             membesarkan  benih   selepas  dari   kolam pendederan.   Adakalanya   dalam&lt;br /&gt;             pemeliharaan ini diperlukan   beberapa  kolam   jaring  1,25–1,5  cm.   Jumlah&lt;br /&gt;             penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.&lt;br /&gt;          e. Kolam/tempat pemberokan&lt;br /&gt;             Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;          a. Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m2).&lt;br /&gt;          b. Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian&lt;br /&gt;             bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.&lt;br /&gt;          c. Pasanglah       pipa/bambu       besar   untuk    pemasukan       dan    pengeluaran      air.&lt;br /&gt;             Aturlah   tinggi   rendahnya,   agar   mudah   memasukkan   dan   mengeluarkan&lt;br /&gt;             air.&lt;br /&gt;          d. Cangkullah   tanah   dasar   kolam   induk   agar   gembur,   lalu   diratakan   lagi.&lt;br /&gt;             Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan&lt;br /&gt;             tertutup, dan  air   tidak  keluar   akibat   bocor   dari   pori-pori   itu.  Dasar   kolam&lt;br /&gt;             dibuat miring ke arah pintu keluar air.&lt;br /&gt;          e. Buatlah      saluran    ditengah-tengah        kolam     induk,   memanjang        dari   pintu&lt;br /&gt;              masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.&lt;br /&gt;          f. Keringkanlah        kolam     induk    dengan      2   karung     pupuk     kandang       yang&lt;br /&gt;             disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu,&lt;br /&gt;             agar   pupuk   hancur   dan  meresap   ke   tanah   dan   membentuk   lumut,   serta&lt;br /&gt;              menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Alat-alat    yang    biasa    digunakan      dalam     usaha    pembenihan        ikan   gurame&lt;br /&gt;          diantaranya       adalah:    jala,  waring    (anco),   hapa    (kotak    dari  jaring/kelambu&lt;br /&gt;          untuk   menampung   sementara   induk   maupun   benih),   seser,   ember-ember,&lt;br /&gt;          baskom       berbagai     ukuran,    timbangan      skala   kecil  (gram)     dan   besar    (Kg),&lt;br /&gt;          cangkul,   arit,   pisau   serta   piring   secchi   (secchi   disc)   untuk   mengukur   kadar&lt;br /&gt;          kekeruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan&lt;br /&gt;          gurame        antara     lain    adalah      warring/scoopnet        yang      halus,     ayakan&lt;br /&gt;          panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat&lt;br /&gt;          menyimpan         ikan,   keramba      kemplung,      keramba      kupyak,    fish   bus   (untuk&lt;br /&gt;          mengangkut         ikan  jarak   dekat),    kekaban     (untuk    tempat    penempelan       telur&lt;br /&gt;          yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara&lt;br /&gt;          terkontrol)      atau     kadang-kadang         untuk     penangkapan          benih,     ayakan&lt;br /&gt;          penyabetan   dari   alumunium/bambu,   oblok/delok   (untuk   pengangkut   benih),&lt;br /&gt;          sirib   (untuk   menangkap   benih   ukuran   10   cm   keatas),           anco/hanco      (untuk&lt;br /&gt;          menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),&lt;br /&gt;          scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),&lt;br /&gt;          seser   (gunanya=   scoopnet,   tetapi   ukurannya   lebih   besar),   jaring   berbentuk&lt;br /&gt;          segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemilihan Induk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;          a. Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.&lt;br /&gt;          b. Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).&lt;br /&gt;          c. Ukuran kepala relatif kecil&lt;br /&gt;          d. Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.&lt;br /&gt;          e. Gerakan normal dan lincah.&lt;br /&gt;          f. Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.&lt;br /&gt;          g. Berumur antara 2-5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Adapun   ciri-ciri   untuk   membedakan   induk   jantan   dan   induk   betina   adalah&lt;br /&gt;          sebagai berikut:&lt;br /&gt;   a. Betina&lt;br /&gt;       -   Dahi meninjol.&lt;br /&gt;       -  Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.&lt;br /&gt;       -  Dagu putih kecoklatan.&lt;br /&gt;       -  Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.&lt;br /&gt;       -  Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;   b. Jantan&lt;br /&gt;       -  Dahi menonjol.&lt;br /&gt;       -  Dasar sirip dada terang keputihan.&lt;br /&gt;       -  Dagu kuning.&lt;br /&gt;       -  Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.&lt;br /&gt;       -  Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemeliharaan Induk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m ) disimpan dalam&lt;br /&gt;   kolam      penyimpanan       induk.   Beri   makanan      selama     dalam    penampungan.&lt;br /&gt;    Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan&lt;br /&gt;   sebanyak   1/3   kg   setiap   hari   pada   sore   hari.   Makanan   tambahan   berupa&lt;br /&gt;   dedak      halus   yang    diseduh    air  panas    diberikan    2  kali  seminggu      dengan&lt;br /&gt;   takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembenihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bila    proses    pematangan       gonada     (kandung      telur  dan    sperma)     di  kolam&lt;br /&gt;   penampungan sudah mencapai puncaknya, induk segera dimasukkan dalam&lt;br /&gt;   kolam      pemijahan.     Adapun     cara   pemijjahan     ikan   gurame     adalah    sebagai&lt;br /&gt;   berikut:&lt;br /&gt;   a. Kolam   dikeringkan   terlebih   dahulu   selama   5   hari,   perbaiki   tanggul   dan&lt;br /&gt;       dasar kolam.&lt;br /&gt;   b. Lakukan pengapuran dan pemupukan. Pemupukan dasar dengan  pupuk&lt;br /&gt;       kandang dosis 7,5 kg/100 meter persegi dan biarkan selama 3 hari.&lt;br /&gt;   c. Tanami dasar kolam dengan tanaman ganggang buntut anjng&lt;br /&gt;   d. Isikan air yang telah dicampur dengan pupuk buatan TSP   sebantak 500&lt;br /&gt;       gram/100   meter   persegi,   biarkan   selama   1   minggu   kemudian   isikan   air&lt;br /&gt;       hingga kedalaman 75 cm.&lt;br /&gt;   e. Untuk   kolam   seluas   100   meter   persegi   bisa   disebar   induk   sebanyak   30&lt;br /&gt;       ekor betina dan 10 ekor jantan. Setelah pemijahan berlangsung, 1-2 hari&lt;br /&gt;       induk    betina    akan    melepaskan       telur-telurnya    ke   dalam    sarang     yang&lt;br /&gt;       kemudian  disemproti   sperma oleh   si   jantan   sehingga   terjadi   pembuahan&lt;br /&gt;       sel   telur.   20-30   hari   kemudian,   induk-induk   yang   terpelihara   baik   akan&lt;br /&gt;       berpijah lagi dan beberapa hari kemudian telur akan menetas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemeliharaan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Benih-benih yang telah berumur 1-2 bulan sejak menetas dapat dibesarkan&lt;br /&gt;         pada      kolam      pendederan       atau     disawah      sebagai     penyelang.       Dalam&lt;br /&gt;   pelaksanaan pendederan adalah melakukan pengeringan kolam atau sawah,&lt;br /&gt;          pemupukan, perbaikan pematang dan pemasangan saringan atau perbaikan&lt;br /&gt;          pipa-pipa pada pintu pemasukan atau pengeluaran air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Setelah      persiapan      selesai,    benih    ditebarkan      dengan      kepadatan       30&lt;br /&gt;          ekor/meter persegi dengan ukuran benih 5-10 cm pada kolam pendederan.&lt;br /&gt;          Makanan       yang    dapat   diberikan    selama     pemeliharaan      adalah    rayap   atau&lt;br /&gt;          daun-daunan yang telah dilunakkan dengan dosis 20-30% berat badan rata-&lt;br /&gt;          rata.   Makanan       tambahan      berupa    dedak     halus   yang    diseduh    air  panas&lt;br /&gt;          diberikan   1   kali   seminggu   dengan   takaran   1   blek   minyak   tanah   untuk   100&lt;br /&gt;          ekor benih. Lamanya pendederan sekitar 1-2 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.   Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemeliharaan         pembesaran       dapat     dilakukan     secara    polikultur    maupun&lt;br /&gt;          monokultur.&lt;br /&gt;          a) Polikultur&lt;br /&gt;             Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau&lt;br /&gt;             lele.   Cara   ini  lebih  menguntungkan         karena    pertumbuhan       ikan  gurame&lt;br /&gt;             yang cukup lambat.&lt;br /&gt;          b) Monokultur&lt;br /&gt;             Pada   pemeliharaan   gurame   tersendiri,   bibit   yang   disebar   minimal   harus&lt;br /&gt;             berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran   10-15   cm)&lt;br /&gt;             diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada&lt;br /&gt;          umumnya   pemupukan   hanya   dilakukan   1   kali   dalam   setiap   pemeliharaan,&lt;br /&gt;          dengan maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Tahap pertama pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada&lt;br /&gt;          saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk&lt;br /&gt;          tiap   100   m2  kolam,     air  disisakan    sedikit   demi    sedikit  sampai     mencapai&lt;br /&gt;          ketinggian 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pada  tahap  berikutnya   pemupukan   dilakukan  dengan   menggunakan   pupuk&lt;br /&gt;          buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100&lt;br /&gt;          m2    kolam.   Pemberian   kedua   pupuk   tersebut   ditebarkan   merata   ke   setiap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          dasar dan sudut kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun&lt;br /&gt;          di   daerah    yang    agak    sulit  memperoleh       pelet,   daun-daunan       merupakan&lt;br /&gt;          alternatif yang sangat baik untuk dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun&lt;br /&gt;          pepaya,   keladi,   ketela   pohon,   genjer,   kimpul,   kangkung,   ubi   jalar,   ketimun,&lt;br /&gt;          labu dan dadap.&lt;br /&gt;          Pemberian makanan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi&lt;br /&gt;          dapat     meningkatkan       pertumbuhan        tubuh    ikan   lebih   cepat.   Induk-induk&lt;br /&gt;          gurame      yang   sehat    dan   terjamin   makanannya        dapat   dipijahkan    dua    kali&lt;br /&gt;          setahun berturut-turut selama 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Setiap     habis     panen,     kolam     dibersihkan/kuras.       setelah     itu  dilakukan&lt;br /&gt;          pemupukan        agar    mempengaruhi        kesuburan      kolam,    sehingga     bila  benih&lt;br /&gt;          disebarkan, kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.     HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.   Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Gangguan       yang    dapat    menyebabkan         matinya    ikan   adalah     penyakit    yang&lt;br /&gt;       disebut penyakit non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Gangguan-gangguan non parasiter bisa berupa pencemaran air seperti adanya&lt;br /&gt;       gas-gas     beracun     berupa     asam    belerang     atau   amoniak;      kerusakan     akibat&lt;br /&gt;       penangkapan        atau    kelainan    tubuh    karena    keturunan.     Penanggulangannya&lt;br /&gt;       adalah   dengan   mendeteksi   keadaan   kolam   dan   perilaku            ikan-ikan   tersebut.&lt;br /&gt;       Memang        diperlukan     pengetahuan        dan     pengalaman       yang     cukup     untuk&lt;br /&gt;       mengetahuinya.        ikan-ikan    yang    sakit  biasanya     menjadi     kurus   dan    lamban&lt;br /&gt;       gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri,&lt;br /&gt;      virus,   jamur   dan   berbagai   mikroorganisme   lainnya.   Bila   ikan   terkena   penyakit&lt;br /&gt;      yang disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:&lt;br /&gt;       1) Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama&lt;br /&gt;          di bagian dada, perut dan pangkal sirip.&lt;br /&gt;       2) Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi&lt;br /&gt;          pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu&lt;br /&gt;       3) Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pencegahan  timbulnya   penyakit   ini   dapat   dilakukan   dengan   mengangkat   ikan&lt;br /&gt;       dan   melakukan   penjemuran   kolam   beberapa   hari   agar   parasit   pada   segala&lt;br /&gt;       stadium mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan&lt;br /&gt;       pinset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pengobatan       bagi   ikan-ikan    yang    sudah    cukup    memprihatikan       keadaannya,&lt;br /&gt;       dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:&lt;br /&gt;       1) Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)&lt;br /&gt;          a. Sediakan      air  sumur    atau   sumber     air  lainnya   yang   bersih   dalam    bak&lt;br /&gt;             penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.&lt;br /&gt;          b. Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.&lt;br /&gt;          c. Rendam   ikan   yang   akan   diobati   dalam       larutan   tersebut    selama   30-60&lt;br /&gt;             menit dengan diawasi terus menerus.&lt;br /&gt;          d. Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari&lt;br /&gt;             kemudian.&lt;br /&gt;      2) Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan&lt;br /&gt;          2-3,5%   selama   3   mernit.   Untuk   pembe-rantasan   parasit   di   kolam,   bahan&lt;br /&gt;          tersebut     dilarutkan    dalam    air  hingga     konsentrasi     0,1%    Neguvon       lalu&lt;br /&gt;          disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.&lt;br /&gt;      3) Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit&lt;br /&gt;          mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya: (1) siapkan wadah yang diisi air&lt;br /&gt;          bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai&lt;br /&gt;          rata; (2) ikan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat&lt;br /&gt;          ini berbahaya, lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja. (3) Setelah itu&lt;br /&gt;          segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya&lt;br /&gt;          dipindahkan kembali ke dalam kolam; (4) pengobatan ulang dapat dilakukan&lt;br /&gt;          3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.  Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Bagi    benih   gurame     musuh     yang   paling   utama    adalah    gangguan      dari  ikan&lt;br /&gt;      liar/pemangsa dan beberapa   jenis   ikan peliharaan   seperti   tawes,   gurame   dan&lt;br /&gt;      sepat. Musuh lainnya adalah biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung&lt;br /&gt;      pemangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1.  Penangkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pemanenan   benih   dapat   dilakukan   setelah   benih   berumur   1   bulan.        Caranya&lt;br /&gt;      dengan      menyurutkan      air  sedikit  demi    sedikit  sementara      saluran   air  masuk&lt;br /&gt;      diperkecil.    Pasanglah   jaring   lembut   di   pintu   pengeluaran   untuk   menampung&lt;br /&gt;      benih atau bisa juga dengan membuat parit di tengah kolam menuju ke lubang&lt;br /&gt;      pengeluaran.      Bibit yang terawat baik bisa mencapai bobot 0,3 gram/ekor pada&lt;br /&gt;      saat dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pemanenan hasil pembesaran ikan gurame sangat tersantung dari ukuran yang&lt;br /&gt;      diminta konsumen. Umumnya pemanenan dilakukan setelah ikan berumur 2-3&lt;br /&gt;      tahun, ikan yang berumur 2 tahun mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berat&lt;br /&gt;      0,3 kg/ekor, sedangkan untuk ikan yang berumur 3 tahun panjangnya sekitar 35&lt;br /&gt;      cm dan berat badan 0,7 kg/ekor. Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat&lt;br /&gt;      mencapai       40   cm    dan   berat   1.5   kg/ekor.   Adapun      cara   penangkapan:       air&lt;br /&gt;      disurutkan sedikit demi sedikit, penangkapan dilakukan pada pagi hari. Hindari&lt;br /&gt;       cara penangkapan yang dapat menyebabkan ikan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2.   Pembersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Setelah air kolam surut, benih digiring masuk ke petak kecil. Kemudian diserok&lt;br /&gt;      dan dimasukkan ke dalam keranjang panen. Biasanya waktu panen tidak hanya&lt;br /&gt;      gurame   saja   yang   tertangkap,   sehingga   sebelum   ikan   dimasukkan   ke   kolam&lt;br /&gt;       pemberokan,       harus    diseleksi   dan   dibersihkan     terlebih   dahulu.    Pembersihan&lt;br /&gt;       benih    dilakukan     selama    1  hari.  tujuannya     agar   ikan   tidak   mabuk     sewaktu&lt;br /&gt;      diangkut ke pasar. Lamanya pembersihan disesuaikan dengan besarnya benih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.     PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Penanganan ikan hidup&lt;br /&gt;          Adakalanya   ikan   konsumsi   ini akan  lebih  mahal harganya   bila dijual   dalam&lt;br /&gt;          keadaan   hidup.   Hal   yang   perlu   diperhatikan   agar   ikan   tersebut   sampai   ke&lt;br /&gt;          konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;          a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat&lt;br /&gt;             C.&lt;br /&gt;          b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;          c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Penanganan ikan segar&lt;br /&gt;          Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang&lt;br /&gt;          perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;          a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;          b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;          c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak&lt;br /&gt;             dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan&lt;br /&gt;             daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan&lt;br /&gt;             seng   atau   fiberglass.   Kapasitas   kotak   maksimum   50   kg   dengan   tinggi&lt;br /&gt;             kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.&lt;br /&gt;          Gunakan   es   berupa   potongan   kecil-kecil   (es   curai)   dengan   perbandingan&lt;br /&gt;          jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es  setebal   4-5   cm. Kemudian&lt;br /&gt;          ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm,   lalu disusul   lapisan  es&lt;br /&gt;          lagi   dan   seterusnya.   Antara   ikan   dengan   dinding   kotak   diberi   es,   demikian&lt;br /&gt;          juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sedangkan   hal-hal   yang   perlu   diperhatikan   dalam   pananganan   pascapanen&lt;br /&gt;       benih adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Benih   ikan   harus   dipilih   yang   sehat   yaitu   bebas   dari   penyakit,   parasit   dan&lt;br /&gt;   tidak    cacat.    Setelah    itu,  benih   ikan   baru    dimasukkan       ke   dalam    kantong&lt;br /&gt;    plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan&lt;br /&gt;    penyakit   serta   bahan   organik   lainya.   Sebagai   contoh   dapat   digunakan   air&lt;br /&gt;    sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sebelum   diangkut   benih   ikan   harus   diberok   dahulu   selama   beberapa   hari.&lt;br /&gt;    Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan&lt;br /&gt;    aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m&lt;br /&gt;    atau    2   m   x   0,5   m.   Dengan      ukuran     tersebut,     bak   pemberokan         dapat&lt;br /&gt;    menampung benih ikan mas sejumlah   5000–6000 ekor   dengan  ukuran   3-5&lt;br /&gt;    cm.    Jumlah     benih   dalam     pemberokan        harus    disesuaikan      dengan     ukuran&lt;br /&gt;    benihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Berdasarkan         lama/jarak     pengiriman,      sistem     pengangkutan        benih    terbagi&lt;br /&gt;    menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;    a. Sistem terbuka&lt;br /&gt;       Dilakukan       untuk     mengangkut        benih     dalam     jarak    dekat     atau    tidak&lt;br /&gt;       memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap&lt;br /&gt;       keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar&lt;br /&gt;       5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;    b. Sistem tertutup&lt;br /&gt;       Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu&lt;br /&gt;       lebih     dari   4-5    jam,   menggunakan          kantong      plastik.    Volume      media&lt;br /&gt;       pengangkutan          terdiri    dari    air   bersih     5   liter   yang     diberi    buffer&lt;br /&gt;       Na (hpo) .1H O   sebanyak   9   gram.   Cara   pengemasan   benih   ikan   yang&lt;br /&gt;           2      4     2&lt;br /&gt;       diangkut      dengan     kantong      plastik:  (1)   masukkan       air  bersih    ke   dalam&lt;br /&gt;       kantong   plastik   kemudian   benih;   (3)   hilangkan   udara   dengan   menekan&lt;br /&gt;       kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan&lt;br /&gt;       ke     kantong       plastik     sebanyak        2/3    volume       keseluruhan        rongga&lt;br /&gt;       (air:oksigen=1:2);        (4)  kantong      plastik   lalu   diikat.   (5)  kantong      plastik&lt;br /&gt;       dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos&lt;br /&gt;       yang   berukuran   panjang   0,50   m,   lebar   0,35   m,   dan   tinggi   0,50   m   dapat&lt;br /&gt;       diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa   hal   yang   perlu   diperhatikan   setelah   benih   sampai   di   tempat   tujuan&lt;br /&gt;adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       1) Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam&lt;br /&gt;          10 liter air bersih).&lt;br /&gt;       2) Buka      kantong      plastik,   tambahkan       air   bersih    yang    berasal     dari   kolam&lt;br /&gt;         setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik&lt;br /&gt;          terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;      3) Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan                      tetrasiklin selama 1-2&lt;br /&gt;           menit.&lt;br /&gt;      4) Masukan   benih   ikan   ke   dalam   bak   pemberokan.   Dalam   bak   pemberokan&lt;br /&gt;          benih    ikan   diberi   pakan    secukupnya.       Selain   itu,  dilakukan    pengobatan&lt;br /&gt;          dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat&lt;br /&gt;         juga   digunakan   obat   lain   seperti   KMNO4       sebanyak   20   ppm   atau   formalin&lt;br /&gt;          sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;      5) Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perkiraan   analisis   budidaya   ikan   gurame   untuk   6   empang   selama   1   bulan   di&lt;br /&gt;      daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      1) Biaya produksi&lt;br /&gt;         a. Sewa lahan 6 empang @ Rp. 80.000,-/bulan                          Rp.     480.000,-&lt;br /&gt;          b. Benih per empang 4000 ekor @Rp 150,-                             Rp.   3.600.000,-&lt;br /&gt;          c. Pakan&lt;br /&gt;             - Postal per empang 7 karung @ Rp 10.000,-                       Rp.     420.000,-&lt;br /&gt;             - Rambo per empang 5 karung @ Rp 2.500,-                         Rp.      75.000,-&lt;br /&gt;         d. Obat&lt;br /&gt;             - Super tetra per empang 2 tablet @ Rp 1.000,-                   Rp       12.000,-&lt;br /&gt;         e. Tenaga kerja 2 OH @ Rp 20.000,-                                   Rp.      40.000,-&lt;br /&gt;         f.  Lain-lain (pemeliharaan)                                         Rp.     460.700,-&lt;br /&gt;         Jumlah biaya produksi                                                Rp.   5.089.700,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Penerimaan per empang 4000 ekor @ Rp. 400,-                          Rp.   9.600.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Keuntungan                                                           Rp.   4.510.300,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;          B/C Rasio                                                           =  1,89&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Budidaya       ikan    gurame,     mempunyai       nilai   ekonomis      yang    sangat     tinggi.&lt;br /&gt;      disamping rasanya yang lezat dan empuk, ikan ini pun digemari banyak orang.&lt;br /&gt;      Sudah   menjadi   tradisi   dalam       setiap   kendurian,   ikan   gurame   selalu   menjadi&lt;br /&gt;      syarat utama hidangan. Disamping rasanya itu, perawatannya pun tidak terlalu&lt;br /&gt;      sulit dan tidak memakan banyak biaya, sehingga banyak petani ikan yang mulai&lt;br /&gt;      menggemari, membudidayakan ikan ini, karena harga dari setiap bibitnya yang&lt;br /&gt;      murah dapat menghasilkan keuntungan 3 kali lipat dari harga bibit. Harga dari&lt;br /&gt;      ikan gurame di pasaran sangat bervariasi tergantung dari bobot ikan tersebut.&lt;br /&gt;      Ikan   gurame   dengan   berat   1,5   kg   dapat   mencapai   harga   Rp   6.000-Rp   8.000&lt;br /&gt;      tergantung keadaan pada saat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-930716722732059138?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/930716722732059138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-gurame.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/930716722732059138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/930716722732059138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-gurame.html' title='Budidaya Gurame'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-7804732985056336870</id><published>2009-05-10T06:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T06:29:24.440-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Perikanan'/><title type='text'>Budidaya Belut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IKAN BELUT &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                                        ( Synbranchus ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.     SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Belut   merupakan   jenis  ikan   konsumsi   air   tawar   dengan   bentuk   tubuh   bulat&lt;br /&gt;       memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka&lt;br /&gt;       memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di&lt;br /&gt;       rawa-rawa/lumpur   dan   di   kali-kali   kecil.   Di   Indonesia   sejak   tahun   1979,   belut&lt;br /&gt;       mulai   dikenal   dan   digemari,   hingga   saat   ini   belut   banyak   dibudidayakan   dan&lt;br /&gt;       menjadi salah satu komoditas ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    SENTRA PERIKANAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sentra   perikanan   belut   Internasional   terpusat   di   Taiwan,   Jepang,   Hongkong,&lt;br /&gt;       Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada&lt;br /&gt;       di  daerah     Yogyakarta     dan   di  daerah    Jawa     Barat.   Di  daerah    lainnya   baru&lt;br /&gt;       merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai&lt;br /&gt;       pos penampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.     JENIS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Klasifikasi belut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       Kelas           :  Pisces&lt;br /&gt;       Subkelas        :  Teleostei&lt;br /&gt;       Ordo            :  Synbranchoidae&lt;br /&gt;       Famili           :  Synbranchidae&lt;br /&gt;       Genus            :  Synbranchus&lt;br /&gt;       Species          :  Synbranchus        bengalensis      Mc    clell  (belut  rawa);    Monopterus&lt;br /&gt;                           albus   Zuieuw   (belut   sawah);   Macrotema   caligans   Cant   (belut&lt;br /&gt;                           kali/laut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Jadi   jenis   belut   ada   3   (tiga)   macam   yaitu   belut   rawa,   belut   sawah   dan   belut&lt;br /&gt;       kali/laut.   Namun   demikian   jenis   belut   yang   sering   dijumpai   adalah   jenis   belut&lt;br /&gt;       sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.     MANFAAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Manfaat dari budidaya belut adalah:&lt;br /&gt;       1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.&lt;br /&gt;       2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;       3) Sebagai obat penambah darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.     PERSYARATAN LOKASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis&lt;br /&gt;          yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran&lt;br /&gt;          rendah   sampai   dataran   tinggi.   Begitu   pula   dengan   kelembaban   dan   curah&lt;br /&gt;          hujan tidak ada batasan yang spesifik.&lt;br /&gt;       2) Kualitas   air   untuk   pemeliharaan   belut   harus   bersih,   tidak   terlalu   keruh   dan&lt;br /&gt;          tidak    tercemar     bahan-bahan        kimia    beracun,     dan    minyak/limbah       pabrik.&lt;br /&gt;          Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.&lt;br /&gt;       3) Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara&lt;br /&gt;          25-31 derajat C.&lt;br /&gt;       4) Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan&lt;br /&gt;          osigen   terutama   untuk   bibit/benih   yang   masih   kecil   yaitu   ukuran   1-2   cm.&lt;br /&gt;          Sedangkan   untuk   perkembangan   selanjutnya   belut   dewasa   tidak   memilih&lt;br /&gt;          kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.   Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Perlu     diketahui    bahwa     jenis  kolam   budidaya      ikan   belut   harus    dibedakan&lt;br /&gt;          antara   lain:   kolam   induk/kolam   pemijahan,   kolam   pendederan   (untuk   benih&lt;br /&gt;          belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan&lt;br /&gt;          kolam      pemeliharaan       belut    konsumsi      (terbagi    menjadi     2  tahapan      yang&lt;br /&gt;          masing-masing  dibutuhkan   waktu   2   bulan)   yaitu           untuk   pemeliharaan   belut&lt;br /&gt;          ukuran   5-8   cm   sampai   menjadi   ukuran   15-20   cm   dan   untuk   pemeliharan&lt;br /&gt;          belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Bangunan         jenis-jenis     kolam     belut    secara      umum      relatif   sama      hanya&lt;br /&gt;          dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Ukuran       kolam     induk   kapasitasnya        6  ekor/m  .    Untuk     kolam    pendederan&lt;br /&gt;          (ukuran   belut   1-2   cm)   daya   tampungnya   500   ekor/m .   Untuk   kolam   belut&lt;br /&gt;          remaja   (ukuran   2-5   cm)   daya   tampungnya   250   ekor/m2.   Dan   untuk   kolam&lt;br /&gt;          belut     konsumsi      tahap    pertama      (ukuran     5-8   cm)    daya    tampungnya  100&lt;br /&gt;          ekor/m  .   Serta   kolam   belut   konsumsi   tahap   kedua   (ukuran   15-20cm)   daya&lt;br /&gt;          tampungnya 50 ekor/m  , hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran&lt;br /&gt;          3-50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       4) Pembuatan   kolam   belut   dengan   bahan   bak   dinding   tembok/disemen   dan&lt;br /&gt;          dasar bak tidak perlu diplester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       5) Peralatan   lainnya   berupa   media   dasar   kolam,   sumber   air   yang   selalu   ada,&lt;br /&gt;          alat   penangkapan   yang   diperlukan,   ember   plastik   dan   peralatan-peralatan&lt;br /&gt;          lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          6) Media       dasar     kolam     terdiri  dari   bahan-bahan         organik     seperti    pupuk&lt;br /&gt;          kandang,   sekam padi   dan   jerami   padi.   Caranya   kolam   yang   masih   kosong&lt;br /&gt;          untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun&lt;br /&gt;          dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan&lt;br /&gt;          ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan&lt;br /&gt;          organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan&lt;br /&gt;          kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik&lt;br /&gt;          +   air).   Dengan   demikian   media   dasar   kolam   sudah   selesai,   tinggal   media&lt;br /&gt;          tersebut      dibiarkan     beberapa      saat    agar    sampai     menjadi     lumpur     sawah.&lt;br /&gt;          Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2.   Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Menyiapkan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a. Anak       belut   yang    sudah     siap    dipelihara    secara     intensif    adalah    yang&lt;br /&gt;              berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan   dalam   2   tahapan   dengan&lt;br /&gt;              masing-masing tahapannya selama 2 bulan.&lt;br /&gt;              b)     Bibit   bisa   diperoleh   dari   bak/kolam   pembibitan   atau   bisa   juga   bibit&lt;br /&gt;              diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.&lt;br /&gt;          c. Pemilihan       bibit   bisa   diperoleh    dari   kolam     peternakan      atau   pemijahan.&lt;br /&gt;              Biasanya   belut   yang   dipijahkan   adalah   belut   betina   berukuran  ±  30   cm&lt;br /&gt;              dan belut jantan berukuran ± 40 cm.&lt;br /&gt;          d. Pemijahan        dilakukan     di  kolam     pemijahan      dengan      kapasitas     satu   ekor&lt;br /&gt;                                                                                                   2&lt;br /&gt;              pejantan      dengan      dua    ekor   betina    untuk    kolam     seluas     1  m .    Waktu&lt;br /&gt;              pemijahan        kira-kira    berlangsung       10    hari   baru    telur-telur    ikan    belut&lt;br /&gt;             menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut&lt;br /&gt;             berkisar     1,5–2,5     cm.   Dalam      ukuran    ini  belut   segera     diambil    untuk&lt;br /&gt;             ditempatkan       di  kolam    pendederan       calon   benih/calon     bibit.  Anak    belut&lt;br /&gt;             dengan ukuran   sedemikian tersebut diatas   segera   ditempatkan   di   kolam&lt;br /&gt;             pendederan        calon    bibit  selama    ±  1   (satu)   bulan    sampai     anak    belut&lt;br /&gt;             tersebut   berukuran   5-8   cm.   Dengan   ukuran   ini   anak   belut   sudah   bisa&lt;br /&gt;             diperlihara   dalam   kolam   belut   untuk   konsumsi   selama   dua   bulan   atau&lt;br /&gt;             empat bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Perlakuan dan Perawatan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih&lt;br /&gt;          selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin&lt;br /&gt;          agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik&lt;br /&gt;          lagi apabila di air yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3.   Pemeliharaan Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Jerami   yang   sudah   lapuk   diperlukan   untuk   membentuk   pelumpuran   yang&lt;br /&gt;          subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik&lt;br /&gt;          utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Bila   diperlukan   bisa   diberi   makanan   tambahan   berupa   cacing,   kecoa,   ulat&lt;br /&gt;          besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Pemberian Vaksinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yang   perlu   diperhatikan   pada   pemeliharaan   belut   adalah   menjaga   kolam&lt;br /&gt;          agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.     HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1.   Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu&lt;br /&gt;          kehidupan belut.&lt;br /&gt;       2) Di   alam   bebas   dan   di   kolam   terbuka,   hama   yang   sering   menyerang   belut&lt;br /&gt;          antara   lain:   berang-berang,   ular,   katak,   burung,   serangga,   musang   air   dan&lt;br /&gt;          ikan gabus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3) Di    pekarangan,       terutama     yang    ada    di  perkotaan,     hama     yang    sering&lt;br /&gt;          menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak&lt;br /&gt;          banyak diserang hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2.  Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Penyakit     yang    umum      menyerang      adalah     penyakit    yang    disebabkan      oleh&lt;br /&gt;      organisme       tingkat   rendah    seperti   virus,  bakteri,   jamur,   dan    protozoa    yang&lt;br /&gt;       berukuran kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.     PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :&lt;br /&gt;       1) Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.&lt;br /&gt;      2) Berupa      hasil   akhir  pemeliharaan       belut  yang    siap   dijual  untuk   konsumsi&lt;br /&gt;          (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Cara     Penangkapan        belut  sama     seperti    menangkap       ikan   lainnya    dengan&lt;br /&gt;       peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing&lt;br /&gt;      atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.     PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada     pemeliharaan      belut   secara   komersial     dan   dalam    jumlah    yang   besar,&lt;br /&gt;       penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar&lt;br /&gt;       belut   dapat    diterima    oleh   konsumen       dalam    kualitas   yang    baik,   sehingga&lt;br /&gt;       mempunyai jaringan pemasaran yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah  Jawa   Barat  pada&lt;br /&gt;      tahun 1999 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1) Biaya Produksi&lt;br /&gt;          a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,-              Rp.      28.000,-&lt;br /&gt;          b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,-                                   Rp.    225.000,-&lt;br /&gt;          c.  Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp.                45.000,-&lt;br /&gt;          d. Lain-lain                                                         Rp.     30.000,-&lt;br /&gt;          Jumlah Biaya Produksi                                               Rp.    328.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,-                       Rp.    750.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       3) Keuntungan                                                          Rp.    422.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4) Parameter Kelayakan Usaha                                            2,28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Budidaya      ikan  belut,   baik  dalam    bentuk    pembenihan       maupun      pembesaran&lt;br /&gt;       mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan&lt;br /&gt;       ikan   belut   semakin   meningkat.   Dengan   teknik   pemeliharaan   yang   baik,   maka&lt;br /&gt;       akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-7804732985056336870?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/7804732985056336870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-belut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/7804732985056336870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/7804732985056336870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-belut.html' title='Budidaya Belut'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-2924648309291505837</id><published>2009-05-09T05:58:00.002-07:00</published><updated>2009-05-09T06:04:24.581-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Pertanian'/><title type='text'>Budidaya Temulawak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEMULAWAK &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                         ( Curcuma xanthorrhiza ROXB. )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temulawak      merupakan     tanaman     obat  berupa    tumbuhan     rumpun    berbatang&lt;br /&gt;semu.     Di   daerah    Jawa   Barat    temulawak     disebut   sebagai   koneng    gede&lt;br /&gt;sedangkan      di  Madura    disebut  sebagai    temu   lobak.   Kawasan    Indo-Malaysia&lt;br /&gt;merupakan   tempat   dari   mana   temulawak   ini   menyebar   ke   seluruh   dunia.   Saat&lt;br /&gt;ini   tanaman   ini   selain   di   Asia   Tenggara   dapat   ditemui   pula   di   Cina,   IndoCina,&lt;br /&gt;Bardabos,     India,  Jepang,   Korea,   di  Amerika    Serikat  dan   Beberapa    negara&lt;br /&gt;Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. URAIAN TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1     Klasifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Divisi          : Spermatophyta&lt;br /&gt;Sub divisi      : Angiospermae&lt;br /&gt;Kelas           : Monocotyledonae&lt;br /&gt;Ordo            : Zingiberales&lt;br /&gt;Keluarga        : Zingiberaceae&lt;br /&gt;Genus           : Curcuma&lt;br /&gt;Spesies         : Curcuma xanthorrhiza ROXB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2      Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman       terna   berbatang    semu    dengan     tinggi  hingga    lebih   dari  1m    tetapi&lt;br /&gt;kurang     dari  2m,    berwarna    hijau   atau   coklat   gelap.  Akar    rimpang    terbentuk&lt;br /&gt;dengan      sempurna     dan    bercabang     kuat,  berwarna     hijau   gelap.   Tiap   batang&lt;br /&gt;mempunyai        daun    2 –    9   helai  dengan     bentuk    bundar    memanjang       sampai&lt;br /&gt;bangun   lanset,   warna   daun   hijau   atau   coklat   keunguan   terang   sampai   gelap,&lt;br /&gt;panjang     daun    31  –    84cm     dan   lebar   10  –    18cm,    panjang    tangkai    daun&lt;br /&gt;termasuk      helaian   43  –   80cm.    Perbungaan     lateral,  tangkai   ramping    dan   sisik&lt;br /&gt;berbentuk      garis,  panjang    tangkai   9  –   23cm    dan    lebar  4  –   6cm,    berdaun&lt;br /&gt;pelindung     banyak    yang   panjangnya     melebihi    atau  sebanding     dengan    mahkota&lt;br /&gt;bunga.   Kelopak   bunga   berwarna   putih   berbulu,   panjang   8  –   13mm,   mahkota&lt;br /&gt;bunga     berbentuk     tabung    dengan    panjang    keseluruhan     4.5cm,    helaian   bunga&lt;br /&gt;berbentuk      bundar    memanjang      berwarna     putih   dengan    ujung   yang    berwarna&lt;br /&gt;merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2cm dan lebar 1cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. MANFAAT TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di     Indonesia      satu-satunya     bagian     yang     dimanfaatkan       adalah    rimpang&lt;br /&gt;temulawak      untuk   dibuat   jamu    godog.    Rimpang    ini  mengandung       48-59,64    %&lt;br /&gt;zat   tepung,   1,6-2,2 %     kurkumin   dan   1,48-1,63   %   minyak   asiri   dan   dipercaya&lt;br /&gt;dapat     meningkatkan       kerja   ginjal   serta   anti   inflamasi.    Manfaat     lain  dari&lt;br /&gt;rimpang      tanaman      ini  adalah     sebagai    obat    jerawat,    meningkatkan       nafsu&lt;br /&gt;makan,   anti   kolesterol,   anti   inflamasi,   anemia,   anti   oksidan,   pencegah   kanker,&lt;br /&gt;dan anti mikroba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. SENTRA PENANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman        ini   ditanam      secara     konvensional      dalam     skala     kecil   tanpa&lt;br /&gt;memanfaatkan        teknik   budidaya     yang   standard,    karena    itu  sulit  menentukan&lt;br /&gt;dimana     sentra   penanaman       temulawak     di  Indonesia.   Hampir    di  setiap   daerah&lt;br /&gt;pedesaan   terutama   di   dataran   sedang   dan   tinggi,   dapat   ditemukan   temulawak&lt;br /&gt;terutama di lahan yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. SYARAT PERTUMBUHAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Secara     alami   temulawak     tumbuh     dengan     baik  di  lahan-lahan    yang   teduh&lt;br /&gt;    dan     terlindung    dari   teriknya   sinar   matahari.    Di   habitat   alami    rumpun&lt;br /&gt;    tanaman      ini  tumbuh     subur   di   bawah    naungan     pohon     bambu     atau   jati.&lt;br /&gt;    Namun       demikian     temulawak      juga   dapat    dengan     mudah      ditemukan     di&lt;br /&gt;    tempat      yang    terik   seperti   tanah    tegalan.   Secara     umum      tanaman     ini&lt;br /&gt;    memiliki     daya    adaptasi    yang   tinggi   terhadap    berbagai    cuaca    di  daerah&lt;br /&gt;    beriklim tropis.&lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;2)  Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30  C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Tanaman        ini  memerlukan       curah    hujan     tahunan     antara      1.000-4.000&lt;br /&gt;    mm/tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perakaran      temulawak     dapat    beradaptasi    dengan     baik   pada   berbagai     jenis&lt;br /&gt;tanah   baik   tanah   berkapur,   berpasir,   agak   berpasir   maupun   tanah-tanah berat&lt;br /&gt;yang     berliat.  Namun     demikian     untuk   memproduksi       rimpang    yang    optimal&lt;br /&gt;diperlukan   tanah   yang   subur,   gembur   dan   berdrainase   baik.   Dengan   demikian&lt;br /&gt;pemupukan        anorganik    dan   organik    diperlukan    untuk    memberi     unsur    hara&lt;br /&gt;yang     cukup   dan    menjaga    struktur   tanah    agar   tetap  gembur.     Tanah    yang&lt;br /&gt;mengandung        bahan     organik    diperlukan    untuk    menjaga     agar   tanah    tidak&lt;br /&gt;mudah tergenang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temulawak       dapat    tumbuh     pada    ketinggian    tempat   5-1.000     m/dpl    dengan&lt;br /&gt;ketinggian     tempat    optimum     adalah   750   m/dpl.    Kandungan     pati   tertinggi  di&lt;br /&gt;dalam     rimpang    diperoleh   pada   tanaman     yang    ditanam    pada   ketinggian    240&lt;br /&gt;m/dpl.     Temulawak      yang    ditanam    di   dataran   tinggi   menghasilkan      rimpang&lt;br /&gt;yang     hanya    mengandung        sedikit  minyak    atsiri.  Tanaman      ini  lebih  cocok&lt;br /&gt;dikembangkan di dataran sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.  PEDOMAN BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyakan         tanaman       temulawak        dilakukan     menggunakan          rimpang-&lt;br /&gt;rimpangnya      baik   berupa    rimpang    induk    (rimpang    utama)    maupun     rimpang&lt;br /&gt;anakan      (rimpang     cabang).    Keperluan     rimpang     induk    adalah      1.500-2.000&lt;br /&gt;kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;    Rimpang   untuk   bibit   diambil   dari   tanaman   tua   yang   sehat   berumur   10 -12&lt;br /&gt;    bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;    Tanaman      induk   dibongkar   dan   bersihkan    akar  dan   tanah    yang   menempel&lt;br /&gt;    pada rimpang. Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak.&lt;br /&gt;    a.  Bibit rimpang induk&lt;br /&gt;        Rimpang      induk   dibelah   menjadi    empat    bagian   yang   mengandung       2-3&lt;br /&gt;        mata   tunas   dan   dijemur   selama   3-4   jam   selama   4-6 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;        Setelah itu rimpang dapat langsung ditanam.&lt;br /&gt;    b.  Bibit rimpang anak&lt;br /&gt;        Simpan     rimpang    anak   yang   baru   diambil  di  tempat    lembab    dan   gelap&lt;br /&gt;        selama    1-2   bulan   sampai   keluar   tunas   baru.   Penyiapan   bibit   dapat   pula&lt;br /&gt;        dilakukan    dengan     menimbun      rimpang     di  dalam    tanah    pada   tempat&lt;br /&gt;        teduh,    meyiraminya      dengan    air  bersih    setiap  pagi/sore    hari   sampai&lt;br /&gt;        keluar    tunas.    Rimpang     yang     telah   bertunas    segera    dipotong-potong&lt;br /&gt;        menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam.&lt;br /&gt;    Bibit   yang   berasal   dari   rimpang   induk   lebih   baik   daripada   rimpang   anakan.&lt;br /&gt;    Sebaiknya      bibit  disiapkan    sesaat   sebelum     tanam     agar   mutu    bibit  tidak&lt;br /&gt;    berkurang akibat penyimpanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Persiapan Lahan&lt;br /&gt;    Lokasi      penanaman        dapat     berupa     lahan     tegalan,    perkebunan       atau&lt;br /&gt;    pekarangan.      Penyiapan     lahan   untuk    kebun   temulawak     sebaiknya    dilakukan&lt;br /&gt;    30 hari sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;    Lahan      dibersihkan    dari   tanaman-tanaman        lain   dan   gulma     yang    dapat&lt;br /&gt;    mengganggu         pertumbuhan        kunyit.   Lahan     dicangkul     sedalam      30   cm&lt;br /&gt;    sampai tanah menjadi gembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;    Lahan   dibuat   bedengan   selebar   120-200   cm,   tinggi   30   cm   dan   jarak   antar&lt;br /&gt;    bedengan       30-40   cm.    Selain  dalam     bentuk   bedengan,      lahan   dapat    juga&lt;br /&gt;    dibentuk       menjadi     petakan-petakan        agak     luas    yang     dikelilingi  parit&lt;br /&gt;    pemasukkan         dan    pembuangan        air,   khususnya      jika   temulawak      akan&lt;br /&gt;    ditanam di musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Pemupukan Organik (sebelum tanam)&lt;br /&gt;    Pupuk   kandang   matang   dimasukkan   ke   dalam   lubang   tanam   sebanyak   1-2&lt;br /&gt;    kg.    Keperluan    pupuk    kandang    untuk   satu   hektar   kebun    adalah   20-25   ton&lt;br /&gt;    karena pada satu hektar lahan terdapat 20.000-25.000 tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;    Penanaman        dilakukan    secara   monokultur     dan    lebih   baik   dilakukan   pada&lt;br /&gt;    awal   musim   hujan   kecuali   pada   daerah   yang   memiliki   pengairan   sepanjang&lt;br /&gt;    waktu.   Fase   awal   pertumbuhan   adalah   saat   dimana   tanaman   memerlukan&lt;br /&gt;    banyak air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pembutan Lubang Tanam&lt;br /&gt;    Lubang   tanam   dibuat   di   atas   bedengan/petakan   dengan   ukuran   lubang   30&lt;br /&gt;    x   30   cm   dengan   kedalaman   60   cm.   Jarak   antara   lubang   adalah   60   x   60&lt;br /&gt;    cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Cara Penanaman&lt;br /&gt;    Satu    bibit  dimasukkan     ke  dalam    lubang   tanam    dengan     posisi mata tunas&lt;br /&gt;    menghadap   ke   atas.   Setelah   itu   bibit   ditimbun   dengan   tanah   sedalam   10&lt;br /&gt;    cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Perioda Tanam&lt;br /&gt;    Masa   tanam   temulawak   yaitu   pada   awal   musim   hujan   untuk   masa   panen&lt;br /&gt;    musim     kemarau     mendatang.     Penanaman      pada   di  awal   musim    hujan   ini&lt;br /&gt;    memungkinkan        untuk   suplai  air  yang    cukup    bagi  tanaman     muda     yang&lt;br /&gt;    memang sangat membutuhkan air di awal pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penyulaman&lt;br /&gt;    Tanaman      yang   rusak/mati    diganti  oleh  bibit  yang   sehat  yang   merupakan&lt;br /&gt;    bibit cadangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Penyiangan&lt;br /&gt;    Penyiangan      rumput    liar  dilakukan   pagi/sore   hari   yang   tumbuh     di  atas&lt;br /&gt;    bedengan      atau   petak   bertujuan    untuk   menghindari     persaingan    makanan&lt;br /&gt;    dan    air.  Peyiangan    pertama    dan   kedua   dilakukan   pada    dua   dan   empat&lt;br /&gt;    bulan     setelah    tanam      (bersamaan      dengan     pemupukan).       Selanjutnya&lt;br /&gt;    penyiangan      dapat   dilakukan   segera    setelah   rumput    liar  tumbuh.    Untuk&lt;br /&gt;    mencegah        kerusakan      akar,    rumput     liar   disiangi   dengan      bantuan&lt;br /&gt;    kored/cangkul dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Pembubunan&lt;br /&gt;    Kegiatan      pembubunan        perlu    dilakukan     pada     pertanaman      rimpang-&lt;br /&gt;    rimpangan      untuk   memberikan      media    tumbuh    rimpang    yang   cukup    baik.&lt;br /&gt;    Pembubunan       dilakukan   dengan    menimbun      kembali   area  perakaran    dengan&lt;br /&gt;    tanah    yang   jatuh  terbawa    air.  Pembubunan     dilakukan   secara  rutin  setelah&lt;br /&gt;    dilakukan penyiangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    a.  Pemupukan Organik&lt;br /&gt;        Pada      pertanian    organic    yang     tidak   menggunakan        bahan     kimia&lt;br /&gt;        termasuk     pupuk    buatan    dan    obat-obatan,    maka    pemupukan       secara&lt;br /&gt;        organic   yaitu   dengan   menggunakan   pupuk   kompos   organic   atau   pupuk&lt;br /&gt;        kandang      dilakukan   lebih   sering   disbanding    kalau   kita   menggunakan&lt;br /&gt;        pupuk     buatan.   Adapun    pemberian    pupuk    kompos    organic  ini  dilakukan&lt;br /&gt;        pada    awal   pertanaman     pada    saat  pembuatan     guludan    sebagai   pupuk&lt;br /&gt;        dasar    sebanyak    60  –   80   ton  per   hektar  yang   ditebar   dan   dicampur&lt;br /&gt;        tanah   olahan.   Untuk   menghemat   pemakaian   pupuk   kompos   dapat   juga&lt;br /&gt;        dilakukan     dengan     jalan   mengisi     tiap-tiap  lobang    tanam     di   awal&lt;br /&gt;        pertanaman        sebanyak     0.5  –     1kg    per   tanaman.      Pupuk    sisipan&lt;br /&gt;        selanjutnya  dilakukan  pada  umur  2  – 3 bulan, 4  –   6  bulan,  dan  8  – 10&lt;br /&gt;        bulan.   Adapun   dosis   pupuk   sisipan   sebanyak   2  –   3   kg   per   tanaman.&lt;br /&gt;        Pemberian      pupuk     kompos     ini  biasanya     dilakukan   setelah   kegiatan&lt;br /&gt;        penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    b.  Pemupukan Konvensional&lt;br /&gt;             Pupuk   dasar   yang   diberikan   saat   tanam   adalah   SP-36 sebanyak 100&lt;br /&gt;             kg/ha   yang   disebar   di   dalam   larikan   sedalam   5   cm   di   antara   barisan&lt;br /&gt;             tanaman      atau   dimasukkan     ke   dalam    lubang    sedalam    5   cm   pada&lt;br /&gt;            jarak    10   cm    dari  bibit  yang    baru   ditanam.    Larikan    atau   lubang&lt;br /&gt;             pupuk     kemudian     ditutup   dengan    tanah.   Sesaat    setelah  pemupukan&lt;br /&gt;             tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     Pada    waktu    berumur     dua   bulan,   tanaman     dipupuk    dengan     pupuk&lt;br /&gt;             kandang   sebanyak   0,5   kg/tanaman   (10-12,5   ton/ha),   95   kg/ha   urea&lt;br /&gt;             dan    85    kg/ha    KCl.  Pupuk     diberikan   kembali     pada    waktu    umur&lt;br /&gt;             tanaman   mencapai   empat   bulan   berupa   urea   dan   KCl   dengan   dosis&lt;br /&gt;             masing-masing       40   kg/ha.   Pupuk    diberikan    dengan    cara   disebarkan&lt;br /&gt;             merata     di  dalam    larikan   pada   jarak   20   cm    dari  pangkal    batang&lt;br /&gt;             tanaman lalu ditutup dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)  Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;    Pengairan      dilakukan     secara   rutin   pada     pagi/sore    hari   ketika   tanaman&lt;br /&gt;    masih      berada     pada     masa     pertumbuhan       awal.    Pengairan     selanjutnya&lt;br /&gt;    ditentukan     oleh   kondisi   tanah   dan   iklim.  Biasanya    penyiraman     akan    lebih&lt;br /&gt;    banyak      dilakukan    pada    musim      kemarau.     Untuk    menjaga     pertumbuhan&lt;br /&gt;    tetap baik, tanah tidak boleh berada dalam keadaan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)  Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;    Penyemprotan        pestisida   dilakukan   jika  telah  timbul   gejala   serangan    hama&lt;br /&gt;    penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7)  Pemulsaan&lt;br /&gt;    Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk&lt;br /&gt;    menghindari       kekeringan     tanah,   kerusakan     struktur   tanah    (menjadi    tidak&lt;br /&gt;    gembur/padat)         dan    mencegah        tumbuhnya       gulma     secara    berlebihan.&lt;br /&gt;    Jerami     dihamparkan     merata    menutupi     permukaan      tanah   di  antara   lubang&lt;br /&gt;    tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama temulawak adalah:&lt;br /&gt;1)  Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp.),&lt;br /&gt;2)  Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) dan&lt;br /&gt;3)  Lalat rimpang (Mimegrala coerulenfrons Macquart).&lt;br /&gt;Pengendalian:&lt;br /&gt;penyemprotan        insektisida    Kiltop   500     EC    atau    Dimilin   25    WP     dengan&lt;br /&gt;konsentrasi 0.1-0.2 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Jamur Fusarium&lt;br /&gt;    Penyebab:&lt;br /&gt;    F.   oxysporum    Schlecht    dan  Phytium   sp.   serta  bakteri  Pseudomonas     sp.&lt;br /&gt;    Berpotensi    untuk    menyerang     perakaran   dan   rimpang    temulawak     baik  di&lt;br /&gt;    kebun atau setelah panen.&lt;br /&gt;    Gejala:&lt;br /&gt;    Fusarium      menyebabakan       busuk    akar    rimpang     dengan     gejala   daum&lt;br /&gt;    menguning,      layu,   pucuk   mengering     dan   tanaman     mati.   Akar   rimpang&lt;br /&gt;    menjadi     keriput   dan   berwarna   kehitam-hitaman       dan   bagian    tengahnya&lt;br /&gt;    membusuk.        Jamur    Phytium    menyebabkan        daun    menguning,     pangkal&lt;br /&gt;    batang    dan   rimpang    busuk,   berubah   warna    menjadi   coklat  dan   akhirnya&lt;br /&gt;    keseluruhan tanaman menjadi busuk.&lt;br /&gt;    Pengendalian:&lt;br /&gt;    melakukan       pergiliran   tanaman     yaitu   setelah   panen     tidak   menanam&lt;br /&gt;    tanaman     yang   berasal   dari  keluarga   Zingiberaceae.   Fungisida   yang   dapat&lt;br /&gt;    dipakai    adalah   Dimazeb     80   WP    atau   Dithane   M-45     80   WP    dengan&lt;br /&gt;    konsentrasi 0.1 - 0.2 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Penyakit layu&lt;br /&gt;    Penyebab:&lt;br /&gt;    Pseudomonas sp.&lt;br /&gt;    Gejala:&lt;br /&gt;    kelayuan     daun   bagian   bawah    yang   diawali  menguningnya      daun,   pangkal&lt;br /&gt;    batang     basah   dan    rimpang    yang   dipotong    mengeluarkan     lendir  seperti&lt;br /&gt;    getah.&lt;br /&gt;    Pengendalian:&lt;br /&gt;    dengan     pergiliran  tanaman    dan  penyemprotan      Agrimycin   15/1.5   WP   atau&lt;br /&gt;    grept 20 WP dengan konsentrasi 0.1 -0.2%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3. Gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulma     potensial  pada    pertanaman    temu    lawak   adalah   gulma   kebun    antara&lt;br /&gt;lain   adalah   rumput    teki,  alang-alang,   ageratum,    dan   gulma    berdaun    lebar&lt;br /&gt;lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam      pertanian    organik    yang    tidak   menggunakan       bahan-bahan      kimia&lt;br /&gt;berbahaya     melainkan    dengan    bahan-bahan     yang   ramah    lingkungan    biasanya&lt;br /&gt;dilakukan    secara  terpadu   sejak  awal   pertanaman    untuk   menghindari    serangan&lt;br /&gt;hama     dan   penyakit   tersebut  yang   dikenal  dengan    PHT    (Pengendalian   Hama&lt;br /&gt;Terpadu) yang komponennya adalah sbb:&lt;br /&gt;1)  Mengusahakan        pertumbuhan      tanaman     yang    sehat   yaitu   memilih   bibit&lt;br /&gt;    unggul    yang   sehat   bebas   dari  hama    dan   penyakit  serta   tahan  terhadap&lt;br /&gt;    serangan hama dari sejak awal pertanaman&lt;br /&gt;2)  Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami&lt;br /&gt;3)  Menggunakan        varietas-varietas   unggul     yang    tahan    terhadap     serangan&lt;br /&gt;    hama dan penyakit.&lt;br /&gt;4)  Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.&lt;br /&gt;5)  Menggunakan         teknik-teknik    budidaya     yang     baik    misalnya     budidaya&lt;br /&gt;    tumpang      sari  dengan    pemilihan    tanaman    yang    saling  menunjang,     serta&lt;br /&gt;    rotasi   tanaman     pada    setiap  masa     tanamnya     untuk   memutuskan       siklus&lt;br /&gt;    penyebaran hama dan penyakit potensial.&lt;br /&gt;6)  Penggunaan       pestisida,  insektisida,  herbisida  alami   yang   ramah    lingkungan&lt;br /&gt;    dan     tidak  menimbulkan      residu   toksik  baik   pada    bahan    tanaman     yang&lt;br /&gt;    dipanen     ma    maupun     pada   tanah.   Disamping    itu  penggunaan      bahan    ini&lt;br /&gt;    hanya     dalam   keadaan    darurat   berdasarkan    aras   kerusakan   ekonomi     yang&lt;br /&gt;    diperoleh dari hasil pengamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa      tanaman     yang   dapat    dimanfaatkan     sebagai   pestisida   nabati   dan&lt;br /&gt;digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:&lt;br /&gt;1)  Tembakau        (Nicotiana     tabacum)       yang     mengandung       nikotin     untuk&lt;br /&gt;    insektisida    kontak    sebagai    fumigan     atau   racun    perut.   Aplikasi   untuk&lt;br /&gt;    serangga kecil misalnya Aphids.&lt;br /&gt;2)  Piretrum     (Chrysanthemum         cinerariaefolium)    yang    mengandung       piretrin&lt;br /&gt;    yang     dapat  digunakan     sebagai   insektisida  sistemik   yang   menyerang     urat&lt;br /&gt;    syaraf    pusat  yang    aplikasinya  dengan    semprotan.     Aplikasi  pada   serangga&lt;br /&gt;    seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.&lt;br /&gt;3)  Tuba    (Derris   elliptica   dan Derris   malaccensis)  yang   mengandung     rotenone&lt;br /&gt;    untuk   insektisida   kontak   yang   diformulasikan   dalam   bentuk   hembusan   dan&lt;br /&gt;    semprotan.&lt;br /&gt;4)  Neem       tree    atau     mimba     (Azadirachta      indica)   yang     mengandung&lt;br /&gt;    azadirachtin    yang    bekerjanya    cukup   selektif.  Aplikasi  racun   ini  terutama&lt;br /&gt;    pada    serangga    penghisap    seperti  wereng   dan   serangga   pengunyah   seperti&lt;br /&gt;    hama     penggulung     daun  (Cnaphalocrocis     medinalis).   Bahan   ini  juga  efektif&lt;br /&gt;    untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.&lt;br /&gt;5)  Bengkuang     (Pachyrrhizus     erosus)   yang   bijinya  mengandung     rotenoid   yaitu&lt;br /&gt;    pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.&lt;br /&gt;6)  Jeringau    (Acorus     calamus)     yang    rimpangnya      mengandung       komponen&lt;br /&gt;    utama     asaron     dan    biasanya     digunakan     untuk    racun    serangga    dan&lt;br /&gt;    pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.  PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rimpang      dipanen    dari  tanaman    yang    telah  berumur    9-10    bulan.  Tanaman&lt;br /&gt;yang     siap   panen     memiliki   daun-daun     dan    bagian    tanaman     yang    telah&lt;br /&gt;menguning       dan   mengering,     memiliki   rimpang    besar   dan    berwarna     kuning&lt;br /&gt;kecoklatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah      disekitar   rumpun     digali    dan    rumpun      diangkat    bersama      akar   dan&lt;br /&gt;rimpangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen     dilakukan    pada    akhir   masa    pertumbuhan      tanaman      yaitu  pada    musim&lt;br /&gt;kemarau.      Saat    panen    biasanya     ditandai   dengan     mengeringnya       bagian    atas&lt;br /&gt;tanah.    Namun      demikian    apabila   tidak  sempat     dipanen    pada   musim     kemarau&lt;br /&gt;tahun      pertama      ini   sebaiknya      dilakukan     pada     musim      kemarau       tahun&lt;br /&gt;berikutnya.     Pemanenan       pada    musim     hujan    menyebabkan       rusaknya     rimpang&lt;br /&gt;dan   menurunkan   kualitas   rimpang   sehubungan   dengan   rendahnya   bahan   aktif&lt;br /&gt;karena lebih banyak kadar airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Perkiraan Hasil Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman       yang    sehat   dan   terpelihara    menghasilkan     rimpang     segar   sebanyak&lt;br /&gt;10-20 ton/hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.  PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.1.  Penyortiran Basah dan Pencucian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sortasi    pada   bahan    segar    dilakukan   untuk    memisahkan      rimpang     dari  kotoran&lt;br /&gt;berupa      tanah,    sisa  tanaman,     dan    gulma.    Setelah    selesai,   timbang     jumlah&lt;br /&gt;bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian.&lt;br /&gt;Pencucian      dilakukan     dengan     air   bersih,   jika   perlu   disemprot     dengan      air&lt;br /&gt;bertekanan      tinggi.  Amati    air  bilasannya   dan    jika  masih   terlihat  kotor   lakukan&lt;br /&gt;pembilasan   sekali   atau   dua   kali   lagi.   Hindari   pencucian   yang   terlalu   lama   agar&lt;br /&gt;kualitas    dan   senyawa      aktif  yang   terkandung      didalam    tidak  larut   dalam    air.&lt;br /&gt;Pemakaian       air   sungai    harus    dihindari   karena    dikhawatirkan      telah   tercemar&lt;br /&gt;kotoran     dan   banyak     mengandung       bakteri/penyakit.    Setelah    pencucian    selesai,&lt;br /&gt;tiriskan   dalam     tray/wadah     yang    belubang-lubang       agar   sisa   air  cucian   yang&lt;br /&gt;tertinggal      dapat      dipisahkan,      setelah      itu    tempatkan       dalam       wadah&lt;br /&gt;plastik/ember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2.  Perajangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika   perlu   proses   perajangan,     lakukan    dengan    pisau   stainless   steel  dan   alasi&lt;br /&gt;bahan      yang    akan    dirajang    dengan     talenan.   Perajangan      rimpang     dilakukan&lt;br /&gt;melintang      dengan    ketebalan    kira-kira   5  mm    –    7  mm.     Setelah   perajangan,&lt;br /&gt;timbang      hasilnya   dan    taruh    dalam    wadah     plastik/ember.    Perajangan      dapat&lt;br /&gt;dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3.  Pengeringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeringan       dapat    dilakukan    dengan     2   cara,   yaitu   dengan     sinar  matahari&lt;br /&gt;atau    alat  pemanas/oven.       pengeringan     rimpang     dilakukan    selama    3 -   5   hari,&lt;br /&gt;atau    setelah   kadar    airnya   dibawah     8%.    pengeringan     dengan     sinar  matahari&lt;br /&gt;dilakukan     diatas   tikar  atau   rangka    pengering,    pastikan    rimpang     tidak  saling&lt;br /&gt;menumpuk.         Selama    pengeringan      harus    dibolak-balik   kira-kira  setiap    4   jam&lt;br /&gt;sekali    agar   pengeringan      merata.    Lindungi    rimpang    tersebut    dari  air,  udara&lt;br /&gt;yang    lembab     dan   dari  bahan-bahan      disekitarnya    yang   bisa   mengkontaminasi.&lt;br /&gt;                                                                 o         o&lt;br /&gt;Pengeringan   di   dalam   oven   dilakukan   pada   suhu   50 C  -   60 C.   Rimpang   yang&lt;br /&gt;akan   dikeringkan   ditaruh   di   atas   tray   oven   dan   pastikan   bahwa   rimpang   tidak&lt;br /&gt;saling     menumpuk.        Setelah   pengeringan,       timbang      jumlah     rimpang     yang&lt;br /&gt;dihasilkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. Penyortiran Kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya     lakukan    sortasi  kering  pada    bahan    yang   telah  dikeringkan    dengan&lt;br /&gt;cara    memisahkan       bahan-bahan       dari  benda-benda      asing   seperti  kerikil,  tanah&lt;br /&gt;atau     kotoran-kotoran       lain.  Timbang      jumlah    rimpang     hasil   penyortiran    ini&lt;br /&gt;(untuk menghitung rendemennya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.5. Pengemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah     bersih,   rimpang     yang     kering   dikumpulkan       dalam    wadah     kantong&lt;br /&gt;plastik    atau   karung    yang    bersih   dan    kedap    udara    (belum     pernah    dipakai&lt;br /&gt;sebelumnya).        Berikan     label    yang     jelas    pada     wadah      tersebut,     yang&lt;br /&gt;menjelaskan       nama      bahan,    bagian     dari   tanaman     bahan     itu,   nomor/kode&lt;br /&gt;produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.6.  Penyimpanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi   gudang   harus   dijaga   agar   tidak   lembab   dan   suhu   tidak   melebihi  30 C&lt;br /&gt;dan    gudang     harus    memiliki   ventilasi  baik   dan   lancar,   tidak  bocor,   terhindar&lt;br /&gt;dari     kontaminasi      bahan     lain    yang     menurunkan        kualitas    bahan     yang&lt;br /&gt;bersangkutan,       memiliki   penerangan      yang    cukup    (hindari   dari  sinar   matahari&lt;br /&gt;langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan   analisis   budidaya   kunyit   seluas   1000   m2   yang   dilakukan   pada   tahun&lt;br /&gt;2000 di daerah Sumedang Jawa Barat.&lt;br /&gt;1) Biaya produksi&lt;br /&gt;         a.  Sewa lahan 1 musim tanam                                       Rp.  100.000,-&lt;br /&gt;         b.  Bibit 250 kg @ Rp. 700,-                                       Rp. 175.000,-&lt;br /&gt;         c.  Pupuk&lt;br /&gt;         d.  Pupuk kandang 1.000 kg @ Rp. 100,-                             Rp.  100.000,-&lt;br /&gt;                 - Pupuk buatan: Urea 13.5 kg @ Rp. 1.200,-                 Rp.     16.200,-&lt;br /&gt;                 - SP-36 10 kg @ Rp. 1700,-                                 Rp.     17.000,-&lt;br /&gt;                 -  KCl 12.5 kg @ Rp. 1700,-                                Rp.     21.250,-&lt;br /&gt;         e.  Pestisida                                                      Rp.      7.000,-&lt;br /&gt;        f.   Alat                                                           Rp.     20.000,-&lt;br /&gt;        g.  Tenaga kerja                                                 Rp.  112.000,-&lt;br /&gt;        h.   Panen dan pasca panen                                       Rp.    42.000,-&lt;br /&gt;        i.   Lain-lain (Pajak 15%)                                       Rp.     91.567,-&lt;br /&gt;        Jumlah biaya produksi                                            Rp.   702.017,-&lt;br /&gt;2) Pendapatan 2.000 kg @ Rp. 500,-                                       Rp.1.000.000,-&lt;br /&gt;3) Keuntungan                                                            Rp.   297.983,-&lt;br /&gt;4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;        a.   Rasio output/input = 1,42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temulawak       merupakan      tanaman      obat   yang    secara   alami    sangat    mudah&lt;br /&gt;tumbuh      di  Indonesia    dan   telah  lama    digunakan    sebagai   bahan    pembuatan&lt;br /&gt;jamu.     Setiap   produsen     jamu    baik   skala   kecil  atau    skala   industri  selalu&lt;br /&gt;memasukkan        temulawak      ke   dalam    racikan    jamunya.    Rimpang      temulawak&lt;br /&gt;yang dikeringkan juga sudah merupakan komoditi perdagangan antar negara.&lt;br /&gt;Indonesia      dengan     dukungan     kondisi   iklim   dan    tanahnya     dapat    menjadi&lt;br /&gt;produsen      dan    sekaligus   pengekspor     utama     rimpang    temu     lawak   dengan&lt;br /&gt;syarat     produks    dan    kualitas   rimpang    yang    dihasilkan    memenuhi      syarat.&lt;br /&gt;Kuantitas    dan   kualitas   ini  dapat  ditingkatkan   dengan    mengubah      pola   tanam&lt;br /&gt;temulawak       dari    tradisional   ke   “modern”      yang    mengikuti     tata   laksana&lt;br /&gt;penanaman         yang    sudah     teruji.   Selama     periode     1985-1989      Indonesia&lt;br /&gt;mengekspor       temulawak     sebanyak     36.602    kg  senilai  US    $  21.157,2    setiap&lt;br /&gt;tahun. Negara pengekspor lainnya adalah Cina, Indo Cina dan Bardabos.&lt;br /&gt;Untuk     dapat   meningkatkan      ekspor   temulawak     diperlukan    sosialisasi  tanaman&lt;br /&gt;temulawak      kepada    masyarakat     petani   dan   sekaligus   memasyarakatkan        cara&lt;br /&gt;budidaya temu lawak yang benar dalam skala yang lebih besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-2924648309291505837?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/2924648309291505837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-temulawak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/2924648309291505837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/2924648309291505837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-temulawak.html' title='Budidaya Temulawak'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-1590585697943535038</id><published>2009-05-09T05:35:00.004-07:00</published><updated>2009-05-09T05:57:20.003-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Pertanian'/><title type='text'>Budidaya Kunyit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                                     &lt;span style="font-size:180%;"&gt;KUNYIT &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                         ( Curcuma domesticaVal. ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyit    merupakan     tanaman       obat   berupa     semak    dan    bersifat  tahunan&lt;br /&gt;(perenial)   yang   tersebar   di  seluruh  daerah    tropis.  Tanaman    kunyit   tumbuh&lt;br /&gt;subur    dan   liar  disekitar  hutan/bekas   kebun.   Diperkirakan   berasal  dari  Binar&lt;br /&gt;pada    ketinggian  1300-1600   m   dpl,   ada   juga   yang   mengatakan   bahwa   kunyit&lt;br /&gt;berasal    dari  India.  Kata  Curcuma     berasal    dari  bahasa   Arab   Kurkum     dan&lt;br /&gt;Yunani    Karkom.    Pada    tahun   77-78   SM,   Dioscorides   menyebut    tanaman     ini&lt;br /&gt;sebagai     Cyperus   menyerupai     jahe,   tetapi  pahit,  kelat,  dan   sedikit  pedas,&lt;br /&gt;tetapi   tidak   beracun.   Tanaman     ini  banyak    dibudidayakan    di  Asia   Selatan&lt;br /&gt;khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. URAIAN TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1     Klasifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Divisio         : Spermatophyta&lt;br /&gt;Sub-diviso       : Angiospermae&lt;br /&gt;Kelas            : Monocotyledoneae&lt;br /&gt;Ordo             : Zingiberales&lt;br /&gt;Famili           : Zungiberaceae&lt;br /&gt;Genus            : Curcuma&lt;br /&gt;Species          : Curcuma domestica Val.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2      Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman        kunyit   tumbuh      bercabang     dengan      tinggi   40-100     cm.    Batang&lt;br /&gt;merupakan       batang    semu,    tegak,   bulat,   membentuk      rimpang     dengan    warna&lt;br /&gt;hijau   kekuningan   dan   tersusun   dari   pelepah   daun   (agak   lunak).   Daun   tunggal,&lt;br /&gt;bentuk   bulat   telur   (lanset)   memanjang   hingga   10-40   cm,   lebar  8-12,5   cm   dan&lt;br /&gt;pertulangan      menyirip    dengan    warna     hijau  pucat.   Berbunga      majemuk     yang&lt;br /&gt;berambut      dan    bersisik  dari  pucuk   batang    semu,    panjang    10-15   cm   dengan&lt;br /&gt;mahkota      sekitar  3  cm    dan   lebar  1,5   cm,   berwarna    putih/kekuningan.     Ujung&lt;br /&gt;dan   pangkal   daun   runcing,   tepi   daun   yang   rata.   Kulit   luar   rimpang   berwarna&lt;br /&gt;jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3     Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis  Curcuma domestica  Val,  C.   domestica  Rumph, C. longa  Auct, u  C. longa&lt;br /&gt;Linn,   Amomum         curcuma     Murs.     Ini  merupakan      jenis   kunyit   yang    paling&lt;br /&gt;terkenal dari jenis kunyit lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. MANFAAT TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di    daerah    Jawa,    kunyit    banyak    digunakan     sebagai    ramuan     jamu    karena&lt;br /&gt;berkhasiat       menyejukkan,        membersihkan,        mengeringkan,        menghilangkan&lt;br /&gt;gatal,   dan   menyembuhkan   kesemutan.   Manfaat   utama   tanaman   kunyit,   yaitu:&lt;br /&gt;sebagai     bahan     obat   tradisional,  bahan     baku    industri  jamu    dan    kosmetik,&lt;br /&gt;bahan     bumbu     masak,    peternakan     dll. Disamping   itu   rimpang   tanaman   kunyit&lt;br /&gt;itu    juga   bermanfaat      sebagai    anti   inflamasi,   anti   oksidan,    anti   mikroba,&lt;br /&gt;pencegah       kanker,   anti   tumor,    dan    menurunkan       kadar   lemak     darah   dan&lt;br /&gt;kolesterol, serta sebagai pembersih darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di    Indonesia,    sentra   penanaman      kunyit   di  Jawa    Tengah,     dengan    produksi&lt;br /&gt;mencapai      12.323    kg/ha.   Di  India,  Srilanka,  Cina,   Haiti,  dan  Jamaika    dengan&lt;br /&gt;produksi mencapai &gt; 15 ton/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. SYARAT PERTUMBUHAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Tanaman   kunyit   dapat   tumbuh   baik   pada   daerah   yang   memiliki   intensitas&lt;br /&gt;   cahaya   penuh   atau   sedang,   sehingga   tanaman   ini   sangat   baik   hidup   pada&lt;br /&gt;   tempat-tempat terbuka atau sedikit naungan.&lt;br /&gt;b.   Pertumbuhan        terbaik    dicapai   pada     daerah     yang    memiliki    curah    hujan&lt;br /&gt;    1000-4000       mm/tahun.      Bila   ditanam      di  daerah     curah     hujan    &lt;&gt;   2000   m   dpl).   Produksi   optimal   +   12   ton/ha   dicapai   pada   ketinggian&lt;br /&gt;45 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.  PEDOMAN BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;    Bibit   kunyit    yang    baik   berasal    dari   pemecahan       rimpang,     karena    lebih&lt;br /&gt;    mudah      tumbuh.      Syarat   bibit   yang    baik   :   berasal   dari   tanaman      yang&lt;br /&gt;   tumbuh      subur,    segar,   sehat,   berdaun    banyak     dan   hijau,  kokoh,    terhindar&lt;br /&gt;   dari     serangan     penyakit;     cukup    umur/berasal       dari   rimpang     yang    telah&lt;br /&gt;    berumur      &gt;   7-12    bulan;    bentuk,    ukuran,    dan    warna    seragam;     memiliki&lt;br /&gt;    kadar    air  cukup;    benih   telah  mengalami      masa    istirahat  (dormansi)     cukup;&lt;br /&gt;   terhindar dari bahan asing (biji tanaman lain, kulit, kerikil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;    Rimpang      bahan    bibit   dipotong    agar   diperoleh    ukuran    dan    dengan     berat&lt;br /&gt;   yang        seragam        serta      untuk      memperkirakan           banyaknya         mata&lt;br /&gt;   tunas/rimpang.        Bekas    potongan      ditutup   dengan      abu    dapur/sekam      atau&lt;br /&gt;    merendam       rimpang     yang    dipotong    dengan    larutan    fungisida   (benlate   dan&lt;br /&gt;   agrymicin)      guna    menghindari      tumbuhnya      jamur.    Tiap   potongan      rimpang&lt;br /&gt;    maksimum   memiliki   1-3   mata   tunas,   dengan   berat   antara   20-30   gram   dan&lt;br /&gt;    panjang 3-7 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;    Pertumbuhan         tunas    rimpang      kunyit    dapat     dirangsang      dengan      cara:&lt;br /&gt;    mengangin-anginkan         rimpang    di  tempat    teduh    atau   lembab     selama    1-1,5&lt;br /&gt;    bulan,   dengan   penyiraman   2   kali   sehari   (pagi   dan   sore   hari).   Bibit   tumbuh&lt;br /&gt;    baik   bila   disimpan   dalam   suhu   kamar   (25-28  oC).   Selain   itu   menempatkan&lt;br /&gt;    rimpang   diantara   jerami   pada   suhu   udara   sekitar   25-28  oC. dan merendam&lt;br /&gt;    bibit  pada    larutan   ZPT    (zat  pengatur     tumbuh)     selama    3  jam.    ZPT   yang&lt;br /&gt;   sering   digunakan   adalah   larutan   atonik   (1   cc/1,5   liter   air)   dan   larutan  G-3&lt;br /&gt;    (500-700      ppm).     Rimpang       yang     akan     direndam      larutan    ZPT     harus&lt;br /&gt;   dikeringkan   dahulu   selama   42   jam   pada   suhu   udara   35     oC.   Jumlah   anakan&lt;br /&gt;   atau     berat    rimpang      dapat    ditingkatkan     dengan      jalan   direndam      pada&lt;br /&gt;    larutan pakloburazol sebanyak 250 ppm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)   Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;    Bibit   yang   telah   siap  lalu  ditempatkan      pada    persemaian,     dimana    rimpang&lt;br /&gt;   akan    muncul      tunas    telah   tanaman      berumur    1-1,5    bulan.    Setelah   tunas&lt;br /&gt;   tumbuh   2-3   cm   maka   rimpang   sudah   dapat   ditanam   di   lahan.   Pemindahan&lt;br /&gt;    bibit    yang     telah    bertunas      harus     dilakukan      secara     hati-hati    guna&lt;br /&gt;    menghindari       agar    tunas     yang     telah   tumbuh       tidak   rusak.    Bila    ada&lt;br /&gt;   tunas/akar      bibit  yang   saling  terkait   maka   akar   tersebut   dipisahkan   dengan&lt;br /&gt;    hati-hati   lalu   letakkan    bibit   dalam     wadah     tertentu    untuk    memudahkan&lt;br /&gt;    pengangkutan       bibit  ke   lokasi   lahan.   Jika  jarak   antara    tempat    pembibitan&lt;br /&gt;   dengan      lahan    jauh   maka     bibit  perlu    dilindungi   agar   tetap    lembab    dan&lt;br /&gt;   segar      ketika    tiba   di   lokasi.   Selama     pengangkutan,        bibit  yang     telah&lt;br /&gt;    bertunas jangan ditumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Persiapan Lahan&lt;br /&gt;    Lokasi     penanaman         dapat     berupa      lahan    tegalan,     perkebunan        atau&lt;br /&gt;    pekarangan.      Penyiapan     lahan   untuk    kebun    kunyit   sebaiknya     dilakukan    30&lt;br /&gt;    hari sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;    Lahan     yang    akan   ditanami     dibersihkan    dari  gulma     dan   dicangkul    secara&lt;br /&gt;    manual      atau   menggunakan        alat   mekanik     guna    menggemburkan          lapisan&lt;br /&gt;   top     soil  dan    sub   soil   juga   sekaligus    mengembalikan        kesuburan     tanah.&lt;br /&gt;   Tanah       dicangkul     pada     kedalaman       20-30     cm    kemudian      diistirahatkan&lt;br /&gt;   selama     1-2   minggu   agar   gas-gas   beracun   yang   ada   dalam   tanah   menguap&lt;br /&gt;   dan bibit penyakit/hama yang ada mati karena terkena sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)   Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;    Lahan    kemudian      dibedeng    dengan     lebar  60-100     cm   dan  tinggi   25-45    cm&lt;br /&gt;   dengan jarak antar bedengan 30-50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)   Pemupukan (sebelum tanam)&lt;br /&gt;    Untuk     mempertahankan          kegemburan       tanah,     meningkatkan       unsur     hara&lt;br /&gt;   dalam       tanah,    drainase,     dan     aerasi    yang     lancar,    dilakukan     dengan&lt;br /&gt;   menaburkan       pupuk    dasar   (pupuk    kandang)     ke  dalam   lahan/dalam   lubang&lt;br /&gt;   tanam     dan   dibiarkan   1  minggu.    Tiap   lubang    tanam   membutuhkan        pupuk&lt;br /&gt;   kandang 2,5-3 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan      bibit  kunyit/hektar    lahan   adalah    0,50-0,65   ton.   Maka    diharapkan&lt;br /&gt;akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20-30 ton/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;   Bibit    kunyit   yang    telah   disiapkan   kemudian      ditanam    ke   dalam    lubang&lt;br /&gt;   berukuran     5-10     cm    dengan      arah   mata     tunas    menghadap       ke   atas.&lt;br /&gt;   Tanaman       kunyit   ditanam     dengan    dua    pola,   yaitu  penanaman       di  awal&lt;br /&gt;   musim   hujan   dengan   pemanenan   di   awal   musim   kemarau   (7-8 bulan) atau&lt;br /&gt;   penanaman       di  awal   musim     hujan   dan   pemanenan      dilakukan   dengan     dua&lt;br /&gt;   kali   musim     kemarau     (12-18   bulan).   Kedua    pola   tersebut   dilakukan   pada&lt;br /&gt;   masa       tanam      yang     sama,      yaitu    pada     awal     musim      penghujan.&lt;br /&gt;   Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pembutan Lubang Tanam&lt;br /&gt;   Lubang   tanam   dibuat   di   atas   bedengan/petakan   dengan   ukuran   lubang   30&lt;br /&gt;   x   30   cm   dengan   kedalaman   60   cm.   Jarak   antara   lubang   adalah   60   x   60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Cara Penanaman&lt;br /&gt;   Teknik     penanaman      dengan    perlakuan    stek   rimpang    dalam    nitro  aromatik&lt;br /&gt;   sebanyak      1  ml/liter  pada   media    yang    diberi  mulsa   ternyata   berpengaruh&lt;br /&gt;   nyata       terhadap      pertumbuhan         dan      vegetatif     kunyit,     sedangkan&lt;br /&gt;   penggunaan       zat   pengatur    tumbuh     IBA   (indolebutyric   acid)  sebanyak     200&lt;br /&gt;   mg/liter      pada      media      yang     sama      berpengaruh       nyata      terhadap&lt;br /&gt;   pembentukan rimpang kunyit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Perioda Tanam&lt;br /&gt;   Masa   tanam   kunyit   yaitu   pada   awal   musim   hujan   sama   seperti   tanaman&lt;br /&gt;   rimpang-rimpangan        lainnya.   Hal   ini  dimungkinkan      karena   tanaman     muda&lt;br /&gt;   akan     membutuhkan       air  cukup    banyak    untuk   pertumbuhannya.       Walaupun&lt;br /&gt;   rimpang      tanaman    ini   nantinya   dipanen    muda     yaitu  7  –   8  bulan   tetapi&lt;br /&gt;   pertanaman selanjutnya tetap diusahakan awal musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penyulaman&lt;br /&gt;   Apabila     ada   rimpang     kunyit   yang    tidak   tumbuh     atau   pertumbuhannya&lt;br /&gt;   buruk,     maka     dilakukan    penanaman       susulan   (penyulaman)      rimpang     lain&lt;br /&gt;   yang masih segar dan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Penyiangan&lt;br /&gt;   Penyiangan        dan     pembubunan        perlu    dilakukan     untuk     menghilangkan&lt;br /&gt;   rumput      liar  (gulma)   yang    mengganggu       penyerapan     air,  unsur   hara    dan&lt;br /&gt;   mengganggu         perkembangan        tanaman.      Kegiatan    ini   dilakukan   3-5    kali&lt;br /&gt;   bersamaan        dengan     pemupukan       dan    penggemburan        tanah.    Penyiangan&lt;br /&gt;   pertama   dilakukan   pada   saat   tanaman   berumur   ½   bulan   dan   bersamaan&lt;br /&gt;   dengan      ini  maka   dilakukan    pembubunan       guna    merangsang      rimpang    agar&lt;br /&gt;   tumbuh besar dan tanah tetap gembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Pembubunan&lt;br /&gt;   Seperti      halnya     tanaman      rimpang      lainnya,     pada     kunyit     pekerjaan&lt;br /&gt;   pembubunan         ini  diperlukan    untuk    menimbun      kembali    daerah     perakaran&lt;br /&gt;   dengan      tanah   yang    melorot   terbawa     air.  Pembubunan      bermanfaat     untuk&lt;br /&gt;   memberikan       kondisi   media    sekitar  perakaran     lebih  baik   sehingga    rimpang&lt;br /&gt;   akan      tumbuh      subur    dan     bercabang      banyak.     Pembubunan        biasanya&lt;br /&gt;   dilakukan      setelah   kegiatan     penyiangan      dan    biasanya    dilakukan     secara&lt;br /&gt;   rutin setiap 3– 4 bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a.  Pemupukan Organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Penggunaan        pupuk     kandang      dapat    meningkatkan       jumlah     anakan,&lt;br /&gt;       jumlah    daun,   dan   luas   area   daun   kunyit   secara   nyata.   Kombinasi   pupuk&lt;br /&gt;       kandang       sebanyak      45   ton/ha     dengan     populasi    kunyit    160.000/ha&lt;br /&gt;       menghasilkan produksi sebanyak 29,93 ton/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    b.  Pemupukan Konvensional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Selain    pupuk     dasar   (pada    awal    penanaman),      tanaman      kunyit   perlu&lt;br /&gt;       diberi   pupuk    susulan    kedua    (pada   saat   tanaman     berumur   2-4    bulan).&lt;br /&gt;        Pupuk     dasar    yang    digunakan     adalah    pupuk    organik    15-20    ton/ha.&lt;br /&gt;        Pemupukan       tahap   kedua   digunakan     pupuk    kandang    dan   pupuk    buatan&lt;br /&gt;       (urea   20   gram/pohon;   TSP   10   gram/pohon;   dan   ZK   10   gram/pohon),&lt;br /&gt;       serta   K2O   (112   kg/ha)   pada   tanaman   yang   berumur   4   bulan.   Dengan&lt;br /&gt;       pemberian       pupuk    ini  diperoleh   peningkatan    hasil   sebanyak    38%     atau&lt;br /&gt;       7,5    ton   rimpang    segar/ha.    Pemupukan      juga   dilakukan    dengan     pupuk&lt;br /&gt;       nitrogen   (60   kg/ha),   P2O5   (50   kg/ha),   dan   K2O   (75   kg/ha).   Pupuk  P&lt;br /&gt;       diberikan   pada   awal   tanam,   pupuk   N   dan   K   diberikan   pada   awal   tanam&lt;br /&gt;       (1/3     dosis)   dan   sisanya    (2/3   dosis)    diberikan   pada    saat    tanaman&lt;br /&gt;       berumur      2   bulan    dan   4   bulan.   Pupuk     diberikan   dengan     ditebarkan&lt;br /&gt;       secara   merata   di   sekitar   tanaman   atau   dalam   bentuk   alur   dan  ditanam&lt;br /&gt;       di sela-sela tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)  Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;   Tanaman        kunyit   termasuk     tanaman      tidak   tahan    air.   Oleh   sebab     itu&lt;br /&gt;   drainase     dan    pengaturan     pengairan     perlu   dilakukan    secermat     mungkin,&lt;br /&gt;   agar     tanaman      terbebas     dari    genangan      air   sehingga     rimpang     tidak&lt;br /&gt;   membusuk.       Perbaikan    drainase    baik   untuk   melancarkan      dan   mengatur&lt;br /&gt;   aliran air serta sebagai penyimpan air di saat musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)  Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;   Penyemprotan       pestisida  dilakukan   jika  telah  timbul   gejala  serangan    hama&lt;br /&gt;   penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7)  Pemulsaan&lt;br /&gt;   Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk&lt;br /&gt;   menghindari      kekeringan    tanah,   kerusakan     struktur  tanah    (menjadi    tidak&lt;br /&gt;   gembur/padat)        dan    mencegah      tumbuhnya       gulma     secara    berlebihan.&lt;br /&gt;   Jerami    dihamparkan     merata    menutupi    permukaan     tanah   di  antara  lubang&lt;br /&gt;   tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Ulat penggerek akar (Dichcrosis puntifera.)&lt;br /&gt;   Gejala:&lt;br /&gt;   pada    pangkal   akar   dimana    tunas  daun    menjadi   layu  dan   lama   kelamaan&lt;br /&gt;  tunas menjadi kering lalu membusuk.&lt;br /&gt;   Pengendalian:&lt;br /&gt;  tanaman disemprot/ditaburkan insektisida furadan G-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Busuk bakteri rimpang&lt;br /&gt;   Penyebab:&lt;br /&gt;   oleh kurang baik sistem pengairan (drainase) atau disebabkan oleh&lt;br /&gt;   rimpang     yang    terluka   akibat   alat-alat  pertanian,  sehingga    luka   rimpang&lt;br /&gt;   kemasukan cendawan.&lt;br /&gt;   Gejala:&lt;br /&gt;   kulit  akar   tanaman     menjadi   keriput   dan   mengelupas,     kemudian    rimpang&lt;br /&gt;   lama kelamaan membusuk dan keropos.&lt;br /&gt;   Pengendalian:&lt;br /&gt;   a.  mencegah       terjadi  genangan      air  pada    lahan,   mencegah      terlukanya&lt;br /&gt;       rimpang;&lt;br /&gt;   b.  penyemprotanfungisida dithane M-45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Karat daun kunyit&lt;br /&gt;   Penyebab:&lt;br /&gt;   Taphrina     macullans   Bult   dan  Colletothrium    capisici atau    oleh  kutu   daun&lt;br /&gt;   yang disebut Panchaetothrips.&lt;br /&gt;   Gejala:&lt;br /&gt;   timbulnya     warna    coklat   (karat)   pada    helaian   daun;    bila   penyakit   ini&lt;br /&gt;   menyerang        tanaman       dewasa/daun       yang     tua     maka      tidak    akan&lt;br /&gt;   mempengaruhi         produksinya     sebaliknya    jika  menyerang       tanaman/daun&lt;br /&gt;   muda, menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.&lt;br /&gt;   Pengendalian:&lt;br /&gt;   a.  Dilakukan dengan mengurangi kelembaban;&lt;br /&gt;   b.  Penyemprotan        insektisida,  seperti   dengan     agrotion    2   cc/liter  atau&lt;br /&gt;       dengan fungisida dithane M-45 secara teratur selama seminggu sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulma   potensial   pada   pertanaman   kunyit   ini   adalah   gulma   kebun   yang   umum&lt;br /&gt;yaitu    alang-alang,    rumput     teki,  rumput     lulangan,   ageratum,     dan    gulma&lt;br /&gt;berdaun lebar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam      pertanian    organik   yang      tidak   menggunakan        bahan-bahan      kimia&lt;br /&gt;berbahaya      melainkan    dengan    bahan-bahan     yang    ramah    lingkungan   biasanya&lt;br /&gt;dilakukan    secara   terpadu   sejak  awal   pertanaman     untuk   menghindari    serangan&lt;br /&gt;hama     dan   penyakit   tersebut   yang   dikenal   dengan    PHT   (Pengendalian    Hama&lt;br /&gt;Terpadu) yang komponennya adalah sbb:&lt;br /&gt;1)  Mengusahakan        pertumbuhan       tanaman     yang    sehat   yaitu   memilih    bibit&lt;br /&gt;   unggul     yang   sehat   bebas   dari  hama    dan   penyakit   serta  tahan   terhadap&lt;br /&gt;   serangan hama dari sejak awal pertanaman&lt;br /&gt;2)  Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami&lt;br /&gt;3)  Menggunakan         varietas-varietas   unggul    yang    tahan    terhadap     serangan&lt;br /&gt;   hama dan penyakit.&lt;br /&gt;4)  Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.&lt;br /&gt;5)  Menggunakan         teknik-teknik    budidaya     yang     baik    misalnya     budidaya&lt;br /&gt;   tumpang      sari  dengan    pemilihan    tanaman    yang    saling  menunjang,     serta&lt;br /&gt;   rotasi   tanaman     pada    setiap   masa    tanamnya     untuk   memutuskan       siklus&lt;br /&gt;   penyebaran hama dan penyakit potensial.&lt;br /&gt;6)  Penggunaan       pestisida,  insektisida,  herbisida  alami   yang   ramah    lingkungan&lt;br /&gt;   dan     tidak  menimbulkan      residu  toksik   baik  pada    bahan    tanaman     yang&lt;br /&gt;   dipanen     ma   maupun     pada    tanah.   Disamping    itu  penggunaan      bahan   ini&lt;br /&gt;   hanya     dalam   keadaan    darurat   berdasarkan    aras   kerusakan   ekonomi     yang&lt;br /&gt;   diperoleh dari hasil pengamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa      tanaman     yang   dapat    dimanfaatkan     sebagai   pestisida   nabati   dan&lt;br /&gt;digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:&lt;br /&gt;1)  Tembakau        (Nicotiana     tabacum)       yang     mengandung       nikotin     untuk&lt;br /&gt;   insektisida    kontak    sebagai    fumigan     atau   racun    perut.   Aplikasi   untuk&lt;br /&gt;   serangga kecil misalnya Aphids.&lt;br /&gt;2)  Piretrum     (Chrysanthemum         cinerariaefolium)    yang    mengandung       piretrin&lt;br /&gt;   yang    dapat    digunakan    sebagai   insektisida  sistemik   yang   menyerang     urat&lt;br /&gt;   syaraf    pusat  yang    aplikasinya  dengan    semprotan.     Aplikasi  pada   serangga&lt;br /&gt;   seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.&lt;br /&gt;3)  Tuba    (Derris   elliptica   dan Derris   malaccensis)   yang    mengandung      rotenone&lt;br /&gt;   untuk   insektisida   kontak   yang   diformulasikan   dalam   bentuk   hembusan   dan&lt;br /&gt;   semprotan.&lt;br /&gt;4)  Neem        tree    atau     mimba      (Azadirachta      indica)    yang     mengandung&lt;br /&gt;   azadirachtin     yang   bekerjanya     cukup    selektif.  Aplikasi  racun    ini  terutama&lt;br /&gt;   pada   serangga   penghisap   seperti   wereng   dan   serangga   pengunyah   seperti&lt;br /&gt;   hama      penggulung     daun  (Cnaphalocrocis     medinalis).    Bahan    ini  juga  efektif&lt;br /&gt;   untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.&lt;br /&gt;5)  Bengkuang      (Pachyrrhizus     erosus)   yang   bijinya   mengandung     rotenoid    yaitu&lt;br /&gt;   pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.&lt;br /&gt;6)  Jeringau     (Acorus     calamus)     yang     rimpangnya      mengandung        komponen&lt;br /&gt;   utama      asaron     dan    biasanya     digunakan      untuk    racun    serangga     dan&lt;br /&gt;   pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.  PANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman   kunyit   siap   dipanen   pada   umur   8-18   bulan,   saat   panen   yang   terbaik&lt;br /&gt;adalah     pada    umur    tanaman     11-12    bulan,   yaitu  pada    saat  gugurnya     daun&lt;br /&gt;kedua.     Saat   itu  produksi   yang    diperoleh   lebih  besar   dan    lebih  banyak    bila&lt;br /&gt;dibandingkan      dengan      masa    panen     pada    umur     kunyit  7-8     bulan.   Ciri-ciri&lt;br /&gt;tanaman      kunyit   yang   siap   panen    ditandai   dengan    berakhirnya    pertumbuhan&lt;br /&gt;vegetatif,    seperti  terjadi  kelayuan/perubahan        warna    daun    dan   batang    yang&lt;br /&gt;semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanenan          dilakukan      dengan      cara     membongkar          rimpang      dengan&lt;br /&gt;cangkul/garpu.     Sebelum     dibongkar,   batang    dan   daun    dibuang   terlebih  dahulu.&lt;br /&gt;Selanjutnya      rimpang     yang     telah   dibongkar     dipisahkan     dari   tanah    yang&lt;br /&gt;melekat lalu dimasukkan dalam karung agar tidak rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen   kunyit   dilakukan   dimusim   kemarau   karena   pada   saat   itu   sari/zat   yang&lt;br /&gt;terkandung      didalamnya    mengumpul.      Selain   itu  kandungan     air  dalam   rimpang&lt;br /&gt;sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Perkiraan Hasil Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat     basah     rimpang      bersih/rumpun      yang     diperoleh    dari    hasil   panen&lt;br /&gt;mencapai 0,71 kg. Produksi rimpang segar/ha biasanya antara 20-30 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.  PASCAPANEN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.1.  Penyortiran Basah dan Pencucian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sortasi    pada    bahan    segar    dilakukan    untuk   memisahkan   rimpang   dari   kotoran&lt;br /&gt;berupa      tanah,    sisa   tanaman,     dan    gulma.    Setelah     selesai,   timbang     jumlah&lt;br /&gt;bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian.&lt;br /&gt;Pencucian       dilakukan    dengan      air   bersih,   jika   perlu    disemprot     dengan      air&lt;br /&gt;bertekanan   tinggi.     Amati    air  bilasannya    dan    jika  masih    terlihat  kotor   lakukan&lt;br /&gt;pembilasan   sekali   atau   dua   kali   lagi.   Hindari   pencucian   yang   terlalu   lama   agar&lt;br /&gt;kualitas    dan    senyawa     aktif  yang    terkandung      didalam    tidak   larut   dalam    air.&lt;br /&gt;Pemakaian        air  sungai    harus    dihindari    karena    dikhawatirkan      telah   tercemar&lt;br /&gt;kotoran     dan    banyak    mengandung        bakteri/penyakit.     Setelah   pencucian     selesai,&lt;br /&gt;tiriskan    dalam    tray/wadah      yang    belubang-lubang       agar    sisa  air   cucian   yang&lt;br /&gt;tertinggal      dapat       dipisahkan,      setelah      itu    tempatkan        dalam       wadah&lt;br /&gt;plastik/ember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2.  Perajangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika   perlu   proses    perajangan,     lakukan    dengan     pisau   stainless   steel  dan   alasi&lt;br /&gt;bahan      yang    akan     dirajang    dengan     talenan.    Perajangan     rimpang      dilakukan&lt;br /&gt;melintang      dengan     ketebalan    kira-kira   5  mm    –    7   mm.    Setelah    perajangan,&lt;br /&gt;timbang      hasilnya   dan     taruh   dalam     wadah     plastik/ember.     Perajangan      dapat&lt;br /&gt;dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3.  Pengeringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeringan       dapat    dilakukan     dengan     2   cara,   yaitu   dengan     sinar   matahari&lt;br /&gt;atau    alat   pemanas/oven.       pengeringan      rimpang    dilakukan    selama     3 -  5   hari,&lt;br /&gt;atau    setelah    kadar    airnya   dibawah     8%.    pengeringan      dengan     sinar  matahari&lt;br /&gt;dilakukan     diatas   tikar   atau   rangka     pengering,    pastikan    rimpang     tidak   saling&lt;br /&gt;menumpuk.         Selama     pengeringan       harus    dibolak-balik   kira-kira   setiap   4   jam&lt;br /&gt;sekali    agar    pengeringan      merata.    Lindungi    rimpang     tersebut    dari   air,  udara&lt;br /&gt;yang     lembab    dan    dari  bahan-bahan       disekitarnya    yang   bisa   mengkontaminasi.&lt;br /&gt;Pengeringan   di   dalam   oven   dilakukan   pada   suhu   50 C  -   60 C.   Rimpang   yang&lt;br /&gt;akan   dikeringkan   ditaruh   di   atas   tray   oven   dan   pastikan   bahwa   rimpang   tidak&lt;br /&gt;saling     menumpuk.        Setelah     pengeringan,       timbang      jumlah     rimpang      yang&lt;br /&gt;dihasilkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4.  Penyortiran Kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya     lakukan    sortasi   kering   pada   bahan     yang   telah   dikeringkan    dengan&lt;br /&gt;cara    memisahkan        bahan-bahan       dari  benda-benda       asing   seperti   kerikil,  tanah&lt;br /&gt;atau     kotoran-kotoran       lain.   Timbang      jumlah     rimpang     hasil   penyortiran     ini&lt;br /&gt;(untuk menghitung rendemennya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.5. Pengemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah     bersih,    rimpang     yang     kering    dikumpulkan       dalam     wadah     kantong&lt;br /&gt;plastik    atau    karung    yang    bersih    dan    kedap    udara    (belum     pernah     dipakai&lt;br /&gt;sebelumnya).         Berikan     label    yang      jelas    pada     wadah       tersebut,     yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelaskan       nama      bahan,    bagian     dari   tanaman      bahan    itu,   nomor/kode&lt;br /&gt;produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.6.  Penyimpanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi   gudang   harus   dijaga   agar   tidak   lembab   dan   suhu   tidak   melebihi   30 C&lt;br /&gt;dan     gudang    harus    memiliki   ventilasi  baik   dan   lancar,   tidak  bocor,   terhindar&lt;br /&gt;dari     kontaminasi      bahan     lain    yang     menurunkan        kualitas    bahan     yang&lt;br /&gt;bersangkutan,       memiliki   penerangan      yang    cukup    (hindari   dari  sinar   matahari&lt;br /&gt;langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan   analisis   budidaya   kunyit   seluas   1000   m2   yang   dilakukan   pada   tahun&lt;br /&gt;1999 di daerah Bogor.&lt;br /&gt;1) Biaya produksi&lt;br /&gt;        a.  Sewa lahan 1 musim tanam                                       Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;        b.  Bibit 50 kg @ Rp.&lt;br /&gt;        c.  Pupuk&lt;br /&gt;            -   Pupuk kandang 4.000 kg @ Rp. 150,-                         Rp.    600.000,-&lt;br /&gt;            -   Pupuk buatan: Urea 32 kg @ Rp. 1.100,-                     Rp.     35.200,-&lt;br /&gt;            -   TSP 16 kg @ Rp. 1800,-                                     Rp.     28.800,-&lt;br /&gt;            -   KCl 16 kg @ Rp. 1.600,-                                    Rp.     25.600,-&lt;br /&gt;        d.  Pestisida                                                      Rp.    100.000,-&lt;br /&gt;        e.  Alat                                                           Rp.     60.000,-&lt;br /&gt;        f.  Tenaga kerja                                                   Rp.    200.000,-&lt;br /&gt;        g.  Panen dan pasca panen                                          Rp.    100.000,-&lt;br /&gt;        h.  Lain-lain                                                      Rp.    100.000,-&lt;br /&gt;        Jumlah biaya produksi                                              Rp.1.399.600,-&lt;br /&gt;2) Pendapatan 2.500 kg @ Rp. 750,-                                          Rp.1.875.000,-&lt;br /&gt;3) Keuntungan                                                               Rp.  475.400,-&lt;br /&gt;4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;       a.   Rasio output/input = 1,399&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha     budidaya     tanaman    kunyit   skala   besar   (komersial)    atau  yang    dilakukan&lt;br /&gt;secara   intensif,   di   Indonesia   belum   ada   dan   sebagian   besar   petani   cenderung&lt;br /&gt;menanam tanaman ini sebagai tanaman sampingan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa      ini  rata-rata   kebutuhan     bahan    baku    kunyit   untuk    industri  kosmetik/&lt;br /&gt;jamu      tradisional   yang    ada    di   Indonesia     antara    1,5-6   ton/bulan.    Tingkat&lt;br /&gt;kebutuhan      pasar   dari  tahun    ke  tahun    semakin    meningkat     dengan    persentase&lt;br /&gt;peningkatan       10-25%       per    tahunnya.     Kebutuhan       lebih   tinggi   pada     saat&lt;br /&gt;menjelang       hari-hari  besar/hari    raya.   Permintaan     kebutuhan      industri   di  atas&lt;br /&gt;sebagian   besar   berasal   dari   pasokan   para   petani.   Melihat   dari   kebutuhan   rata-&lt;br /&gt;rata    industri   jamu     dan    kosmetik    yang     ada   di   dalam     negeri,   suplai   dan&lt;br /&gt;permintaan       terhadap     kunyit   tidak   seimbang,      apalagi    memenuhi      permintaan&lt;br /&gt;pasar      luar   negeri.    Sementara       kebutuhan      kunyit    dunia    hingga     saat    ini&lt;br /&gt;mencapai        ratusan     ribu  ton/tahun.      Sebagian      kecil   dari    jumlah     tersebut&lt;br /&gt;dipenuhi     oleh   negara    India,   Haiti,  Srilanka,  Cina,   dan    negara-negara      lainnya.&lt;br /&gt;Indonesia      kini   sudah     selayaknya     membudidayakan          tanaman      ini,  terutama&lt;br /&gt;dengan      sistem   monokultur/tumpang         sari  sehingga    produksi    yang   dicapai   lebih&lt;br /&gt;cepat     dan    tinggi,  agar    kebutuhan      minimal    dalam     negeri    terpenuhi    secara&lt;br /&gt;optimal.     Walaupun      di   daerah    Jawa    Tengah      kini  sudah    diupayakan      sistem&lt;br /&gt;penanaman        tersebut,    juga   diperhitungkan      dari  sudut    produktivitas    dan    jalur&lt;br /&gt;tata    niaganya,    namun      luas   lahan   tanam     yang    ada   belum     maksimal     untuk&lt;br /&gt;memenuhi        kebutuhan     pasar   luar   negeri   yang    mencapai     ratusan    ribu  ton/ha-&lt;br /&gt;nya.&lt;br /&gt;Indonesia      sebenarnya     mulai    mengekspor       kunyit.   Negara    yang    dituju   antara&lt;br /&gt;lain   Asia   (Malaysia,   Singapura,   Hongkong,   Taiwan,   dan   Jepang),   Amerika, dan&lt;br /&gt;Eropa     (Jerman     Barat   dan   Belanda).    Pada    tahun    1987,   nilai  ekspor   tanaman&lt;br /&gt;kunyit     Indonesia    menyumbangkan          devisa    yang    besar    bagi   negara.    Namun&lt;br /&gt;pada     tahun    berikutnya     jumlah    ekspor    tersebut   mulai    mengalami      penurunan&lt;br /&gt;dan   sempat   terhenti   pada   tahun   1989.     Negara   India,   Cina,   Haiti,   Srilanka,   dan&lt;br /&gt;Jamaika      kini  mulai    membudidayakan          tanaman     kunyit    secara    besar-besaran&lt;br /&gt;dan     mereka    sudah     dapat   mengestimasikan        produksinya     hingga    +20    ton/ha.&lt;br /&gt;Dari     segi   jalur   tata   niaga,    kunyit    tergolong     efisien,   karena    dari    petani&lt;br /&gt;langsung      disalurkan   ke   pedagang      pengumpul,     lalu  ke   pabrik/pedagang       besar.&lt;br /&gt;Maka     harga    yang    diterima   petani    mencapai     70%     dari  harga    tingkat   pabrik,&lt;br /&gt;dimana   30%   merupakan   marjin   tata   niaga   yang   terdiri   atas   12%   marjin   biaya&lt;br /&gt;dan     18%    merupakan       marjin   keuntungan.     Berdasarkan      kondisi   ini,  tata  niaga&lt;br /&gt;kunyit    bisa   ditingkatkan   lagi,  karena    marjin   terbesar   berada    pada    keuntungan&lt;br /&gt;pedagang.        Peluang     agribisnis    kunyit    di    Indonesia     dapat     dikembangkan.&lt;br /&gt;Kenyataan       ini  dilandaskan     pada    tingkat   produktivitas,    jalur  tata   niaga,    dan&lt;br /&gt;kebutuhan kunyit dari berbagai industri yang membutuhkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7055799898409193579-1590585697943535038?l=untukrakyatku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/feeds/1590585697943535038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-kunyit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/1590585697943535038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7055799898409193579/posts/default/1590585697943535038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://untukrakyatku.blogspot.com/2009/05/budidaya-kunyit.html' title='Budidaya Kunyit'/><author><name>Debu Kehidupan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11536979411400211093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-aGxmX68Fv6Y/Tx2tP2wtVZI/AAAAAAAAAZA/cam41nZdsps/s220/DSC03095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7055799898409193579.post-2961915312035794377</id><published>2009-05-09T05:35:00.003-07:00</published><updated>2009-05-09T05:45:23.270-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Pertanian'/><title type='text'>Budidaya Kumis Kucing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;                           &lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt; KUMIS KUCING &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                              ( Orthosiphon spp. ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. SEJARAH SINGKAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumis     kucing  merupakan     tanaman    obat   berupa   tumbuhan     berbatang    basah&lt;br /&gt;yang    tegak.  Tanaman     ini  dikenal  dengan   berbagai   istilah  seperti: kidney  tea&lt;br /&gt;plants/java    tea (Inggris),  giri-giri  marah  (Sumatera),   remujung   (Jawa   Tengah&lt;br /&gt;dan    Jawa    Timur)   dan    songot   koneng    (Madura).    Tanaman     Kumis    kucing&lt;br /&gt;berasal    dari  wilayah  Afrika  tropis,  kemudian   menyebar     ke  wilayah   Asia  dan&lt;br /&gt;Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama      daerah:   Kumis    kucing   (Melayu  –    Sumatra),   kumis    kucing   (Sunda),&lt;br /&gt;remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng (Madura).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. URAIAN TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1     Klasifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Divisi          : Spermatophyta&lt;br /&gt;Sub divisi      : Angiospermae&lt;br /&gt;Kelas           : Dicotyledonae&lt;br /&gt;Keluarga        : Lamiaceae&lt;br /&gt;Genus           : Orthosiphon&lt;br /&gt;Spesies         : Orthosiphon spp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2      Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman       terna   yang    tumbuh     tegak,   pada   buku-bukunya   berakar   tetapi   tidak&lt;br /&gt;tampak      nyata,    tinggi   tanaman      sampai     2m.    Batang     bersegi    empat     agak&lt;br /&gt;beralur.   Helai   daun   berbentuk   bundar   telur   lonjong,   lanset,   lancip   atau   tumpul&lt;br /&gt;pada  bagian  ujungnya,  ukuran  daun  panjang  1  –   10cm   dan   lebarnya   7.5mm –&lt;br /&gt;1.5cm,   urat   daun   sepanjang   pinggir   berbulu   tipis   atau   gundul,   dimana   kedua&lt;br /&gt;permukaan        berbintik-bintik   karena     adanya     kelenjar   yang     jumlahnya     sangat&lt;br /&gt;banyak,  panjang  tangkai  daun  7  –   29cm.   Kelopak   bunga   berkelenjar,   urat   dan&lt;br /&gt;pangkal     berbulu    pendek     dan   jarang    sedangkan     di   bagian   yang    paling   atas&lt;br /&gt;gundul.     Bunga     bibir,   mahkota     berwarna      ungu    pucat    atau    putih,   dengan&lt;br /&gt;ukuran     panjang    13  –   27mm,   di   bagian   atas   ditutupi   oleh   bulu   pendek   yang&lt;br /&gt;berwarna   ungu   atau   putih,   panjang   tabung   10  –       18mm,   panjang   bibir   4.5  –&lt;br /&gt;10mm,   helai   bunga   tumpul,   bundar.   Benang   sari   ukurannya   lebih   panjang   dari&lt;br /&gt;tabung     bunga     dan   melebihi    bibir  bunga    bagian    atas.  Buah     geluk   berwarna&lt;br /&gt;coklat gelap, panjang 1.75 – 2mm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3      Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesies     kumis   kucing    yang    terdapat   di  Pulau    Jawa    adalah  O.    aristatus,   O.&lt;br /&gt;thymiflorus,   O.   petiolaris   dan   O.   tementosus  var.  glabratus.  Klon   kumis   kucing&lt;br /&gt;yang ditanam di Indonesia adalah Klon berbunga putih dan ungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. MANFAAT TANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun      kumis    kucing    basah    maupun      kering   digunakan     sebagai    bahan     obat-&lt;br /&gt;obatan.     Di  Indonesia    daun    yang   kering   dipakai   (simplisia)   sebagai   obat   yang&lt;br /&gt;memperlancar        pengeluaran      air   kemih    (diuretik)   sedangkan      di   India   untuk&lt;br /&gt;mengobati       rematik.    Masyarakat      menggunakan        kumis     kucing    sebagai     obat&lt;br /&gt;tradisional     sebagai    upaya     penyembuhan        batuk     encok,    masuk     angin    dan&lt;br /&gt;sembelit.    Disamping      itu  daun   tanaman     ini  juga   bermanfaat     untu   pengobatan&lt;br /&gt;radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. SENTRA PENANAMAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga     saat   ini,  sentra   penanaman       kumis    kucing   banyak     terdapat   di  Pulau&lt;br /&gt;Jawa. Baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. SYARAT PERTUMBUHAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Curah     hujan   yang    ideal  bagi   pertumbuhan      tanaman     ini  adalah  lebih   dari&lt;br /&gt;    3.000 mm/tahun.&lt;br /&gt;2)  Dengan        sinar    matahari      penuh      tanpa      ternaungi.     Naungan       akan&lt;br /&gt;    menurunkan kadar ekstrak daun.&lt;br /&gt;3)  Keadaan      suhu    udara   yang    baik   untuk   pertumbuhan       tanaman     ini  adalah&lt;br /&gt;    panas sampai sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Tanaman   ini   dapat   dengan   mudah   tumbuh   di   lahan-lahan   pertanian,   untuk&lt;br /&gt;    produksi       sebaiknya      dipilih    tanah     yang      gembur,       subur,     banyak&lt;br /&gt;    mengandung humus/bahan organik dengan tata air dan udara yang baik.&lt;br /&gt;2)  Tanah Andosol dan Latosol sangat baik untuk budidaya kumis kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketinggian tempat optimum tanaman kumis kucing 500 - 1.200 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.  PEDOMAN BUDIDAYA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;    Cara    yang    paling  mudah     dan   biasa   untuk   mengembangkan         kumis   kucing&lt;br /&gt;    adalah      perbanyakan        vegetatif    dengan       stek    batang/cabang.        Bahan&lt;br /&gt;    tanaman diambil dari rumpun yang tumbuhnya normal, subur dan sehat.&lt;br /&gt;    a.  Pilih   batang/cabang       yang    tidak   terlalu  tua   atau    muda    dan     sudah&lt;br /&gt;        berkayu.&lt;br /&gt;     b.  Potong batang dengan pisau tajam/gunting pangkas yang bersih.&lt;br /&gt;    c.  Potong-potong batang menjadi stek berukuran 15–20 cm berbuku 2-3.&lt;br /&gt;    d.  Buang sebagian daun untuk mengurangi penguapan air.&lt;br /&gt;    Adapun   kebutuhan   bibit   untuk   1   hektar   dengan   jarak   tanam  40   x   40   cm&lt;br /&gt;    diperlukan 50.000-62.500 stek/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;    Stek    dapat    langsung    ditanam     di  kebun    produksi    atau   ditanam     dulu   di&lt;br /&gt;    persemaian.   Di   dalam   persemaian   stek   ditanam   dengan   jarak   tanam   10x10&lt;br /&gt;    cm.    Stek   yang   masih    segar   langsung    ditanam    di lahan   yang   telah   diolah&lt;br /&gt;    sedalam     20   cm.   Setelah   itu  disirami  1-2   kali   sehari   tergantung   dari   cuaca&lt;br /&gt;    dan    hujan    yang   turun.   Bila   perlu  persemaian      dinaungi   dengan     naungan&lt;br /&gt;    plastik   transparan   atau   jerami/daun   kering.   Setelah   timbul   tunas   baru,   bibit&lt;br /&gt;    dipindahkan ke kebun produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Persiapan&lt;br /&gt;    Tanah     diolah  30-40   cm,   gulma   dan   tanaman   lain   dibuang.   Setelah   diolah,&lt;br /&gt;    tanah dibiarkan 15 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;    Pembuatan       bedengan      dilakukan   setelah    pengolahan     tanah   yang    kedua&lt;br /&gt;    yaitu    dengan   menghancurkan        bongkahan      tanah   pada    pengolahan    tanah&lt;br /&gt;    yang     pertama     hingga    mendapatkan       struktur   tanah    yang    remah     dan&lt;br /&gt;    gembur.       Pada    saat    pengolahan      tanah     kedua     ini  juga    dianjurkan&lt;br /&gt;    memberikan       pupuk    dasar    berupa    pupuk    kompos     atau   pupuk    kandang&lt;br /&gt;    sebanyak      50  –    60   ton   per  hektar    bersamaan     pada    saat   pembuatan&lt;br /&gt;    bedengan.      Bedengan    dibuat   selebar   100-120    cm   tinggi  30  cm   dan   jarak&lt;br /&gt;    antar     bedengan      40-50     cm.    Panjang     bedengan      disesuaikan     dengan&lt;br /&gt;    keperluan dan lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Pemupukan (sebelum tanam)&lt;br /&gt;    Buat   lubang   tanam   berukuran   30x30x30  cm   dengan   jarak   tanam   40   x   60&lt;br /&gt;    cm.     Masukkan     pupuk     kandang    sebanyak     2,4-3,2   kg/lubang     dan   tutup&lt;br /&gt;    lubang     tanah.     Campur      tanah    bedengan     dengan     15-20    kg/ha   pupuk&lt;br /&gt;    kandang sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;    Waktu     tanam    terbaik   adalah   di  awal    musim    hujan    (Oktober-Desember)&lt;br /&gt;    kecuali    jika  air  tersedia  sepanjang   tahun,   waktu    tanam    bisa  dilaksanakan&lt;br /&gt;    kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;    Buat   lubang   tanam   berukuran   30x30x30   cm   dengan   jarak   tanam   40   x   40&lt;br /&gt;    cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Cara Penanaman&lt;br /&gt;    a)  Pilih bibit yang baik dari pembibitan.&lt;br /&gt;    b)  Buat lubang kecil di tempat lubang tanam.&lt;br /&gt;    c)  Tanamkan       bibit/stek  tegak  lurus   sedalam    5  cm   atau   1/3  bagian   dari&lt;br /&gt;        pangkal batang stek. Setiap lubang diisi 4-6 bibit/stek.&lt;br /&gt;    d)  Padatkan tanah di sekitar bibit.&lt;br /&gt;    e)  Sirami sampai cukup basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Perioda Tanam&lt;br /&gt;    Penanaman        tanaman     ini  bias   dilakukan   sepanjang     tahun   yaitu   dengan&lt;br /&gt;    membongkar         tanaman     tua   yang    telah    mengeras     berkayu     dan    tidak&lt;br /&gt;    produktif    lagi  atau   daunnya     jarang   dan   kecil-kecil,  kemudian     menanam&lt;br /&gt;    ulang dengan tanaman baru yang masih muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Penyulaman&lt;br /&gt;     Dilakukan      antara    1-15      hari    setelah    tanam     untuk      tetap     menjaga&lt;br /&gt;    pertanaman        pada     jarak   tanam     yang     telah   ditentukan     (40    x   40cm).&lt;br /&gt;     Penyulaman       dilakukan    terutama     pada    tanaman     yang    mati   atau    tumbuh&lt;br /&gt;    tidak    normal    dengan     tanaman      baru   yang    umurnya      tidak  berbeda     jauh,&lt;br /&gt;    sehingga pertumbuhan selanjutnya akan tetap sama dan seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Penyiangan&lt;br /&gt;    Gulma      disiangi  secara    kontinyu    untuk   mengurangi      persaingan    unsur    hara.&lt;br /&gt;     Penyiangan      biasanya     dilakukan    agak    sering   saat   tanaman      masih    muda&lt;br /&gt;    sehingga      lahan   di  atara   tanaman      masih   terbuka    karena    kanopi   tanaman&lt;br /&gt;    belum      tumbuh     besar.   Tetapi    pada   tanaman      dewasa     periode   penyiangan&lt;br /&gt;    sudah      agak    jarang    karena    kanopi    pada    masing-masing       tanaman      akan&lt;br /&gt;    saling    menutup      permukaan      tanah,   sehingga     akan   menekan      pertumbuhan&lt;br /&gt;    gulma di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)   Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     a.  Pemupukan Organik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Pemupukan       secara    organic   dengan     menggunakan       pupuk    kompos     yang&lt;br /&gt;         merupakan pupuk organic komplek dapat diberikan sbb:&lt;br /&gt;         Sebagai    pupuk    dasar    telah  diuraikan   di  atas   yang   diberikan   pada    saat&lt;br /&gt;         penyiapan      media     tanam.     Selanjutnya     pupuk     kompos      organic   dapat&lt;br /&gt;         diberikan     setiap   bulan    sekali   sebanyak      1  –    2kg    setiap   tanaman.&lt;br /&gt;         Pemupukan   pada   tanaman   dewasa   bisa   lebih   sering   yaitu   setiap   2     – 3&lt;br /&gt;         minggu   sekali   sebesar   1.5  –   3kg   per   tanaman   dan   terutama   diberikan&lt;br /&gt;         setelah        dilakukan         pemanenan/perompesan               daun         sehingga&lt;br /&gt;         pertumbuhan selanjutnya akan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     b.  Pemupukan Konvensional&lt;br /&gt;         Dosis   pupuk   anjuran   adalah   75   kg/ha   urea   yang   diberikan   setiap   3   kali&lt;br /&gt;         panen     atau  6-9   minggu   sekali.   Pupuk   disebar   di   dalam   larikan   dangkal&lt;br /&gt;         antara baris tanaman dan segera ditutup tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)   Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;     Pada     awal   pertumbuhan,       tanaman      diairi/disiram  1-2    kali  sehari.  Setelah&lt;br /&gt;    tanaman       terlihat   kokoh     dan    rimbun,     penyiraman       dikurangi.    Frekuensi&lt;br /&gt;    penyiraman        selanjutnya     tergantung      cuaca,    yang     penting     tanah    tidak&lt;br /&gt;    sampai      kering.  Penambahan  air   dapat   dilakukan   dengan   cara   disiram   atau&lt;br /&gt;    menggenangi saluran di antara bedengan dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)  Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;     Penyemprotan       pestisida   dilakukan    jika  telah   timbul   gejala   serangan    hama&lt;br /&gt;    penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama   ini   tidak  ada   hama   atau   penyakit   yang   benar-benar   merusak   tanaman&lt;br /&gt;kumis kucing. Hama yang sering ditemukan adalah kutu daun dan ulat daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit     yang   menyerang      disebabkan    oleh   jamur   upas   (Upsia    salmonicolor&lt;br /&gt;atau    Corticium    salmonicolor).    Jamur    ini menyerang       batang     atau   cabang&lt;br /&gt;tanaman      yang   berkayu.    Pengendalian    dilakukan    dengan    perbaikan    tata  air,&lt;br /&gt;meningkatkan       kebersihan    kebun,    memotong       bagian    yang    sakit,  pergiliran&lt;br /&gt;tanaman dan penyemprotan pestisida selektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3. Gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulma      yang    banyak    tumbuh      di  lahan   pertanaman      kumis    kucing   cukup&lt;br /&gt;bervariasi    dan    kebanyakan     dari   jenis  gulma     kebun    seperti   rumput    teki,&lt;br /&gt;lulangan, ageratum, alang-alang, dan rumput-rumput lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organi
